Sabtu, 29 Januari 2011

I LOVE U,..Bu Aisha!!!



Rais,..bu Aisha uda datang belom????
Agus menegur Rais di gang menuju kantin sekolah. Nama bu Aisha tiga bulan terakhir ini begitu nge-top di kelas santri putra. Mungkin wanita yang dipanggil bu Aisha itu berwajah manis dan selalu terlihat sumringah.
Aku mau dong di hypnotis ama bu Aisha,..ucap Agus asal saja.
Hushhh,..kan kata bu Aisha hypnotis itu sama aja kayak ilmu komunikasi, bagaimana kita bisa mempengaruhi oranglain dengan hal-hal yang positif dan bagaimana cara kita mengubah pola pikir negatif kita. Rais menjelaskannya panjang lebar, kemudian menyomot gorengan mbo sarti di kantin belakang.
Kenapa seh lu, akhir-akhir ini selalu omongin bu Aisha,..jangan-jangan lu naksir lagi ama bu Aisha,…
Agus merasa sedang ditembak tepat pada sasarannya yaitu hatinya. Hati remajanya tak mampu menampik jika bu Aisha memang memiliki pesona yang tak terelakkan mata kaum adam. Tapi, mengapa justru Agus remaja 14 tahunan itu yang mulai berbunga-bunga tanpa terencana.
*****
Aisha terlihat asik dengan laptopnya di ruang konseling siswa. Sudah 3 bulan ini dia bekerja sebagai guru konseling bagi semua santri. Sebuah profesi yang mulia dan menyenangkan ketika dua telinga ini dengan sabar mendengarkan dan mulut ini kemudian memberi saran. Sungguh kolaborasi yang amat positif.
Agus sudah duduk di depan meja Aisha. Santri satu ini memang senang sekali mengunjunginya. Terkadang menanyakan sesuatu yang belum dia mengerti, namun tak jarang menanyakan hal-hal yang sepele.
Oh,..agus!!!,..sudah lama??ibu ga sadar kalo kamu di sini Aisha sedikit kaget dengan kehadiran Agus kali ini.
Bu,..agus mau curhat,..agus lagi suka dengan seseorang.
Sampai di situ Agus berhenti, lalu menatap sejenak kea rah Aisha yang mendengarkannya dengan seksama.
Agus pikir ini bukan hanya sekedar suka, tapi benar-benar jatuh cinta. Agus menelan ludahnya.
Ohya,…apa mengganggu pelajaran Agus karena perasaan seperti ini?? Aisha mencoba menanggapi pernyataan Agus yang begitu polos itu.
Agus,..jatuh cinta pada wanita yang lebih tua 15 tahun dari Agus.
Aisha tidak terlihat kaget dengan pernyataan Agus. Baginya anak seusia Agus memang sedang mengalami proses mencoba banyak hal, termasuk proses eksperimennya tentang perasaan cinta pada wanita yang jauh lebih berumur darinya.
Mungkin Agus menyukai wanita itu karena dia terlihat menyenangkan, apa begitu agus??? Kalau benar begitu, mungkin agus bukan mencintai dia.
Raut wajah lelaki remaja itu berubah, ingin segera menyanggah pendapat guru konselingnya kali ini. Secarik kertas keluar dari saku celananya, lalu segera saja berpindah tangan ke tangan Aisha. Belum sempat terbaca tulisan yang ada dalam secarik kertas itu, Agus buru-buru keluar sambil tersenyum di balik jendela.
I LOVE U,..BU AISHA!!!! I really love u,…pleaseeeee
Whatttttttt!!!!! Mata Aisha melotot sejenak kemudian mengembang sebuah senyuman di bibirnya.
Ah, Agus moga hari ini menyenangkan ketika rasamu tlah kau ungkap, dengan segala keberanian yang kau punya diatas kenyataan bahwa aku gurumu yang sudah memiliki suami dan anak :D.
*********
 Jakarta, 28 january 2011
Aida m Affandi


Senin, 24 Januari 2011

LosT



Suara Sarah Mclachlan “angel” mengalir mengalun lembut memusat pada saraf hampaku. Titik hujan menguap di kaca arrival room, Iskandar Muda airport. Ku tatap langit, beberapa ekor burung terbang terburu-buru terjebak hujan. Sama denganku yang terjebak di sini, di kotamu kota Nanggroe.
“peu haba, hatee??” (apa kabar, hati??) kurasakan aromamu memenuhi kepalaku saat lamban-lamban kendaraan roda empat ini membawaku perlahan, mencoba mengulang tiap jalan yang kulalui seolah tak pernah lekang sebuah kesatuan kenangan.
Kampus Syiah Kuala university di sisi kiriku dan Ar-raniry Institute di sisi kananku, beberapa orang mahasiswa yang hilir mudik dengan payung di tangan, tergopoh-gopoh menghindari titik hujan yang terus mengguyur bumi. Kurasakan kau bercerita di sisiku tentang dua kampus ternama di kotamu ini.
Di depan ku lihat tanjakan jembatan lamnyong menyapaku dengan keruhnya air krueng aceh yang sedang mengalir memuara ke laut lepas. Bantaran sungai yang menghijau ditanami sayur para petani musiman. Rinduku kian memekat di jembatan ini.
Aku hanya ingin ke pantai ujong batee sesaat, merasakan dinginnya buih ombak yang menepi, menyentuh pasir hitam yang lembut di kakiku. Hanya ingin menyapa cemara yang berdiri anggun menghadap ke bentangan air laut di hadapannya.
“peu haba, hatee???,..lon leupah that meusyen” (apa kabar, hati??,..aku terlalu rindu)
Sanger dingin berukuran gelas besar di depanku. Kopi aceh yang dibubuhi krimer melegakan kerongkonganku. Kemacetan di depanku, tujuh simpangan menyatu di sudut ulhee kareng ini. Hanya aku yang merasa sepi tanpa di temani secangkir pemilik kopi pekat yang selalu setia di sampingku.
Hatiku masih betah bercumbu dengan memory indah itu. Beberapa kapal yang menanti penumpangnya untuk berlayar ke pulau weh, sabang terlihat mengapung-apung di sana. Kapal yang lain menuju pulau aceh telah berlalu lebih dulu. Aku berdiri di depan menara mercusuar, ulhelee. Menatap buih-buih ombak yang ditinggalkan kapal ketika meninggalkan pelabuhan, lalu melepaskan umpan menggoda ikan karang agar mendekat.
Tuhan dengarkan doaku,…doa hati yang sunyi, doa hati yang dipandu gelisah. Hiruk pikuk pasar aceh yang berada di sisi utara pintu gerbang masjid raya Baiturrahman tak menyurutkan kesyahduanku dalam doa. Selangkah semakin berat rinduku menggantung di dada. Ingin sekali kulepaskan rindu ini biar bebas sebebas burung-burung gereja yang terbang bertengger lagi di menara depan masjid baiturrahman.
Langkahku gontai di sini, kakiku lemah hingga ku tersungkur pada bentangan rumput manila hijau yang basah berbau tanah dan bercampur aroma bunga mawar dan melati yang bertebaran di atasnya.
“peu haba, hate??? Lon katroh lom di sino” (apa kabar, hati?? Aku telah sampai di sini lagi)
Hujan kian deras, sederas titik-titik genangan air di mataku yang terus mengalir. Betapa kuat rindu menyesakiku, betapa pekat cinta ini mewarnai hatiku. Hingga ku lupa bagaimana warna yang lain mewarnaiku. Betapa oh betapa,…hanya aku, hujan dan gundukan bentangan tanah menjadi satu kesatuan ujung dari perjalanan rindu ini.
Di depan sana, masih tertulis jelas “Pemakaman Massal Para Syuhada Tsunami Aceh, Lambaro”.
********


Jakarta, 25 January 2011
Aida M Affandi


Minggu, 23 Januari 2011

Sampai di Sini


Kakiku menapaki bekas rumput yang bermandikan hujan semalam. Buliran titik hujan melindapkan rindu yang teramat panjang di kota ini. Ternyata ku tlah sampai di sini ,….
Menara putih berdiri tegak di hadapanku, menatapku menantangku, seolah dia bertanya “mau apa aku kemari lagi???”
Aku telah sampai di sini, di sudut kotamu membawa aliran rinduku yang panjang sepanjang nakdong-gang yang mengalir tenang.
Angka delapan, sebuah angka yang besar untuk sebuah perpisahan. Di sungnyemun ku dapati dirimu sedingin salju menatapku tanpa rasa.
Pergilah katamu,….rindumu padaku seperti someiyoshino di tanganku yang cepat me-layu secepat keinginannya untuk merekah,…..
Seketika ku ingin rindumu padaku seperti Tiger Lily, yang selalu dengan senang hati menunggu sang mentari datang, senantiasa menghadap kea rah mentari dan mekar meskipun tak seorangpun sedang menyaksikannya.
Ribuan gemintang di langit gelap tak pernah mampu mewakili rasa rinduku padamu, kini satu persatu rindu itu berjatuhan menghujam bumi hatiku yang menanah rindu.
Kini ku diam sediam tugu yang dibasahi rinai hujan,….masih aku di sini, mendengarkan hatimu telah sampai di sini


Nakdong-gang                   = sungai terpanjang di korea selatan
Sungnyemun                     = pintu gerbang bersejarah di jantung kota seoul
Someiyoshino                  = jenis sakura yang bunganya lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya                                mulai keluar   hanya bertahan hingga 7 hari.

Jakarta, 17 January 2011
Aida M Affandi
*****



Sabtu, 22 Januari 2011

Kandas


Genangan hujan semalam masih menanti di depanku. Rumput-rumput meneteskan sisa embun pada ujung daunnya. Ku sangka mentari mengajakku tersenyum, hangat sehangatnya memapar kulitku. Namun di ufuk sana sebentuk awan hitam masih setia menggantungkan titik – titik airnya.
1000 burung dara kertas kulipat semalam, kini kubiarkan mereka terbang menuju hatimu. Setidaknya mereka akan jujur padamu tentang hatiku yang diranggas hujan semalaman. Kini kaku dan kerontang.
Sama halnya dengan bahagia, luka jauh terasa perih. Ketika ku sadari kain kasa tak mampu mengurangi kucuran luka yang menganga, kini semakin ngilu dan bernanah.
Bisakah sejenak kau duduk pada kotak terkecil dari hatiku??? Tak mengapa jika kau tak mampu. Tapi setidaknya jangan mengajarkan aku manisnya sebuah senyuman, dan sesaknya sebuah tangisan.
Haruskah aku bertanya????,..yang ku tau kini tangis itu begitu sesak hingga ujung hatiku.

Jakarta, 23 january 2011
Aida M Affandi



Cantik



Saat memilih-milih beberapa barang belanjaan di alfa midi dekat rumah saya, saya bertemu dengan seorang wanita muda yang menggunakan kaos hitam dengan tulisan yang sangat menarik perhatian saya.
sumpah,… dulu gua pernah kurus”
Yah, demikian kalimat yang tertera di bagian depan kaos wanita tersebut. Sambil berjalan ke kasir saya senyum-senyum sendiri, menyadari kalimat itu sangat mengena di diri saya, saat berat badan saya tak kunjung kembali normal pasca melahirkan *:D ketahuan deh kelebihan lemak,…
Ada yang berpendapat bahwa wanita cantik itu ya brains, beauty, behavior  seperti penilaian untuk kontes ratu sejagad. Ada juga yang berpendapat bahwa wanita cantik itu ya yang memiliki inner beauty. Tapi kita juga menemukan persepsi yang sudah terbentuk bagaimana fisiknya seorang wanita cantik. Saya juga yakin seluruh dunia hampir memiliki kesepakatan yang sama akan hal ini.
“Wanita cantik itu yang berkulit putih bersih, pinggangnya kecil  bak biola spanyol (katanya J)berhidung mancung, bibir kecil nan penuh, kaki yang panjang dan betis yang membujur, rambut panjang nan lebat dan mata yang bersinar”
Jika demikian definisi cantik, maka saya sebagai wanita Indonesia yang berkulit sawo matang, hidung yang tidak mancung dan tinggi hanya di bawah rata-rata bisa digolongkan bukan wanita cantik. *aduh menyedihkan sekali saya ini :D.
Curi-curi dengar obrolan di komunitas big is beautifull  
Bahwa ukuran badan yang besar bukan masalah, asalkan memiliki tubuh yang sehat dan pikiran yang sehat, kalaupun berat badan kemudian turun, itu merupakan sebuah bonus. Mau sebesar apa badan  seorang perempuan, tapi tetap saja Tuhan telah menciptakan adam pada tiap masing-masingnya. Kecuali manusia itu memilih hidup sendiri di dunia ini.  *saya suka kalimat bijak seperti ini J
Saya pikir itu hal yang sangat wajar ketika seorang wanita termasuk saya tentunya ingin terlihat cantik, bersih dan wangi. Kemudian menghabiskan waktu ke salon, membeli product kecantikan untuk membuat kulit kinclong. Itu semua sangat wajar menurut saya, tapi menjadi kurang wajar jika tidak seimbang untuk memperbaiki kecantikan yang sesungguhnya.
Seorang guru saya memberi pernyataan tentang cantik agar saya lebih bisa memaknai kata cantik. Ada makna tersirat yang disampaikan oleh guru saya.
Tidak ada larangan bagi seorang wanita untuk berhias agar terlihat cantik dan indah. Silahkan saja memberi asupan gizi sebanyak mungkin untuk tubuhmu agar terlihat indah dan sehat, silahkan saja membeli semua product kecantikan untuk membuat wajahmu bersih dan cantik. Namun seimbangkanlah untuk memberi asupan gizi pada kecantikan hatimu.karena kecantikan hati jauh lebih berarti.
Dengan kata lain, kecantikan fisik itu akan kehilangan kejayaannya seiring bertambahnya usia, namun kecantikan hati atau inner beauty akan abadi bahkan akan meninggalkan jejak kebaikannnya  ketika fisik telah tiada. *terimakasih guruku.