Rabu, 16 Februari 2011

Cerita "Pak Tua"



Ritme gerakan golok pak tua begitu rapi, hingga ukuran daging yang dipotongpun sesuai permintaan pelanggannya. Pak tua itu penjual ayam langganan saya di pasar mini. Tak pernah saya menyangka bahwa dulunya beliau seorang yang sangat kaya raya, hingga hari ini dia berbagi cerita dengan wajah yang penuh senyuman.
Saya dulu tajir mba, tapi jujur saja semua uang saya selain gaji saya sebagai karyawan adalah uang hasil suap menyuap alias uang Haram. Mungkin Tuhan masih sayang saya, DIA menegur saya lewat anak-anak saya yang mulai remaja dan terjerumus dalam kenakalan remaja.
Saya sangat antusias mendengarkan cerita pak tua ini, hingga akhirnya ada pernyataannya yang membuat saya menilainya adalah seorang laki-laki yang berani, ya berani mengambil resiko, berani untuk percaya bahwa pertolongan Tuhan begitu dekat.
Saya berdoa di depan ka’bah. Saya mohon pada Allah, agar semua harta kekayaan saya yang diperoleh dengan cara yang haram agar dimusnahkan dengan cara Allah semata. Bena sajar, setelah doa itu saya sampaikan dengan sungguh-sungguh, satu demi satu harta saya lenyap dengan berbagai cara. Hingga tersisa hanya uang yang diperoleh dengan cara yang halal. Dan uang itu tak cukup memenuhi kebutuhan sekolah 7 orang anak saya.
Saya diam mungkin juga terkesima dengan jalan yang ditempuhnya untuk membersihkan diri dan keluarganya dari kekayaan yang haram tadi.
Tapi mba, ini justru awal sebuah ujian iman dimulai. Ketika semua harta saya habis. Saya dan istri benar-benar memulainya dari nol. Bahkan istri saya hampir tidak kuat, karena terbiasa semua kebutuhan terpenuhi. Namun Ada perkataan Nabi Ayyub as pada istrinya yang selalu menyemangati saya menjalani proses ujian iman ini,...
“Ingatlah istriku 80 tahun kita hidup dalam kemewahan, sementara ujian ini baru berjalan 7 tahun. Aku malu memohon pada Allah agar segera menghilangkan ujian ini. Sebab cobaan ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kemewahan hidup yang pernah kita rasakan sebelumnya”
Setelah kalimat terakhir dari Pak Tua selesai, seorang dokter di klinik ummat dekat masjid di pasar menghampiri kami.  
Kenalin mba,..ini anak saya.....pak Tua dengan bangga memperkenalkan anaknya.
Saya benar-benar terdiam sejenak. Begitu dalam pelajaran hidup yang saya dapat hari ini. Cerita pak tua telah mengajarkan saya tentang buruknya pengaruh uang haram walaupun 1 sen pun akan membuat hati keras menerima kebaikan *berfikir sejenak tentang para pencuri uang rakyat di negri kita ini, bagaimana hati mereka sekarang????.
Ah, pak Tua kau mengajariku untuk mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan tepat ketika kesulitan menerpa. Namun bagian ini manusia kerap lupa. Ibarat satu gigi yang sakit, mengapa kemudian seluruh badan terasa sakit???? Karena manusia terlalu focus pada kesulitan itu mungkin, sehingga yang lebih sehat lainnya tidak terlihat jelas lagi. Duh,...malu rasanya disentil kadar iman saya kali ini......

Jakarta, 16 february 2011
Aida M Affandi

0 komentar:

Posting Komentar