Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Surat Untuk Istri dari Lelaki Yang Kurindui

Kepada Istri Yang Lelakinya Kurindui
Maaf, ..... Mungkin ini kata pertama yang harusnya kugoreskan dalam setiap tatapku padamu. Setiap kali kumelihatmu dengan pakaian sederhanamu, dengan senyuman keibuanmu dan dengan kasih sayangmu pada anak-anak dari lelakimu. Aku hanya ingin mengucapkan satu kata “MAAF” karena aku merindui lelakimu, suamimu. Bolehkah aku hanya sekedar merinduinya??? Oh, sepertinya ini pertanyaan yang konyol.  Mungkin dengan segera aku akan mendengar kalimat penolakan darimu. Penolakan dari hatimu memintaku jangan mencoba untuk merindui lelakimu, suamimu. Ah, maafkan aku lagi,... Jujur,..Aku sungguh terlanjur merinduinya. Terkadang logikaku tak mampu bekerja baik jika berhubungan dengan rasa, bahkan kini logikaku kalah telak karena ku tak perduli bahwa lelaki yang kurindui telah membangun masjid bersama dirimu dalam ikatan pernikahan. Maaf,.... Apa kau tahu, pesona lelakimu menggodaku. Menggoda inginku untuk mengharapkannya lebih dari sekedar merindu. Jadi, kini aku bertanya …

Memarahi Anak????

dasar anak nakal, kurang ajar, anak bodoh,…(hindari untuk mempraktekkannya di rumah yaJ) Demikian sederet kalimat yang saya dengar siang tadi, persis di samping rumah saya. Hati saya berontak ketika kata-kata itu terdengar sangat jelas di telinga saya. Teriakan seorang ibu pada anaknya haruskah seperti ini tanya saya dalam hati. Jujur saya tidak bisa terima kalimat itu dilontarkan pada seorang anak yang merupakan darah dagingnya sendiri. Saya sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ibu bagi anaknya. Tak bisa saya sangkal, bahwa memang terkadang saat lelah emosi bisa saja berubah. Tapi apa benar demikian caranya mengontrol emosi, melampiaskannya pada anak yang tak tahu apa-apa. *ini menyedihkan menurut saya. Sama halnya dengan orang dewasa, ada fase-fase tumbuh kembang anak yang membuat orangtua kewalahan menanganinya. Anak-anak mengalami masa tantrum, perubahan emosi tiba-tiba atau terkadang menjadi sulit sekali diatur. Tapi demikianlah Tuhan menciptakan fase-fase tumbuh kemba…

Mengapa Kita Mampu Menangis??

Mengapa Kita Mampu Menangis??? By Aida M affandi

Jum’at  yang lalu ba’da shalat zhuhur berjama’ah saya melanjutkan sunnah muakkad. Baru selesai salam saya terpaksa menoleh ke belakang tepat di belakang shaf saya berdiri. Seorang santri perempuan sedang menangis dalam alunan doanya. Menariknya karena dia menangis sesenggukan sehingga saya bisa mendengarnya dengan jelas. Saya hanya mendiamkan saja, saya tidak ingin mengganggunya karena dia sedang berbagi dengan Yang di Atas. Selesai berdoa, saya kembali harus menoleh ke belakang. Lagi-lagi masih santri saya yang tadi menangis saat berdoa. Kali ini dia menangis sesenggukan sambil membaca Qur’an. Saya masih mendiamkannya juga. Saya fikir dia sedang mencari jalannya sendiri dengan banyak bercerita pada sang Khaliq. Jika waktunya tepat insya Allah dia akan menemui saya pikir saya dalam hati. Semenjak hari itu saya jadi bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan membuat air mata untuk kita?? Mengapa kita bisa menangis??? padahal jika dilihat dari sisi ma…

Bahasa

Sepulang ngajar siang tadi saya sempat bertemu banyak orang di angkutan umum (sepeda saya minta cuti sebentar berhubung hujan terus)ada penumpang yang naik ada juga yang turun, bermacam raut wajah saya temui di situ, dengan beragam bentuk dan juga bahasa yang mereka gunakan. Sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia dengan bermacam dialek pula. Ada sebagian menggunakan bahasa jawa, sunda juga betawi. Saya jadi terkagum-kagum dengan semaraknya khasanah bahasa di Indonesia. Begitu banyak bahasa yang digunakan untuk saling berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan. Tempat tanah kelahiran saya sendiri  di tanah rencong sana, selain menggunakan bahasa aceh ada banyak bahasa yang masih tetap eksis digunakan di sana, bahasa aneuk jame (mirip bahasa minang), bahasa gayo, bahasa alas, bahasa devayan dan bahasa kluet (mirip bahasa batak karo) wuiiiiihhhhhh,…di aceh saja begitu banyak bahasa (konon lagi di seluruh Indonesia). Saya jadi berfikir  selain sebagai pengantar komunikasi, bagaimana fung…

Pengakuan Seorang Lelaki

Suatu sore di sebuah kedai pizza, terjadilah sebuah obrolan tidak jelas antara saya dan seorang sahabat lama saya. Sahabat saya ini seorang lelaki sebut saja namanya Andhika (bukan nama sebenarnya). Semenjak awal saya bersahabat dengannya, andhika terkenal dengan religiusnya. Beberapa hal yang berhubungan dengan fiqh islam sering kali saya dan teman-teman mengandalkannya. Setelah hampir 5 tahun saya tak berjumpa Andhika, saya merasa ada yang berbeda dari sahabat saya satu ini. Sikapnya sekarang jauh lebih terbuka, berbicara blak-blakan bahkan soal seks :D, pokoknya dia beda banget dengan yang saya kenal sebelumnya. Saya                      : kamu nikah ama sapa seh?? Kok aku ga dikabari Andhika               : kamunya juga ngilang kemana, aku ama istriku pacaran 3 tahun trus baru nikah. Saya                      : what???kamu pacaran??? (mulut saya menganga, kaget bukan kepalang) Andhika               : iya, pingin nyobain gimana pacaran (tertawa lepas) Saya                      : Tapi istr…

Menulis itu Healing

Orang bijak berkata “bermimpilah, karena bermimpi itu gratis”. benar adanya bermimpi itu gratis, tidak dipungut bayaran. Namun untuk mewujudkan mimpi itu harus dibayar dengan belajar dan usaha keras disertai doa yang tulus.             Katakanlah saya seorang pemimpi saat ini. Tiba-tiba saya memutuskan untuk memiliki mimpi ini setelah saya menikmati tiap kalimat yang saya susun begitu saja buah pikir dari otak saya yang ruwet saat itu. Saya menciptakan mimpi ini setelah saya merasakan kekuatan dari sebuah tulisan.Ya, saya bermimpi menjadi seorang penulis.             Baru dua tahun ini saya berani menyebut diri saya seorang penulis. Penulis yang selalu saya  sandangi kalimat pemula  di belakangnya. Tepatnya saya seorang penulis pemula, karena saya memang belum punya prestasi dalam hal ini. Saya hanya coba berselancar dari satu situs ke situs lainnya, dari satu blog ke blog lainnya, lalu meninggalkan jejak saya di situ yang entah kemudian disukai atau sekedar dicibir saja. Itupun tak per…