Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Surat Untuk Istri dari Lelaki Yang Kurindui

Kepada Istri Yang Lelakinya Kurindui
Maaf, ..... Mungkin ini kata pertama yang harusnya kugoreskan dalam setiap tatapku padamu. Setiap kali kumelihatmu dengan pakaian sederhanamu, dengan senyuman keibuanmu dan dengan kasih sayangmu pada anak-anak dari lelakimu. Aku hanya ingin mengucapkan satu kata “MAAF” karena aku merindui lelakimu, suamimu. Bolehkah aku hanya sekedar merinduinya??? Oh, sepertinya ini pertanyaan yang konyol.  Mungkin dengan segera aku akan mendengar kalimat penolakan darimu. Penolakan dari hatimu memintaku jangan mencoba untuk merindui lelakimu, suamimu. Ah, maafkan aku lagi,... Jujur,..Aku sungguh terlanjur merinduinya. Terkadang logikaku tak mampu bekerja baik jika berhubungan dengan rasa, bahkan kini logikaku kalah telak karena ku tak perduli bahwa lelaki yang kurindui telah membangun masjid bersama dirimu dalam ikatan pernikahan. Maaf,.... Apa kau tahu, pesona lelakimu menggodaku. Menggoda inginku untuk mengharapkannya lebih dari sekedar merindu. Jadi, kini aku bertanya …

Memarahi Anak????

dasar anak nakal, kurang ajar, anak bodoh,…(hindari untuk mempraktekkannya di rumah yaJ) Demikian sederet kalimat yang saya dengar siang tadi, persis di samping rumah saya. Hati saya berontak ketika kata-kata itu terdengar sangat jelas di telinga saya. Teriakan seorang ibu pada anaknya haruskah seperti ini tanya saya dalam hati. Jujur saya tidak bisa terima kalimat itu dilontarkan pada seorang anak yang merupakan darah dagingnya sendiri. Saya sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu bagi anaknya. Tak bisa saya sangkal, bahwa memang terkadang saat lelah emosi bisa saja berubah. Tapi apa benar demikian caranya mengontrol emosi, melampiaskannya pada anak yang tak tahu apa-apa. *ini menyedihkan menurut saya. Sama halnya dengan orang dewasa, ada fase-fase tumbuh kembang anak yang membuat orangtua kewalahan menanganinya. Anak-anak mengalami masa tantrum, perubahan emosi tiba-tiba atau terkadang menjadi sulit sekali diatur. Tapi demikianlah Tuhan menciptakan fase-fase tumbuh kemba…

Mengapa Kita Mampu Menangis??

Mengapa Kita Mampu Menangis??? By Aida M affandi

Jum’at  yang lalu ba’da shalat zhuhur berjama’ah saya melanjutkan sunnah muakkad. Baru selesai salam saya terpaksa menoleh ke belakang tepat di belakang shaf saya berdiri. Seorang santri perempuan sedang menangis dalam alunan doanya. Menariknya karena dia menangis sesenggukan sehingga saya bisa mendengarnya dengan jelas. Saya hanya mendiamkan saja, saya tidak ingin mengganggunya karena dia sedang berbagi dengan Yang di Atas. Selesai berdoa, saya kembali harus menoleh ke belakang. Lagi-lagi masih santri saya yang tadi menangis saat berdoa. Kali ini dia menangis sesenggukan sambil membaca Qur’an. Saya masih mendiamkannya juga. Saya fikir dia sedang mencari jalannya sendiri dengan banyak bercerita pada sang Khaliq. Jika waktunya tepat insya Allah dia akan menemui saya pikir saya dalam hati. Semenjak hari itu saya jadi bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan membuat air mata untuk kita?? Mengapa kita bisa menangis??? padahal jika dilihat dari sisi ma…

Bahasa

Sepulang ngajar siang tadi saya sempat bertemu banyak orang di angkutan umum (sepeda saya minta cuti sebentar berhubung hujan terus)ada penumpang yang naik ada juga yang turun, bermacam raut wajah saya temui di situ, dengan beragam bentuk dan juga bahasa yang mereka gunakan. Sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia dengan bermacam dialek pula. Ada sebagian menggunakan bahasa jawa, sunda juga betawi. Saya jadi terkagum-kagum dengan semaraknya khasanah bahasa di Indonesia. Begitu banyak bahasa yang digunakan untuk saling berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan. Tempat tanah kelahiran saya sendiri  di tanah rencong sana, selain menggunakan bahasa aceh ada banyak bahasa yang masih tetap eksis digunakan di sana, bahasa aneuk jame (mirip bahasa minang), bahasa gayo, bahasa alas, bahasa devayan dan bahasa kluet (mirip bahasa batak karo) wuiiiiihhhhhh,…di aceh saja begitu banyak bahasa (konon lagi di seluruh Indonesia). Saya jadi berfikir  selain sebagai pengantar komunikasi, bagaimana fung…

Pengakuan Seorang Lelaki

Suatu sore di sebuah kedai pizza, terjadilah sebuah obrolan tidak jelas antara saya dan seorang sahabat lama saya. Sahabat saya ini seorang lelaki sebut saja namanya Andhika (bukan nama sebenarnya). Semenjak awal saya bersahabat dengannya, andhika terkenal dengan religiusnya. Beberapa hal yang berhubungan dengan fiqh islam sering kali saya dan teman-teman mengandalkannya. Setelah hampir 5 tahun saya tak berjumpa Andhika, saya merasa ada yang berbeda dari sahabat saya satu ini. Sikapnya sekarang jauh lebih terbuka, berbicara blak-blakan bahkan soal seks :D, pokoknya dia beda banget dengan yang saya kenal sebelumnya. Saya                      : kamu nikah ama sapa seh?? Kok aku ga dikabari Andhika               : kamunya juga ngilang kemana, aku ama istriku pacaran 3 tahun trus baru nikah. Saya                      : what???kamu pacaran??? (mulut saya menganga, kaget bukan kepalang) Andhika               : iya, pingin nyobain gimana pacaran (tertawa lepas) Saya                      : Tapi istr…

Menulis itu Healing

Orang bijak berkata “bermimpilah, karena bermimpi itu gratis”. benar adanya bermimpi itu gratis, tidak dipungut bayaran. Namun untuk mewujudkan mimpi itu harus dibayar dengan belajar dan usaha keras disertai doa yang tulus.             Katakanlah saya seorang pemimpi saat ini. Tiba-tiba saya memutuskan untuk memiliki mimpi ini setelah saya menikmati tiap kalimat yang saya susun begitu saja buah pikir dari otak saya yang ruwet saat itu. Saya menciptakan mimpi ini setelah saya merasakan kekuatan dari sebuah tulisan.Ya, saya bermimpi menjadi seorang penulis.             Baru dua tahun ini saya berani menyebut diri saya seorang penulis. Penulis yang selalu saya  sandangi kalimat pemula  di belakangnya. Tepatnya saya seorang penulis pemula, karena saya memang belum punya prestasi dalam hal ini. Saya hanya coba berselancar dari satu situs ke situs lainnya, dari satu blog ke blog lainnya, lalu meninggalkan jejak saya di situ yang entah kemudian disukai atau sekedar dicibir saja. Itupun tak per…

Wingman

Waktuku serasa berhenti berdetak saat kau hadir perlahan. Menyesap ke-tiada-anku ke dalam ada-anmu. Bersama desau angin yang memerih rindu meradang. Ku lihat kau sekilas dengan sayap terkembang menyapaku dengan senyuman.             Arakan awan mengiringi setiap kepakan sayapmu, merindu, mengeram, meronta akan cinta yang terpasung oleh kabut ketakdayaan kita. bukankah cinta bukan hanya urusan mata, namun cinta mengaitkan hati dalam jarak tak berjarak. Merangkai kasih dalam kisah walaupun nyatanya nista.             Walaupun berselimut penantian, kita tetap harus mengunyahnya bersama. Dunia kita ada waktunya ucapmu. Kita semakin terluka, saat harus memendam kata, mengeram rasa. Menjadi setia menanti hujan melemparkan kita dalam setiap abdjad terakhir yang menjadi titah  dari yang kuasa.             Langkahku selalu menuju arahmu. Mengapa rindu ini selalu membutuhkan jarak. Jarak mataku memandang ketulusanmu, jarak tubuhku yang ingin membekapmu dalam rangkaian rindu. Jarak ken…

Esok,..Kecuali Aku

Adikku,.... Di sini, kubaca Malam yang dingin dengan wajah termangu Mungkin pertanda esok hari akan Cerah. Secerah Harapan yang disandingkan dalam Doa untukmu Baju pengantin putih telah menanti sebagai baju kebesaranmu esok Ketika bumi menyaksikan kau temui gerbang itu.
Adikku,.... Puluhan mata menatapmu esok, berucap amiennn mempersembahkan Ijabah. Menyemai Harapan, mengembangkan senyuman mengiringi tiap kata sakral yang tercipta. Kalimat bahagia tak cukup disandingkan dengan senyuman Bahkan airmata pun tak cukup menyatakan bahagia. Itu semua untukmu adikku.
Adikku,.... Lelaki paruh baya yang selalu kita panuti, menahan genangan di sudut matanya. Menabuhkan bangga, menyematkan semangat untuk menit-menit bahagiamu. Berbahagialah adikku,.. Karena wanita yang menghabiskan waktu dan hatinya untuk kita Kini berurai airmata, bukan pertanda tak rela ,namun akibat sayang yang mendalam.
Adikku,... Esok, Kurasakan ratusan malaikat berbaris di langit sana Menyaksikan sebuah masjid yang dibangun atas ikatan suci Kec…

Shelter

Malam merangkak menjemput gulita. Tubuh-tubuh bersatu bersama jiwa meraih ketenangan.  Pesona Malam hanya dipandangi oleh mata yang terjaga dari gulita. Desau angin melewati tiap apa yang dilaluinya, menyampaikan sentuhan tanpa ku memintanya.             Sebongkah sesak bercokol di dadaku kini. Buyar melebur bersama badai airmata. Rembulan menatapku dari duduknya. Tak perduli sekalipun ditatap tangisku tak jua mereda. Kini Bintang yang genit mengerdipiku, namun gundahku tak jua berujung malu olehnya.             “Menangislah, namun jangan terlalu lama....kau harus selalu terlihat anggun, karena kau wanita yang kuat dan pantas untuk bahagia”             Sebuah nada berat di ujung sana membungkam riuh kalutku. Seolah berhenti badai yang menerjang bidukku. Senyap,...sesenyap harapku menghapus laju sesak pada dinding kalbu rapuhku.             Mata yang tajam bersinar tepat menghujam dadaku. Hatiku kini Seperti dinding kaca yang mampu kau baca dari jarak tertentu, mampu kau amati hingga kau t…

LELAKI MALAM

Mungkin hanya beberapa saja, kerlipan bintang yang mengedipiku di pekat gulitanya malam. Kurasa langit kian menjelaga, membiarkanmu datang di antara bayang-bayang malam para hati yang setia mengucapkan selamat tidur  pada kekasih hatinya.             Dalam gelombang alpha, kau hadir perlahan. Seperti simpul-simpul saraf penyampai pesan rindu, kau menggiring desahku pada tabir peristirahatan. Membuang setiap sekat yang menjulang antara kita untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan tanpa kenyataan.             Lelaki malam yang bertandang bersama desahan angin, membekapku erat dalam selimut sayap hitam. Kecupannya kurasakan begitu basah diantara lelapnya penghuni alam. Meninggalkan rinai kasih yang menyiramiku hingga sejenak kurasakan sejuk membekas indah untuk hadir kembali dalam gelapnya kabut dosa.             Lelaki malam yang menyapaku dalam sandiwara nista, menyematkan kisah tanpa aksara, membiarkanku gegap dalam kalut, walaupun esok malam kan kau bacakan lagi naskah cerita …

AMNESIA

“sudah sampai,....gumam hatiku menatap kemilau emas matahari yang menyambut kedatanganku siang ini. Ah, udara khas nanggroe yang membelai lembut dipadu dengan sengatan ultraviolet yang memapar kulitku.             Mataku tak berhenti mencari setiap sudut arrival room Iskandar Muda. Mencari sesosok tubuh yang aromanya perlahan memekat menusuk hidungku sejak kakiku melangkah di ruang  kedatangan yang sederhana ini.             “tidak ada,....bathinku             “sungguh dia tidak ada” kuyakinkan hatiku lagi.             Kendaraan roda empat yang kutumpangi melaju dengan cepat. “tolong pelan-pelan saja pak” pintaku pada pak supir.         Persis seperti pintaku, kendaraan itu berjalan perlahan, memberikanku waktu untuk menatap sejenak tarian rumpun padi yang bergoyang ditiupi angin di sekitar bandara. Serasa ku ikut merasakan alunan musik alam yang membiarkanku sejenak dalam gelombang alpha.             “kita ke simpang tujuh ulhee kareng ya pak”             Mobil berbelok ke kiri menyusuri …

Garden

GARDEN,... By Aida M Ahmad

            Jiwaku terjaga mendengarkan nada yang kau bisikkan lewat bunga tidurku. Seperti desahan hujan menjamahi rumput liar di halaman rumahku. Apakah kau ingat bagaimana dulu taman kita berbunga lalu berbuah???. Hanya kecupan mesra yang kau hadirkan, padahal tlah seminggu hujan tak menyambanginya.             Kini musim hujan mendahuluimu meranggas taman kita. Beberapa bunga lily api berjatuhan setelah seminggu merekah. Tampiasan hujan membuat mataku terpejam sejenak menikmati sensasi sejuknya. Bukankah dulu kita selalu menunggu saat-saat di bawah dahan akasia, merasakan tiap tetes hujan yang mencuri jatuh di sela-sela daun, membuat tubuh kita saling berpelukan.             Tanganku mengitari tiap helai daun di taman kita, melangkah pelan menyapa tiap bunga yang sering kita sapa bersama. Kulihat hujan masih mengembun di balik jendela kamar, berharap kau berdiri di sana, memandangku memapahku untuk masuk, mengeringkan tubuhku yang kebasahan oleh rindu.        …

Cukup DIA saja

Sebuah obrolan yang saya kira “penting” di sore kemaren. Setiap orang butuh uang, saya, anda dan semuanya dari kita yang masih bernafas bahkan yang sedang koma di rumahsakit semuanya butuh uang. Tapi dari sekian banyak dari kita yang butuh akan uang itu, berapa banyakkah yang percaya bahwa dengan usaha yang benar ditambah doa, kita akan selalu didatangi rezeki yang baik pula. Kira-kira begitu kalimat pembuka seorang wanita salah seorang tetangga saya. Sudah dua minggu ini daerah sekitar tempat tinggal saya, jauh dari kata aman yang membuat para tetangga saya jadi senewen. Bahkan rumah yang baru dibangun, baru juga pingin masang mesin air. Lah,...mesin airnya hilang dicolong, pas orang-orang pada jum’atan. Hati-hati bu,..Negri kita ini jauh dari kata makmur, kecemburuan social sekarang semakin tinggi. Beban hidup semakin sulit. jangankan bertanya berapa tebal tipisnya sebuah keimanan, tapi kenyataannya nilai sebuah keimanan kita semakin ndak ada. Makanya ada hadistnya “kemiskinan itu mend…

Jelang Fajar

Malaikat memelukku menyambut remang fajar. Setengah kaku tubuhku membangunkan tiap organnya bergerak menggayut tetesan air untuk berserah sejenak merasakan kedamaian yang dalam, merasakan tiap udara yang keluar dan masuk mengitari paru-paruku, lalu sejenak membisikkan hamdalah di telingaku. Kerlipan bintang mimosa mewarnai fajar kini di ufuk timur. Tak sabar ku tunggu esok kuntum kamboja bermekaran menyambut pagi. Aroma tanah yang ditetesi embun membuat rinduku menggelayut setia. Seperti hadar dan alpha centauri yang selalu setia memberi kesan indah kala fajar hadir dalam diam. Suara mendayu-dayu dari surau fajar kini, kurasa lebih indah dari suara apapun di kolong langit ini. Dalam heningnya shubuh, dalam sejuknya pagi.  Ku balut tubuhku dalam jubah penyerahan, Ku ukir perlahan beberapa kata menjadi serangkaian kalimat, Karena ujung pengharapan adalah pengijabahan.....aaaammiiiiennnnn.
Mimosa : bintang yang paling terang dari rasi crux (rasi gubung penceng) Hadar dan alpha centauri : bin…

Selamat Hari Peduli Sampah

Semenjak kejadian yang telah menewaskan sedikitnya 200 jiwa yang tertimbun sampah di TPA leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat  pada tanggal 21 februari 2005 yang lalu. Maka setiap tanggal ini sejak 2008 pemerintah telah menetapkan Undang-undang tentang sampah dan tanggal 21 februari ini sebagai hari peduli sampah. Siapa sih yang tidak menghasilkan sampah setiap harinya??? Dari bapak presiden sampai yang tinggal di kolong jembatan PASTI memproduksi sampah setiap hari. Tapi kemudian berapa banyak yang bertanggung jawab atas apa yang kita produksi ini??? Paling sederhananya adalah membuang sampah pada tempatnya, atau memilah-milah mana sampah organic, an organic dan  limbah berbahaya. Jika sampah organic masih bisa diurai oleh microorganisme perurai, tapi bagaimana dengan sampah an organic yang bahkan sampai ratusan tahun tidak dapat diurai??? Ngomongin tanggung jawab terhadap sampah saya pun bersama beberapa orang ibu-ibu tetangga saya bersama anak-anak mereka pula mulai iseng-iseng berkreasi…

Tiger Lily

Mengapa lily yang harus kuliah di bandung, mengapa bukan leny saja??mengapa semua hal yang Lily sukai lalu kemudian harus menyukai Leny juga?? Dan Lily selalu hanya begini, sendiri,..... Aku menangisi keputusan papa yang memutuskanku untuk kuliah di Bandung saja. Beberapa hal yang kurang menyenangkan terjadi antara aku dan Leny adikku yang terpaut 1 tahun dariku. Ini semua untuk kebaikan hubunganku dengan Leny, hanya itu kalimat yang belum mampu kufahami saat itu. Oh, bukan salahmu Leny adikku yang cantik rupawan, jika laki-laki yang menaruh hati padaku kemudian justru jatuh cinta padamu. Sama sekali bukan salahmu adikku. Hanya mata lelaki itu lebih tertarik pada kecantikan fisikmu yang melenakan mereka. Setidaknya aku menyukuri mengenali tabiat lelaki yang mendekatiku. Aku tak pernah kalah setia dengan Tiger Lily yang setia menanti sang mentari menghampiri. Selalu berdiri menunjukkan diriku bahwa aku menunggu sang mentari. Foto Leny dalam balutan kebaya putih begitu terlihat sangat canti…

Cerita "Pak Tua"

Ritme gerakan golok pak tua begitu rapi, hingga ukuran daging yang dipotongpun sesuai permintaan pelanggannya. Pak tua itu penjual ayam langganan saya di pasar mini. Tak pernah saya menyangka bahwa dulunya beliau seorang yang sangat kaya raya, hingga hari ini dia berbagi cerita dengan wajah yang penuh senyuman. Saya dulu tajir mba, tapi jujur saja semua uang saya selain gaji saya sebagai karyawan adalah uang hasil suap menyuap alias uang Haram. Mungkin Tuhan masih sayang saya, DIA menegur saya lewat anak-anak saya yang mulai remaja dan terjerumus dalam kenakalan remaja. Saya sangat antusias mendengarkan cerita pak tua ini, hingga akhirnya ada pernyataannya yang membuat saya menilainya adalah seorang laki-laki yang berani, ya berani mengambil resiko, berani untuk percaya bahwa pertolongan Tuhan begitu dekat. Saya berdoa di depan ka’bah. Saya mohon pada Allah, agar semua harta kekayaan saya yang diperoleh dengan cara yang haram agar dimusnahkan dengan cara Allah semata. Bena sajar, setelah…

Rayuan Kreatif di Minggu Siang

Hari ini saya dan suami ga berniat kemana-mana berhubung kondisi badan lagi drop. Istirahat ngabisin waktu sambil tidur-tiduran di rumah mungkin jadi pilihan yang tepat. Tapi itu baru sekedar niat, soalnya Nazira anak saya yang terbiasa jalan-jalan tiap weekend protes ga mau weekend hanya di rumah. Biar Nazira ga ngomel melulu ke saya, akhirnya saya rayulah dia untuk berkreasi bersama barang-barang bekas di rumah. Alhasil terciptalah 1 tempat pensil dari botol plastic bekas minum, dan satu kartu ucapan dari kardus bekas, berhubung si pai2 mau ultah, jadi kartu ucapannya disiapin lebih duluan :D. Tempat pensil dari botol plastik bekas. Bahan : 2 botol plastic bekas, cutter, benang dan jarum, resleting ukuran 20cm Caranya gampang banget kok.... Pertama, Botol pertama di potong menjadi dua buang bagian yang ada tutupnya, botol kedua dipotong bagian dasarnya kira-kira sepanjang 7cm, buang juga bagian yang ada tutupnya. Kedua, kemudian botol kedua yang berukuran lebih kecil diletakkan dengan po…

Aku Hanya,....

Segerombolan camar menghalau redup mentari. Bergegas pulang menikmati indahnya sebuah kediaman. Ah, camar saja merindukan pulang menepi bersama gelapnya malam. Senja kini mengapa begitu meragu. Dibandingkan siluet senja yang menjuntai jingga, aku lebih merindui kilau emas diantara celah jemariku yang mengitari ufuk timur yang merona semarak keemasan. Segarit lakumu tlah menerjang rasaku. Begitu berat menjadi tungku yang menggelegakkan air. Begitu berat menjadi kipas yang menyejukkanmu dan begitu berat menjadi sumur yang melepaskan dahagamu. Aku ternyata tak pernah begitu dalam halusnya harapmu. Aku hanya langit tanpa gumpalan awan,... Aku hanya sumur,... tanpa air.
Jakarta, 12 February 2011 Aida M Affandi