Sabtu, 14 Mei 2011

Surat Untuk Istri dari Lelaki Yang Kurindui


Kepada Istri
Yang Lelakinya Kurindui

Maaf, .....
Mungkin ini kata pertama yang harusnya kugoreskan dalam setiap tatapku padamu. Setiap kali kumelihatmu dengan pakaian sederhanamu, dengan senyuman keibuanmu dan dengan kasih sayangmu pada anak-anak dari lelakimu. Aku hanya ingin mengucapkan satu kata “MAAF” karena aku merindui lelakimu, suamimu.
Bolehkah aku hanya sekedar merinduinya???
Oh, sepertinya ini pertanyaan yang konyol.  Mungkin dengan segera aku akan mendengar kalimat penolakan darimu. Penolakan dari hatimu memintaku jangan mencoba untuk merindui lelakimu, suamimu.
Ah, maafkan aku lagi,...
Jujur,..Aku sungguh terlanjur merinduinya. Terkadang logikaku tak mampu bekerja baik jika berhubungan dengan rasa, bahkan kini logikaku kalah telak karena ku tak perduli bahwa lelaki yang kurindui telah membangun masjid bersama dirimu dalam ikatan pernikahan.
Maaf,....
Apa kau tahu, pesona lelakimu menggodaku. Menggoda inginku untuk mengharapkannya lebih dari sekedar merindu. Jadi, kini aku bertanya padamu....Bolehkah kita berbagi tempat di hatinya?? Tak mengapa jika hanya secuil untukku, dan diletakkan di sebuah sudut yang kelam. Itu semua sungguh tak mengapa, asal kau ijinkan aku masuk ke dalam hati lelakimu.
Ah,...Maafkan aku lagi,...
Ternyata aku terlalu lancang kali ini.  Percayalah, aku tak akan berani meminta jika tak ada kalimat memberi. Tatapan mata lelakimu padaku mengisyaratkanku harus meminta sesuatu. Sesuatu yang lebih dari sekedar rindu. Ya itu Hatinya.
Sekali lagi aku bertanya, bolehkah kita berbagi tempat di hatinya???
Tak mengapa jika saat ini kau belum mampu. Atau menghujaniku dengan tangis kesedihanmu. Aku akan tetap menunggu, atau aku akan memilih pergi hingga ku tak temui lagi isyarat dari mata lelakimu.
Salam
Aku yang merindui lelakimu




Memarahi Anak????



dasar anak nakal, kurang ajar, anak bodoh,…(hindari untuk mempraktekkannya di rumah yaJ)
Demikian sederet kalimat yang saya dengar siang tadi, persis di samping rumah saya. Hati saya berontak ketika kata-kata itu terdengar sangat jelas di telinga saya. Teriakan seorang ibu pada anaknya haruskah seperti ini tanya saya dalam hati. Jujur saya tidak bisa terima kalimat itu dilontarkan pada seorang anak yang merupakan darah dagingnya sendiri.
Saya sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu bagi anaknya. Tak bisa saya sangkal, bahwa memang terkadang saat lelah emosi bisa saja berubah. Tapi apa benar demikian caranya mengontrol emosi, melampiaskannya pada anak yang tak tahu apa-apa. *ini menyedihkan menurut saya.
Sama halnya dengan orang dewasa, ada fase-fase tumbuh kembang anak yang membuat orangtua kewalahan menanganinya. Anak-anak mengalami masa tantrum, perubahan emosi tiba-tiba atau terkadang menjadi sulit sekali diatur. Tapi demikianlah Tuhan menciptakan fase-fase tumbuh kembangnya, sama halnya dengan degradasi warna akan terlihat indah pada akhirnya.
Saya percaya bahwa kesuksesan dan kemunduran seseorang berawal dari rumah, rumah yang terdiri atas orangtua atau pengasuh dan pola asuhnya. Saat orang tua teramat kesal dengan sikap anaknya, apakah wajar seorang ibu menghujat anaknya dengan demikian kasarnya???
Ada perbedaan antara menghujat pribadi anak dengan tidak menyukai prilaku buruk anak. Jika kita mengatakan “dasar anak bodoh”, apa benar kita ingin anak kita menjadi orang bodoh. Bukankah sebuah hujatan seperti itu bisa melukai mental si anak, yang pada akhirnya membuat anak tidak percaya diri.
dasar anak bodoh”    = ini menghujat pribadi anak, kita telah menanamkan dalam pikiran  bawah sadar anak, bahwa ia anak yang bodoh.
bohong itu tidak baik                “= ini menyatakan kita tidak suka pada kebohongan yang dia lakukan, bukan tidak suka pada pribadinya.
Suami saya memberikan saya pelajaran melalui kasus beberapa kliennya. Sebagian anak remaja yang masuk ke ruang konsultasinya adalah anak-anak yang memiliki pola asuh yang kurang tepat. Di usia yang masih terbilang muda, para remaja itu mengalami depresi, rasa tidak percaya diri yang tinggi. Sebagian besar pula tidak bisa curhat pada orangtua mereka yang seharusnya menjadi orang yang paling dekat dalam hidup mereka. *menyedihkan bukan
Jika kita ingin mengetahui bagaimana sifat anak kita. Maka bercerminlah pada diri kita sendiri. Anak ibarat kanvas tanpa frame, sebagian besar framenya para orangtualah yang menciptakannya. Jika hari ini anak mengucapkan kalimat yang tidak baik, kembali chek daftar kalimat yang pernah kita ucapkan padanya, bisa jadi kitalah yang tanpa sengaja telah mengajari hal - hal yang kurang baik tadi pada anak-anak kita.
Kasih sayang dan minat yang sungguh-sungguh dari orang tua merupakan senjata yang ampuh untuk menghadapi semua tantangan hidup yang akan dialami oleh anak-anak yang masih tidak tahu apa-apa ketika mereka diasuh oleh ayah dan ibunya ( Laurel Schmidt )
Lagi-lagi harapan besar di hati saya menjadi orang yang paling nyaman ketika anak saya berbagi segala hal, mengingat perjalanan saya masih terlalu panjang untuk menjalani peran dan tanggung jawab saya sebagai seorang ibu bagi anak saya. Semoga,… J




Mengapa Kita Mampu Menangis??

Mengapa Kita Mampu Menangis???
By
Aida M affandi


Jum’at  yang lalu ba’da shalat zhuhur berjama’ah saya melanjutkan sunnah muakkad. Baru selesai salam saya terpaksa menoleh ke belakang tepat di belakang shaf saya berdiri.
Seorang santri perempuan sedang menangis dalam alunan doanya. Menariknya karena dia menangis sesenggukan sehingga saya bisa mendengarnya dengan jelas. Saya hanya mendiamkan saja, saya tidak ingin mengganggunya karena dia sedang berbagi dengan Yang di Atas.
Selesai berdoa, saya kembali harus menoleh ke belakang. Lagi-lagi masih santri saya yang tadi menangis saat berdoa. Kali ini dia menangis sesenggukan sambil membaca Qur’an. Saya masih mendiamkannya juga. Saya fikir dia sedang mencari jalannya sendiri dengan banyak bercerita pada sang Khaliq. Jika waktunya tepat insya Allah dia akan menemui saya pikir saya dalam hati.
Semenjak hari itu saya jadi bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan membuat air mata untuk kita?? Mengapa kita bisa menangis??? padahal jika dilihat dari sisi manapun tertawa dan tersenyum dengan lebar itu jauh lebih menyenangkan dari pada menangis yang membuat mata bengkak, hidung beler, nafas sesak * kira-kira ini efek menangis :D
Semenjak kita lahir kita sudah mampu menangis.  Menangis berarti mengeluarkan air mata. Bukankah air menjadi hal yang sangat essential dalam hidup manusia??? Entahlah, saya lebih tertarik mengaitkan air mata dengan fungsi dari air itu sendiri.
Air bagi ummat manusia adalah sumber kehidupan, bagi ummat islam adalah salah satu syarat menghilangkan najis, hadast besar ataupun kecil. Air tentu saja untuk membersihkan, untuk membasuh, untuk menghilangkan dahaga, untuk mengatasi kekeringan *loh, kok bahasannya guna air :D
Saya, santri saya, anak saya, dan anda semua tentu pernah menangis. Terserah atas alasan apapun, saya yakin masing-masing diri kita pernah menangis. Bayangkan bagaimana seseorang yang tidak pernah menangis???? Bayangkan bagaimana seseorang yang menahan emosinya??? Bukankah orang yang menahan emosi akan menghancurkan jiwanya. Emosi yang dibasuh oleh airmata akan membuat hati kita tenang, setidaknya itu yang saya rasakan.
Sore tadi saya mencuci scoopy  kesayangan saya dengan membubuhi sabun pada busa pembersihnya tanpa mencelupkannya ke dalam air terlebih dahulu. Alhasil busa itu begitu kaku, kering kerontang. Saya fikir seperti itu pula orang yang tak pernah menangis sekalipun, akan menjadi begitu kering dan kaku. Dalam islam sendiri menangis saat menyesali dosa justru akan menggugurkan dosa-dosa terdahulu. Menangis karena takut azab adalah tanda kelunakan hati.
Kali ini saya mencelupkan busa tersebut ke dalam air, busa kini menjadi lebih lunak. Saya fikir seperti itu juga diri kita, ada saatnya kita perlu meneteskan air mata. Mengeluarkan emosi di hati kita dengan membasuhnya dengan air mata, ketika hati telah terbasuh maka timbullah ketenangan, cinta, dan penerimaan.
*mari sama-sama menyanyikan lagu dewa 19
Menangislah,…bila harus menangis,…karena kita manusia,…
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,….
Dan manusia pun bisa mencari hikmah,….


Jakarta, 8 desember 2010
Aida M Affandi

Jumat, 06 Mei 2011

Bahasa



Sepulang ngajar siang tadi saya sempat bertemu banyak orang di angkutan umum (sepeda saya minta cuti sebentar berhubung hujan terus)ada penumpang yang naik ada juga yang turun, bermacam raut wajah saya temui di situ, dengan beragam bentuk dan juga bahasa yang mereka gunakan.
Sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia dengan bermacam dialek pula. Ada sebagian menggunakan bahasa jawa, sunda juga betawi. Saya jadi terkagum-kagum dengan semaraknya khasanah bahasa di Indonesia. Begitu banyak bahasa yang digunakan untuk saling berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan.
Tempat tanah kelahiran saya sendiri  di tanah rencong sana, selain menggunakan bahasa aceh ada banyak bahasa yang masih tetap eksis digunakan di sana, bahasa aneuk jame (mirip bahasa minang), bahasa gayo, bahasa alas, bahasa devayan dan bahasa kluet (mirip bahasa batak karo) wuiiiiihhhhhh,…di aceh saja begitu banyak bahasa (konon lagi di seluruh Indonesia).
Saya jadi berfikir  selain sebagai pengantar komunikasi, bagaimana fungsi bahasa dalam bentuk yang lain dalam hidup kita??? Saat  ini, ternyata bahasa bukan lagi sebagai deskriptif, melainkan generative dan kreatif *loh kok jadi ribet begene ya…J. Maksudnya bahasa-bahasa itu juga dapat menciptakan peristiwa-peristiwa.
John Osteen  (dalam buku Tafsir kebahagiaannya kang Jalaluddin rakhmat) memberikan contoh bahasa dapat menciptakan peristiwa-peristiwa, pada ritual pernikahan di gereja.
Si pendeta mengatakan “I know you are a husband and a wife”
Lalu kedua mempelai mengatakan “ I do “
Dari bahasa itu, pendeta akan mengatakan “ you may kiss??”
Kemudian, ciuman itu tidak akan terjadi jika salah satu mempelai mengatakan “No”. sebaliknya jika mengatakan “Yes”  maka kedua mempelaipun akan berciuman.
Begitu juga dalam islam sebuah hubungan wanita dan pria menjadi halal setelah adanya Ijab dan Qabul dalam sebuah akad nikah. ah, ternyata ini salah satu fungsi bahasa yang kurang saya sadari *jadi malu sendiri :D.
Ada sebuah lagi pelajaran penting yang saya dapatkan dalam fungsi sebuah bahasa. Yaitu dalam hal mengontrol bahasa.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa mulutmu adalah harimaumu. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan kita bisa saja muncul dari bahasa yang kita gunakan. Retaknya persaudaraan, persahabatan bahkan hubungan suami istri bisa terjadi karena bahasa yang kita gunakan. Cekcok itu bisa mereda atau bahkan menjadi semakin keruh tergantung dari bahasa yang kita gunakan selanjutnya.
Ketika amarah memenuhi pikiran, ketika esmosi merajalela di hati, mampukah kita memilih bahasa yang tepat saat kita melepaskan amarah??? Saat marah mungkin yang terlihat di mata kita hanyalah hal-hal yang buruk saja, pada akhirnya bahasa yang kita gunakan justru semakin menyakiti hati dan memperumit keadaan.
Menyomot kata-katanya Chalmers Brothers dalam bukunya Languange and The Pursuit of Happiness. Bahasa dapat membuat hati bahagia atau berduka. Jadi, jika kita ingin bahagia dalam hidup, ciptakanlah bahasa-bahasa atau cerita-cerita baik dan selalu membangun prasangka positif.  
Ah, postingan ini benar-benar sebagai warning buat saya yang terkadang kurang memiliki control bahasa ketika emosi datang.

Kamis, 05 Mei 2011

Pengakuan Seorang Lelaki




Suatu sore di sebuah kedai pizza, terjadilah sebuah obrolan tidak jelas antara saya dan seorang sahabat lama saya. Sahabat saya ini seorang lelaki sebut saja namanya Andhika (bukan nama sebenarnya).
Semenjak awal saya bersahabat dengannya, andhika terkenal dengan religiusnya. Beberapa hal yang berhubungan dengan fiqh islam sering kali saya dan teman-teman mengandalkannya.
Setelah hampir 5 tahun saya tak berjumpa Andhika, saya merasa ada yang berbeda dari sahabat saya satu ini. Sikapnya sekarang jauh lebih terbuka, berbicara blak-blakan bahkan soal seks :D, pokoknya dia beda banget dengan yang saya kenal sebelumnya.
Saya                      : kamu nikah ama sapa seh?? Kok aku ga dikabari
Andhika               : kamunya juga ngilang kemana, aku ama istriku pacaran 3 tahun trus baru nikah.
Saya                      : what???kamu pacaran??? (mulut saya menganga, kaget bukan kepalang)
Andhika               : iya, pingin nyobain gimana pacaran (tertawa lepas)
Saya                      : Tapi istrimu benar-benar pilihan hati kan???
Andhika               : ehmmmm (berhenti sejenak), ah laki-laki selalu ingin mendapatkan wanita yang sulit                                                 ditaklukkannya.
Saya                      : maksudmu dia sulit ditaklukkan gitu??? (kening saya mengkerut)
Andhika               : why men want sex and women need love, kamu pernah baca kan???
Saya                      : so?? (saya masih belom nyambung :D)
Andhika               : aku menikahinya karena kami sudah terlanjur intim, tanpa cinta!!!!
Saya                      : hah???? Terlanjur intim trus Menikah tanpa cinta???hari gini????
Andhika               : ada wanita yang aku taksir, tapi tak pernah berhasil dapetin perhatiannya,    akhirnya  aku harus realistis dengan istriku sekarang, kasian juga secara udah     “deket” banget . (tersenyum nakal)
Saya                      : trus, sekarang uda cinta donk
Andhika               : setelah anak kami lahir, aku baru mulai mencoba mencintainya.
Saya                      ; mencoba??berhasil?? tapi syukur kalo kamu setia pada istrimu.
Andhika               : setia itu impossible aie,…aku lebih prefer dengan responsibility. Namanya lelaki                                           sifatnya selalu menabur benih, isi boleh donk kemana-mana, tapi botol harus pulang ke                                              rumah (tertawa ngakak)
Saya                      : parah,..parah,…nakalmu terlambat An!!!

Ah, laki-laki seperti Andhika,….ingin sekali saya menanyakan apakah setia itu begitu sulit??? Saya tahu saya tak berhak menilai seseorang buruk atau baik, pertanyaan sebuah kesetiaan juga akan sama berlakunya bagi wanita. Karena dimata Tuhan wanita pria  adalah equal.
Saya memandangi foto wanita yang dipanggilnya istri. Menurut saya wanita itu tergolong cantik. Tak habis fikir saya apa yang difikirkan andhika, menikah tanpa cinta dan menganggap bahwa setia sesuatu hal yang tak mungkin. Terlepas jika andhika bercanda sekalipun, bagi saya pernyataannya sama sekali tak bisa saya terima. Dan jika mungkin, ingin sekali saya jambak rambut andhika saat itu juga…. :D






Selasa, 03 Mei 2011

Menulis itu Healing



Orang bijak berkata “bermimpilah, karena bermimpi itu gratis”. benar adanya bermimpi itu gratis, tidak dipungut bayaran. Namun untuk mewujudkan mimpi itu harus dibayar dengan belajar dan usaha keras disertai doa yang tulus.
            Katakanlah saya seorang pemimpi saat ini. Tiba-tiba saya memutuskan untuk memiliki mimpi ini setelah saya menikmati tiap kalimat yang saya susun begitu saja buah pikir dari otak saya yang ruwet saat itu. Saya menciptakan mimpi ini setelah saya merasakan kekuatan dari sebuah tulisan.Ya, saya bermimpi menjadi seorang penulis.
            Baru dua tahun ini saya berani menyebut diri saya seorang penulis. Penulis yang selalu saya  sandangi kalimat pemula  di belakangnya. Tepatnya saya seorang penulis pemula, karena saya memang belum punya prestasi dalam hal ini. Saya hanya coba berselancar dari satu situs ke situs lainnya, dari satu blog ke blog lainnya, lalu meninggalkan jejak saya di situ yang entah kemudian disukai atau sekedar dicibir saja. Itupun tak pernah jadi masalah buat saya.
            Kenyataannya bermimpi menjadi seorang penulis itu indah ketika beberapa kalimat yang saya susun menjadi obat bagi hati yang sedang risau. Sebuah perasaan yang bisa dikatakan bahagia saat beberapa orang teman di dunia maya mengirimi saya email hanya untuk mengatakan bahwa tulisan saya menginspirasinya.
            Ibarat sakit, bagi saya menulis adalah sebuah ramuan obat yang menenangkan. Jika tulisan itu adalah obat, tentu saja akan ada takaran dosis tertentu untuk masing-masing orang dalam menikmati sebuah tulisan. Jika sebagian telah sesuai dosisnya dengan hanya  membaca tulisan saya, maka sebagian yang lain mungkin akan pulih dengan dosis yang lebih tinggi. Tapi tak mengapa itu pun akan menjadi bahan perbandingan buat saya dalam menulis.
            Hanya dengan menulis saya berhasil mengobati hati saya tanpa takut tak ada yang mau mendengarkan saya. Suatu saat saya hanya ingin menjadikan tulisan saya sebagai obat herbal dengan dosis yang sama untuk setiap orang yang membacanya. Obat yang mampu menyembuhkan tanpa meninggalkan efek samping yang buruk. Ya, SEMOGA.

Minggu, 24 April 2011

Wingman



            Waktuku serasa berhenti berdetak saat kau hadir perlahan. Menyesap ke-tiada-anku ke dalam ada-anmu. Bersama desau angin yang memerih rindu meradang. Ku lihat kau sekilas dengan sayap terkembang menyapaku dengan senyuman.
            Arakan awan mengiringi setiap kepakan sayapmu, merindu, mengeram, meronta akan cinta yang terpasung oleh kabut ketakdayaan kita. bukankah cinta bukan hanya urusan mata, namun cinta mengaitkan hati dalam jarak tak berjarak. Merangkai kasih dalam kisah walaupun nyatanya nista.
            Walaupun berselimut penantian, kita tetap harus mengunyahnya bersama. Dunia kita ada waktunya ucapmu. Kita semakin terluka, saat harus memendam kata, mengeram rasa. Menjadi setia menanti hujan melemparkan kita dalam setiap abdjad terakhir yang menjadi titah  dari yang kuasa.
            Langkahku selalu menuju arahmu. Mengapa rindu ini selalu membutuhkan jarak. Jarak mataku memandang ketulusanmu, jarak tubuhku yang ingin membekapmu dalam rangkaian rindu. Jarak kenyataannya yang hanya kucecap dalam sebaris kata-kata saja.
            Aku dan kau adalah absurd. Hanya terangkai dari desahan angin, tercipta dari ribuan mili titik hujan. lalu hanya menjadi nyata dalam dekapan sayapmu yang kau rentangkan saat malam menjelma menjadi rindu yang tak terperikan.
            Kemarilah,...rasakan setiap sentuhan sayapku yang memelukmu erat, kan kuajari kau bagaimana membuat rindu ini indah, kan kuajari kau bagaimana menjadi wanita dandelion dalam hatiku.
            Rentangan sayapmu melingkupi tubuhku. Kita bertemu dalam gelombang alpha. Memanggut rindu pada tiap bibir yang basah. Selanjutnya biarkanlah desiran angin yang hampa mengartikan semuanya tentang rahasia di balik sayapmu.

Jakarta, 26 April 2011
Aida M Affandi
           

Jumat, 22 April 2011

Esok,..Kecuali Aku



Adikku,....
Di sini, kubaca Malam yang dingin dengan wajah termangu
Mungkin pertanda esok hari akan Cerah.
Secerah Harapan yang disandingkan dalam Doa untukmu
Baju pengantin putih telah menanti sebagai baju kebesaranmu esok
Ketika bumi menyaksikan kau temui gerbang itu.

Adikku,....
Puluhan mata menatapmu esok, berucap amiennn mempersembahkan Ijabah.
Menyemai Harapan, mengembangkan senyuman mengiringi tiap kata sakral yang tercipta.
Kalimat bahagia tak cukup disandingkan dengan senyuman
Bahkan airmata pun tak cukup menyatakan bahagia.
Itu semua untukmu adikku.

Adikku,....
Lelaki paruh baya yang selalu kita panuti, menahan genangan di sudut matanya.
Menabuhkan bangga, menyematkan semangat untuk menit-menit bahagiamu.
Berbahagialah adikku,..
Karena wanita yang menghabiskan waktu dan hatinya untuk kita
Kini berurai airmata, bukan pertanda tak rela ,namun akibat sayang yang mendalam.

Adikku,...
Esok, Kurasakan ratusan malaikat berbaris di langit sana
Menyaksikan sebuah masjid yang dibangun atas ikatan suci
Kecuali aku,..ya kecuali aku yang hanya mampu menatapmu dari jauh
Menyeka airmataku, menengadahkan tanganku dengan tulus
Menyusun ribuan maaf tak kala tubuhku tak berada diantaramu

Adikku,...
Melangkahlah mendekat pada gerbang itu dengan senyuman
Bahteramu kini siap untuk berlayar,....
Menghalau ombak, menantang angin
Tapi kuyakin kau sangat mampu,..
Karena ku tahu kau selalu bijak menjadi nakhoda.

*****







Kamis, 21 April 2011

Shelter



Malam merangkak menjemput gulita. Tubuh-tubuh bersatu bersama jiwa meraih ketenangan.  Pesona Malam hanya dipandangi oleh mata yang terjaga dari gulita. Desau angin melewati tiap apa yang dilaluinya, menyampaikan sentuhan tanpa ku memintanya.
            Sebongkah sesak bercokol di dadaku kini. Buyar melebur bersama badai airmata. Rembulan menatapku dari duduknya. Tak perduli sekalipun ditatap tangisku tak jua mereda. Kini Bintang yang genit mengerdipiku, namun gundahku tak jua berujung malu olehnya.
            “Menangislah, namun jangan terlalu lama....kau harus selalu terlihat anggun, karena kau wanita yang kuat dan pantas untuk bahagia”
            Sebuah nada berat di ujung sana membungkam riuh kalutku. Seolah berhenti badai yang menerjang bidukku. Senyap,...sesenyap harapku menghapus laju sesak pada dinding kalbu rapuhku.
            Mata yang tajam bersinar tepat menghujam dadaku. Hatiku kini Seperti dinding kaca yang mampu kau baca dari jarak tertentu, mampu kau amati hingga kau temukan bagian hatiku yang mengelupas perih.
            “bersandarlah, kau tak perlu meminta...kutemani airmatamu agar segera mereda, menemui muaranya” suaramu kian mendekat.
            Wahai kau yang datang meminjamiku bahumu, bisakah lebih lama kau di sini??? Di sini terlalu rapuh, seperti bongkahan kaca berserakan ketika terjatuh.
            Wahai kau yang datang membekap dera resahku, bisakah kau bersemayam di sini??? Di sudut hatiku, penjaga kerapuhan jiwaku. Bisakah kau????.................
            Malam kian hening, sehening aku memaknai pelukan kekasih lelaki malam yang selalu datang bertandang berucap sayang sesaat kemudian meninggalkanku dalam bayang.

Jakarta, 22 April 2011
Setengah jam setelah tengah malam.

Senin, 18 April 2011

LELAKI MALAM


            Mungkin hanya beberapa saja, kerlipan bintang yang mengedipiku di pekat gulitanya malam. Kurasa langit kian menjelaga, membiarkanmu datang di antara bayang-bayang malam para hati yang setia mengucapkan selamat tidur  pada kekasih hatinya.
            Dalam gelombang alpha, kau hadir perlahan. Seperti simpul-simpul saraf penyampai pesan rindu, kau menggiring desahku pada tabir peristirahatan. Membuang setiap sekat yang menjulang antara kita untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan tanpa kenyataan.
            Lelaki malam yang bertandang bersama desahan angin, membekapku erat dalam selimut sayap hitam. Kecupannya kurasakan begitu basah diantara lelapnya penghuni alam. Meninggalkan rinai kasih yang menyiramiku hingga sejenak kurasakan sejuk membekas indah untuk hadir kembali dalam gelapnya kabut dosa.
            Lelaki malam yang menyapaku dalam sandiwara nista, menyematkan kisah tanpa aksara, membiarkanku gegap dalam kalut, walaupun esok malam kan kau bacakan lagi naskah cerita yang tanpa ku minta. Selamat malam lelaki malam, karena kau hanya ada di antara bayang malam.


Jakarta, 7 Maret 2011
Aida M Affandi

Sabtu, 16 April 2011

AMNESIA


“sudah sampai,....gumam hatiku menatap kemilau emas matahari yang menyambut kedatanganku siang ini. Ah, udara khas nanggroe yang membelai lembut dipadu dengan sengatan ultraviolet yang memapar kulitku.
            Mataku tak berhenti mencari setiap sudut arrival room Iskandar Muda. Mencari sesosok tubuh yang aromanya perlahan memekat menusuk hidungku sejak kakiku melangkah di ruang  kedatangan yang sederhana ini.
            “tidak ada,....bathinku
            “sungguh dia tidak ada” kuyakinkan hatiku lagi.
            Kendaraan roda empat yang kutumpangi melaju dengan cepat. “tolong pelan-pelan saja pak” pintaku pada pak supir.         Persis seperti pintaku, kendaraan itu berjalan perlahan, memberikanku waktu untuk menatap sejenak tarian rumpun padi yang bergoyang ditiupi angin di sekitar bandara. Serasa ku ikut merasakan alunan musik alam yang membiarkanku sejenak dalam gelombang alpha.
            “kita ke simpang tujuh ulhee kareng ya pak”
            Mobil berbelok ke kiri menyusuri perkampungan lam ateuk yang teduh dengan pepohonan asam jawa di kiri kanan jalannya. “mungkin dia ada di sana” ucapku menenangkan hatiku lagi. Mobil terus melaju dengan perlahan, bersikronisasi dengan ingatanku pada desember, kurang dari tujuh tahun yang lalu.
            “ah, masih seperti dulu ya pak, belum banyak yang berubah” basa basiku saja pada pak supir yang hanya disambut dengan senyuman.
            “ok, kita berhenti di warung kopi depan sana” tunjukku pada sebuah warung kopi.
            “kopi solong ya mba??”
            “iya, tolong tunggu sebentar ya pak”
            Hiruk pikuk tujuh simpangan ini tak sedikitpun membuyarkan ingatanku, justru ingatanku semakin memekat tentang secangkir sanger dingin, kopi aceh yang dibubuhi bubuk krimer, yang segera melegakan dahagaku, namun belum meredakan tanyaku.     “bahkan di sini juga tidak ada” gumamku, apakah salah satu dari sekian gelas yang menyisakan sediman hitam didasarnya adalah miliknya?? Hatiku kembali bertanya.
            “mari pak kita jalan lagi, ke baiturrahman ya pak”
            “iya mba”
            Pak supir bergerak lebih cepat dari sebelumnya karena melihat aku yang tergopoh-gopoh duduk di jok belakang dengan mata yang tak lepas dari sekitar, seolah-olah seseorang sedang memperhatikan kegelisahanku dari tempat yang aman dari penglihatanku.
            Rem diinjak persis di depan menara masjid yang berdiri tegak menghadangku dari arah depan. Suara burung gereja yang bercengkrama di puncak menara terdengar jelas di antara kendaraan yang hilir mudik di sekitarku.
            “maaf pak, seharusnya kita tidak kemari. Orang yang saya cari pasti tidak ada di sini” kini nadaku gusar, sebagian sarafku bekerja lebih keras mengingat detail janji pertemuanku dengannya. “jalan saja pak, kita ke Lambaro” ucapku singkat.
            “apa kabar, akhirnya kita bertemu lagi pujaanku” tersungkur aku pada taman berplat tulisan rapi “Taman Pemakaman Massal Para Syuhada Tsunami Lambaro, Aceh”. 
******

Garden

GARDEN,...
By
Aida M Ahmad


            Jiwaku terjaga mendengarkan nada yang kau bisikkan lewat bunga tidurku. Seperti desahan hujan menjamahi rumput liar di halaman rumahku. Apakah kau ingat bagaimana dulu taman kita berbunga lalu berbuah???. Hanya kecupan mesra yang kau hadirkan, padahal tlah seminggu hujan tak menyambanginya.
            Kini musim hujan mendahuluimu meranggas taman kita. Beberapa bunga lily api berjatuhan setelah seminggu merekah. Tampiasan hujan membuat mataku terpejam sejenak menikmati sensasi sejuknya. Bukankah dulu kita selalu menunggu saat-saat di bawah dahan akasia, merasakan tiap tetes hujan yang mencuri jatuh di sela-sela daun, membuat tubuh kita saling berpelukan.
            Tanganku mengitari tiap helai daun di taman kita, melangkah pelan menyapa tiap bunga yang sering kita sapa bersama. Kulihat hujan masih mengembun di balik jendela kamar, berharap kau berdiri di sana, memandangku memapahku untuk masuk, mengeringkan tubuhku yang kebasahan oleh rindu.
            Cipratan hujan membuat labirin-labirin kecil di kolam depan taman. Aku menggigil menahan nyeri. Seperti hujan yang telah menciptakan rindu di hatiku, kini juga menghadirkan perih di jiwaku. Hanya satu tanya tersisa di ujung bibirku yang membeku.
            Apakah kau akan kembali melihat taman kita?? memberikan sebuah kecupan yang lebih menggairahkan dari tiap tetesan hujan??
            Hujan kini mereda, namun hujan di hatiku tak pernah mereda.....hingga suatu saat ku lihat bayanganmu di antara taman kecil kita.

 Jakarta, 29 March 2011
Ketika hujan, bersama petrichor.


Kamis, 03 Maret 2011

Cukup DIA saja



Sebuah obrolan yang saya kira “penting” di sore kemaren.
Setiap orang butuh uang, saya, anda dan semuanya dari kita yang masih bernafas bahkan yang sedang koma di rumahsakit semuanya butuh uang. Tapi dari sekian banyak dari kita yang butuh akan uang itu, berapa banyakkah yang percaya bahwa dengan usaha yang benar ditambah doa, kita akan selalu didatangi rezeki yang baik pula.
Kira-kira begitu kalimat pembuka seorang wanita salah seorang tetangga saya. Sudah dua minggu ini daerah sekitar tempat tinggal saya, jauh dari kata aman yang membuat para tetangga saya jadi senewen. Bahkan rumah yang baru dibangun, baru juga pingin masang mesin air. Lah,...mesin airnya hilang dicolong, pas orang-orang pada jum’atan.
Hati-hati bu,..Negri kita ini jauh dari kata makmur, kecemburuan social sekarang semakin tinggi. Beban hidup semakin sulit. jangankan bertanya berapa tebal tipisnya sebuah keimanan, tapi kenyataannya nilai sebuah keimanan kita semakin ndak ada. Makanya ada hadistnya “kemiskinan itu mendekati kekufuran”.
Lha,..kok bisa minta segala macam ke dukun, melihara tuyul, minta sireup buat malingin rumah orang. Ya, itu ndak bener lagi itu bu, pokoknya yang namanya MALING udah ndak bener, dari maling ayam ampe Malingin uang Negara semua udah ga bener, apalagi pakai ilmu dukun segala pula, itu sudah sesat bin KUFUR....ungkap seorang ibu lagi dengan penuh kekhawatiran.
Saya hanya diam mendengar tetangga saya yang bergantian mengungkapkan kekesalannya. Adakah tempat di muka bumi ini yang aman dari ancaman kejahatan????bahkan lobang semut saja tak pernah luput dari ancaman itu. Jika tidak dimalingin di rumah, eh dicopet di pasar, dirampok di jalan, ditipu orang usahanya. Jadi kesimpulannya Tak ada satupun tempat di kolong langit ini yang aman dari itu.
Tapi ada hal yang selalu membuat kita merasa aman, karena ada kekuatan yang MAHA di belakang kita yaitu kekuatan ALLAH semata. Tidak perduli berapa banyak orang-orang dan ilmu sihir dari syaitan yang mencoba mendzalimi kita, tapi jika ALLAH tidak berkehendak, semua tak akan terjadi. Syaratnya HANYA percaya yang tak bersyarat bahwa hanya ALLAH yang akan selalu menjaga kita, selama kita juga menjagaNya. *ini kata-kata abah saya, bukan kata saya :D.
Ah, setiap kali saya mendengar kata-kata itu lagi. kembali kadar iman saya disentil. Masih sambil menatap satu-satu tetangga saya yang berwajah tegang karena lingkungan kami yang tidak aman belakangan ini. Sambil berjalan pulang ke rumah saya buru-buru mengambil kesimpulan agar iman saya tak kian dikikis oleh ketakutan akan segala ancaman kejahatan yang dibicarakan para tetangga tadi.
HANYA ADA SATU KEKUATAN PALING BESAR YAITU ALLAH SEMATA, JADI BERSERAH TOTAL-LAH PADANYA.

Rabu, 02 Maret 2011

Jelang Fajar



Malaikat memelukku menyambut remang fajar. Setengah kaku tubuhku membangunkan tiap organnya bergerak menggayut tetesan air untuk berserah sejenak merasakan kedamaian yang dalam, merasakan tiap udara yang keluar dan masuk mengitari paru-paruku, lalu sejenak membisikkan hamdalah di telingaku.
Kerlipan bintang mimosa mewarnai fajar kini di ufuk timur. Tak sabar ku tunggu esok kuntum kamboja bermekaran menyambut pagi. Aroma tanah yang ditetesi embun membuat rinduku menggelayut setia. Seperti hadar dan alpha centauri yang selalu setia memberi kesan indah kala fajar hadir dalam diam.
Suara mendayu-dayu dari surau fajar kini, kurasa lebih indah dari suara apapun di kolong langit ini. Dalam heningnya shubuh, dalam sejuknya pagi.  Ku balut tubuhku dalam jubah penyerahan, Ku ukir perlahan beberapa kata menjadi serangkaian kalimat, Karena ujung pengharapan adalah pengijabahan.....aaaammiiiiennnnn.

Mimosa : bintang yang paling terang dari rasi crux (rasi gubung penceng)
Hadar dan alpha centauri : bintang anggota rasi centaurus, namun selalu terlihat terang bersama rasi crux.  

Minggu, 20 Februari 2011

Selamat Hari Peduli Sampah



Semenjak kejadian yang telah menewaskan sedikitnya 200 jiwa yang tertimbun sampah di TPA leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat  pada tanggal 21 februari 2005 yang lalu. Maka setiap tanggal ini sejak 2008 pemerintah telah menetapkan Undang-undang tentang sampah dan tanggal 21 februari ini sebagai hari peduli sampah.
Siapa sih yang tidak menghasilkan sampah setiap harinya??? Dari bapak presiden sampai yang tinggal di kolong jembatan PASTI memproduksi sampah setiap hari. Tapi kemudian berapa banyak yang bertanggung jawab atas apa yang kita produksi ini??? Paling sederhananya adalah membuang sampah pada tempatnya, atau memilah-milah mana sampah organic, an organic dan  limbah berbahaya.
Jika sampah organic masih bisa diurai oleh microorganisme perurai, tapi bagaimana dengan sampah an organic yang bahkan sampai ratusan tahun tidak dapat diurai???
Ngomongin tanggung jawab terhadap sampah saya pun bersama beberapa orang ibu-ibu tetangga saya bersama anak-anak mereka pula mulai iseng-iseng berkreasi untuk mengurangi uang jajan anak-anak, namun menghabiskan waktu berkreasi membuat mainan sendiri dari barang bekas. *ternyata anak-anak exited dengan hasil karyanya sendiri :D.
Alhasil, terciptalah tas jinjing (paper bag) yang dibuat dari kalender bekas, ada bingkai photo dari stereofoam dan kartu ucapan selamat yang dikreasikan dari kardus bekas, ada hand bag dari botol aqua bekas. Bahkan sampah yang tadinya hanya sampai di tukang loak atau lebih buruknya dibakar yang justru semakin mempercepat global warming, sekarang bisa berubah menjadi barang yang multifungsi bahkan terbukti di tangan para kreatif seni bisa menghasilkan money *inspiratif bukan!!!
Sebenarnya jika saja setiap kita mau peduli dan mulai menanamkan tanggung jawab itu mungkin dampak global warming tidak kita rasakan secepat ini. Ah, walaupun kalimat ini terasa membosankan untuk didengar, tapi kenyataannya kita memang harus menyayangi bumi, buang sampah pada tempatnya dan mari berkreasi dengan sampah sebagai salah satu bentuk tanggung jawab kita.

Jakarta, 21 february 2011
Aida M Affandi


Rabu, 16 Februari 2011

Tiger Lily



Mengapa lily yang harus kuliah di bandung, mengapa bukan leny saja??mengapa semua hal yang Lily sukai lalu kemudian harus menyukai Leny juga?? Dan Lily selalu hanya begini, sendiri,.....
Aku menangisi keputusan papa yang memutuskanku untuk kuliah di Bandung saja. Beberapa hal yang kurang menyenangkan terjadi antara aku dan Leny adikku yang terpaut 1 tahun dariku. Ini semua untuk kebaikan hubunganku dengan Leny, hanya itu kalimat yang belum mampu kufahami saat itu.
Oh, bukan salahmu Leny adikku yang cantik rupawan, jika laki-laki yang menaruh hati padaku kemudian justru jatuh cinta padamu. Sama sekali bukan salahmu adikku. Hanya mata lelaki itu lebih tertarik pada kecantikan fisikmu yang melenakan mereka. Setidaknya aku menyukuri mengenali tabiat lelaki yang mendekatiku.
Aku tak pernah kalah setia dengan Tiger Lily yang setia menanti sang mentari menghampiri. Selalu berdiri menunjukkan diriku bahwa aku menunggu sang mentari.
Foto Leny dalam balutan kebaya putih begitu terlihat sangat cantik di mataku. Seorang pangeran pilihan hati telah membawanya pergi dalam istana pernikahan.
Lalu aku???? Aku masih di sini, mulai menatapi kelahiran anak-anak Leny yang kini mulai remaja,...
******
Lily menatapi wajah sendu ibunya yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu telah kehilangan semangat hidupnya semenjak suaminya tiada. Lily selalu mengajaknya tersenyum karena hanya Lily yang selalu setia menemaninya. Lily tertawa walaupun gusar kerap tersirat dari balik tawanya.
Lily melingkari sebuah tanggal di bulan April, jumlah umurnya kian bertambah di tanggal itu. Dua angka yang cukup besar, angka yang mendekati usia manopausenya para wanita.
Namaku lily, layaknya sekuntum tiger lily, aku selalu menanti sang mentari mengajakku menikmati indahnya kehidupan. Hingga usiaku telah beranjak 54 tahun di tahun ini. Aku masih menanti, jika pun tak mungkin lagi, bagiku hidupku cukup berbakti pada dua hati yang telah membesarkanku dan pada pemilik hati yang mungkin tak menciptakan pasangan hatiku di dunia ini. ---Tiger Lily---
Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

Cerita "Pak Tua"



Ritme gerakan golok pak tua begitu rapi, hingga ukuran daging yang dipotongpun sesuai permintaan pelanggannya. Pak tua itu penjual ayam langganan saya di pasar mini. Tak pernah saya menyangka bahwa dulunya beliau seorang yang sangat kaya raya, hingga hari ini dia berbagi cerita dengan wajah yang penuh senyuman.
Saya dulu tajir mba, tapi jujur saja semua uang saya selain gaji saya sebagai karyawan adalah uang hasil suap menyuap alias uang Haram. Mungkin Tuhan masih sayang saya, DIA menegur saya lewat anak-anak saya yang mulai remaja dan terjerumus dalam kenakalan remaja.
Saya sangat antusias mendengarkan cerita pak tua ini, hingga akhirnya ada pernyataannya yang membuat saya menilainya adalah seorang laki-laki yang berani, ya berani mengambil resiko, berani untuk percaya bahwa pertolongan Tuhan begitu dekat.
Saya berdoa di depan ka’bah. Saya mohon pada Allah, agar semua harta kekayaan saya yang diperoleh dengan cara yang haram agar dimusnahkan dengan cara Allah semata. Bena sajar, setelah doa itu saya sampaikan dengan sungguh-sungguh, satu demi satu harta saya lenyap dengan berbagai cara. Hingga tersisa hanya uang yang diperoleh dengan cara yang halal. Dan uang itu tak cukup memenuhi kebutuhan sekolah 7 orang anak saya.
Saya diam mungkin juga terkesima dengan jalan yang ditempuhnya untuk membersihkan diri dan keluarganya dari kekayaan yang haram tadi.
Tapi mba, ini justru awal sebuah ujian iman dimulai. Ketika semua harta saya habis. Saya dan istri benar-benar memulainya dari nol. Bahkan istri saya hampir tidak kuat, karena terbiasa semua kebutuhan terpenuhi. Namun Ada perkataan Nabi Ayyub as pada istrinya yang selalu menyemangati saya menjalani proses ujian iman ini,...
“Ingatlah istriku 80 tahun kita hidup dalam kemewahan, sementara ujian ini baru berjalan 7 tahun. Aku malu memohon pada Allah agar segera menghilangkan ujian ini. Sebab cobaan ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kemewahan hidup yang pernah kita rasakan sebelumnya”
Setelah kalimat terakhir dari Pak Tua selesai, seorang dokter di klinik ummat dekat masjid di pasar menghampiri kami.  
Kenalin mba,..ini anak saya.....pak Tua dengan bangga memperkenalkan anaknya.
Saya benar-benar terdiam sejenak. Begitu dalam pelajaran hidup yang saya dapat hari ini. Cerita pak tua telah mengajarkan saya tentang buruknya pengaruh uang haram walaupun 1 sen pun akan membuat hati keras menerima kebaikan *berfikir sejenak tentang para pencuri uang rakyat di negri kita ini, bagaimana hati mereka sekarang????.
Ah, pak Tua kau mengajariku untuk mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan tepat ketika kesulitan menerpa. Namun bagian ini manusia kerap lupa. Ibarat satu gigi yang sakit, mengapa kemudian seluruh badan terasa sakit???? Karena manusia terlalu focus pada kesulitan itu mungkin, sehingga yang lebih sehat lainnya tidak terlihat jelas lagi. Duh,...malu rasanya disentil kadar iman saya kali ini......

Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

Minggu, 13 Februari 2011

Rayuan Kreatif di Minggu Siang



Hari ini saya dan suami ga berniat kemana-mana berhubung kondisi badan lagi drop. Istirahat ngabisin waktu sambil tidur-tiduran di rumah mungkin jadi pilihan yang tepat. Tapi itu baru sekedar niat, soalnya Nazira anak saya yang terbiasa jalan-jalan tiap weekend protes ga mau weekend hanya di rumah.
Biar Nazira ga ngomel melulu ke saya, akhirnya saya rayulah dia untuk berkreasi bersama barang-barang bekas di rumah. Alhasil terciptalah 1 tempat pensil dari botol plastic bekas minum, dan satu kartu ucapan dari kardus bekas, berhubung si pai2 mau ultah, jadi kartu ucapannya disiapin lebih duluan :D.
Tempat pensil dari botol plastik bekas.
Bahan : 2 botol plastic bekas, cutter, benang dan jarum, resleting ukuran 20cm
Caranya gampang banget kok....
Pertama, Botol pertama di potong menjadi dua buang bagian yang ada tutupnya, botol kedua dipotong bagian dasarnya kira-kira sepanjang 7cm, buang juga bagian yang ada tutupnya.
Kedua, kemudian botol kedua yang berukuran lebih kecil diletakkan dengan posisi terbalik di bagian atas botol pertama (perannya sebagai penutup).
Ketiga, jahitlah sisi resleting pada botol pertama dan sisi yang lain pada botol kedua.
Keempat, supaya kelihatan cantik, bole dilapisi kertas kado atau dicat sesuai selera.
Kreasinya sederhana banget, biar botol bekasnya bisa dimanfaatin, dan Nazira belajar berkreasi dengan barang-barang bekas DAN yang PALING PENTING buat saya hari ini. Nazira ga ngomel-ngomel lagi karena kegirangan dapat tempat pensil warna warni hehehehhe,.... :D. ohya, kartu ucapan dari kardus bekas nyusul aja ya,...saya takut, kalo tulisan saya jadi membosankan :D.

Jakarta, 13 february 2011
Aida M Affandi


Jumat, 11 Februari 2011

Aku Hanya,....



Segerombolan camar menghalau redup mentari. Bergegas pulang menikmati indahnya sebuah kediaman. Ah, camar saja merindukan pulang menepi bersama gelapnya malam.
Senja kini mengapa begitu meragu. Dibandingkan siluet senja yang menjuntai jingga, aku lebih merindui kilau emas diantara celah jemariku yang mengitari ufuk timur yang merona semarak keemasan.
Segarit lakumu tlah menerjang rasaku. Begitu berat menjadi tungku yang menggelegakkan air. Begitu berat menjadi kipas yang menyejukkanmu dan begitu berat menjadi sumur yang melepaskan dahagamu.
Aku ternyata tak pernah begitu dalam halusnya harapmu.
Aku hanya langit tanpa gumpalan awan,...
Aku hanya sumur,... tanpa air.

Jakarta, 12 February 2011
Aida M Affandi