Selasa, 29 Mei 2012

Inisiasi Rencana Masa Depan

                                          Saya dan Anak saya Nazira ( 4 tahun)


         Saya orang yang percaya bahwa dalam hidup ini sebagian besar adalah campur tangan Tuhan, termasuk perubahan nasib sekali pun akan mendapat kalimat pengaminan dari Tuhan ketika kita sudah berusaha dan berdoa maksimal. Namun sayangnya semua garis kehidupan itu adalah sebuah rahasia, mutlak milik Tuhan saja. Ada senang, bahagia, sedih, tawa bahkan sakit pun menjadi sebuah keniscayaan hidup.

            Ada sebuah kalimat yang sering saya dengar, bahwa kita hanya bisa berencana sementara Tuhan yang menentukan. Saya tertarik dengan rencana yang dibuat manusia dalam kesejahteraan hidupnya. Sering kali saya dapati seseorang menyalahkan rencana Tuhan semata atas ketaknyamanan yang ia alami. Misalnya, ketika seorang anak harus hidup sebatang kara, tanpa biaya dan harus mulai mencari uang sedini mungkin karena orang tuanya tidak meninggalkan simpanan tabungan sama sekali untuk kebutuhan hidup apalagi pendidikan si anak.

            Ketika garis hidup adalah sebuah garis absurd, maka saya rasa di situlah letaknya kita sebagai manusia merencanakan sesuatu yang hari ini lebih real untuk sesuatu yang absurd di masa yang akan datang, entah esok pagi, minggu depan, bulan depan atau tahun depan kita tak pernah akan tahu apa yang terjadi dengan ekonomi, keuangan dan kesehatan kita. Yang sudah direncanakan dengan matang saja terkadang memiliki cacat, apalagi jika tanpa perencanaan sama sekali bukan?

            Bulan Juli nanti anak pertama saya akan mulai bersekolah di TK A. Krasak krusuk tetangga saya yang punya anak seumuran anak saya mulai mengincar sekolah yang harganya murah meriah namun berkualitas baik. Parameter harga murah dan berkualitas baik dalam dunia pendidikan itu menurut saya dengan harga satu juta, anak merasa nyaman berada di sekolah tersebut dan anak dapat mengembangkan kreatifitasnya.

            Setelah berembuk dengan suami, akhirnya saya memilih sebuah TK yang menurut saya kurikulumnya tidak membebani pikiran anak-anak. Terutama untuk pelajaran CaLisTung, kemungkinan besar di usia TK membuat kepala anak kelelahan dan akan merasa cepat bosan dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Sekolah yang saya pilih kali ini karena lebih mengedepankan kreatifitas anak, karena di TK tersebut ada kelas melukis, Marching band, menari dan menyanyi, kelas memasak, berkebun dan English Class. Ke semua kurikulum yang mereka tawarkan itu disenangi anak saya yang lebih cenderung ke otak kanan, dan terbukti dia sendiri yang mendaftarkan langsung namanya di TK yang kami pilih tersebut.


                                          Book Lover, hampir setiap minggu ke toko buku.

            Untuk sekolah di TK tersebut tentu saya harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi, jika di tempat lain hanya mengeluarkan sekian rupiah, tapi bersekolah di sekolah ini saya harus mengeluarkan tiga kali-nya dibanding sekolah yang lain. Tapi saya percaya orang tua mana pun akan memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya, sesuai dengan minat anaknya. Bahkan sebagian orang tua tak perduli berapapun biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan sang anak.

            Di sinilah saya belajar betapa pentingnya sebuah rencana, terutama rencana biaya pendidikan. Terutama jika sudah mengincar sebuah sekolah yang diinginkan, maka perencanaan itu harus dilakukan sedini mungkin, yakinlah dengan sebuah rencana kita lebih tenang menyiapkan pendidikan untuk anak, tentu saja dengan kualitas terbaik, tidak akan dikejar waktu apalagi harus ngutang sana sini untuk biaya pendidikan, jika tak memiliki biaya sama sekali akhirnya hanya memilih sekolah dengan kualitas ala kadarnya, sungguh sangat disayangkan, jika kita mampu memberikan yang terbaik dengan menyusun sebuah rencana mengapa kemudian kita seolah pasrah memberikan kualitas pendidikan apa adanya bagi anak?


                                          Calon pelukis hebat di masa depan.

            Itu hal pertama, mengapa penting sekali inisiasi planning biaya pendidikan bagi anak-anak kita. Yang kedua, masalah umur orang tua. Mungkin kedengarannya saya mendahului Tuhan dalam hal satu ini. Tapi jika ingin ditela’ah ulang sebenarnya saya orang yang sangat percaya dengan hak prerogative Tuhan dalam hal usia manusia. Jika saya bertanya, siapakah yang tahu kapan ia akan meninggal dunia? Atau minimal, adakah yang tahu bahwa besok pagi ia harus diinfus, atau lebih kecil lagi adakah yang tahu besok kaki kirinya akan terlindas motor di jalan? Saya yakin tak ada yang berani menjawab bahwa tahu apa yang akan terjadi esok pagi pada diri kita masing-masing.

            Jika kita tak tahu kapan kita sakit, kapan kita akan meninggal maka sudah seharusnya kita meninggalkan sesuatu yang terbaik untuk orang yang kita tinggalkan ketika kita sudah tiada. Salah satunya keberlangsungan finansial bagi orang-orang yang kita sayangi. Anak, sebagai penerus keturunan kita tentu harus melanjutkan pendidikannya sekalipun orang tuanya telah tiada. Lalu apakah kita sebagai orang tua sudah mempersiapkan bekal untuk menemani si anak menemani hari-harinya kelak? Tentu saja selain bekal pendidikan akhlak, kemandirian, bekal finansial juga menjadi hal yang sangat penting dipikirkan.

            Di sinilah saya kira perlunya sebuah perencanaan pendidikan yang kedua. Rencana pendidikan anak dengan jaminan asuransi, sekalipun kita telah tiada, iuran pendidikan anak setiap bulannya tetap akan dibayarkan oleh pihak asuransi yang bekerjasama dengan Bank, sehingga kita tak perlu terlalu khawatir anak akan putus sekolah dan lain sebagainya hanya karena terputusnya biaya dari orang tuanya yang sudah meninggal.

            Program serupa di atas ini baru saya temukan dalam produk rencana pendidikan, Edusave yang dikembangkan oleh BCA, untuk keuntungan, hal-hal yang perlu diketahui mengenai produk ini bisa langsung meng-klik www.bca.co.id. Saya kira tak ada salahnya mempelajari sebuah program rencana pendidikan jika itu berdampak sangat baik untuk pendidikan anak kita. Tinggal kita yang menentukan pilihan yang mana yang tepat untuk anak-anak kita.

            Jika hari ini ada yang berkata, bahwa tak ada rencana dalam hidupnya dan semua ia lalui seperti air yang mengalir, saya rasa kalimat itu kurang tepat, karena air pun mengalir selalu memiliki tujuan, menuju muaranya yaitu sungai dan lautan. Begitu juga sebuah rencana selalu akan bermuara kepada kebaikan dan kebahagiaan, jika merencanakan pendidikan anak, maka harapannya adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan pendidikan anak. Dan saya selalu percaya bahwa orang-orang yang berhasil di masa depannya adalah orang-orang yang selalu menyusun rencana, dan sangat tahu apa yang ingin dia capai di depan sana.

Jakarta, 29 Mei 2012
Pukul 20.56 WIB
Aida MA.




Tulisan ini diikutsertakan dalam event Berbagi Cerita Bersama BCA




            www.bca.co.id

2 komentar:

  1. Subhanallah...
    Memang benar, mbak..
    Manusia hanya bisa merencanakan..namun Alloh Maha Berkehendak ^______^
    kita hanya perlu berikhtiar untuk memenuhi rencana yg ditentukan dan meyakini bahwa segala garis yg ditakdirkan o/ Maha Kuasa a/ yg terbaik

    Tulisannya sangat inspiratif bagi saya sebagai seorang calon Ibu kelak..
    makasii udah berbagi, mbak

    www.aniamaharani.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba ani...udah mampir di sini...jadi orang tua memang banyak yg harus dipersiapkan mba...hehehe

      Hapus