Minggu, 20 Februari 2011

Selamat Hari Peduli Sampah



Semenjak kejadian yang telah menewaskan sedikitnya 200 jiwa yang tertimbun sampah di TPA leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat  pada tanggal 21 februari 2005 yang lalu. Maka setiap tanggal ini sejak 2008 pemerintah telah menetapkan Undang-undang tentang sampah dan tanggal 21 februari ini sebagai hari peduli sampah.
Siapa sih yang tidak menghasilkan sampah setiap harinya??? Dari bapak presiden sampai yang tinggal di kolong jembatan PASTI memproduksi sampah setiap hari. Tapi kemudian berapa banyak yang bertanggung jawab atas apa yang kita produksi ini??? Paling sederhananya adalah membuang sampah pada tempatnya, atau memilah-milah mana sampah organic, an organic dan  limbah berbahaya.
Jika sampah organic masih bisa diurai oleh microorganisme perurai, tapi bagaimana dengan sampah an organic yang bahkan sampai ratusan tahun tidak dapat diurai???
Ngomongin tanggung jawab terhadap sampah saya pun bersama beberapa orang ibu-ibu tetangga saya bersama anak-anak mereka pula mulai iseng-iseng berkreasi untuk mengurangi uang jajan anak-anak, namun menghabiskan waktu berkreasi membuat mainan sendiri dari barang bekas. *ternyata anak-anak exited dengan hasil karyanya sendiri :D.
Alhasil, terciptalah tas jinjing (paper bag) yang dibuat dari kalender bekas, ada bingkai photo dari stereofoam dan kartu ucapan selamat yang dikreasikan dari kardus bekas, ada hand bag dari botol aqua bekas. Bahkan sampah yang tadinya hanya sampai di tukang loak atau lebih buruknya dibakar yang justru semakin mempercepat global warming, sekarang bisa berubah menjadi barang yang multifungsi bahkan terbukti di tangan para kreatif seni bisa menghasilkan money *inspiratif bukan!!!
Sebenarnya jika saja setiap kita mau peduli dan mulai menanamkan tanggung jawab itu mungkin dampak global warming tidak kita rasakan secepat ini. Ah, walaupun kalimat ini terasa membosankan untuk didengar, tapi kenyataannya kita memang harus menyayangi bumi, buang sampah pada tempatnya dan mari berkreasi dengan sampah sebagai salah satu bentuk tanggung jawab kita.

Jakarta, 21 february 2011
Aida M Affandi


Rabu, 16 Februari 2011

Tiger Lily



Mengapa lily yang harus kuliah di bandung, mengapa bukan leny saja??mengapa semua hal yang Lily sukai lalu kemudian harus menyukai Leny juga?? Dan Lily selalu hanya begini, sendiri,.....
Aku menangisi keputusan papa yang memutuskanku untuk kuliah di Bandung saja. Beberapa hal yang kurang menyenangkan terjadi antara aku dan Leny adikku yang terpaut 1 tahun dariku. Ini semua untuk kebaikan hubunganku dengan Leny, hanya itu kalimat yang belum mampu kufahami saat itu.
Oh, bukan salahmu Leny adikku yang cantik rupawan, jika laki-laki yang menaruh hati padaku kemudian justru jatuh cinta padamu. Sama sekali bukan salahmu adikku. Hanya mata lelaki itu lebih tertarik pada kecantikan fisikmu yang melenakan mereka. Setidaknya aku menyukuri mengenali tabiat lelaki yang mendekatiku.
Aku tak pernah kalah setia dengan Tiger Lily yang setia menanti sang mentari menghampiri. Selalu berdiri menunjukkan diriku bahwa aku menunggu sang mentari.
Foto Leny dalam balutan kebaya putih begitu terlihat sangat cantik di mataku. Seorang pangeran pilihan hati telah membawanya pergi dalam istana pernikahan.
Lalu aku???? Aku masih di sini, mulai menatapi kelahiran anak-anak Leny yang kini mulai remaja,...
******
Lily menatapi wajah sendu ibunya yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu telah kehilangan semangat hidupnya semenjak suaminya tiada. Lily selalu mengajaknya tersenyum karena hanya Lily yang selalu setia menemaninya. Lily tertawa walaupun gusar kerap tersirat dari balik tawanya.
Lily melingkari sebuah tanggal di bulan April, jumlah umurnya kian bertambah di tanggal itu. Dua angka yang cukup besar, angka yang mendekati usia manopausenya para wanita.
Namaku lily, layaknya sekuntum tiger lily, aku selalu menanti sang mentari mengajakku menikmati indahnya kehidupan. Hingga usiaku telah beranjak 54 tahun di tahun ini. Aku masih menanti, jika pun tak mungkin lagi, bagiku hidupku cukup berbakti pada dua hati yang telah membesarkanku dan pada pemilik hati yang mungkin tak menciptakan pasangan hatiku di dunia ini. ---Tiger Lily---
Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

Cerita "Pak Tua"



Ritme gerakan golok pak tua begitu rapi, hingga ukuran daging yang dipotongpun sesuai permintaan pelanggannya. Pak tua itu penjual ayam langganan saya di pasar mini. Tak pernah saya menyangka bahwa dulunya beliau seorang yang sangat kaya raya, hingga hari ini dia berbagi cerita dengan wajah yang penuh senyuman.
Saya dulu tajir mba, tapi jujur saja semua uang saya selain gaji saya sebagai karyawan adalah uang hasil suap menyuap alias uang Haram. Mungkin Tuhan masih sayang saya, DIA menegur saya lewat anak-anak saya yang mulai remaja dan terjerumus dalam kenakalan remaja.
Saya sangat antusias mendengarkan cerita pak tua ini, hingga akhirnya ada pernyataannya yang membuat saya menilainya adalah seorang laki-laki yang berani, ya berani mengambil resiko, berani untuk percaya bahwa pertolongan Tuhan begitu dekat.
Saya berdoa di depan ka’bah. Saya mohon pada Allah, agar semua harta kekayaan saya yang diperoleh dengan cara yang haram agar dimusnahkan dengan cara Allah semata. Bena sajar, setelah doa itu saya sampaikan dengan sungguh-sungguh, satu demi satu harta saya lenyap dengan berbagai cara. Hingga tersisa hanya uang yang diperoleh dengan cara yang halal. Dan uang itu tak cukup memenuhi kebutuhan sekolah 7 orang anak saya.
Saya diam mungkin juga terkesima dengan jalan yang ditempuhnya untuk membersihkan diri dan keluarganya dari kekayaan yang haram tadi.
Tapi mba, ini justru awal sebuah ujian iman dimulai. Ketika semua harta saya habis. Saya dan istri benar-benar memulainya dari nol. Bahkan istri saya hampir tidak kuat, karena terbiasa semua kebutuhan terpenuhi. Namun Ada perkataan Nabi Ayyub as pada istrinya yang selalu menyemangati saya menjalani proses ujian iman ini,...
“Ingatlah istriku 80 tahun kita hidup dalam kemewahan, sementara ujian ini baru berjalan 7 tahun. Aku malu memohon pada Allah agar segera menghilangkan ujian ini. Sebab cobaan ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kemewahan hidup yang pernah kita rasakan sebelumnya”
Setelah kalimat terakhir dari Pak Tua selesai, seorang dokter di klinik ummat dekat masjid di pasar menghampiri kami.  
Kenalin mba,..ini anak saya.....pak Tua dengan bangga memperkenalkan anaknya.
Saya benar-benar terdiam sejenak. Begitu dalam pelajaran hidup yang saya dapat hari ini. Cerita pak tua telah mengajarkan saya tentang buruknya pengaruh uang haram walaupun 1 sen pun akan membuat hati keras menerima kebaikan *berfikir sejenak tentang para pencuri uang rakyat di negri kita ini, bagaimana hati mereka sekarang????.
Ah, pak Tua kau mengajariku untuk mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan tepat ketika kesulitan menerpa. Namun bagian ini manusia kerap lupa. Ibarat satu gigi yang sakit, mengapa kemudian seluruh badan terasa sakit???? Karena manusia terlalu focus pada kesulitan itu mungkin, sehingga yang lebih sehat lainnya tidak terlihat jelas lagi. Duh,...malu rasanya disentil kadar iman saya kali ini......

Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

Minggu, 13 Februari 2011

Rayuan Kreatif di Minggu Siang



Hari ini saya dan suami ga berniat kemana-mana berhubung kondisi badan lagi drop. Istirahat ngabisin waktu sambil tidur-tiduran di rumah mungkin jadi pilihan yang tepat. Tapi itu baru sekedar niat, soalnya Nazira anak saya yang terbiasa jalan-jalan tiap weekend protes ga mau weekend hanya di rumah.
Biar Nazira ga ngomel melulu ke saya, akhirnya saya rayulah dia untuk berkreasi bersama barang-barang bekas di rumah. Alhasil terciptalah 1 tempat pensil dari botol plastic bekas minum, dan satu kartu ucapan dari kardus bekas, berhubung si pai2 mau ultah, jadi kartu ucapannya disiapin lebih duluan :D.
Tempat pensil dari botol plastik bekas.
Bahan : 2 botol plastic bekas, cutter, benang dan jarum, resleting ukuran 20cm
Caranya gampang banget kok....
Pertama, Botol pertama di potong menjadi dua buang bagian yang ada tutupnya, botol kedua dipotong bagian dasarnya kira-kira sepanjang 7cm, buang juga bagian yang ada tutupnya.
Kedua, kemudian botol kedua yang berukuran lebih kecil diletakkan dengan posisi terbalik di bagian atas botol pertama (perannya sebagai penutup).
Ketiga, jahitlah sisi resleting pada botol pertama dan sisi yang lain pada botol kedua.
Keempat, supaya kelihatan cantik, bole dilapisi kertas kado atau dicat sesuai selera.
Kreasinya sederhana banget, biar botol bekasnya bisa dimanfaatin, dan Nazira belajar berkreasi dengan barang-barang bekas DAN yang PALING PENTING buat saya hari ini. Nazira ga ngomel-ngomel lagi karena kegirangan dapat tempat pensil warna warni hehehehhe,.... :D. ohya, kartu ucapan dari kardus bekas nyusul aja ya,...saya takut, kalo tulisan saya jadi membosankan :D.

Jakarta, 13 february 2011
Aida M Affandi


Jumat, 11 Februari 2011

Aku Hanya,....



Segerombolan camar menghalau redup mentari. Bergegas pulang menikmati indahnya sebuah kediaman. Ah, camar saja merindukan pulang menepi bersama gelapnya malam.
Senja kini mengapa begitu meragu. Dibandingkan siluet senja yang menjuntai jingga, aku lebih merindui kilau emas diantara celah jemariku yang mengitari ufuk timur yang merona semarak keemasan.
Segarit lakumu tlah menerjang rasaku. Begitu berat menjadi tungku yang menggelegakkan air. Begitu berat menjadi kipas yang menyejukkanmu dan begitu berat menjadi sumur yang melepaskan dahagamu.
Aku ternyata tak pernah begitu dalam halusnya harapmu.
Aku hanya langit tanpa gumpalan awan,...
Aku hanya sumur,... tanpa air.

Jakarta, 12 February 2011
Aida M Affandi

Senin, 07 Februari 2011

Antara Dirimu dan Malam



Aku telah memesan kelam pada sang malam. Bersama kerlipan gemintang dan semburat sinar sabit sang rembulan yang bersinergi melukiskan wajah langit.
Suara katak hendak kawin terasa begitu nyaring diantara riuh rendah birama Flamenco mengikuti hentakan Zapateado dan liukan Filigrano dari energiknya sang penari gypsi.
Tak sedikitpun mataku berhenti menatapi kerlipan gemintang. Seperti deretan senyumanmu terukir pada tiap gugusnya.
Ribuan malam kuhitung bersama angin musim hujan yang memelukku. Tak pernah penat membebani inginku meski ku tahu musim semi tak pernah hadir di tanah pijakanku.
Antara dirimu dan malam. Ada aku yang tak pernah mampu melukis wajahmu yang tersenyum nyata di depanku. Seperti rindu yang hanya mampu kusimpan di hati untuk kuisipi dalam gundahku.
Dalam pekatnya cinta yang menembus malam, tlah kularungkan pinta lewat sampan bamboo yang kukirim untukmu di hilir sungai. Menyanyikan pinta hatiku di sepanjang alur beningnya air menuju muara hatimu.
Masih,..antara dirimu dan malam,..hanya ada aku yang mendengarkan tetesan embun berbisik rindu akan bumi. Masih ada aku dalam pekat galauku.

Flamenco    : tarian gypsi
Zapateado : gerakan khas kaki
Filigrano    : gerakan khas tangan yang berputar

Jakarta, 7 february 2011
Pukul 23.23 wib
Aida M Affandi

Minggu, 06 Februari 2011

Pleaseee,..Tolong Ganti Namaku!!!



Pokoknya, aku mau namaku diganti!!!!! Aku ga mau pake nama ini!!!!
Mama masih sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam kami saat aku mendadak marah minta namaku segera diganti saja setelah teman-teman di sekolah mengejek namaku yang kampungan dan terkesan aneh.
Emang ada apa???kok tiba-tiba minta diganti namanya...
Aku masih cemberut saat mama menanyakan alasan aku meminta mengganti nama.
Pokoknya, aku ga mau pakai nama ini lagi, ganti yang keren kayak temen-temenku aja!!! Ngototku lagi.
Oh,..nunggu ayah pulang dari Haji aja ya sayang,..insya Allah minggu depan sudah pulang dari makkah.
Mama menjawab dengan tenang protesku kali ini, dan aku juga harus bersabar hingga minggu depan menunggu ayah pulang dari tanah suci. Ah, aku harus kembali ke sekolah dan menenangkan diri mendengar ejekan teman-temanku tentang namaku. Ini sungguh hal yang menyebalkan.
********
Ayah,...aku mau namaku diganti, aku ga mau pakai nama ini lagi.
Belum sehari penuh ayah tiba di rumah aku langsung menyampaikan demoku. Ayah tersenyum saat kusampaikan keberatanku. Mungkin dalam fikirnya, kecil-kecil kok sudah pinter protes keputusan orangtua. Apalagi nama itu tentu sudah difikirkan baik-baik olehnya sebelum memberikannya untukku.
Hatiku mulai ciut, setiap kali melihat ayah tersenyum menanggapi sikap nakalku. Sama halnya dengan saat ini, ayah hanya tersenyum lalu mengajakku mengobrol di taman depan rumah.
Aida,.. kamu tahu ga arti dari namamu???
Tanya ayah memulai pembicaraan denganku. Aku hanya menggelengkan kepala. Umurku yang baru berusia 7 tahun tak cukup mengerti dengan maksud arti dari sebuah nama.
Aida itu berasal dari bahasa arab artinya tangan-tangan, dan Maslamah itu juga berasal dari bahasa Arab artinya Penyelamat,...jadi arti dari namamu Aida Maslamah berarti Tangan-tangan Penyelamat.
Ayah berhenti sampai di situ, sementara aku siap-siap untuk membantah.
Tapi aku pingin nama yang lain yah,...teman-temanku punya nama yang keren-keren. Sanggahku lagi.
Tidak perlu malu ketika namamu tidak sekeren teman-temanmu. Tapi kamu harus bangga bahwa namamu punya arti yang sangat baik. Nama itu ibarat doa bagi pemiliknya. Jadi, ayah ingin kamu bisa menjadi penyelamat bagi orang-orang yang membutuhkan bantuanmu.
Lihatlah bunga mawar ini, harum baunya dan indah bentuknya. Mawar jika diganti dengan nama yang lain sekalipun tak akan bermakna apa-apa jika dia tidak wangi dan indah . Berbanggalah nak,...jika teman-teman mengejekmu lagi,..katakanlah bahwa namamu adalah doa buat dirimu.
Walaupun masih berat di hati saat itu, toh sampai saat ini namaku tak pernah diganti dengan nama yang lain.  Sampai akhirnya aku mengerti bahwa sebuah nama sebagus apapun tak akan berarti apa-apa jika si empunya nama tak mampu memaknai doa atau harapan arti dari sebuah namanya.
Sekian,..Happy Monday,..SEMANGKA!!! Semangat Kaka,.. :D

Rabu, 02 Februari 2011

Untuk Lelaki Dulu

Jakarta, 07 january 2010

Kepada:  Lelaki dulu
Yang menghantuiku

Kemaren kau mengirimiku lagi pesan singkat.
abang lagi liatin foto ade yang berkerudung putih di notebook”
Seharian aku menata hatiku, bukan karena hatiku masih merinduimu tapi sikapmu benar-benar telah menjadi hantu dalam biduk nikahku yang pernah hampir pecah berkeping-keping karena kekhilafanku yang membiarkanmu kembali hadir ke dalam sudut kecil hatiku.
Ada yang belum selesai antara kita dulu katamu, dan ku mohon ijinkan aku kembali benahi lagi kesalahanku dulu rayumu.
Sejujurnya hatiku sempat gamang dengan pernyataanmu itu. Kita memang pernah satu suatu waktu di masalalu, ada hal yang tak pernah berhasil kita lampaui dulu karena keposesifanmu yang menghalau cita-cita besarku. Kau berniat membenahinya di saat yang sangat salah dalam hubungan yang berbau dosa.
Komunikasi yang tak berjalan dalam hubungan ijab qabulku menjadi celah keberuntungan untuk kau obrak abrik kalimat sakral itu. Kau masuk perlahan mencoba merusak setiap saraf pikiranku, sampai akhirnya aku khilaf lebih mendengarkanmu daripada kenyataan hidupku.
Wahai lelaki dulu……
Tak pernah genap 1 bulan hubungan haram itu terjalin antara kita. Hati dan pikiran sadarku berangkat dengan penuh gundah saat memulai kisah tak genap sebulan itu. Setelah kemudian seorang wanita lembut dan gadis kecil yang sangat mirip parasmu memohon di kakiku dengan buraian hati yang penuh luka dan terbasuh titik-titik air mata.
Hati wanitaku tersentak. Wanita lembut dan gadis kecil yang mirip denganmu itu memohon di kakiku. Memohon memberikannya tempat agar kau sudi memulai cinta sesungguhnya dengannya. Wanita yang telah kau sebut namanya dalam sebuah ijab qabul itu terisak di depanku memohon padaku agar tidak menjadi pagar antara hatimu dan hatinya.
Sungguh aku menangis, menangis karena khilafku sungguh terlalu. Sungguh aku terlalu ketika kusakiti mata wanita yang melayani suaminya dengan sepenuh hati, sungguh aku tertuduh ketika seorang gadis kecil menunggu kehadiran ayahnya hingga membeban rindu di dadanya.


Duhai lelaki dulu,……
Jika setia itu impossible  dalam hatimu, bisakah setidaknya kau responsible pada wanita yang menjaga hatinya dan anakmu di rumah???? Jika katamu belum mampu mencintainya, bisakah kau lebih bertanggungjawab untuk memulai mencintainya??? Walaupun kemudian kalimat tanya ini sangat pantas dipertanyakan padaku sendiri.
Saat ini aku tak akan memohon lagi. Tapi aku hanya meminta dengan segenap hati galauku yang masih dihantui setiap hari dengan pesan singkatmu. Aku meminta padaku berhentilah mencari celah dalam biduk kecil rumahtanggaku, berhentilah mencoba membuat celah hingga biduk cintaku kebocoran olehmu.
Kali ini aku akan bertahan. Bertahan mempertahankan apa yang pantas untuk dipertahankan yaitu “pernikahanku”, berhentilah sekarang untuk kembali mengusik hatiku. Karena semakin kau mencoba membuat celah, maka bidukmupun akan semakin karam. Ingatlah suatu saat kau dan aku akan menyesali jika terus melangkah dalam nafsu ini.
Pulanglah,….gadis kecil yang parasnya milikmu menanti dengan rindu yang menggebu. Ikhlaskan semuanya berakhir, tak ada kebaikan apapun yang bisa kita temui dari kisah cinta penuh nafsu ini. Pulanglah, begitu juga aku pulang dengan menanamkan keikhlasan dalam hatiku.

Regards
Aku dengan kesadaranku




Jakarta, 22 Desember 2010
Kepada
Wanita yang di bawah telapak kakinya
Ditempatkan Syurga

Setelah 32 tahun lamanya, kali ini hatiku tiba-tiba merindukanmu. Sosokmu tiba-tiba hadir dalam pikiran dan hari-hariku. Apa yang harus kuceritakan tentang dirimu, yang kutau kau memang wanita yang cantik. Bahkan sebagian besar yang ada di diriku adalah warisan nyata darimu.
Ku coba mengingat beberapa hal cerita tentangku dari bibirmu. Aku hanya bayi kecil yang cengeng dan rewel,mungkin juga sangat menyusahkanmu saat itu yang mengurusiku seorang diri. Aku hanya ingat itu sebaris kisah tentang masa bayiku terekam nyata di benakku.
Siang ini, aku duduk di taman seorang diri. Pandangan di sekitarku diwarnai suasana bahagia keluarga kecil yang saling bercengkrama. Seorang ibu yang berkejaran dengan gadis kecilnya, tertawa sambil berlarian. Wajah mereka tersenyum merekah, seolah tanpa beban saat bermain bersama.
Begitu cemburunya hatiku kali ini. Miris membayangiku, aku tak pernah punya moment paling indah bersama wanita yang melahirkanku. Setidaknya ibu belum pernah punya waktu untuk menggandengku berlari, setidaknya ibu belum pernah punya waktu untuk tersenyum bermain tanpa beban bersamaku.
Mungkin kau tidak sengaja melepaskan amarahmu karena kejamnya kehidupan padaku anakmu. Mungkin kau tak pernah bermaksud menyakiti dasar hatiku dengan kata-kata yang melabeliku. Mungkin kau tak berniat membentukku menjadi wanita seperti sekarang ini, wanita yang telah kau labeli dulu, membentukku menjadi wanita yang keras penuh amarah dan dendam. Mungkin kau tak pernah benar-benar sengaja melakukannya. MUNGKIN…..
Ibu,….
Baru setahun ini aku benar-benar memaknai kata ini “ibu” walaupun teramat sering kuucapkan padamu.  Dua minggu yang lalu diam-diam aku menatap bola matamu yang kian dalam. Banyak kerutan di sekitar dahi dan pipimu. Rambutmu yang dulu hitam tergerai panjang, kini berwarna pucat. Namun seraut wajah yang cantik masih sangat nyata di mataku.
Aku merasakan hangat saat tanganku dalam genggamanmu. Sungguh berbeda dengan puluhan tahun yang lalu hanya dingin yang merayapiku. Tatapan matamu kurasakan berbeda. Kali ini tepat menghujam hatiku. Sorot penyesalan tersirat di sana, sorot kesedihan terlintas di sana.
Haruskah aku jujur, bahwa baru genap dua belas bulan ini aku menemukan tatapan seorang ibu dari mu???? Tatapan yang seharusnya hadir semenjak kelahiranku dulu, tatapan yang sesungguhnya menyayangi anaknya.

Ibu,….
Aku sadar, jauhnya rentangan kasih antara kita karena keegoisanku. Setan nafsu menguasaiku untuk tak memaafkan bagian terburuk dalam hubungan kita. Kesakitan hatiku berani menafikan maafmu,sehingga hubungan ambigupun tercipta antara kita. Aku dengan fikiranku dan kau dengan fikiranmu.
Aliran darahmu dalam tubuhku meluluhkan hatiku. Menyadarkanku bahwa aku bukan Tuhan, yang berhak menghukum tanpa ampun. Bahkan Tuhan Maha mengampuni ketika hati seorang hamba luluh dalam penyesalan. Lalu siapa aku??? Telah berani menghukummu saat kau rela membuangku dari hatimu demi kesenangan nafsu mudamu???
Ibu,….
Tepat dua minggu yang lalu, Bisakah kau rasakan yang berbeda saat ku memanggilmu “ibu”. Ku telah mengucapkan kata itu dari dalam hatiku. Ku telah sematkan walaupun sedikit terlambat bahwa kau pantas mendapatkan doa syurga dari anakmu.
Sama halnya denganmu, aku bergerak menemukan titik kedewasaanku untuk berfikiran lapang dan mengharapkan berkah dari indahnya memaafkan. Penyesalan selalu akan datang belakangan jika ku tak melangkah sekarang. Maafkan aku sedikit terlambat memberikan curahan kasih sayang ini.
Ibu,…
Sehatlah selalu, aku akan segera kembali. Kita isi hilangnya waktu yang pernah kita miliki bersama dulu. Di sudut kota cinta,ku lihat seekor merpati terbang kemudian bertengger lalu terbang jauh tak terlihat mataku lagi. moga dia mendengar hatiku, menyampaikan salam rinduku pada ibuku selalu.

Sepenuh cinta
anakmu

26 Desember, Aku Tiada


Aku berlari sekuat tenaga menghalau resahku, berpacu waktu dengan ratusan hati yang menyimpan galau di dada mereka. Sesekali ku terjatuh terinjak dan terluka, namun secepat itu pula aku bangkit berlari lagi menuju satu titik menuju satu tempat dimana semua galau bertumpu di situ.
Aku hanya punya tekad namun tenagaku tak seberapa, guncangan bumi rencong di tanggal 26 desember kali ini membuatku terhuyung-huyung jatuh. Suara gemuruh air menyadarkanku diantara ratusan orang yang kurasakan hanya seumpama semut yang kucar kacir di dinding rumahku saat disiram seember air.
Hati manusiaku meringis, mengingat koleksi dosa yang telah kukumpulkan bertahun-tahun tanpa sempat benar-benar kubenahi. Bagaimana jika hari ini janjiku dengan Nya benar-benar akan berakhir di pagi minggu, 26 desember 2004.
Lamunan penyesalanku buyar dengan hempasan gulungan ombak yang samasekali tak kurasa indah kali ini. Semua begitu mengerikan, semua begitu hitam, semua begitu bau. Entah pada apa aku berpegang saat ini, hanya lidah dan hatiku yang tak henti menguatkan sesal.
Aku hampir mati, benar-benar hampir mati. Kerongkonganku tersedak berkali-kali meminum cairan asin yang bercampur tanah. Aku hampir mati, benar-benar hampir mati. Kurasakan telingaku disinggahi paku dinding yang harusnya menancap di dinding rumahku. Aku hampir mati, benar-benar hampir mati. Ketika darah segar kurasakan bercucuran di seluruh tubuhku.
Bumi masih berguncang, sekuat tenaga mataku mencari cahaya. Sayup-sayup kudengar isakan di sekitarku. Langit kutatap begitu cerah, kurasakan tak ada batas antara aku dan hamparan permadani biru yang indah di depanku saat ini.
Baru kali ini tanah kurasakan begitu dingin, wajah panik yang mondar mandir di depanku, isakan tangis yang tak kenal henti menjadi pemandangan di sekitarku. Hey, bisakah kalian membantu untuk duduk???teriakku.
Aku berhenti berteriak mataku diam, menatap kanan dan kiriku. Puluhan tubuh kaku, pucat dan berbau anyir menemaniku merasakan dinginnya tanah di pagi minggu ini. Kurasakan ujung kakiku semakin dingin perlahan menjalar ke lutut, paha, perut hingga kerongkonganku. Kaku aku semakin kaku, tiba-tiba kurasakan mataku begitu berat, sesaat sebelum terpejam sayup-sayup kudengar lafadz innalillahi wa inna ilaihiraaajiiuunnn,…

Mengenang 6 tahun tsunami aceh
Minggu, 26 desember 2004
Aku benar-benar kehilangan….

Tanpamu



Dimanakah kau cintaku,…aku bersama gelisah menantimu untuk menatap mata coklatmu yang teduh
Dimanakah kau pujaanku,..aku bersama gundah mengharapkan uluran jemari hangatmu….
Dimanakah kau belahan jiwaku,..apa kau tak melihat siang dan malam aku terpekur dalam bayangan kasihmu,…menggantungkan rinduku dalam derit cabang pohon yang ditiup angin malam,..
Dimanakah kau pahlawanku,…dalam robohan tonggak kujelajahi resahku, dalam bisunya puing-puing tsunami kurapatkan tiap jengkal kekuatanku,..
Dimanakah engkau separuh jiwaku yang lain,…aku akan tetap menantimu dalam setiap saat ketika mimpi indah menghampiriku,..

NB.
Saya belajar menuliskan puisi ini di sebuah sore yang kelabu, di sebuah pengungsian Tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, ketika saya melihat seorang   wanita muda dalam keadaan hamil besar, duduk terpekur diantara jejeran mayat. Ketika saya sadar bahwa wanita itu hanya tinggal seorang diri.

Lelaki Dulu


Lelaki dulu,…
Apakah kau ingin di sini bersamaku??
Hari ini juga??detik ini pula??
Bukankah kau telah tahu
Tak akan kubiarkan kau lewati lorong itu lagi
Lorong waktu yang pernah kita lalui dulu

Lelaki dulu,..
Apa kau tak iba pada beningnya mata malaikat kecilmu??
Apakah kau begitu “terlalu” pada bidadari hidupmu??
Apa kau begitu “berani”  pada malumu??
Ah,..percuma aku mengingatkanmu

Ku beritahu kau,..
Aku tak akan bergeming,..
Hingga kau tertibkan liarnya nafsumu
Hingga kau temukan kembali “iman” mu

Ku beritahu kau,..
Aku sungguh tak akan bergeming,..

Jakarta, 29 september 2010
Aida M affandi

Dimanakah dirimu



Dimanakah dirimu,…
Aku di sini bersama angin
Yang menggantungkan harapku
Pada sebatang dahan yang kaku

Dimanakah dirimu,..
Aku di sini bersama malam mematuti kelam
Menyimpan hasrat gundahku
Pada lidah yang kelu

Ku cari dirimu,..dalam kabut berdebu
Diantara puing-puing prasasti
Dan pada batu yang sebisu tugu

Dimanakah dirimu,..
Haruskah aku berhenti mencarimu,..

Jakarta, 26 september 2010
Aida m affandi


Aku Menunggumu



Aku menunggumu,…
Dalam rentang waktu tanpa bilangan
Seperti silihnya musim tanpa kepastian
Kucoba Meraba pikiranmu yang tak kasat mata
Kau harus menungguku katamu
Maka Aku masih tetap menunggumu

Aku menunggumu,..
Walau kutahu bosan menyergap energiku
Memenjarakanku pada kata setia
Kau masih harus menungguku katamu lagi padaku
Seketika anggukanku begitu cepat
Ku takut kau labeli aku  wanita kesepian”
Maka ku terus menunggu,…

Aku menunggumu,..,…
Banyak waktu yang bercerita padaku
Berharap kau sapa gundahku
Menunggu kau jamahi rinduku

Kau tahu,…
Waktuku tlah menghujung
Mungkinkah aku tetap menunggumu???

Jakarta, 26 september 2010
Aida m affandi








Peri Berkerudung Biru


Koridor 017
Hatiku tertinggal di sini, telah lama kuraba mencoba menemukan tiap sudutnya
Koridor 017 warna temaram menghiasi sepanjangnya,…
Begitu redup cahaya di sana,..seredup keinginanmu untukku,…
Peri berkerudung biru dalam senyumannya yang sendu,…

Koridor 017,..ketika kuletakkan harapanku
Mata coklatmu berbicara,..”aku baik-baik saja”
Wahai Peri berkerudung biru,..
Kurasakan cumulonimbus menggelantung pekat di atas kepalaku
Diam,…Mataku panas menahan genangan sumur airmata di hatiku
Lepaskan,..kan ku coba lepaskan
Walaupun lebih berat daripada menahannya,..


Koridor 017 barisan file teratas dari kisahku
Tanpa perlu kubuka isinya,..
Hatiku telah sangat kenal judulnya
Peri berkerudung biru,….aku tak kan memohon
Namun Ijinkan aku tetap membukanya di file hatiku…

----------------

Pertengahan February

Bagaimana mungkin mata coklat itu kini redup
Lebih redup dari cahaya lampu di koridor 017,…
Peri berkerudung biru,..
Ku akui,..aku tlah menjadi pendosa
Ketika dekapanku begitu erat menyanjung malaikat
Namun hatiku tak berani membisu melafalkan kisahmu,…
Seperti dzikir panjang yang tak pernah terputus waktu

Pertengahan February,…tanpa hujan,..tanpa terik
Ketika “seandainya” itu punya makna,…
Mungkin aku akan memilih mencarikan cahaya untukmu
Walaupun bukan cahaya gemintang,..
Kerlipan Kunang-kunang pun akan terasa indah,…


Peri berkerudung biru,…
Meskipun ku tak mungkin mengubah “seandainya”
Setidaknya biar kurangkai senyummu menjadi indah
Biar kuterangi coklatnya matamu hingga berbinar
Walaupun hanya dengan itu aku akan tetap menjadi seorang pendosa
Antara kau peri berkerudung biruku dan bidadari yang erat memeluk tubuhku,..

Peri berkerudung biru,…untuk kesekian kali, ku mohon…Maafkan hatiku….
Jakarta, 20 september 2010
Aida m Affandi