Rabu, 28 Maret 2012

Love Story Dalam Musik

Judul Film                  : Heart String
Produksi                     : MBC
Durasi                         : 16 episode
Director                      : Pyoo Min Soo
Script Writer             : Lee Myung Sook
Pemain                       : Park Shin Hye, Jung Yong Hwa, Song Chang ui, Soo Yi Hyun
Genre                         : Romantice Drama, Music
Debute                        : Juni 2011
                                   
            Heart String atau You’ve Fallen for Me adalah salah satu drama seri Korea yang layak ditonton bagi pencinta drama Korea yang kini kian mewabah di Indonesia. Berbeda dengan drama Korea yang lain, Heart String bisa dibilang lebih mirip dengan drama musikal atau film-film musikal. Drama ini memiliki daya tarik tersendiri karena diperankan oleh Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa yang sukses menarik perhatian penontonnya dalam drama You’re Beautiful.
            Bermula dari perayaan hari Tea House di kafe Cartasis, Lee Gyu Won (Park Shin Hye) membuat performance penggalangan dana untuk biaya pengobatan Profesor Kim Hyeon Ju dari Departemen musik Tradisional yang sedang dirawat akibat menderita kanker. Lee Gyu Won bersama grup musiknya Wind Flower lalu dibantu oleh band Stupid dari Departemen Musik Terapan yang diketuai oleh Lee Shin (Jung Yong Hwa) berencana mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya melalui penjualan tiket konser untuk membayar tagihan pengobatan Profesor  Kim Hyeon Ju. 
            Namun Lee Shin tak kunjung datang di malam penggalangan dana, membuat Lee Gyu Won dan seluruh penonton yang datang marah besar. Kemarahan Lee Gyu Won semakin besar saat di malam yang sama ternyata Prof. Kim Heyon Ju pun meninggal dunia. Tidak hanya sampai di situ, saling marah ini pun membuat Lee Gyu Won dan Lee Shin saling menghina lalu berakhir dengan saling taruhan dengan membawa nama besar Departemen masing-masing. Lee Gyu Won dan Lee Shin sepakat mengadakan pertandingan musik, siapa yang kalah dan mendapat apresiasi terendah dari penonton wajib menjadi budak bagi pemenang selama satu bulan.
            Gyu Won terpaksa menjadi budak Lee Shin selama satu bulan karena sebuah kesalahan yang fatal. Salah satu senar Sanjo alat musik  tradisional Korea yang mirip seperti kecapi secara tiba-tiba putus,  justru di saat klimaks performance nada gaya geum yang dibawakan oleh Lee Gyu Won. Keadaan itu membuat Gyu Won dan Wind Flower mengalami kekalahan atas band Stupid. Akhirnya dengan sangat tidak rela sejak hari itu Gyu Won menjadi budak Lee Shin selama sebulan.
            Layaknya sebuah drama, maka setiap episodenya dalam drama ini diwarnai dengan konflik-konflik kecil, mulai dari Lee Shin yang jatuh cinta pada Professor Yoo Soon dari Departement drama dan tari.   Sikap keras Lee Dong Gu, kakek Gyu Won yang sangat menentang music modern,  Rencana pentas seni kampus yang penuh intrik dan persaingan. Tentang kisah cinta antara Ayah Gyu Won dan Ibu Lee Shin yang terungkap dalam cerita ini pula, serta beberapa kejadian kisah cinta segi empat antara Lee Shin, Gyu Won, Profesor Yoo Soon dan Direktur Sheon huk yang cukup menguras emosi penonton.
            Heart String bisa dikatakan seperti Film A Walk to Remember pada tahun 1999, film musikal keluaran Hollywood yang dilakoni oleh Mandy Moore, bisa dikatakan sama pada beberapa episode karena Heart String juga berceritakan tentang proses perekrutan hingga penampilan karya seni kampus yang melibatkan semua Departemen dalam Universitas.
            Tidak seperti drama keluaran Hollywood semisal The Notebook, The Last Song, atau Dear Jhon yang kuat pada alur cerita dan karakter tokohnya. Drama Korea dikenal sangat kuat dalam sisi dramatisasinya,   double shoot kamera kerap kali mewarnai pada adegan dramatisasi,  yang satu diposisikan long shoot dan satu lagi close up, beberapa scene dalam Heart String juga melakukan hal yang sama. Terutama saat Gyu Won menangis ketika Lee Shin mencarinya di kampus. Adegan menggunakan double shoot ini juga bisa ditemukan ketika Jun Pyo memutuskan Jan di di Macau pada Drama Boys Before Flower atau Gil Ra Im yang menangis di kamar saat Kim Ju Won mencarinya pada Drama Secret Garden.
            Sepertinya MBC, KBS cukup ahli dalam hal mempromosikan tempat wisata di Korea, sama halnya dengan Winter Sonata yang mengambil setting di Nami Island, atau Secret Garden yang mengambil setting  Jeju Island, atau beberapa drama kolosal Korea lainnya mengambil setting bukit dengan pemandangan di sekitar Hotel Hyat Region Jeju. Heart String juga melakukan hal yang sama dengan mengambil setting di Jeju Islands  sebagai setting awal untuk membuat drama ini kian menarik.
            Bukan hanya sekedar setting cerita yang menarik dalam drama ini. Beberapa lagu bercirikan K-POP yang dikolaborasikan dengan alat musik tradisional Korea semakin membuat penonton berdecak kagum akan kualitas seni musik di negeri Ginseng ini.
            Ciri khas drama Korea juga tak lekang dari drama ini. Tokoh wanita yang ceroboh dan terkadang melakukan hal-hal yang memalukan, lalu tokoh prianya yang diidolakan banyak wanita namun bersikap menyebalkan. Lalu adegan-adegan menenggak soju sampai mabuk juga ikut terekam dalam beberapa episode.
            Beberapa adegan Gyu Won yang sering sekali terjatuh menambah deretan drama korea yang dianggap sedikit berlebihan dalam mengambil ide cerita. Namun beberapa adegan konyol dalam Heart String ini masih bisa dimaafkan dengan kelihaian penulis skenario Lee Myung Sook dalam menyelipkan percakapan-percakapan yang bermutu mengenai motivasi dan membentuk team building di adegan persiapan pentas seni.
            Heart String bisa menjadi salah satu contoh bagi perfilman Indonesia yang ingin mengembangkan ide-ide yang berkutat seputar seni. Mengingat Indonesia sangat kaya akan alat-alat musik dan tarian tradisional yang harus digali dan diperkenalkan pada dunia sebelum negara tetangga kembali melakukan klaim hak milik terhadap seni budaya Indonesia. Perfilman Indonesia diharapkan bisa menggali ide cerita seputar seni budaya Indonesia, tidak melulu memproduksi sinetron yang episodenya tak kunjung selesai atau film bergenre horror yang kebanyakan hanya mengobral fisik pemainnya saja.  

Senin, 26 Maret 2012

Behind The Scene "Kereta Terakhir"

Hampir semua kisah yang saya tulis selalu memiliki kisah tersendiri di hati saya. Kereta Terakhir juga punya kisah yang tak jauh berbeda dengan semua cerita yang pernah saya kisahkan, baik itu yang menang dalam event besar di penerbit besar, event kecil, atau tidak menang sama sekali.
            Kereta terakhir mungkin sedikit lebih unik dari yang lainnya. Perjalanan mengikuti event menulis SOULMATE WRITING BATTLE di Leutika Prio ternyata memiliki tantangan tersendiri dimulai sejak dari penetapan kriteria lombanya. Satu kisah, satu setting cerita namun ditulis dengan dua sudut pandang yang berbeda, ketika saya harus berperan sebagai anak, maka partner menulis saya harus menuliskannya dari sudut pandang seorang Ibu.
            Fitri “Ragil Kuning” Gendrowati, saya mengenalnya sebagai sosok “Ratu Antologi” bayangkan saja dalam waktu kurang dari dua tahun ini karya-karyanya sudah tergabung dalam 28 Antologi yang berbeda, sebuah prestasi yang membuat saya tak berani menolak saat ia menawari saya untuk bekerjasama dengannya dalam proyek Soulmate Writing Battle.
            Namanya sebuah tim kerjasama, maka Mba Fitri adalah partner menulis yang sangat asik. Apalagi saya telah terbiasa bekerjasama dengannya dalam even KUMCER “Berbagi Hati” yang juga menjadi pemenang di Leutika Prio tahun 2011 yang lalu. Jika saya memilih merevisi isi cerita maka ia akan berperan dalam copy editing, satu kelemahan saya yang cukup fatal dalam dunia menulis yaitu EYD, benar-benar sangat terbantu dengan kerjasama yang manis dengan Mba Fitri.
            Ada 5 setting cerita dan alur yang sama dalam buku ini, namun ditulis dengan dua sudut pandang yang berbeda sehingga menghasilkan 10 cerita yang menawan. Diawali dengan kisah bersetting di Tokyo dan diakhiri dengan kisah romantisme yang menggugah hati.
Jika ada yang paling berkesan di antara semua cerita dalam buku ini, maka saya akan setuju dengan Mba Fitri yang rela malam-malam ke warnet untuk membaca kiriman cerpen saya yang terakhir sebagai pelengkap naskah kami. Bahkan akuan Mba Fitri sendiri ia masih tetap meneteskan air mata setiap kali membaca kisah penutup dari buku “Kereta Terakhir” ini.
Proses penerbitan buku ini sendiri juga butuh sebuah kesabaran. Setelah mendapat pengumuman bahwa naskah “Kereta Terakhir” berada dalam jajaran pemenang di event SWB Leutika Prio, maka kami harus menunggu proses penerbitannya yang berlangsung beberapa bulan pasca pengumuman pemenang, dan akhirnya buku “Kereta Terakhir” lahir juga di hadapan para pembacanya tepat tanggal 24 Maret 2012. Terimakasih banyak kepada Leutika Prio.
 Keinginan saya dan Mba Fitri tak berlebihan, harapan kami sebagai penulis semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya dan mampu menambah warna yang berbeda dalam dunia literasi Indonesia.
---------
Jakarta, 26 Maret 2012
Pukul 22.25 WIB
Aida MA

Kamis, 01 Maret 2012

PARA PEMIMPI

PARA PEMIMPI
BY
AIDA MA


WAHAI ENGKAU YANG MENGAKU BERMIMPI...
TIDAKKAH KAU LIHAT BAGAIMANA SEMBURAT FAJAR DI KALA PAGI?
MENYAMPAIKAN RINDU DALAM BENTANG WAKTU YANG DINANTI.
HANYA UNTUK SATU TUJUAN... MENGISI HARI INI.
MENGUAPKAN SEMANGAT PADA SEMUA PENGHUNI BUMI.

WAHAI ENGKAU YANG MEMILIKI MIMPI
APAKAH KEBENARAN SEJATI DARI SEBUAH MIMPI?
KETIKA TERBANGUN DARI TEMPAT TIDURMU
LALU KAU BERTERIAK NYARING “AKULAH SANG PEMIMPI”
OOOO...HHHHHH
KAU MENIPU DIRIMU, KAU MENIPU ASAMU
BAHKAN KAU TAK BERANI TUMBUH DALAM GELUNG PUCUK REBUNG
YANG MALU-MALU.

EINSTEIN MENGUKIR DUNIA DENGAN KATA
IMAGINASI LEBIH BAIK DARI PENGETAHUAN
BERMIMPI JUGA HARUS DIIRINGI PERTUMBUHAN
PERTUMBUHAN LAMBATKAH YANG KAU TAKUTKAN?
SEHINGGA KAU MEMILIH DIAM DALAM LAMPAU....
HANYA MERACAU SESUATU YANG TAK MEMUKAU?


WAHAI ENGKAU YANG BERANI BERMIMPI
RENTANGKAN SAYAPMU, KEPAKKAN DERUNYA
KHUSYUKMU DALAM IBADAHMU
TEGARMU DALAM CITA-CITA MEMBARA
DUNIA TAK AKAN TAKLUK JIKA KAU PANDANG SAJA
DUNIA TAK AKAN BERLUTUT PADA PENGECUT ASA
TUMBUHLAH, BERHARAPLAH, BERPACULAH
KARENA SEJATINYA SEORANG PEMIMPI
MENGGALI HARAP DI MATA ILAHI.

WAHAI ENGKAU YANG KATANYA SEORANG PEMIMPI
BANGUNLAH DARI TIDURMU YANG LENA
BANGSA INI MENUNGGU KARYA-KARYA NYATA
BUKAN DENGUNG GEDUNG BUNDAR DALAM SEDERETAN PINTA
BUKAN TERALIS-TERALIS YANG BERBICARA AN-NORMA.

WAHAI ENGKAU YANG BERANI BERMIMPI
BERDIRILAH DI SINI, TEGAK DI UJUNG MIMPI
KITA WUJUDKAN MIMPI YANG BELUM BASI
TERIAKKAN PADA LANGIT, TERIAKKAN PADA BUMI
AKU AKAN MENJADI BERARTI BAGI NEGERI INI.



Jakarta, 15 february 2012
Pukul 16.07 WIB
AIDA MA

NB. Puisi karyaku  ini dibacakan oleh Irna Maftuhatul Hidayah, salah satu santriku yang mendapat Juara I dalam lomba  membaca Puisi di Yayasan Al-Qaaf, Pondok Betung.