Kamis, 06 Desember 2012

Romantisme dan Politik di Faith (Resensi Film)








Judul Film                      : Faith
Present                            : SBS Production
Sutradara                       : Kim Jong-hak
Penulis Skenario            : Song Ji Na
Durasi                             : 24 Episode
Aktor                      : Lee Min Hoo, Kim Hee Sun, Lee Philip, Ryu Dheak-hwan, Park Sea   Young, Yu Oh-Seong.


            Faith atau Faith at The Great Doctor, sebelum penayangannya 13 Agustus yang lalu di SBS Korea, sudah menyimpan banyak harapan dari penggemar K-Drama terutama saat Thrillernya mulai ditayangkan, bisa jadi karena sederet actor yang bermain di sini hingga sutradara dan penulis scenario yang sudah mempunyai nama besar berperan penting dalam menentukan kualitas drama satu ini. Sebut saja Sutradara Kim Jong-Hak yang terkenal lewat film besutannya “The Legends” dan penulis scenario Song Ji Na yang menjadi asisten penulis scenario dalam drama “The Chaser” yang sangat booming, kini menjadi penulis scenario dalam Faith.
            Faith bergenrekan Saeguk (Drama Sejarah), ciri-ciri saeguk biasanya memang tak akan jauh dari dunia perang, intrik politik, pergolakan dan perebutan tahta. Faith yang mengambil setting di Era Goryeo juga sebagian besar dihiasi oleh alur cerita tentang penggulingan dan perebutan kekuasaan.  Menariknya di sini, sorot utama cerita ini berkisahkan tentang seorang jenderal yang jujur dan sangat piawai bermain pedang yang diperankan oleh Lee Min Hoo membela kekuasaan Rajanya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
            Tak bisa ditampik jika sekali pun drama ini kurang menarik, sebenarnya pesona Lee Min Hoo saja sudah cukup untuk membuat penonton tertarik untuk betah mengikuti drama ini. Tapi saya pikir sepertinya Min Hoo memang sangat selektif dalam memilih peran. Setelah menjadi Borjuis di Boy Before Flower, kemudian arsitektur yang tampan di Personal Taste, atau menjadi Hero di City Hunter, kini ia menyajikan acting yang kembali berbeda di Faith seolah menjadi kesatria berkuda dengan keahliannya bermain pedang. Dari awal sampai ending, saya akui pesona Min Hoo memang sangat melekat di hati penonton.
            Jika boleh menyamakan, saya pikir Faith akan mirip dengan Rooftop Prince yang mengalami travel-time, atau Dr. Jin yang juga mengalami travel-time namun sama-sama bergelut dalam dunia kedokteran. Hanya saja Rooftop kebanyakan mengambil setting di Seoul, dan Dr.Jin menyajikan scene-scene ilmu kedokteran yang detil, maka Faith lebih banyak menyorot bagaimana peran seorang Jenderal Pasukan Khusus pengamanan Raja (Wuldachin) dalam mempertahankan negara dan kekuasaan Rajanya.
K-Drama Dr.Jin

K-Drama Rooftop Prince


            Faith meskipun bergenre Saeguk, drama romantic namun juga terdapat fan fiksi yang cukup kental di sini, dimana ada pintu waktu yang bisa membuat orang keluar masuk dalam dua waktu yang berbeda, awalnya saya sedikit mengernyitkan kening begitu membayangkan adanya travel-time dalam drama ini, tapi saya pikir di sinilah uniknya ketika Kim Hee Sun yang berperan sebagai Eun Sun, seorang dokter ahli bedah plastic di tahun 2012  terpaksa ikut ke jaman Goryeon setelah melewati pintu waktu dan dibawa paksa oleh Chang Young (Lee Min Hoo) untuk menyelamatkan Ratu Nogook (Park Sea Young) yang sekarat pasca penyerangan oleh pihak pengkhianat kerajaan.

Salah satu scene di The Faith
            
               Ada dialog-dialog yang lucu tercipta antara Eun Su dan Chang Young, Eun Su yang ceria dan Chang Young yang dingin menjadi dua kubu yang unik. Selain kelucuan dari beberapa dialog, saya pikir Song Ji Na memang sangat piawai dalam mengolah dialog skenario yang berbau politik, dan ide-ide licik yang terjadi berulang kali dari karakter Antagonis Pangeran Buwon (Yu Oh-Seong) yang sangat ambisius akan kekuasaan Raja Gongnim (Ryu Dhwak-huan).
            Selain dialog-dialognya yang renyah, setidaknya ada dua hal yang saya pikir sangat menarik dari drama Saeguk satu ini. Pertama, sejarah dan trik-trik politik yang dimainkan dalam drama ini. Setidaknya kita akan mengetahui bahwa dulunya sekitar 700 tahun yang lalu kekuasaan kerajaan Mongolia sangat besar, hingga mencapai tanah Korea, terlihat dari pengetahuan sejarah yang disajikan secara asik di sini.
            Lalu tentang isu dan trik politik, ada sebuah dialog yang mengena di pikiran saya, setidaknya membuat saya mengangguk setuju bahwa sebagian besar pejabat di sebuah negara itu mampu bertahan dari waktu ke waktu dan bahkan terus dipertahankan meski sudah dianggap merugikan negara dan korupsi, biasanya karena mereka mempraktekkan 3 poin penting saat masih menjabat dan berkuasa.
            Dialog antara Gubernur Gangham dengan jenderal Chang Young kira-kira berbunyi seperti ini.
            “Apa kamu tahu, apa yang membuat aku bertahan dan menghidupi keturunanku dari waktu ke waktu dari gaji Kerajaan? Setidaknya ada 3 poin penting yang membuat aku bertahan. Pertama, Jika ingin bertahan kenali siapa pejabat yang berkuasa dan paling kuat. Kedua, Ikut dan berdirilah di sisi pejabat yang kuat dan berkuasa tersebut. Ketiga, yakinkan dirimu sekalipun itu tidak benar maka kamu tetap yakin melakukannya.”

Jenderal tampan yang ahli pedang
            Saya pikir inilah yang  sudah dipraktekkan oleh pejabat-pejabat negeri kita, meski sudah dituduh sebagai koruptor sekalipun masih tetap tenang dan merasa baik-baik saja, karena memang backing mereka seorang penguasa yang kuat. dari Faith juga semakin meyakinkan saya bahwa dunia politik memang cenderung licik.
            Beralih dari urusan politik, saya lebih tertarik membahas romantisme yang dibangun dalam drama ini. Romantisme dalam drama Saeguk selalu terkesan sangat santun, scene-scene yang disajikan tidak vulgar tapi cenderung manis, membuat penonton hanyut ditambah Establish Shot (ES) setting cerita yang dikelilingi bunga-bunga musim semi yang full color dan Original Soundtracknya yang begitu romantic seperti one teardrop-nya Youha membuat beberapa adegan nyaris membuat mata berkaca-kaca. Saya pikir inilah yang selalu membuat K-Drama selalu membuat penontonnya menjadi candu dan selalu memburu drama-drama yang lainnya.

Scene Chang Young tertidur di bahu Eun Su 
            Di antara sederetan pujian untuk drama ini, tapi juga perlu saya ingatkan bahwa drama ini dari awal sampai akhir hampir semuanya menyajikan adegan kekerasan, walaupun beberapa scene sengaja di cut dan dialihkan dengan tidak menampilkan langsung adegan tusuk dan memotong langsung dengan pedang. Jika ditonton bersama anak-anak masih cukup aman, meskipun harus rajin menerangkan terutama untuk adegan kekerasan yang banyak mendominasi di sini.
            Selebihnya Saeguk satu ini menarik untuk ditonton selain mendapatkan info sejarah, penonton juga diberi pengetahuan tentang dunia farmasi dan surgery. Kemudian romantismenya yang mampu membuat penonton terhanyut, ditambah pesona Lee Min Hoo mampu membuat penonton Melting dari episode pertama sampai ending. Yang belum menonton drama satu ini, silahkan buktikan sendiri di akhir pekan ini J.

:)

*****

Jakarta, 7 Desember 2012
Pukul 12.53 wib
Aida MA


             

Senin, 03 Desember 2012

Give away Buku #YaAllahBeriAkuKekuatan


Bismilllahirrahmanirrahim…
Setelah dengan pede selangit mengirim postingan di wall FB saya mengenai polling Give Away buku  Ya Allah Beri Aku Kekuatan. Akhirnya saya memutuskan untuk bagi-bagi hadiah untuk pemenang Give Away kali ini.




Yukk intip hadiahnya dulu  biar nulisnya tambah semangat (hehehe..)

a. Untuk Tiga pemenang utama akan mendapat masing-masing 1 paket buku saya #YaAllahBeriAkuKekuatan, #BerbagiHati dan #Kereta Terakhir.

Tiga buku di sini, selain Novel Looking for Mr.Kim :D

b.    Untuk Dua orang pemenang favorit, akan mendapatkan   secara GRATIS hadiah pulsa masing-masing @25 ribu rupiah.



Menarikkk? Ya dong…Okee... Sekarang saya mengajak teman-teman kembali ke aturan mainnya. Berhubung banyak request yang minta bikin tema yang engga susah-susah, akhirnya saya memilih tema ini “Wanita dan Ujian”.

Tema ini masih berkaitan dengan buku motivasi Islami Ya Allah Beri Aku Kekuatan, yang sebagian besar kisahnya menarik satu benang merah bahwa wanita bisa selentur bamboo, mengikuti arah angin, mampu menyentuh tanah namun tak mudah patah.

Dengan kata lain, bahwa siapapun bisa diberi ujian, namun di sini, saya meminta teman-teman menuliskan ujian yang bisa dialami oleh wanita siapa pun dan di mana pun, bisa di keluarga, tetangga dan sahabat di dunia maya juga boleh.  Jadi, tulisan teman-teman murni “True Story” ya… J boleh menyertakan foto dari si tokoh yang diceritakan, tapi tentunya sudah mendapat ijin dari si empunya foto ya..

Terusss.. Tehniksnya bagaimana?

1.    Silahkan tulis ceritamu di blog pribadi, dengan judul GA YaAllahBeriAkuKekuatan, Aida MA. Link blog dituliskan di kolom komentar di postingan ini. Atau jika belum memiliki blog silahkan tulis di note akun facebook kamu dengan melakukan tag minimal kepada 10 orang teman dan juga melakukan tag ke akun Aida Maslamah A.

2.    Follow Twitter @aida_aie, lalu tautkan link blog atau note facebook yang berisi postingan kamu di twitter dan dimention ke @aida_aie.

3.    Bagi yang hanya memiliki akun facebook, tetap bisa mengikuti lomba ini dengan menuliskan link blog-mu atau note tersebut di status FB-mu.

4.    Jangan lupa sertakan juga cover Buku Ya Allah Beri Aku Kekuatan ini di postinganmu, cover tersebut bisa diunduh langsung dalam postingan ini.

5.    Deadline 10 January 2013, Pukul 00. WIB.

6.    Pengumuman Pemenang akan diumumkan pada tanggal 30 Januari 2013.

Meminjam statement dari Dedy S dalam #PemulihanJiwa, Bisa jadi Tuhan sedang meminjam tanganmu, tangan saya atau tangan mereka untuk membentuk kedewasaan seseorang.

Namun tak sedikit orang menjadi hilang logikanya, berkurang Imannya dalam menghadapi sebuah ujian. Dan pilihan terbaik sepertinya yang diucapkan Ahmad Tohari dalam #Kubah, Mari kita cari sikap terbaik dalam menghadapi keadaan yang tidak ringan ini, yang pasti sikap putus asa bukan jawaban yang benar, Tidak Pernah!.

Mungkin itu sedikit petikan yang bisa membantu teman-teman untuk mencari kisah wanita (true story) yang sangat menyentuh hati, selebihnya beberapa review pembaca mengenai buku Ya Allah Beri Aku Kekuatan bisa dilihat di kolom Resensi dalam blog ini.

Okeee… Segera kirimkan ceritamu, menangkan hadiahnya dan bagi kisah inspiratif ini pada yang lain, insya Allah memberikan banyak manfaat. Amin.

Salam,
Aida MA

Motivasi Islami- Aida MA

Judul Buku    : Ya Allah Beri Aku Kekuatan
Penulis          : Aida MA
Halaman        : 356 halaman
Penerbit        : Quanta, Elex Media
Harga             : Rp. 58.800


Jumat, 30 November 2012

Radio VOB, sisi lain dari Belitong



Saya saat di Radio VOB, Juni 2012
         
             Bulan Juni lalu saat berkunjung ke Belitong dengan fasilitas gratis dari Biovision, saya beruntung punya kesempatan mengunjungi banyak tempat di Belitong, termasuk kesempatan yang tak terduga diundang hadir di Radio Voice of Belitong, salah satu radio kebanggaannya warga Belitong. Bersyukur rasanya saat langkah kaki saya bisa menjejak di Radio VOB, menikmati suasananya yang begitu lega dan hommie sekali, atau merasakan hawa ruangan on air nya yang begitu dingin karena hari itu pun hujan turun dengan derasnya di Tanjung Pandan. 
            VOB yang mengudara di gelombang 88.00 MHz dan juga bisa diakses live streaming di www.vobradio.com ternyata baru berdiri sekitar setahun yang lalu. Sempat juga saya membaca  tujuan pendirian radio ini pun untuk menyukseskan program pembangunan di era otonomi daerah dan peningkatan informasi lokal, kedengarannya sangat bersinergi dengan peningkatan kemajuan bidang informasi daerah  sejak Bangka Belitong dinyatakan sebagai provinsi pada tahun 2000 lalu.

Suasana On Air, bersama Biovision, nulisbuku
dan 2 pemenang utama Biovision writing competition
Jika menyimak radio VOB, saya seperti berada dalam Film Laskar Pelangi karena semua pramunada radio VOB  bertutur dalam bahasa Melayu dan radio ini memang diperuntukkan bagi etnis Melayu di Bangka Belitong, ada hal unik lainnya yang saya temukan di sini. Di sisi lain masih di satu bangunan dengan VOB, ada sebuah ruangan on air untuk Radio Hoki (Belitong Oriental Station) 92 FM, yang ternyata dikhususkan bagi etnis Tionghoa yang sebagian besar tinggal di Bangka Belitong. Jadi, dalam satu bangunan ini persis ada dua radio dan dua ruang on air yang berbeda. Jika VOB bertutur dengan bahasa Melayu, radio Hoki bertutur dalam bahasa Hokian.

News di www.vobradio.com
            Setelah on air di VOB Bulan Juni lalu, ternyata selanjutnya komunikasi saya dengan radio ini tidak berhenti di situ saja. Tanggal 27 Oktober yang lalu pun saya kembali diundang bincang-bincang tentang Novel saya “Looking for Mr.Kim”.  Namun, karena saya belum bisa hadir di sana, jadi semua bincang-bincang itu dilakukan via telepon ditambah dengan akses live streaming membuat acara tersebut tetap berjalan dengan baik.
            Mungkin saya tak akan ceritakan bagaimana prosesi bincang-bincang saya di VOB. Tapi saya lebih suka menceritakan bagaimana perasaan saya saat pendengar VOB sangat berantusias dengan acara seperti ini. Seperti saya merasakan aroma laut di Tanjung Pendam di malam hari, atau menikmati kolaborasi warna langit emas bergantung awan saat before sunset di Bendungan Pice, Gantong atau menyicipi nikmatnya kopi Manggar, seperti itulah sensasi yang saya rasakan saat mendapat antusias pendengar yang sebagian besar sangat ingin bisa menulis dan memiliki komunitas menulis di Belitong.
            Saya sadar benar, di negeri yang sudah lahir seorang penulis fenomenal ini banyak sekali bibit-bibit jitu di dunia menulis, apalagi saya selalu takjub dengan keahlian orang-orang Melayu Belitong saat berpantun, seperti tak kehabisan ide, mereka bisa berpantun dan saling berbalas-balasan.
Saya pikir kehadiran VOB di tengah-tengah kebutuhan informasi warga Belitong  sudah menjadi salah satu wadah yang sangat manis untuk memupuk bibit-bibit itu tumbuh hingga menjadi tanaman yang kokoh, apalagi salah satu komunitas menulis di sana “Akademi menulis Belitong” yang sempat bertemu juga dengan saya saat di Belitong kemaren, bisa menjadi cikal bakal semakin banyak lahirnya Bang Ikal yang baru.
Saya suka dengan kalimat terakhir pramunada yang berbincang dengan saya malam itu (27/10/2012) semoga acara-acara yang seperti ini semakin banyak supaya kita juga semakin mantap.
        Terimakasih Voice of Belitong, semoga semakin berjaya menjadi pengantar informasi yang akurat, mendidik dan menjadi radio kebanggaan urang modern di Belitong.

After on air di Radio VOB, Juni 2012


Jakarta, 30 November 2012
Aida MA

News mengenai radio VOB bisa diakses di sini www.vobradio.com