Langsung ke konten utama

Postingan

KEUTAMAAN BERDOA DI RAUDHAH

Salat subuh pertama di Masjid Nabawi, bersama ribuan jamaah dari berbagai negara, musim dingin yang menggigit rasanya tak mempan menahan gejolak rindu yang sangat besar ini. Posisi hotel kami hanya berjarak 200 meter  menuju Masjid Nabawi, dari jendela kamar, saya bisa melihat orang-orang yang berjalan kaki menuju Masjid, aroma kamar hotel, aroma Masjid Nabawi, aroma kota Madinah semuanya bisa saya ingat dengan sangat detil, rasanya masih melekat di antara rongga hidung ini.



Melihat payung-payung yang mengembang di pelataran Masjid membuat saya merinding berulang kali, begitulah saya tiba di sini dengan segala kesulitan yang ada, dengan segala kelelahan akan urusan dunia. saya sengaja tidak memakai pakai roaming selama ibadah umrah, saya hanya mengandalkan wifi hotel untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, menelpon Mama yang selalu minta didoakan khusus untuk adik saya, saat itu ada sedikit konflik antara adik yang paling bontot dengan Mama, yaaa biasalah anak muda yang kuran…
Postingan terbaru

MEDINA, I'AM IN LOVE #2

Hari itu saya berangkat dengan kondisi kantong yang subhanallah sedang diuji. Namun entah mengapa semakin dekat hari keberangkatan semakin kuat keyakinan saya, ayoo berserah saja pada Allah, kira-kira seperti itu kalimat yang terus memenuhi kepala hati dan semua indera saya. dan benar, keyakinan itu berdasarkan proses perjalanan untuk keberangkatan ini sendiri, tak sanggup logika saya mencerna, jika ini panggilan-Nya maka ia akan menjaga saya dengan cara dan kasih sayang-Nya.

Saya berangkat seorang diri tanpa sanak keluarga, karena memang biaya keberangkatan ini hanya cukup untuk saya seorang saja. Saking minimalisnya, saya hanya mampu membayar untuk tiket keberangkatan dengan type Quad, artinya saya akan bersama empat orang jamaah dalam satu kamar. Namun Qadarullah saya ditempatkan hanya berdua dengan seorang nenek-nenek usia 60 tahunan yang Masya Allah sama sekali tidak rewel, mengenai nenek satu ini akan saya ceritakan pada bagian yang lain ya.

Tahun 2019 lalu saya sudah mendaftark…

TIPS ANTI BAPER ALA AIDA MA

Banyak orang di era digital ini, mudah terbawa perasaan alias baperan, dikomen sedikit pedas kita jadi patah hati, dimusuhi oleh kompetitor membuat kita panas dan sebagainya.





Sepanjang perjalanan hidup, saya menemukan banyak sekali formula. Mulai dari menghadapi masa tumbuh kembang anak,  berbeda pendapat dengan pasangan, teman yang baperan, customer yang cerewet, klien yang sok sibuk, keluarga jauh yang suka merongrong, hingga lingkungan sosial media yang kerap kali di luar ekspetasi kita.
Bagi saya, siapapun yang masuk ke dalam hidup kita harus dibagi pada bilik-biliknya. Tidak semuanya akan berada dalam skala prioritas, sama halnya dengan pekerjaan, hobbi hingga kumpul-kumpul yang katanya "silaturrahmi" tidak semuanya bisa saya masukkan ke dalam prioritas, karena waktu dan kesempatan saya sangat terbatas.
Setidaknya saya membagi orang-orang dalam hidup saya menjadi 3 (tiga) bagian.
A1. Bagi saya orang-orang berada di lingkaran A1 adalah orang-orang yang menjadi titik utama dal…

MEREKA MERAGUKAN KEISLAMAN SAYA

Masjidil Haram, Februari 2020



TIGA KALI

Saya diragukan TIDAK bisa membaca Al Quran.
Satu kali dalam perjalanan bersama anak Gubernur Meknes di pusat peninggalan kerajaan Romawi kuno di Kota Meknes, Maroko. Saya dipaksa membaca ayat kursi. Ikram saat itu meragukan keislaman saya, selain orang Arab, menurutnya mungkin orang Asia seperti saya belum tentu bisa mengaji. 

Ya sudah.. Saya turuti saja. Saya bacakan beberapa surah, ia dan supirnya menatap saya lama. 
"Meziann...Thayyib Jiddan" katanya. 

Kemaren pun demikian. Saat di Masjid Nabawi saya shalat bersebelahan dengan jamaah dari Quwait, dia dan anak gadisnya menatap qur'an yang saya baca, karena ada terjemahannya, dia mengira itu bacaan qur'an dalam huruf latin.

 Saya jawab "Ini terjemahannya, bukan bahasa Al Quran yang dilatinkan. Alhamdulillah saya bisa membaca Al Quran". Saya baca dua ayat dari surah Al An'am.

Lalu dia menepuk berulang kali pundak saya. "Masyaa Allah. . Masyaa Allah" Katanya. 

Te…

MEDINA, I'M IN LOVE (My Umrah Story #1)

Pernah enggak kita merasa bahwa benar-benar udah "dipanggil" ke rumah-NYA?
Dulu sekali saya tidak pernah berpikir akan dipanggil dengan cara seperti ini.
Hampir dua tahun saya memasang foto Ka'bah di semua wallpaper ponsel saya. Bahkan hampir Setahun saya memasangnya di cover sosial media milik saya.

Bisa dipastikan hampir setiap hari saya melihat gambar Ka'bah di ponsel, sebagai barang yang paling sering saya gunakan. Buat sebagian orang berada di Tanah Suci bukan perihal yang "wah" karena banyak teman-teman saya yang sudah memiliki segala macam harta benda, sudah keliling dunia kemana-mana, tapi tidak terpanggil untuk ke Baitullah.

Namun, ada banyak orang juga yang ingin ingin sekali ke Baitullah, namun biaya dan jalan menuju ke sana belum ada. Jadi, menurut saya, menuju tanah suci satu-satunya panggilan yang benar-benar panggilan dari pemilik rumah, Allah Azza Wa Jalla.

Tahun itu 2019, semua serba terbatas, beberapa project buku saya mandeg tanpa bayara…

MENGAPA ANAK DIJADIKAN ALASAN?

anak-anak di Masjidil Haram credit foto by Aida Ahmad
Seberapa sering langkah kita terhenti karena harus mengurus anak? Atau apakah kita menjadikan anak-anak yang kita lahirkan sebagai alasan atau penghalang untuk tetap beribadah dengan khusu'?

Beberapa kali waktu shalat di Masjidil Haram, saya sengaja memilih shalat diantara ibu-ibu yang membawa anak-anaknya. Saya amati mereka, saya perhatikan anak-anak mereka. Saya takjub bagaimana mereka membiarkan anak-anak mereka menyapa jamaah lainnya.



Masya Allah bayi-bayi, anak anak balita diajarkan agar cinta pada masjid, mereka berkenalan dengan jamaah yang lain, lalu sang ibu membaca Al-Quran, sambil menunggu waktu shalat selanjutnya, sang ayah membantu mengasuh balita. Saya menemukan kekompakan dalam hal mendidik yang Masya Allah (meski mungkin tidak semua keluarga melakukan hal yang sama)

Namun. Keluarga-keluarga yang saya temui di barisan Shaf Masjidil Haram adalah orangtua yang tak pernah menjadikan anak-anak mereka sebagai alasan …

Menjadi Muslimah Penulis, Apa Manfaatnya? | Erlangga Inspirasi Ramadhan ...

Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh ketika kita menulis.

Menulis bukan hanya menyebarkan kebaikan, namun juga dapat menjadi second income dan karya yang bisa dinikmati banyak pembaca, jika dilakukan simultan dengan teknik tertentu menulis juga mampu menetralisir perasaan dan pikiran negatif, karena menulis salah satu bentuk rileksasi diri kita dalam menetralisir perasaan-perasaan negatif dan kelelahan-kelelahan dari rutinitas yang dilakukan setiap hari.

Selamat menemukan manfaat menulis lainnya ya.
Selamat menyimak.