Selasa, 29 Mei 2012

Inisiasi Rencana Masa Depan

                                          Saya dan Anak saya Nazira ( 4 tahun)


         Saya orang yang percaya bahwa dalam hidup ini sebagian besar adalah campur tangan Tuhan, termasuk perubahan nasib sekali pun akan mendapat kalimat pengaminan dari Tuhan ketika kita sudah berusaha dan berdoa maksimal. Namun sayangnya semua garis kehidupan itu adalah sebuah rahasia, mutlak milik Tuhan saja. Ada senang, bahagia, sedih, tawa bahkan sakit pun menjadi sebuah keniscayaan hidup.

            Ada sebuah kalimat yang sering saya dengar, bahwa kita hanya bisa berencana sementara Tuhan yang menentukan. Saya tertarik dengan rencana yang dibuat manusia dalam kesejahteraan hidupnya. Sering kali saya dapati seseorang menyalahkan rencana Tuhan semata atas ketaknyamanan yang ia alami. Misalnya, ketika seorang anak harus hidup sebatang kara, tanpa biaya dan harus mulai mencari uang sedini mungkin karena orang tuanya tidak meninggalkan simpanan tabungan sama sekali untuk kebutuhan hidup apalagi pendidikan si anak.

            Ketika garis hidup adalah sebuah garis absurd, maka saya rasa di situlah letaknya kita sebagai manusia merencanakan sesuatu yang hari ini lebih real untuk sesuatu yang absurd di masa yang akan datang, entah esok pagi, minggu depan, bulan depan atau tahun depan kita tak pernah akan tahu apa yang terjadi dengan ekonomi, keuangan dan kesehatan kita. Yang sudah direncanakan dengan matang saja terkadang memiliki cacat, apalagi jika tanpa perencanaan sama sekali bukan?

            Bulan Juli nanti anak pertama saya akan mulai bersekolah di TK A. Krasak krusuk tetangga saya yang punya anak seumuran anak saya mulai mengincar sekolah yang harganya murah meriah namun berkualitas baik. Parameter harga murah dan berkualitas baik dalam dunia pendidikan itu menurut saya dengan harga satu juta, anak merasa nyaman berada di sekolah tersebut dan anak dapat mengembangkan kreatifitasnya.

            Setelah berembuk dengan suami, akhirnya saya memilih sebuah TK yang menurut saya kurikulumnya tidak membebani pikiran anak-anak. Terutama untuk pelajaran CaLisTung, kemungkinan besar di usia TK membuat kepala anak kelelahan dan akan merasa cepat bosan dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Sekolah yang saya pilih kali ini karena lebih mengedepankan kreatifitas anak, karena di TK tersebut ada kelas melukis, Marching band, menari dan menyanyi, kelas memasak, berkebun dan English Class. Ke semua kurikulum yang mereka tawarkan itu disenangi anak saya yang lebih cenderung ke otak kanan, dan terbukti dia sendiri yang mendaftarkan langsung namanya di TK yang kami pilih tersebut.


                                          Book Lover, hampir setiap minggu ke toko buku.

            Untuk sekolah di TK tersebut tentu saya harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi, jika di tempat lain hanya mengeluarkan sekian rupiah, tapi bersekolah di sekolah ini saya harus mengeluarkan tiga kali-nya dibanding sekolah yang lain. Tapi saya percaya orang tua mana pun akan memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya, sesuai dengan minat anaknya. Bahkan sebagian orang tua tak perduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan sang anak.

            Di sinilah saya belajar betapa pentingnya sebuah rencana, terutama rencana biaya pendidikan. Terutama jika sudah mengincar sebuah sekolah yang diinginkan, maka perencanaan itu harus dilakukan sedini mungkin, yakinlah dengan sebuah rencana kita lebih tenang menyiapkan pendidikan untuk anak, tentu saja dengan kualitas terbaik, tidak akan dikejar waktu apalagi harus ngutang sana sini untuk biaya pendidikan, jika tak memiliki biaya sama sekali akhirnya hanya memilih sekolah dengan kualitas ala kadarnya, sungguh sangat disayangkan, jika kita mampu memberikan yang terbaik dengan menyusun sebuah rencana mengapa kemudian kita seolah pasrah memberikan kualitas pendidikan apa adanya bagi anak?


                                          Calon pelukis hebat di masa depan.

            Itu hal pertama, mengapa penting sekali inisiasi planning biaya pendidikan bagi anak-anak kita. Yang kedua, masalah umur orang tua. Mungkin kedengarannya saya mendahului Tuhan dalam hal satu ini. Tapi jika ingin ditela’ah ulang sebenarnya saya orang yang sangat percaya dengan hak prerogative Tuhan dalam hal usia manusia. Jika saya bertanya, siapakah yang tahu kapan ia akan meninggal dunia? Atau minimal, adakah yang tahu bahwa besok pagi ia harus diinfus, atau lebih kecil lagi adakah yang tahu besok kaki kirinya akan terlindas motor di jalan? Saya yakin tak ada yang berani menjawab bahwa tahu apa yang akan terjadi esok pagi pada diri kita masing-masing.

            Jika kita tak tahu kapan kita sakit, kapan kita akan meninggal maka sudah seharusnya kita meninggalkan sesuatu yang terbaik untuk orang yang kita tinggalkan ketika kita sudah tiada. Salah satunya keberlangsungan finansial bagi orang-orang yang kita sayangi. Anak, sebagai penerus keturunan kita tentu harus melanjutkan pendidikannya sekalipun orang tuanya telah tiada. Lalu apakah kita sebagai orang tua sudah mempersiapkan bekal untuk menemani si anak menemani hari-harinya kelak? Tentu saja selain bekal pendidikan akhlak, kemandirian, bekal finansial juga menjadi hal yang sangat penting dipikirkan.

            Di sinilah saya kira perlunya sebuah perencanaan pendidikan yang kedua. Rencana pendidikan anak dengan jaminan asuransi, sekalipun kita telah tiada, iuran pendidikan anak setiap bulannya tetap akan dibayarkan oleh pihak asuransi yang bekerjasama dengan Bank, sehingga kita tak perlu terlalu khawatir anak akan putus sekolah dan lain sebagainya hanya karena terputusnya biaya dari orang tuanya yang sudah meninggal.

            Program serupa di atas ini baru saya temukan dalam produk rencana pendidikan, Edusave yang dikembangkan oleh BCA, untuk keuntungan, hal-hal yang perlu diketahui mengenai produk ini bisa langsung meng-klik www.bca.co.id. Saya kira tak ada salahnya mempelajari sebuah program rencana pendidikan jika itu berdampak sangat baik untuk pendidikan anak kita. Tinggal kita yang menentukan pilihan yang mana yang tepat untuk anak-anak kita.

            Jika hari ini ada yang berkata, bahwa tak ada rencana dalam hidupnya dan semua ia lalui seperti air yang mengalir, saya rasa kalimat itu kurang tepat, karena air pun mengalir selalu memiliki tujuan, menuju muaranya yaitu sungai dan lautan. Begitu juga sebuah rencana selalu akan bermuara kepada kebaikan dan kebahagiaan, jika merencanakan pendidikan anak, maka harapannya adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan pendidikan anak. Dan saya selalu percaya bahwa orang-orang yang berhasil di masa depannya adalah orang-orang yang selalu menyusun rencana, dan sangat tahu apa yang ingin dia capai di depan sana.

Jakarta, 29 Mei 2012
Pukul 20.56 WIB
Aida MA.




Tulisan ini diikutsertakan dalam event Berbagi Cerita Bersama BCA




            www.bca.co.id

Senin, 28 Mei 2012

Pojok Inspirasi




         Akhir-akhir ini setiap kali menonton telivisi atau dvd fokus saya selalu ke satu hal. Mata saya betah berlama-lama menatap ke satu arah saja, lalu diam-diam di hati saya menyusun doa, semoga suatu saat nanti saya akan punya yang seperti itu, dengan jumlah yang lebih banyak dan ruangan yang lebih besar.

            Saya menyebutnya dengan nama “Pojok Inspirasi” atau ruang pustaka dan membaca. Berada dalam ruangan yang dipenuhi buku dan suasana tenang, saya pikir inspirasi akan betah berlama-lama dalam pikiran saya sampai saya menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan.

                                         Pojok Inspirasi idaman saya :)

            Saat melihat ruang baca di beberapa film, atau melihat ruang pustaka di beberapa rumah dalam acara Griya unik, sempat membuat saya benar-benar iri setengah mati. Memiliki ruangan pustaka di rumah seperti memiliki harta karun yang tak habisnya di mata saya. Setiap kali ditanya apa hal yang paling saya inginkan saat ini, jawaban saya tak pernah berubah semenjak dua tahun lalu, saya hanya ingin punya ruang pustaka sekaligus ruang untuk saya menuliskan semua ide yang ada di kepala saya.

            Keinginan memiliki pustaka dua tahun lalu itu tak sekuat saat ini. Sekarang keinginan memiliki pustaka itu semakin besar di kepala saya, saya terobsesi dengan itu, hampir tiap minggu saya ke toko buku untuk memandangi rak-rak buku di toko buku, saya seperti berada di syurga ide, melepaskan penat saya seharian di antara rak-rak buku di sana, lalu saya pulang sambil tersenyum dengan membeli dua sampai tiga potong buku lalu berucap dalam hati, bahwa buku ini akan menjadi penghuni pustaka saya suatu hari nanti.

                                           Berada di antara buku sering memperbaiki mood saya

            Keinginan saya itu semakin kuat ketika santri-santri saya yang suka main ke rumah, betah berlama-lama di pojokan buku-buku saya, mereka datang hanya untuk membaca buku, kebiasaan mereka itu sekarang semakin memberikan efek positif lainnya. Beberapa dari santri saya berkeinginan menulis buku karena melihat beberapa buku yang saya tulis ikut nangkring di antara koleksi buku-buku saya.

            “Bagaimana kalau di sekolah kita buat penggalangan buku pustaka sekolah? Satu Hati Satu Buku” saran saya kepada ketua Osis SMP Sabiluna Islamic Boarding School, tempat saya mengajar.  Mengingat pustaka sekolah saat ini kurang mendapat perhatian, baik dari segi perawatan dan jumlah buku yang ada di sana sangat minim untuk menumbuhkan minat baca  anak-anak remaja. Padahal ruangan dan lemari untuk menyimpan buku-buku masih banyak yang kosong.

            Syukur Alhamdulillah, ide saya disambut baik oleh direktur sekolah, setidaknya saat ini Osis SMP mulai bekerja membentuk posko untuk penerimaan buku bekas dari semua pihak, walaupun belum berjalan seratus persen tapi saya cukup bahagia bisa memberikan ide untuk sekolah berdasarkan keinginan saya sendiri untuk memiliki pojok inspirasi di rumah.

            Enam bulan yang lalu saya menghitung jumlah buku-buku saya, tak terlalu banyak, hanya sekitar lebih kurang 250 buku, hampir semua buku itu berbentuk Novel, Motivasi, Psikologi, Agama Islam dan sebagian lagi buku cerita anak yang dimiliki anak saya setiap kali ia ke Toko Buku. Selebihnya beberapa buku yang saya tulis hasil memenangkan event menulis dan beberapa antologi lainnya yang ikut menambah warna dalam koleksi buku-buku saya. Koleksi buku-buku itu juga saya dapatkan dari sisihan budget belanja harian dan hadiah dari event menulis.

            Jika alasannya hanya agar saya bisa tetap menulis, berkreasi dan merasa nyaman, selama ini saya tetap menulis dan bisa mencari ketenangan sejenak di toko buku walaupun saya belum punya pojok inspirasi yang saya dambakan. Namun keinginan saya ini melebihi dari itu dan sangat beralasan, saya merasa bahagia saat santri-santri, tetangga atau teman-teman yang datang berkunjung ke rumah mendapatkan sebuah pengetahuan atau kenangan di pojok Inspirasi saya, sebuah kebahagiaan tiada tara buat saya ketika rumah saya menjadi salah satu sumber ilmu bagi orang lain yang datang berkunjung. Lebih dari itu saya ingin anak saya dan teman-temannya lebih mencintai membaca, lebih mencintai buku melebihi kecintaan saya pada buku.  Saya masih bisa membayangkan bagaimana wajah anak saya dan teman-temannya begitu antusias mendengarkan saya mendongeng dari buku. Itu quality time yang tak bisa saya tukar dengan apapun.

                                         
                                   Ini adalah Pojok Inspirasi sederhana yang saya miliki kini.

            Pada akhirnya, kebahagiaan itu sebuah harapan untuk dapat memberikan sesuatu pada yang lain tanpa mengurangi nilai pemberian itu sedikit pun. Dan tentu saja kebahagiaan yang lain ketika buku-buku saya juga semakin banyak terpajang di Pojok Inspirasi sebagai master piece untuk dibaca sampai kapanpun oleh anak-anak saya di pojok Inspirasi ini. Semoga keinginan ini dapat segera terwujud… Amin…*

Jakarta, 29 Mei 2012
Pukul. 10.36 WIB
Aida MA

           


Minggu, 27 Mei 2012

Anak Nakal atau Banyak Akal?



Bicara tentang dunia anak mungkin tak akan pernah selesai untuk dibahas, saya pun mengakui hal yang sama, dunia anak itu dunia super unik, bahkan banyak hal-hal baru yang justru saya pelajari dari anak saya sendiri, mulai dari mencampur sayur bayam dengan toping yogurt heheheh, hingga belajar memotong model rambut sendiri dengan menggunakan cermin, untuk satu ini jangan coba-coba serahkan saja pada ahlinya ya..heuheu..

cover di atas ini kumpulan kisah anak-anak cerdas alias banyak akal, saya turut berkontributor dalam buku tersebut, tentu saja saya menceritakan bagaimana banyak akalnya anak saya Nazira yang menggelikan.

Bun-bun, Aku kan Sudah Besar...itu judul tulisan saya tentang Nazira dalam buku ini, mengambil salah satu kreatifitasnya di antara bejibun akal-akalannya yang lain. cerita ini menggemaskan, mengesankan membuat saya ingin berulang kali membacanya lagi setiap kali saya sedikit kelelahan dan emosi yang tidak stabil, setelah membaca tulisan ini lagi, saya akan lebih tenang dan memeluknya dengan erat, diam-diam di hati bersyukur beruntungnya saya menjadi seorang Ibu.

Antologi ini sangat cocok untuk semua orangtua, calon orangtua dan semua orang yang peduli dengan pendidikan anak-anak, semoga mendapatkan manfaat dari Antologi ini.

Buku ini sudah bisa ditemukan di semua Toko Buku Nasional, Gramedia. selamat membaca, dan menemukan keajaiban-keajaiban yang tak terduga dalam dunia anak-anak.

Senin, 21 Mei 2012

When I Broke Up



Cover yang ada di bagian depan ini adalah salah satu antologi saya yang baru saja terbit beberapa minggu lalu di Leutikaprio, berisikan 30 naskah dari penulis kontibutor yang kesemuanya adalah pemenang lomba true story When I broke up.

Awalnya saya sedikit ragu ikut event ini, rasanya kok aneh putus cinta juga dijadikan sebuah tulisan, namun ternyata bukan itu inti dari event satu ini, putus cinta lalu menangis-nangis itu sudah biasa, namun bagaimana bangkit dan tak berlama-lama dalam keadaan patah hati lalu mengenyampingkan hal yang lain itu sekiranya menjadi isi utama dari 30 kisah patah hati dalam buku ini.

Tulisan saya yang terpilih di sini adalah PECUNDANG CINTA, entah mengapa judulnya terkesan mengerikan ya, tapi kenyataannya pernah suatu waktu merasa benar-benar cinta namun tak pernah berniat mempertahankannya, mungkin seperti itulah kira-kira seorang pecundang cinta.

Buku ini sudah dapat dipesan di leutikaprio atau hubungi saya langsung dengan harga Rp. 47.000, bisa dipesan dengan dengan dua buku lainnya, otomatis bebas ongkos kirim...

Selasa, 08 Mei 2012

Ping Bukan PING




Judul Buku                : Ping, A Message From Borneo
Penulis                        : Riawani Elyta dan Shabrina WS
Genre                         : Novel Fiksi Remaja
Tebal Halaman          : 139 halaman
Penerbit                      : Bentang Belia (PT. Bentang Pustaka)
ISBN                           : 978-602-9397-17-8

            
Pernah dengar istilah PING lalu disertai dengan getaran di ujungnya pada program panggilan di sebuah merk SmartPhone terkenal?. Rasanya semua orang mengenali istilah PING ini, namun istilah PING dalam Novel “Ping, a message From Borneo” ini bukan sama sekali membicarakan tentang smartphone, walaupun setelah kata PING dilanjutkan dengan kalimat a message (sebuah pesan).  Istilah Ping yang dimaksudkan di sini adalah nama anak orangutan yang menjadi salah satu tokoh fabel dalam Novel remaja hasil kolaborasi unik Riawani Elyta dan Shabrina WS yang dinobatkan sebagai juara pertama event Novel Bentang Belia awal tahun ini.

            Unik, mungkin itu kesan pertama kali yang akan kita temukan ketika memegang Novel ini. Unik karena ditulis oleh dua orang dengan porsi mereka masing-masing, apalagi Bentang menuliskan di bagian belakang cover bahwa kedua penulis ini tidak pernah bertatap muka sama sekali bahkan ketika novel ini sudah diterbitkan. Unik yang kedua, yaitu dari sisi tema, rasanya sangat jarang ditemukan Novel remaja fiksi yang bertemakan tentang pelestarian satwa langka, namun dua keunikan inilah yang bisa kita temukan pertama kali begitu membaca novel ini.

Molly, remaja penggila konservasi alam dan penyelamatan satwa langka berangkat bersama dua teman bulenya Nick dan Andy ke Kalimantan, Samboja untuk penelitian skripsi Nick tentang kehidupan orangutan. Sementara Ping, seekor anak orangutan yang kehilangan ibunya akibat pemburu dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan sawit baru.

Prolog yang sangat menggugah, ketika Ping berbicara tentang perasaannya, rasa takutnya ketika hidupnya terusik oleh pembakaran hutan dan pemburu liar. Sebuah luka yang sangat dalam dirasakan oleh anak orang utan ditulis dengan “penuh rasa” oleh Shabrina WS, sebuah fabel yang butuh banyak observasi terlihat nyata di sini, sehingga pembaca seolah dibawa ke dunia orang utan dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ping dan ibunya. Bukan hanya itu saja, novel ini juga memberikan pengetahuan baru kepada orang awam tentang kehidupan orang utan, apa saja makanan yang mereka makan, bagaimana membuat sarang, mencari makan dan termasuk bagaimana ibu orang utan mendidik anaknya.

Membaca novel ini sebenarnya mendapati dua dunia yang saling berhubungan. Dunia Molly, gadis yang sangat idealis digambarkan oleh Riawani Elyta dengan sangat manis, meski dunia Molly bisa dikatakan minim konflik, konflik satu-satunya yang terjadi hanya saat Archie, sahabat SMA Molly yang bertemu kembali di Kalimantan dan ternyata kurang mendukung kegiatan konservasi alam dan perlindungan orang utan yang Molly lakukan, namun kisah Molly, Nick, Andy dan Archie tetap menghubungkan pembaca dengan Konflik bathin yang di alami Ping. Konflik justru banyak terbangun dalam kehidupan Ping sebagai anak orang utan yang dua kali kehilangan ibunya, ibu kandung dan ibu susuannya, lalu Jong saudara sesusuannya yang juga ikut menghilang pasca kematian Ibu mereka.

Bagi pembaca remaja tak perlu khawatir, karena novel ini tak akan memberi kesan membosankan, meski tak ditemukan petualangan ekstrim di tengah hutan atau adegan cinta-cintaan ala remaja yang banyak disuguhkan dalam novel remaja lainnya, namun novel ini sangat menghibur dengan dunia fabel dan semangat serta kepedulian Molly yang patut ditiru oleh para remaja yang kerap dikonotasikan dengan hura-hura dan akhir-akhir ini terjangkit demam boyband.

Sampai dengan halaman terakhir secara tidak langsung Novel ini berhasil menitipkan sebuah pesan di hati pembacanya, bahwa alam harus dilestarikan,  satwa langka harus diselamatkan agar keseimbangan ekosistem hutan tetap terjaga. Setidaknya sempat terbersit di hati saya untuk menjadi bagian dari volunteer perlindungan orang utan setelah membaca novel ini. Maka tak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain novel ini sangat pantas menjadi pemenang pertama Lomba Novel Bentang Belia.

Jakarta, 09 Mei 2012
Pukul. 07.38 wib
Aida MA

Minggu, 06 Mei 2012

REVIEW BUKU BERBAGI HATI OLEH MIRANDA SEFTIANA


Berbagi hati. 

Hmmm... Pernah terbersit dalam benak kita untuk berbagi hati? Mengikhlaskan orang yang kita cintai mendua? Rasanya sebuah polemik yang amat berat. Lalu bagaimana ketika berbagi hati benar terjadi dalam hidup kita? Tentulah sulit untuk menerimanya ya. 

Kisah berbagi hati inilah yang kemudian diangkat dan disajikan menarik oleh tiga penulis hebat yang kiprahnya sudah banyak melahirkan buku-buku yang tak kalah hebat pula. Para penulis ini meracik dengan amat istimewa, menjalin kata hingga menjadi alur cerita yang kadang di akhirnya bisa membuat kita tersenyum bahagia, atau justru bisa membuat kita menitikkan air mata haru atas ketegaran insan-insan yang merelakan orang yang dicintainya berbagi hati. Tak hanya itu, penulis juga menyajikan solusi di setiap akhir ceritanya dengan ending yang amat "manis". 

Cemburu, dilema, terluka, dan air mata ibarat bumbu pelengkap di setiap jalinan ceritanya. Namun pada akhirnya, cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri. Meski tak mudah awalnya untuk mengikhlaskan hati orang yang dicintai terbagi, tetapi pada akhirnya setiap tokoh dengan ketegaran hatinya bisa menyampaikan solusi sekaligus nilai hidup dari kisah berbagi hati ini. Inilah yang menurut saya menjadi nilai plus tersendiri bagi buku "Berbagi Hati" karya tiga penulis hebat. Mereka menyampaikan dengan gaya bahasa yang indah namun santai dan tidak menggurui, sehingga anda akan tertarik membacanya hingga di halaman terakhir kisahnya. Dan di akhir cerita anda mungkin akan berkata seperti saya,"dahsyat." Sembari menyeka air mata atau tersenyum bahagia. 

Tertarik untuk menegarkan diri karena mengalami polemik berbagi hati? Atau justru tengah mencari solusi? Bacalah buku "Berbagi Hati" karya tiga penulis hebat Aida M Affandi, Ragil Kuning, dan Swastikha Maulidya Mulyana. 

Sukses terus mbak... Do'a saya menyertai karya-karya kalian. Salam

Jumat, 04 Mei 2012

Wanita Bintangku



Terik sore mengibaskan rindu, semenit setelah burung besi memekik membawaku jauh dari tanah Sultan Iskandar Muda. Senyuman sendu wanita bintangku mengalun menyanyikan sajak rindu entah berapa detik kala kupandangi mata coklatnya yang berkaca bening.
Ku pergi bersama mentari tuk hunuskan cinta yang kian tajam di bumi rencong. Ku pergi bersama angin membawa Sebaris galau menghadangku untuk segera kembali, tuk menjemput wanita bintang yang bersinar kian dalam di galaksi hatiku.
Tunggulah aku, bersama nyanyian burung gereja di puncak menara Baiturrahman, Tunggulah aku kan ku ukir namaku diujung namamu agar kita menjadi satu selamanya.

Jakarta, 26 february 2011
Aida M Affandi

Selasa, 01 Mei 2012

Bagaimana Syurgamu Hari ini?



Bukan salah saya jika hari ini hanya tersisa sepeda di rumah. Sebenarnya saya tak keberatan sama sekali jk harus kemana-mana bawa sepeda, tapi hari ini hujan, saya sedikit kurang semangat keluar rumah dengan sepeda lalu memboncengi anak saya di belakang dengan jas hujan dan payung yg sedikit oleng saat ia pegang, percuma saja pikir saya  hasilnya ia tetap akan kebasahan.

"Ngajinya besok aja ya syg, kan masih bisa ngaji ama bun-bun di rumah" bujuk saya, dia langsung cemberut, saya tahu dia ga setuju, karena sedang semangat-semangatnya mengaji dengan teman baru.

Terpaksa saya harus menggendong dia yg beratnya 20kg  dari rumah ke tempat ngaji yang jaraknya ga dekat loh :D...lumayan pulangnya saya bisa jadi atlet angkat besi :D

Mungkin saya terlalu percaya diri jika mengatakan bahwa syurga dan neraka di dunia itu bisa kita ciptakan atau dihilangkan oleh diri kita sendiri.

Namun saya rasa itu benar adanya, ketika saya setengah hati melakukannya maka semua terasa berat dan ada saja yg terasa salah..dan itu seperti neraka saja.

Baju saya bagian depannya sudah basah kuyup, karena sebagian besar payung dan jas hujan hanya digunakan nazira, tak mengapalah yang penting dia ga basah.

Di luar dugaan saya, begitu tiba di rumah, dia mengambilkan handuk untuk saya (entah bagaimana dia mempelajarinya, Nazira (4th)  jujur saja saya takjub dan terharu menatap aksinya.

Lalu kami duduk menghadap jendela menatap hujan sambil menikmati teh manis hangat dan semangkuk mie instant yg hanya tersisa sebungkus lagi di lemari.

"Bun-bun..Aku pingin rajin ngaji, jadi anak baik..karena aku sayang bun-bun" ucapnya sambil memeluk saya.

Dada saya berdesir, Serasa ada syurga detik itu juga dlm hidup saya begitu mendengar ucapan putri saya di antara guyuran hujan yg kian lebat...

Mungkin keliatannya sepele, namun itulah syurga di hati saya hari ini..bagaimana dg syurgamu hari ini?

-aida-