Minggu, 24 April 2011

Wingman



            Waktuku serasa berhenti berdetak saat kau hadir perlahan. Menyesap ke-tiada-anku ke dalam ada-anmu. Bersama desau angin yang memerih rindu meradang. Ku lihat kau sekilas dengan sayap terkembang menyapaku dengan senyuman.
            Arakan awan mengiringi setiap kepakan sayapmu, merindu, mengeram, meronta akan cinta yang terpasung oleh kabut ketakdayaan kita. bukankah cinta bukan hanya urusan mata, namun cinta mengaitkan hati dalam jarak tak berjarak. Merangkai kasih dalam kisah walaupun nyatanya nista.
            Walaupun berselimut penantian, kita tetap harus mengunyahnya bersama. Dunia kita ada waktunya ucapmu. Kita semakin terluka, saat harus memendam kata, mengeram rasa. Menjadi setia menanti hujan melemparkan kita dalam setiap abdjad terakhir yang menjadi titah  dari yang kuasa.
            Langkahku selalu menuju arahmu. Mengapa rindu ini selalu membutuhkan jarak. Jarak mataku memandang ketulusanmu, jarak tubuhku yang ingin membekapmu dalam rangkaian rindu. Jarak kenyataannya yang hanya kucecap dalam sebaris kata-kata saja.
            Aku dan kau adalah absurd. Hanya terangkai dari desahan angin, tercipta dari ribuan mili titik hujan. lalu hanya menjadi nyata dalam dekapan sayapmu yang kau rentangkan saat malam menjelma menjadi rindu yang tak terperikan.
            Kemarilah,...rasakan setiap sentuhan sayapku yang memelukmu erat, kan kuajari kau bagaimana membuat rindu ini indah, kan kuajari kau bagaimana menjadi wanita dandelion dalam hatiku.
            Rentangan sayapmu melingkupi tubuhku. Kita bertemu dalam gelombang alpha. Memanggut rindu pada tiap bibir yang basah. Selanjutnya biarkanlah desiran angin yang hampa mengartikan semuanya tentang rahasia di balik sayapmu.

Jakarta, 26 April 2011
Aida M Affandi
           

Jumat, 22 April 2011

Esok,..Kecuali Aku



Adikku,....
Di sini, kubaca Malam yang dingin dengan wajah termangu
Mungkin pertanda esok hari akan Cerah.
Secerah Harapan yang disandingkan dalam Doa untukmu
Baju pengantin putih telah menanti sebagai baju kebesaranmu esok
Ketika bumi menyaksikan kau temui gerbang itu.

Adikku,....
Puluhan mata menatapmu esok, berucap amiennn mempersembahkan Ijabah.
Menyemai Harapan, mengembangkan senyuman mengiringi tiap kata sakral yang tercipta.
Kalimat bahagia tak cukup disandingkan dengan senyuman
Bahkan airmata pun tak cukup menyatakan bahagia.
Itu semua untukmu adikku.

Adikku,....
Lelaki paruh baya yang selalu kita panuti, menahan genangan di sudut matanya.
Menabuhkan bangga, menyematkan semangat untuk menit-menit bahagiamu.
Berbahagialah adikku,..
Karena wanita yang menghabiskan waktu dan hatinya untuk kita
Kini berurai airmata, bukan pertanda tak rela ,namun akibat sayang yang mendalam.

Adikku,...
Esok, Kurasakan ratusan malaikat berbaris di langit sana
Menyaksikan sebuah masjid yang dibangun atas ikatan suci
Kecuali aku,..ya kecuali aku yang hanya mampu menatapmu dari jauh
Menyeka airmataku, menengadahkan tanganku dengan tulus
Menyusun ribuan maaf tak kala tubuhku tak berada diantaramu

Adikku,...
Melangkahlah mendekat pada gerbang itu dengan senyuman
Bahteramu kini siap untuk berlayar,....
Menghalau ombak, menantang angin
Tapi kuyakin kau sangat mampu,..
Karena ku tahu kau selalu bijak menjadi nakhoda.

*****







Kamis, 21 April 2011

Shelter



Malam merangkak menjemput gulita. Tubuh-tubuh bersatu bersama jiwa meraih ketenangan.  Pesona Malam hanya dipandangi oleh mata yang terjaga dari gulita. Desau angin melewati tiap apa yang dilaluinya, menyampaikan sentuhan tanpa ku memintanya.
            Sebongkah sesak bercokol di dadaku kini. Buyar melebur bersama badai airmata. Rembulan menatapku dari duduknya. Tak perduli sekalipun ditatap tangisku tak jua mereda. Kini Bintang yang genit mengerdipiku, namun gundahku tak jua berujung malu olehnya.
            “Menangislah, namun jangan terlalu lama....kau harus selalu terlihat anggun, karena kau wanita yang kuat dan pantas untuk bahagia”
            Sebuah nada berat di ujung sana membungkam riuh kalutku. Seolah berhenti badai yang menerjang bidukku. Senyap,...sesenyap harapku menghapus laju sesak pada dinding kalbu rapuhku.
            Mata yang tajam bersinar tepat menghujam dadaku. Hatiku kini Seperti dinding kaca yang mampu kau baca dari jarak tertentu, mampu kau amati hingga kau temukan bagian hatiku yang mengelupas perih.
            “bersandarlah, kau tak perlu meminta...kutemani airmatamu agar segera mereda, menemui muaranya” suaramu kian mendekat.
            Wahai kau yang datang meminjamiku bahumu, bisakah lebih lama kau di sini??? Di sini terlalu rapuh, seperti bongkahan kaca berserakan ketika terjatuh.
            Wahai kau yang datang membekap dera resahku, bisakah kau bersemayam di sini??? Di sudut hatiku, penjaga kerapuhan jiwaku. Bisakah kau????.................
            Malam kian hening, sehening aku memaknai pelukan kekasih lelaki malam yang selalu datang bertandang berucap sayang sesaat kemudian meninggalkanku dalam bayang.

Jakarta, 22 April 2011
Setengah jam setelah tengah malam.

Senin, 18 April 2011

LELAKI MALAM


            Mungkin hanya beberapa saja, kerlipan bintang yang mengedipiku di pekat gulitanya malam. Kurasa langit kian menjelaga, membiarkanmu datang di antara bayang-bayang malam para hati yang setia mengucapkan selamat tidur  pada kekasih hatinya.
            Dalam gelombang alpha, kau hadir perlahan. Seperti simpul-simpul saraf penyampai pesan rindu, kau menggiring desahku pada tabir peristirahatan. Membuang setiap sekat yang menjulang antara kita untuk menghadirkan sebuah kebahagiaan tanpa kenyataan.
            Lelaki malam yang bertandang bersama desahan angin, membekapku erat dalam selimut sayap hitam. Kecupannya kurasakan begitu basah diantara lelapnya penghuni alam. Meninggalkan rinai kasih yang menyiramiku hingga sejenak kurasakan sejuk membekas indah untuk hadir kembali dalam gelapnya kabut dosa.
            Lelaki malam yang menyapaku dalam sandiwara nista, menyematkan kisah tanpa aksara, membiarkanku gegap dalam kalut, walaupun esok malam kan kau bacakan lagi naskah cerita yang tanpa ku minta. Selamat malam lelaki malam, karena kau hanya ada di antara bayang malam.


Jakarta, 7 Maret 2011
Aida M Affandi

Sabtu, 16 April 2011

AMNESIA


“sudah sampai,....gumam hatiku menatap kemilau emas matahari yang menyambut kedatanganku siang ini. Ah, udara khas nanggroe yang membelai lembut dipadu dengan sengatan ultraviolet yang memapar kulitku.
            Mataku tak berhenti mencari setiap sudut arrival room Iskandar Muda. Mencari sesosok tubuh yang aromanya perlahan memekat menusuk hidungku sejak kakiku melangkah di ruang  kedatangan yang sederhana ini.
            “tidak ada,....bathinku
            “sungguh dia tidak ada” kuyakinkan hatiku lagi.
            Kendaraan roda empat yang kutumpangi melaju dengan cepat. “tolong pelan-pelan saja pak” pintaku pada pak supir.         Persis seperti pintaku, kendaraan itu berjalan perlahan, memberikanku waktu untuk menatap sejenak tarian rumpun padi yang bergoyang ditiupi angin di sekitar bandara. Serasa ku ikut merasakan alunan musik alam yang membiarkanku sejenak dalam gelombang alpha.
            “kita ke simpang tujuh ulhee kareng ya pak”
            Mobil berbelok ke kiri menyusuri perkampungan lam ateuk yang teduh dengan pepohonan asam jawa di kiri kanan jalannya. “mungkin dia ada di sana” ucapku menenangkan hatiku lagi. Mobil terus melaju dengan perlahan, bersikronisasi dengan ingatanku pada desember, kurang dari tujuh tahun yang lalu.
            “ah, masih seperti dulu ya pak, belum banyak yang berubah” basa basiku saja pada pak supir yang hanya disambut dengan senyuman.
            “ok, kita berhenti di warung kopi depan sana” tunjukku pada sebuah warung kopi.
            “kopi solong ya mba??”
            “iya, tolong tunggu sebentar ya pak”
            Hiruk pikuk tujuh simpangan ini tak sedikitpun membuyarkan ingatanku, justru ingatanku semakin memekat tentang secangkir sanger dingin, kopi aceh yang dibubuhi bubuk krimer, yang segera melegakan dahagaku, namun belum meredakan tanyaku.     “bahkan di sini juga tidak ada” gumamku, apakah salah satu dari sekian gelas yang menyisakan sediman hitam didasarnya adalah miliknya?? Hatiku kembali bertanya.
            “mari pak kita jalan lagi, ke baiturrahman ya pak”
            “iya mba”
            Pak supir bergerak lebih cepat dari sebelumnya karena melihat aku yang tergopoh-gopoh duduk di jok belakang dengan mata yang tak lepas dari sekitar, seolah-olah seseorang sedang memperhatikan kegelisahanku dari tempat yang aman dari penglihatanku.
            Rem diinjak persis di depan menara masjid yang berdiri tegak menghadangku dari arah depan. Suara burung gereja yang bercengkrama di puncak menara terdengar jelas di antara kendaraan yang hilir mudik di sekitarku.
            “maaf pak, seharusnya kita tidak kemari. Orang yang saya cari pasti tidak ada di sini” kini nadaku gusar, sebagian sarafku bekerja lebih keras mengingat detail janji pertemuanku dengannya. “jalan saja pak, kita ke Lambaro” ucapku singkat.
            “apa kabar, akhirnya kita bertemu lagi pujaanku” tersungkur aku pada taman berplat tulisan rapi “Taman Pemakaman Massal Para Syuhada Tsunami Lambaro, Aceh”. 
******

Garden

GARDEN,...
By
Aida M Ahmad


            Jiwaku terjaga mendengarkan nada yang kau bisikkan lewat bunga tidurku. Seperti desahan hujan menjamahi rumput liar di halaman rumahku. Apakah kau ingat bagaimana dulu taman kita berbunga lalu berbuah???. Hanya kecupan mesra yang kau hadirkan, padahal tlah seminggu hujan tak menyambanginya.
            Kini musim hujan mendahuluimu meranggas taman kita. Beberapa bunga lily api berjatuhan setelah seminggu merekah. Tampiasan hujan membuat mataku terpejam sejenak menikmati sensasi sejuknya. Bukankah dulu kita selalu menunggu saat-saat di bawah dahan akasia, merasakan tiap tetes hujan yang mencuri jatuh di sela-sela daun, membuat tubuh kita saling berpelukan.
            Tanganku mengitari tiap helai daun di taman kita, melangkah pelan menyapa tiap bunga yang sering kita sapa bersama. Kulihat hujan masih mengembun di balik jendela kamar, berharap kau berdiri di sana, memandangku memapahku untuk masuk, mengeringkan tubuhku yang kebasahan oleh rindu.
            Cipratan hujan membuat labirin-labirin kecil di kolam depan taman. Aku menggigil menahan nyeri. Seperti hujan yang telah menciptakan rindu di hatiku, kini juga menghadirkan perih di jiwaku. Hanya satu tanya tersisa di ujung bibirku yang membeku.
            Apakah kau akan kembali melihat taman kita?? memberikan sebuah kecupan yang lebih menggairahkan dari tiap tetesan hujan??
            Hujan kini mereda, namun hujan di hatiku tak pernah mereda.....hingga suatu saat ku lihat bayanganmu di antara taman kecil kita.

 Jakarta, 29 March 2011
Ketika hujan, bersama petrichor.