Sabtu, 16 April 2011

AMNESIA


“sudah sampai,....gumam hatiku menatap kemilau emas matahari yang menyambut kedatanganku siang ini. Ah, udara khas nanggroe yang membelai lembut dipadu dengan sengatan ultraviolet yang memapar kulitku.
            Mataku tak berhenti mencari setiap sudut arrival room Iskandar Muda. Mencari sesosok tubuh yang aromanya perlahan memekat menusuk hidungku sejak kakiku melangkah di ruang  kedatangan yang sederhana ini.
            “tidak ada,....bathinku
            “sungguh dia tidak ada” kuyakinkan hatiku lagi.
            Kendaraan roda empat yang kutumpangi melaju dengan cepat. “tolong pelan-pelan saja pak” pintaku pada pak supir.         Persis seperti pintaku, kendaraan itu berjalan perlahan, memberikanku waktu untuk menatap sejenak tarian rumpun padi yang bergoyang ditiupi angin di sekitar bandara. Serasa ku ikut merasakan alunan musik alam yang membiarkanku sejenak dalam gelombang alpha.
            “kita ke simpang tujuh ulhee kareng ya pak”
            Mobil berbelok ke kiri menyusuri perkampungan lam ateuk yang teduh dengan pepohonan asam jawa di kiri kanan jalannya. “mungkin dia ada di sana” ucapku menenangkan hatiku lagi. Mobil terus melaju dengan perlahan, bersikronisasi dengan ingatanku pada desember, kurang dari tujuh tahun yang lalu.
            “ah, masih seperti dulu ya pak, belum banyak yang berubah” basa basiku saja pada pak supir yang hanya disambut dengan senyuman.
            “ok, kita berhenti di warung kopi depan sana” tunjukku pada sebuah warung kopi.
            “kopi solong ya mba??”
            “iya, tolong tunggu sebentar ya pak”
            Hiruk pikuk tujuh simpangan ini tak sedikitpun membuyarkan ingatanku, justru ingatanku semakin memekat tentang secangkir sanger dingin, kopi aceh yang dibubuhi bubuk krimer, yang segera melegakan dahagaku, namun belum meredakan tanyaku.     “bahkan di sini juga tidak ada” gumamku, apakah salah satu dari sekian gelas yang menyisakan sediman hitam didasarnya adalah miliknya?? Hatiku kembali bertanya.
            “mari pak kita jalan lagi, ke baiturrahman ya pak”
            “iya mba”
            Pak supir bergerak lebih cepat dari sebelumnya karena melihat aku yang tergopoh-gopoh duduk di jok belakang dengan mata yang tak lepas dari sekitar, seolah-olah seseorang sedang memperhatikan kegelisahanku dari tempat yang aman dari penglihatanku.
            Rem diinjak persis di depan menara masjid yang berdiri tegak menghadangku dari arah depan. Suara burung gereja yang bercengkrama di puncak menara terdengar jelas di antara kendaraan yang hilir mudik di sekitarku.
            “maaf pak, seharusnya kita tidak kemari. Orang yang saya cari pasti tidak ada di sini” kini nadaku gusar, sebagian sarafku bekerja lebih keras mengingat detail janji pertemuanku dengannya. “jalan saja pak, kita ke Lambaro” ucapku singkat.
            “apa kabar, akhirnya kita bertemu lagi pujaanku” tersungkur aku pada taman berplat tulisan rapi “Taman Pemakaman Massal Para Syuhada Tsunami Lambaro, Aceh”. 
******

0 komentar:

Posting Komentar