Kamis, 21 April 2011

Shelter



Malam merangkak menjemput gulita. Tubuh-tubuh bersatu bersama jiwa meraih ketenangan.  Pesona Malam hanya dipandangi oleh mata yang terjaga dari gulita. Desau angin melewati tiap apa yang dilaluinya, menyampaikan sentuhan tanpa ku memintanya.
            Sebongkah sesak bercokol di dadaku kini. Buyar melebur bersama badai airmata. Rembulan menatapku dari duduknya. Tak perduli sekalipun ditatap tangisku tak jua mereda. Kini Bintang yang genit mengerdipiku, namun gundahku tak jua berujung malu olehnya.
            “Menangislah, namun jangan terlalu lama....kau harus selalu terlihat anggun, karena kau wanita yang kuat dan pantas untuk bahagia”
            Sebuah nada berat di ujung sana membungkam riuh kalutku. Seolah berhenti badai yang menerjang bidukku. Senyap,...sesenyap harapku menghapus laju sesak pada dinding kalbu rapuhku.
            Mata yang tajam bersinar tepat menghujam dadaku. Hatiku kini Seperti dinding kaca yang mampu kau baca dari jarak tertentu, mampu kau amati hingga kau temukan bagian hatiku yang mengelupas perih.
            “bersandarlah, kau tak perlu meminta...kutemani airmatamu agar segera mereda, menemui muaranya” suaramu kian mendekat.
            Wahai kau yang datang meminjamiku bahumu, bisakah lebih lama kau di sini??? Di sini terlalu rapuh, seperti bongkahan kaca berserakan ketika terjatuh.
            Wahai kau yang datang membekap dera resahku, bisakah kau bersemayam di sini??? Di sudut hatiku, penjaga kerapuhan jiwaku. Bisakah kau????.................
            Malam kian hening, sehening aku memaknai pelukan kekasih lelaki malam yang selalu datang bertandang berucap sayang sesaat kemudian meninggalkanku dalam bayang.

Jakarta, 22 April 2011
Setengah jam setelah tengah malam.

0 komentar:

Posting Komentar