Jumat, 31 Mei 2019

Menjadi Muslimah Penulis, Apa Manfaatnya? | Erlangga Inspirasi Ramadhan ...



Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh ketika kita menulis.

Menulis bukan hanya menyebarkan kebaikan, namun juga dapat menjadi second income dan karya yang bisa dinikmati banyak pembaca, jika dilakukan simultan dengan teknik tertentu menulis juga mampu menetralisir perasaan dan pikiran negatif, karena menulis salah satu bentuk rileksasi diri kita dalam menetralisir perasaan-perasaan negatif dan kelelahan-kelelahan dari rutinitas yang dilakukan setiap hari.

Selamat menemukan manfaat menulis lainnya ya.
Selamat menyimak.

Langkah-langkah agar Anak Rajin Shalat | Erlangga Inspirasi Ramadhan | E...



Ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar anak-anak kita rajin salat tanpa harus disuruh-suruh dan dipaksa-paksa.

1. Biasakan bertanya pada anak, apa esensi dari salat, ketika melaksanakan salat, apa ia mengingat Allah, apa ia merasa sedang berdiskusi dengan Allah, jika jawabannya belum, maka ajaklah anak kita untuk memahami bahwa salat adalah kebutuhan jiwa, untuk ketenangan jiwa.

2. Role Model, anak-anak kita butuh sebuah role model, sebagai orangtua jika azan tiba kita masih berleha-leha, maka wajar anak-anak kita menjadi leha-leha. tunjukkan pada anak-anak kita, ketika azan tiba kita bergegas untuk salat dan mengajak anak-anak kita untuk salat.


Apa lagi ya, tips untuk mengajak anak-anak kita rajin salat?
selamat menyimak ya di link youtube di atas.

Minggu, 26 Mei 2019

DO UNTO OTHER

do unto others






Saya pikir, tema ini penting untuk dituliskan. Hari gini, meski tidak aktif di sosial media. Tapi kita terbiasa mencari informasi lewat mesin google. Termasuk mencari informasi tentang seseorang di page google. Meski image yang tampil tidak sepenuhnya benar, tapi setidaknya cobalah untuk mengetahui apa saja kegiatan seorang tokoh atau seseorang sebelum kita bertemu dengannya. Bisa melalui orang/lembaga yang merekomendasikannya.

Pertama. Sebelum janji bertemu dengan seseorang. Ada syarat utama dalam membangun komunikasi yaitu "Berpikir baik"

Beberapa waktu lalu, saya janji meeting dengan seorang dosen, bahkan dosen komunikasi..seorang Doktor perempuan yang butuh editor konten untuk naskahnya yang sangat "text book". Saya terbiasa selalu on time bahkan datang lebih awal supaya yang bersangkutan tidak perlu lama menunggu saya dan pertemuan bisa selesai dengan cepat.

Katakanlah ia dosen di sebuah kampus di Jakarta. Saya masuk ke ruangannya (ruang dosen bersama) setelah beberapa kali menelpon tapi tidak diangkat.

Saat itu kebetulan dia sedang makan siang. Begitu saya datang. Dia justru menyuruh saya menunggu dia makan, karena tidak nyaman menunggu orang makan sembari dia ngobrol dengan rekan dosennya. Akhirnya saya memilih menunggu di luar.

Lumayan lama saya menunggu berdiri di luar ruangan hingga 15 menit, sampai akhirnya dia meminta saya masuk. Secara gesture tubuh, dia memperlakukan saya seakan-akan dia jauh lebih tinggi derajatnya dibanding saya. Olala...

Kebetulan saya datang bersama suami. Dia bercerita tentang kegiatan kami, buku apa saja yang saya tulis, buku tokoh siapa saja yang saya garap, dengan kedutaan mana kami pernah bekerjasama. Nada bicara si dosen yang awalnya tegas dan sinis sekarang mulai melunak.

Dari awalnya dia memanggil saya dengan sapaan "kamu" layaknya saya mahasiswanya, sampai akhirnya memanggil saya dengan Mba Aida. Jangankan menyuguhi kami makanan, air mineral gelas, senyum pun tidak ada (minimal disambut senyuman lah ya ). Ah, jadi ingat seorang Professor perempuan Ahli ilmu budaya yang saya temui di Gare Mohammediyah. Meski pertama kali bertemu, dia tidak sungkan menyambut dengan sangat baik, menyuguhi masakan khas Maroko dan mengajak keliling Kota Cassablanca.

Kita kembali ke Bu Doktor ya. Saya bisa merasakan sikapnya yang mulai berubah. Ada raut wajah dan rasa enggak nyaman, mungkin juga malu karena memperlakukan saya kurang baik. Apalagi terang-terangan suami saya menunjukkan hasil googling beberapa buku yang saya tulis dan tokoh-tokoh yang saya bantu penulisan bukunya.

Percayalah. Setiap orang yang pertama kali kita temui. Pasti ia memiliki satu atau dua kelebihan yang tidak kita miliki. Jika memang kita seorang Doktor, bukan berarti layak merendahkan yang lain. Karena titel Doktor hanya pada bidang keilmuan yang kita tekuni. Bukan berarti tahu segala hal kan?
Syarat utama komunikasi, berpikir baiklah pada siapapun di kali pertama bertemu, meski kita enggak sempat googling siapa orang yang akan kita ajak kerjasama ini. Karena berpikir baik biasanya akan memperpanjang usia silaturahmi.

Kedua.
DO UNTO OTHERS. Seseorang WA admin saya, menanyakan siapa coach private writing di kelas menulis yang dikelola management penerbit saya.

Kami jelaskan siapa coach pengajar Online class. Eh, malah dengan kalimat sinis dia balik bertanya "Siapa ya dia? Nulis buku apa? Pembicara dimana? Saya juga seorang pembicara, motivator psikolog sejak tahun 1987 dan gratis..tis..tiss. bla..bla..bla"

Wahhh..ternyata kita bukan sekedar mencari informasi, tapi berusaha menaikkan diri dan merendahkan yang lain.

Siapa ya yang mau diperlakukan begitu?

DO UNTO OTHERS WHAT YOU WOULD HAVE THEM DO UNTO YOU.

Selasa, 07 Mei 2019

Puasa Tetapi Tidak Shalat | Erlangga Inspirasi Ramadhan | Emirbooks







Beberapa minggu sebelum puasa, saya dihubungi oleh tim marketing emir, diminta untuk mengisi konten inspirasi ramadan di Erlangga Inspirasi TV. Ini amanah yang besar buat saya, karena pada dasarnya saya hanya orang yang belajar menjadi diri lebih baik dari sebelumnya.



Dengan mengisi konten ini, semoga mendapat banyak kebaikan terutama bagi diri saya sendiri.



Selamat Ibadah Puasa, Jangan sampai puasa tapi tidak shalat yaaa.





Salam

Aida, M. A

Minggu, 06 Januari 2019

SAYA POSITIF





Sebut saja namanya Reni ( bukan nama sebenarnya) semenjak suaminya di PHK ia merasakan ujian datang bertubi-tubi. Suaminya mendadak jarang pulang, nge drugs hingga meninggal dalam kondisi positif HIV.


Dua tahun setelah suami meninggal dunia, Reni sakit parah. TB analisis dari dokter saat itu. Tapi siapa yang sangka, TB yang ia derita, merupakan syndrome dari HIV yang pelan-pelan menggerogoti tubuhnya.


"Saya positif mba Aida, lebih sebulan saya menangis setiap hari. Mungkin saya sanggup menjalaninya, tapi anak saya? hati saya lebih hancur saat Asri (bukan nama sebenarnya) putri saya juga divonis positif HIV"

"Jadi ibu tertular dari suami?"

"Ya. Tapi saya enggak mungkin sampaikan ini ke keluarga alm suami saya. Mereka pasti enggak bisa nerima. Apalagi tahu cucu mereka juga positif. Semuanya saya telan sendiri, saya enggak mau derita saya akan dialami Asri juga. Saya enggak mau Asri dibully dimanapun karena penyakit ini. Katakanlah kalo memamg saya banyak dosa, tapi saya enggak rela Asri menerima semuanya. Tapi sampai saat ini, saya tidak tahu dosa saya yang mana membawa saya pada penderitaan ini?"

Saya menatap Reni lalu berganti Asri. Gadis berumur 12 tahun itu sejak kecil sudah sakit-sakitan karena tubuhnya membawa virus.

" Saya saat itu belum punya BPJS, karena ekonomi, pengobatan Asri saya hentikan. Akhirnya ia resisten obat. Skrg ARV (obat untuk HIV) jadi naik lini dua. Tapi terlambat saraf mata Asri rusak. Dia jadi buta sejak dua bulan ini"

Reni menangis dan saya berulang kali mengelap airmatanya. 

Atas dasar apa manusia yang lain menuduh yang lain kotoran?

Atas dasar apa yang lain menganggap yang lain lebih rendah darinya? Hanya karena Allah belum membuka aibnya. Jadi bisa bersenang dan merasa paling benar dan paling suci.

Hati saya geram. Membuka status diri sebagai ODHA di negeri ini, sama saja dengan membunuh diri. Sakit mereka sudah demikian purna. Ditambah pula dengan stigma dari kita. Iba hati saya melihat keduanya.

Ini cerita Minggu Pertama saya di tahun 2019.