Minggu, 15 April 2012

Fine Dining Ala Korea


Tak seorang pun menolak jika sebuah ajakan untuk fun dining di depan mata. Acara makan yang seolah bak raja dan memakan waktu yang cukup lama, menikmati hidangan demi hidangan dan berakhir dengan dessert bahkan bisa mencapai tiga jam hanya untuk sebuah acara makan malam. Rasa penasaran ini lah yang kemudian membawa saya untuk mencoba makanan Korea sebagai salah satu Fun dining yang seru.
            Sama halnya dengan Perancis yang sangat mengagungkan saat-saat makan. Jepang, China dan Korea juga melakukan hal yang sama. Budaya makan yang diawali dengan menu appetizer, main course dan terakhir dessert itu menjadi serangkaian prosesi makan bersama dalam budaya mereka. Mereka biasanya makan sambil bercerita banyak hal. Terutama dalam budaya Korea, mereka menjadikan acara makan sebagai salah satu acara yang sakral sebagai bentuk penghormatan pada masa-masa dulu rakyat Korea pernah mengalami krisis bahan makanan.
            Sekali waktu cobalah untuk menyantap bagaimana fun dining ala Korea. Jika mencobanya di Indonesia, anda bisa mulai memilih restoran yang owner-nya benar-benar berkebangsaan Korea, karena akan terlihat dalam hal suasana restoran, penyajian dan cita rasa makanannya yang juga masih otentik, tidak berubah apalagi sampai disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.
            Ada beberapa info yang mungkin cukup membantu saat berkuliner makanan Korea.
a.       Biasanya dalam daftar menu yang dicantumkan hanyalah Main Course atau makanan utama beserta beverage atau minuman saja. Jadi, jika hanya makan berdua atau bertiga, cukup pesan satu atau dua menu utama saja, karena biasanya mereka menyajikannya dalam porsi yang cukup besar ditambah uppertizer yang beragam sebelum menu utama disajikan.

b.      Orang Indonesia biasanya belum dikatakan makan jika belum makan nasi. Jadi tak perlu khawatir jika ingin mendapatkan semangkuk nasi maka pesanlah makanan sejenis sup seperti Yukgaejang (sup daging suwir yang pedas) atau Galbitang (sup iga yang gurih), dijamin semangkuk sup  dalam ukuran besar akan ditemani dengan semangkuk nasi putih hangat.


c.       Makanlah appetizer dengan jumlah sedikit supaya kita bisa menikmati menu utama, makanan appetizer Korea itu semacam kimchi (sayur asinan korea yang difermentasi), sayur-sayuran seperti tauge yang ditaburi wijen, kentang kecil yang dilumuri kecap manis, ada juga makanan sejenis telur dadar, salad slada yang dicampur dengan mayonaise yang agak manis.

d.      Bagi yang membawa anak-anak, biasanya restoran menyediakan menu untuk anak-anak seperti telur disteam yang lembut, dijamin anak-anak pasti menyukai rasanya yang gurih dan teksturnya yang lembut.

e.       Untuk makanan berbahan dasar daging, restoran biasanya menyediakan kompor dan tempat pemanggangnya. Jika tak mau direpotkan dengan acara memanggang daging, anda bisa meminta pramusaji untuk membakar daging pesanan anda, termasuk membakar bawang putih (Biasanya disajikan dengan daging) agar tidak terlalu terasa tajam di lidah.  Makanan yang bahan dasarnya daging  itu seperti Bulgogi, Wagyu.


f.       Satu hal lagi yang unik dari kuliner Korea, mereka biasanya menggunakan sumpit yang terbuat dari besi stainless steel, ini berbeda dengan Jepang atau China. Bagi yang tak terbiasa menggunakan sumpit besi tak perlu khawatir, sumpit besi ini sangat mudah digunakan.

g.      Untuk orang Korea asli, biasanya sebelum dan sesudah makan mereka akan ditemani sebotol soju atau arak beras buatan Korea. Bagi anda yang beragama muslim bisa menggantinya dengan Korean Coffee Iced atau kopi es Korea yang agak berasa pahit, atau mereka juga menyediakan jenis minuman yang lainnya, bahkan cider atau sejenis minuman soft-drink khas Korea.

h.      Setelah menu utama selesai, pelayan restoran biasanya akan menyajikan menu dessert seperti melon atau semangka.


Jadi, bagi yang berniat untuk fun dining Perancis, Jepang atau Korea silahkan membagi jatah perut anda agar cukup untuk appetizer, main course dan dessert J... Acha-cha Fighting J.


****


Jakarta, 15 April 2012
Aida MA

           
           



Selasa, 03 April 2012

Tentang Maop

            Laki-laki ini dipanggil “Maop” atau berarti Hantu. Bukan kesan ngeri malah kesan lucu yang pertama kali tercetus di kepala saya saat pertama kali menyebut namanya. Jika bukan karena sebuah tag fotonya di home facebook saya saat aksinya mengambil sebuah tropi juara 2 lomba cerpen dalam bahasa Aceh, mungkin saya tak terlalu tertarik dengan laki-laki satu ini (hehehe..).

            Saya orang yang tak percaya dengan hal yang kebetulan. Saya pikir garis takdir memang mendekatkan saya dengannya. Lewat seorang teman, saya mendapatkan delapan digit angka dan huruf untuk terhubung dengannya, sebuah PIN smart phone yang sangat privacy bagi seorang Maop.

            Sejak masuk ke dalam dunia menulis, bagi saya setiap penulis adalah teman baru yang patut saya sambangi, secara pengalaman ataupun semangatnya. Karena saya sangat menyadari sebagai penulis yang masih terkena kutukan under dog harus pintar-pintar mencuri semangat dan sikap Istiqamah dari teman-teman penulis lainnya.

            Ternyata Maop bukan laki-laki yang mudah mencair dengan sosok teman baru. Apalagi saya belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Semacam tiga perlakuan ketika mendeteksi uang palsu dilihat, diraba, diterawang, sebelum menentukan bahwa ini uang asli. Tentu saja Maop tak mungkin meraba dan menerawang saya (hehehehe) makanya perkenalan ini berjalan cukup lama baru kemudian mencair secair-cairnya hingga massa jenisnya setara dengan air (waduhhh?!).

            Saya tak menyangka bahwa Ilmu Palmistry (membaca garis tangan) dan Fisiognomi (Membaca garis wajah) yang saya pelajari justru mendekatkan saya dengannya. Tentu saja selain bahasan dunia menulis yang sama-sama kami geluti.

            Sebuah pertanyaan terdengar di ujung sana. Mengapa saya menulis tentang Maop? Karena ada dua hal yang saya peroleh darinya. Pertama, prihal selera tulisan dan bacaannya. Setengah mampus ia menghina tulisan saya yang bergenre metro pop yang kameusupay di matanya (hahahhaha) saya tak menolak dihina karena itu hanya masalah selera bacaan, tentu saja akan berbeda jika ia tertarik dengan Seno Gumira Ajidarma, Hamsad Rangkuti. Sementara bacaan saya tak akan jauh dari tulisan Alberthine Endah, Andrei Aksana, Ya... Saya pikir itu hanya soal selera saja. Tapi apa yang menarik dari sini? Dia berhasil mengompori saya untuk membaca semua genre tulisan tapi bukan mengubah genre tulisan saya, tentu saja setelah membombardir saya bukan hanya sekali bahkan berkali-kali dengan komentarnya yang pedas tentang tulisan saya. Saya pikir begitulah seharusnya seorang teman, tak selalu membenarkan apa yang dilakukan temannya, berkata jujur untuk kemajuan seorang teman. Untuk yang belum siap dengan komentar pembaca yang frontal seperti Maop, jangan sekali-kali menyodorkan tulisanmu ke depannya ya! (xixixixixi).

Yang kedua, tentang Hati. Ini hal yang berulang kali membuat saya terheran-heran. Maop ternyata laki-laki Bertampang Rambo Berhati Molto (warning!! khusus yang softener ya!) Terlalu cepat rasanya kalau saya mengatakan bahwa ia tipe laki-laki Merpati yang tak pernah ingkar janji (hayaaahhhh..) Itu penilaian agak lebay untuk seorang teman yang hanya berkenalan di dunia cyber apalagi belum ada bukti yang benar-benar real, karena nyatanya di usianya yang sudah dewasa ini dia belum jua menikah (hahahah).

Namun saya sadar satu hal dari komunikasi yang terjalin antara kami, bahwa ia pengagum wanita dan sangat menghormati wanita. Jaman sekarang, kecuali aktivis dakwah rasanya sangat jarang laki-laki setengah bengal memilih menyatakan cinta dengan cara jaman-jaman sahabat Nabi. Apalagi pernyataan “Aku Mencintaimu Karena Allah” hampir-hampir termakan jaman nyaris membuat saya tergelak, bahwa laki-laki bertampang Rambo ini tetap lelaki sederhana yang ingin jatuh cinta pada wanita sederhana, menggunakan Hijab dengan baik, santun dan malu-malu saat menatap (untuk yang terakhir ini saya jadi ingat adegan Siti Nurbaya bertemu Samsul Bahri J).

Di jaman yang katanya membebaskan siapa saja dalam bersikap dan bersuara, cara-cara seperti itu mungkin akan terkesan aneh, padahal seharusnya demikianlah aturan yang sebenarnya. Inilah yang membuat saya salut ketika ia menyatakan ia mencintai wanita tak harus dibawa-bawa pergi, apalagi sampai disentuh segala. Saya menghormatinya karena begitulah cara saya mencintainya itu pernyataan yang keluar dari mulut laki-laki yang bertampang garang ini, selalu menggunakan jeans dan asesoris di tangannya. Satu hal saja pendapat saya tentang Maop, laki-laki dengan tampang urakan namun tak urakan dalam hal mencintai wanita (sedaaappp).

Tulisan ini bukan untuk mempromosikan seorang Maop (tapi, kalau ada yang sesuai kriteria di atas, boleh silahkan mendaftar hahahah). Tulisan ini hanya sekedar mengabadikan pertemanan saya dengannya, dan tentu saja tulisan ini murni versi saya. Karena setiap Tokoh ada masanya dan setiap masa ada tokohnya. Ke depan mungkin, saya akan jauh darinya dan beberapa hal mungkin akan membuat pertemanan kami menjadi renggang karena kesibukan atau hal-hal yang lainnya. Namun setidaknya tulisan ini bisa menjadi bukti bahwa kami pernah berteman sangat baik.

****
Jakarta, 04 April 2012
Teruntuk Maop,
Maaf ya....Kubongkar sebagian xixixixi