Senin, 30 Juli 2012

Memenangkan Kisah


Bersama Nulisbuku Jakarta, Malam Pengumuman Pemenang Utama
                                     

             Belitong, sebelum daerah ini booming lewat Novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata mungkin tak ada yang begitu tahu, mengenal dengan baik bahkan kemudian penasaran ingin ke Belitong.  Sama halnya dengan saya, setelah kena hypnotis kisah Laskar Pelangi, lalu melihat betapa indahnya wisata bahari di bumi Belitong dalam film Laskar Pelangi, diam-diam saya berharap suatu hari nanti bisa mengunjungi daerah dimana hasil dari sebuah Novel mampu membuat dunia pendidikan Indonesia menjadi sorotan.

            Sepertinya doa saya segera didengar yang Maha Mendengar, siapa sangka karena tergiur oleh hadiah jalan-jalan ke Belitong, saya memaksakan diri untuk ikut lomba menulis “Inspiring Teacher” yang diadakan oleh Biovision dan Nulisbuku.com. Sebuah tulisan berjudul “Lelaki Kampung itu Guruku” mengantarkan saya ke tanah yang dulunya sangat kaya dengan Timah ini. Entahlah, mungkin ada hubungannya dengan kalimatnya Bang Ikal “Teruntuk Ayahku, Ayah nomer satu di dunia”,  karena cerita “Inspiring Teacher” yang saya ceritakan dalam “Lelaki Kampung Itu Guruku” adalah kisah Ayah saya sendiri, sebagai bentuk cinta saya kepada Ayahanda di Aceh.

Dinyatakan sebagai Pemenang Utama
                                          

            Setelah melalui beberapa tahapan penjurian dari 200 lebih naskah yang ikut bertarung, akhirnya nama saya masuk dalam jajaran 60 finalis terbaik. Setelah pengumuman 60 finalis, ternyata butuh waktu cukup lama juga untuk menunggu pengumuman 3 pemenang utama yang akan jalan-jalan ke Belitong. Akhirnya pengumuman pemenang utama itu pun berlangsung di kafe Pisa Mahakam di Minggu sore yang cerah, tanggal 23 June 2012 sekitar pukul 5 sore,  nama saya disebut di antara 10 finalis terbaik, debaran di dada saya kian terasa kencang sampai hasil akhir nama 3 pemenang utama disebut dengan suara riuh, dan diabadikan dalam kilatan flash kamera yang memenuhi aula Pisa Mahakam.

            Terimakasih ya Allah…Tentu saja itu kalimat pertama yang keluar dari mulut saya. Bersyukur masih punya kesempatan untuk menunjukkan cinta saya pada Ayahanda tercinta lewat sebuah tulisan yang Insya Allah akan abadi sampai kapan pun, dan bonus ke Belitong bagian Indah lainnya yang membuat senyuman saya mengembang cerah di sore itu. Terimakasih Biovision dan Nulisbuku.com



*****
Jakarta, 28 Juli 2012
Sebuah cerita yang agak terlambat.
Aida MA         

Kamis, 26 Juli 2012

The Vow, Pembuktian Ikrar (Resensi Film)


                Judul : The VowBased on True Story: Mr and Mrs.  Directed : Michael Sucsy, Produce: Gary Barber, Starring:  Rachel McAdams, Channing Tatum, Sam Neill, Scott SpeedmanJessi, Lange Music :  Michael Brook, Cinematography:  Rogier Stoffe,  Editing : Melissa Kent,  Release date(s) :  February 10, 2012 
  


Gambar dari sini 
                                     


       
                                      Kehebohan The Vow sepertinya cukup menarik perhatian para pencinta drama romantis. Memang tidak bisa disangkal saat bicara The Vow mungkin akan terbayang sumpah ikrar sehidup semati sepasang suami istri yang memulai mengikat janji dalam ikatan pernikahan. Sisi keromantisan ini pula yang membuat The Vow menjadi salah satu drama yang ingin ditonton oleh movie lover terutama penggemar film drama. Drama romantis ini merupakan perjalanan kisah cinta yang bisa dikatakan menginspirasi penontonnya. Film drama yang diangkat dari kisah nyata sepasang suami istri Mr. Kim dan Mrs. Krickit Carpenter yang mereka abadikan dalam sebuah buku yang berjudul sama yaitu The Vow yang berarti ikrar atau sumpah mengenai perjalanan pernikahan mereka.
 
 
          
                          Berawal dari sepasang suami istri yang baru saja menikah Leo (Channing Tatum) dan Paige (Rachel Mc Adams) mengalami saat-saat paling indah dalam hidup mereka. Tak ada seorang pun yang mengetahui rahasia di balik sebuah momentum. Film ini diawali dengan sebuah narasi "Momentum" oleh Leo, narasi ini langsung menyedot perhatian penonton. Kalimat-kalimat yang disampaikan dalam narasi tersebut tentang efek dari sebuah momentum tabrakan lebih mirip seperti ajakan untuk mengerti akan setiap makna kejadian dalam hidup.
 

                              Layaknya suami istri yang baru menikah Paige dan Leo berada dalam fase sangat bahagia. Dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menonton film di Movie Teather. Leo memarkirkan kendaraannya di tempat pemberhentian kendaraan hanya untuk menerima sebuah ciuman dari Paige. Ternyata saat bersamaan pula sebuah truk datang dari arah belakang mobil mereka langsung menabrak mobil Leo dan Paige hingga membentur tiang lampu jalan.
 
           
       
                                 Kondisi Paige mengenaskan, ia terhempas keluar dalam kondisi tidak memakai sabuk pengaman, kepalanya membentur kaca depan mobil hingga kaca tersebut digambarkan pecah. Mereka dilarikan ke ICU, Leo hanya mengalami luka-luka namun malangnya Paige kehilangan sebagian ingatannya terutama memori setelah ia menikah dengan Leo. Kondisi itu baru diketahui Leo pasca Paige siuman di rumah sakit. Bahkan Paige mengira Leo adalah dokternya.
 
           
                           Di sinilah berawal ujian cinta Leo dan Paige dimulai. Film yang didirekturi oleh Michael Sucsy ini banyak sekali mendapat pujian dari berbagai pihak. Tentu saja ditambah dengan pemilihan dua aktor dan aktris yang memerankan Leo dan Paige yang memiliki akting yang sangat memukau.
 
  
      
                               Tak ada yang meragukan kepiawaian Channing Tatum (Leo) dan Rachel Mc. Adams (Paige) dalam berakting. Rachel Mc Adams yang terkenal wara wiri di genre drama banyak mendapat pujian dalam “The Notebook”, demikian juga dengan Tatum yang begitu memukau dalam “Dear Jhon.” Kedua film tersebut adalah film drama romantis yang sering direkomendasikan di berbagai media.
 

           
                               Ketika Tatum dan Mc. Adams dipertemukan dalam The Vow,  kolaborasi itu benar-benar memberikan sebuah chemistry yang sangat apik, begitu diungkapkan oleh Stephanie Merry dalam The Washington’s Post.
 
          

                               Ada hal yang sangat menarik sehingga drama romantis satu ini mencapai Box Office. Sebuah konflik yang tajam, namun sangat manusiawi. Plot yang tidak monoton, ditambah kualitas gambar dan suara yang jernih serta musik latar yang semakin memperkuat dramatisasi dari alur cerita. Bisa dilihat dari bagaimana perasaan Leo saat berjuang mempertahankan istrinya Paige yang menganggapnya sebagai orang asing, antara sabar dan kesal, memperjuangkan atau melepaskan. Belum lagi konflik dengan orang tua Paige yang memaksa Paige pulang ke rumah dan kehadiran Jeremy mantan tunangan Paige yang tiba-tiba muncul kembali menjadi sebuah cerita yang manis, mendebarkan, menguras emosi namun tidak terkesan cengeng.
 

       
                               Di sinilah letak perbedaan drama-drama keluaran Hollywood dengan drama-drama keluaran Korea. Jalan cerita yang ditampilkan dengan dramatisasi yang memukau namun semua masih dalam logika wajar, jalan cerita dengan pola serupa namun alur yang berbeda dan terkesan lebih cerdas bisa kita temukan dalam drama satu ini.  Jadi, memang tak mengherankan saat debute pertamanya opening day The Vow mencapai US$ 15,4 million, angka fantastis meningkat kemudian dalam seminggu tayang meraup lebih dari US$ 41, 2 million.
 

                               Namun sebagai tambahan film ini kurang tepat jika ditonton bersama anak-anak dan remaja, karena di beberapa bagian ada adegan yang terbuka antara hubungan suami istri  yang digambarkan tidak terlalu vulgar namun tidak cukup baik jika ditonton bersama seluruh keluarga.
 


                                Baiklah, Bagi pencinta drama romantis, mungkin drama satu ini bisa menjadi pilihan di waktu senggang. Ada sebuah quote menarik bagi saya yang dinarasikan dalam drama ini. Benarkah cinta sejati mempunyai kesempatan kedua? Dan ternyata jawabannya saya temukan dalam sebuah pesan yang tersirat di ending drama ini bahwa Cinta memang harus diperjuangkan.
       
             
*****
 


            Aida MA



Selasa, 24 Juli 2012

Mereka di Mata Saya #Belitong1


           Mudah-mudahan saya tak berlebihan bercerita kali ini. Karena alasan terpenting mengapa tulisan ini muncul karena saya memang sedang merindukan mereka, sahabat-sahabat yang tiba-tiba menjadi dekat dengan saya dalam tempo waktu tiga hari saat jalan-jalan bersama Biovision di Belitong awal Juli lalu.

                                   Otw Hopping Island, Jalan-jalan ke Belitong Bersama Biovision
                                 Steve, Bu Ermi, Mas Rahmat, Wuri, Mba Ollie dan saya (lihat; dari belakang) 
                                

            Adalah saya, mungkin yang paling cemen di antara orang-orang hebat yang berada di sekitar saya selama tiga hari di Belitong kemaren.

Kita mulai saja dengan Mba Ollie, yang banyak dikenal orang sebagai seorang penulis, blogger dan foundernya Nulisbuku.com. Saya sempat ngomong ke diri sendiri, ini orang kok ya ngeborong semuanya ya (heheheh) karena saking kerennya dia di mata saya.

Jujur saja, tak banyak yang saya tahu tentang kepribadian Mba Ollie, selain kiprahnya yang wara wiri di dunia penulisan. Selama tiga hari bersamanya ditambah setengah hari berada satu stage di Ultah Indofarma akhirnya saya mengenali sebagian sosoknya. Saya mengagumi persistennya dia dalam menulis, itu juga yang menyemangati saya untuk kembali menulis di blog. “Kita perlu membangun Brand diri sendiri, dan itu melalui blog” begitu ucapannya yang tiba-tiba nyantel di kepala saya, terutama ia bercerita tentang jalan-jalan gratisnya ke luar negeri dimulai dari menulis di blog.  Saya sempat ileran kalau dengar kalimat jalan-jalan gratis hanya dengan menulis di blog (Widiihhh…).

Tentu saja banyak hal lain yang terekam di kepala saya tentang sosok Mba Ollie yang selalu berbalut pakaian yang modis, terkadang cuek, senang tidur dan ternyata juga senang makan, nah bagian terakhir ini sumpah bikin saya envy banget, walaupun selera makannya bagus, tapi badannya tetap langsing booo..(merem liat badan sendiri heuheuheu…) untuk satu hal terakhir yang saya sukai dari Mba Ollie ketika sebuah obrolan di sela-sela Ultah Indofarma membuat saya terdiam sejenak, yang pasti semakin membuat saya menyadari bahwa hidup selalu ada berbagai cerita, dan kalimat terakhirnya “Jangan mau jadi orang yang rugi untuk semua ketaknyamanan hidup” ….Nice Quote J.

Wuri Nugraeni, saya akan cerita tentang wanita satu ini. Sahabat sekamar saya selama di Belitong ini, juga tak kalah kerennya. Menurut saya Wuri diam-diam menghanyutkan, dengan pengalaman Jurnalis-nya sumpah membuat saya cemburu, dulu sekali jaman-jaman saya masih single ting-ting (hehehe) menurut saya bekerja sebagai seorang reporter itu asik, keren dan yang penting bisa jalan-jalan. Apalagi kemudian Wuri juga pernah menulis naskah scenario dan terakhir menjadi pemenang I lomba blog yang diadakan oleh XL (wuiihhh…asikk bener kan J. Lalu kekaguman saya bertambah saat saya membaca tulisannya yang menjadi pemenang lomba blog tersebut, dan ternyata memang ajibbb dan bergaya reportase. Keluar dari itu semua, Wuri bagi saya seorang sahabat yang asik J, sosok istri idaman (sepertinya..) dan cara bicaranya yang lembut, membuat saya berpikir betapa “Sumatera-nya” cara saya bertutur (hehehhe).

Di antara yang lainnya, dari Mba Ollie, Wuri dan nanti ada Ibu Ermi dan Mas Rahmat, mungkin Bapak dengan seorang anak ini yang paling sering berkomunikasi dengan saya. Namanya Steve, seorang guru sejati. Mengapa saya mengatakannya Steve seorang guru sejati, karena sejak umur 19 tahun dia sudah menjadi guru, takjub saya dibuatnya, benar-benar niat banget jadi guru celetuk saya padanya sesaat sebelum keberangkatan kami ke Belitong.

Steve mungkin salah satu contoh memanage hal yang tak menyenangkan (baca; dendam) menjadi sesuatu yang positif. Saat ia bercerita tekadnya untuk menulis, menelurkan buku bahkan mengubah image guru olah raga yang disebut-sebut bisa mengajar tanpa harus pakai otak, saya terpukau dibuatnya. Jadi galau itu bisa menjadi positif kalau bener arahannya. Buktinya Steve galau ketika diabaikan kemampuannya, namun ia buktikan lewat bukunya yang berjudul 35 Ronde dan juga menjadi salah satu pemenang utama ke Belitong. Benar-benar patut menjadi inspirasi bagi murid-muridnya dan tentu juga menjadi inspirasi buat saya. Selebihnya Steve sahabat yang rame, juga pintar mengambil angle saat sesi photo-photo narsis kami di Belitong, saya kira perlu saya tulis bagian ini karena beberapa hasil bidikannya cihuy banget hehehe..(Thanks Steve..).

Bu Ermi dan Mas Rahmat, duo ini perwakilan dari Biovision, Bu Ermi, Brand Managernya Biovision sementara Mas Rahmat, Brand/Product Executive OTC (Mudah-mudahan saya ga salah menyebutkan posisi mereka :D).

Ini untuk kali keduanya saya bertemu dengan Ibu Ermi, pertama saat di malam pengumuman pemenang ke Belitong dan kedua ya di Belitong sendiri. Kesan pertama yang menawan saya dan membuat saya menyukai Bu Ermi saat presentasi produk Biovision di Pisa Mahakam, asli…Ibu satu ini pinter banget menawarkan produknya saat ia presentasi di depan, tiba-tiba saja di akhir sesi presentasinya saya mulai berpikir pentingnya suplemen makanan untuk mata bagi seorang penulis (hehehhe).

Mas Rahmat sendiri bisa saya gambarkan sosok yang easy going, sama dengan Ibu Ermi kedua-duanya sangat ramah. Saat ke Belitong kemaren, mas Rahmat-lah yang terlihat paling sibuk di antara kami, terutama saat CSR di replika Sekolah Laskar Pelangi, Gantong.

Saya pikir saya harus mengucapkan  terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Ibu Ermi dan Mas Rahmat untuk tiga hari  yang begitu WOW di Belitong, dan untuk Mba Ollie, Wuri dan Steve..Terimakasih sudah banyak memberikan saya inspirasi….keren ah semuanya J.

@Berage, lunch Gangan, makanan khas Belitong :)

           
                             

Jakarta, 24 Juli 2012
Pukul 23.05 Wib
Aida MA



           
            

Selasa, 17 Juli 2012

Resensi Looking for Mr.Kim



Pagi tadi saya dapat pesan singkat dari pembaca Novel saya #Looking for Mr.Kim. Sebuah pesan yang menghadiahkan saya sebuah senyuman. isi lengkapnya seperti ini.

BARU SELESAI BACA NOVELNYA MBA..HUAA, KEREN ABIS...TAPI SEMPET GEMES DENGAN SIKAP MARIA SAAT MENGAMBIL KEPUTUSAN :D. BANYAK PELAJARAN HIDUP YANG BISA DIPETIK DARI NOVEL INI. JUGA TAMBAH PENGETAHUAN TENTANG SELUK BELUK BUDAYA KOREA. SETTING KOREANYA SANGAT SEMPURNA, MEMBUAT SIAPAPUN YANG MEMBACANYA IKUT MERASAKAN BERTUALANG DI SANA. SELEBIHNYA, HANYA DECAK KAGUM DAN ACUNGAN JEMPOL YANG BISA MENDEFINISIKAN NOVEL INI.


Terimakasih banyak Mba Fitri- Sukohardjo untuk review yang indah ini. moga bisa menambah pengetahuan dan kabar-kabari untuk yang lainnya hehehe...

Senin, 16 Juli 2012

Bicara Atau Menulis?


           
Saat Berbagi cerita di Talkshow Buku Inspiring Teacher
                     di acara Milad Indofarma, Cibitung

                                    

“Kalau kamu bisa bicara, pasti kamu bisa menulis” begitu kira-kira kalimat yang diucapkan Mba Ollie, salah seorang founder Nulisbuku.com untuk membangkitkan semangat siapa pun yang ingin sekali menulis, lalu bagaimana dengan kalimat ini “Kalau bisa menulis, bisa ga ngomong di depan?” …Nah, kalau yang ini entar dulu ya jawabannya (heheheh…)

            Pernah ngomong di depan audiens yang jumlahnya lebih dari 2 ribu lebih? Kalau pertanyaan ini ditanyakan pada saya sebelum tanggal 15 juli lalu jawaban saya adalah belum pernah, dan mungkin juga saya berusaha untuk menghindari berbicara di depan orang dengan jumlah sebanyak itu.

            Berdasarkan hasil observasi saya yang kadang suka sok tahu, kebanyakan penulis aktif itu tidak banyak yang mau berbicara di depan umum, walau pun ada juga yang bisa berbicara di depan dan selihai orang-orang marketing, motivator dan trainer. Namun dari sekian banyak acara bedah buku dan bertemu dengan penulis hanya beberapa saja yang mampu membuat saya mengakuinya bahwa penulis tersebut punya dua keahlian sekaligus, menulis dan berbicara di depan.

            Bagi orang yang introvert seperti saya, saya merasa tidak begitu leluasa menyampaikan ide saya di depan umum. Berbicara dengan semua kemampuan saya, lalu mengeluarkan ide secara terbuka, face to face, dengan mimic wajah, getaran dan volume suara di depan banyak orang itu bukan perkara yang mudah bagi saya.

Ketemu Tante Minati Atmanegara, sama-sama ngisi event Milad Indofarma

                            
            Saya pernah berbicara dalam focus Grup Discussion (6-9 orang) bersama pemukim kampung saat saya masih bekerja di salah satu Organisasi social asing, lalu berbicara di kelas dengan jumlah anak maksimal 80 orang, atau skala sedikit lebih besar saya bicara di talkshow Jakarta Book Fair, untuk event yang tidak bertemu langsung dengan audiens saya pernah bicara secara On Air di Radio. Namun dengan audiens yang mencapai ribuan, baru tanggal 15 Juli kemaren menjadi pengalaman pertama buat saya. Berbicara sebagai pemenang utama lomba Biovision Writing Competition dan sekaligus bedah buku #Inspiring Teacher bersama bu Ermi (Brand Manager Biovision) dan Mba Ollie (Founder Nulisbuku.com) di depan pegawai Indofarma yang mencapai 2 ribu lebih, ditambah jajaran direksi, supplier dan keluarga mereka di acara Milad Indofarma.

             Grogi? Saya kira siapa pun pernah mengalami fase ini, bahkan orang sekeren Steve Jobs saja yang presentasinya superrr duperr keren pernah mengalami fase seperti ini. Lalu apa yang terpikirkan oleh saya ketika berhadapan dengan situasi ini ternyata jawaban yang ada di kepala saya cukup simpel “HADAPI SAJA” dan memang setiap kita harus menghadapi situasi apa pun ketika sudah memilih sebuah jalan tertentu.

            Kalimat “Hadapi Saja” di sini bukan berarti pasrah dan tidak melakukan persiapan. Ada beberapa hal yang saya curi diam-diam dari beberapa orang yang menurut saya sangat bersemangat saat mereka berbicara di depan dan saya coba praktekkan saat event kemaren.

            Pertama. Semangat…Dari sekian banyak trainer, pembicara bahkan kemaren saya bertemu dengan Direktur Utama-nya Indofarma sesaat sebelum beliau memberikan kata sambutan saya melihat beliau bersemangat, sangat bersemangat. Ketika menuju panggung dengan berlari-lari kecil atau kebanyakan berjalan dengan cepat dengan langkah yang penuh semangat. Ternyata, dengan semangat kita mampu menyerap energy di sekitar kita.

            Kedua.  Pergunakan moment untuk men-sugesti diri sendiri. Ini biasa saya latih ketika kondisi kurang sehat. Coba sekali-sekali menikmati proses bernafas, rasakan oksigen yang masuk ke dalam tubuh melalui hidung, lalu lepaskan Karbon dioksida yang panas melalui hidup, kedua perbedaan itu bisa kita rasakan. Di antara kegiatan bernafas itulah sugesti diri kita sendiri, bahwa saya bisa, saya mengagumkan dan saya bisa tampil di depan dan percaya bahwa Allah SWT akan merestui setiap kebaikan yang saya ucapkan di depan khalayak ramai.

            Ketiga,  ketika sudah berjalan, maka nikmatilah. Ketika kita sudah menikmati sesuatu hal maka itu akan berjalan dengan alami saja. Ini juga yang saya lihat dari beberapa orang trainer motivasi yang sehari-harinya terus mengisi materi motivasi namun tetap bersemangat, ternyata rahasianya mereka menikmati apa yang mereka kerjakan (sepertinya hal ini juga berlaku untuk semua pekerjaan ya).

            Percayalah, ketika kita sudah melaluinya ada sebuah kebahagiaan di hati, berbangga karena orang se-introvert saya akhirnya bisa berani bicara di depan bukan hanya sekedar bicara melalui aksara.

            Mungkin masih banyak tips lainnya yang bisa kita curi dari orang-orang yang hebat. Setidaknya setelah berbicara di Talkshow Buku Inspiring Teacher, Indofarma kemaren saya juga punya kesempatan untuk memperkenalkan Novel Looking for Mr.Kim kepada audiens yang hadir dan memberikannya kepada Ibu Direktur Utama. Masalah meningkat atau tidak penjualannya, kita lihat setelah ini, setelah usaha yang belum seberapa ini (sambil komat kamit baca doa..heheheh)

            Ok…Mengutip kalimat dari CEO Bentang Pustaka, Mas Salman Faridi “Ketika sudah memutuskan menjadi penulis, berarti juga siap untuk bicara di depan umum dan siap menjadi orang yang terkenal”. Sesuai dengan judulnya saya kembalikan kepada diri kita masing-masing. Mau menulis saja, bicara saja, atau kedua-duanya? Hehehe…Bagi yang berniat untuk bicara di depan umum, SELAMAT MENCOBA ya J.

Jakarta, 16 Juli 2012
Pukul 14.20 wib
Aida MA 

Rabu, 04 Juli 2012

Persembahan Untuk Guru




Cover yang sedang kita lihat ini, salah satu dari 3 buku Inspiring Teacher. kesemua naskah yang ada dalam buku ini adalah 60 finalis pemenang di event Biovision Writing Competition. bersyukur menjadi pemenang di antara 300 naskah lebih yang ikut mengadu potensi dalam event ini.

LELAKI KAMPUNG ITU GURUKU

Itu judul naskah saya di sini dan dinyatakan sebagai salah satu dari tiga PEMENANG UTAMA. penasaran dengan isinya, silahkan pesan di @nulisbuku, sebagai bentuk cinta kita kepada guru, siapapun itu yang telah menginspirasi kita.

Meet and Greet Bersama Tim Bentang Belia


                                          Satu stage bersama penulis Bentang Belia

Jum’at lalu tanggal 29 Juni pukul 03.00 sore saya bersama beberapa orang penulis Bentang Belia lainnya mengisi Talkshow parade penulis Bentang Belia di stage utama Jakarta Book Fair. Mungkin ada yang menjadi follower-nya WowKonyol, tentu tahu dengan kicauannya yang konyol. Beruntung kali ini saya satu stage dengan si Onyol yang memang bener-bener konyol (hehehe), saya juga bersebelahan duduk dengan Fei (Penulis Novel Love Storm), Haris (penulis Date Note) catatan galau lelaki yang ditolak cintanya (heheheh) lalu ada Ayu Widya (Penulis Novel Frenemy) yang cantik banget, karena saking cantiknya sempat kedengaran di belakang stage ada yang mengira Mba Ayu salah satu personilnya Cherrybell (heuheuheu).

            Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya ceritakan di sini. Pertama, bagaimana acara Talkshow dan pertemuan saya dengan teman sesama penulis juga tim Bentang Belia yang kebanyakan perempuan dan ternyata semuanya super rame. Saya sendiri harus menutupi umur saya kalau sudah mulai ikut nge-banyol bersama Dila (Editor Remaja), Susan (Editor Anak), Dita dan Mba Avee (Bagian promosi Bentang). Sepertinya kesan editor yang galak tidak berlaku untuk Dila dan Susan, karena mereka sangat friendly, meskipun ini baru pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Buat yang pingin tahu banyak tentang naskah remaja dan naskah anak bisa langsung komunikasi dengan Susan dan Dila, atau nanti bisa saya kenalkan (heheheh).

                                          Susan, Dita dan Dila (superrrrr heboh :)))

            Sebelum Talkshow berlangsung, saya bersama penulis dan tim Bentang Belia sempat makan siang bersama untuk persiapan Talkshow. Ternyata Talkshow bersama penulis lainnya itu cukup seru, apalagi kemudian saya tahu kalau si Onyol @WowKonyol punya follower yang sudah ribuan. Atau mendengar cerita Haris tentang ide kreatifnya tentang Date Note. Bayangkan saja isi buku Date Note itu rata-rata hasil ia berkali-kali ditolak cewek (heuheuheu), atau saya dapat pengetahuan literasi dengan Fei yang pinter banget, lalu Mba Ayu Widya yang ternyata selain penulis juga editor buku anak di Penerbit Erlangga. 

            Syukur Alhamdulillah Talkshow berjalan lancar, dan di akhir acara ada yang minta foto dan tanda tangan saya (sumpahh, kalau bagian ini saya rada nervous xixixix).
                                          Penulis Novel Looking for Mr.Kim beraksi :))

            Saya dan teman-teman penulis ini juga beruntung karena diperkenalkan langsung dengan CEO Bentang, Mas Salman Faridi yang sangat humble. Ini hal kedua yang saya rasa cukup penting untuk diceritakan mengenai isi obrolan kami tentang naskah-naskah yang diterima dalam lingkup Bentang Belia.

            Mas Salman banyak bercerita seputar bagaimana Bentang Pustaka itu menjadi bagian yang diakuisisi oleh Penerbit Mizan. Saya juga baru tahu kalau Bentang Belia sendiri baru dikukuhkan pada tahun 2011. Menariknya juga di sini ada beberapa hal yang mungkin bisa dicatat bagi teman-teman penulis, mengenai kriteria naskah yang diterima di Bentang Belia.

a.     Temanya Remaja, berdasarkan pangsa pasarnya adalah remaja, maka tulisan diterima di Bentang Belia hanya yang berbau remaja. Jika nonfiksi mungkin seputar psikologi remaja, kegalauan dan lain-lain. Seperti bukunya Mba Aci ‘No More Galau”.

b.     Untuk Novel remaja, sementara ini tema berbau Negeri Ginseng masih cukup laris manis, dan mereka kebanyakan menerima naskah berdasarkan Happening dan tema remaja yang paling in saat ini. Bukan dengan maksud ikut-ikutan, tapi lebih kepada kebutuhan dan keinginan para pembaca.

c.     Perlu diketahui juga, untuk screening naskah mereka punya beberapa editor remaja yang dipilih untuk magang di Bentang, kenapa disebut remaja karena mereka memang masih SMA. Jadi taste sebuah naskah remaja benar-benar diambil dari taste remaja yang dibaca langsung oleh editor remaja yang masih SMA ini. Termasuk naskah yang dipilih dalam event 30 hari 30 buku yang lalu. Bentang juga sebenarnya dibagi menjadi dua, 1) Teenlith, tokohnya rata-rata SMA dan dibaca oleh usia SMP, 2) Belia Middle-up, tokohnya kebanyakan sudah kuliah dan dibaca oleh usia SMA. Jadi, banyak kesempatan naskah yang bisa disodorkan ke Bentang Belia.

d.     Untuk syarat teknis naskah sama seperti event 30 hari 30 buku, minimal 120 dan maksimal 200 halaman dengan spasi ganda, margin 3443. Untuk mengetahui bagaimana naskah yang mereka ambil, bisa langsung baca novel-novel pemenang di event tersebut, jangan lupa “Looking for Mr.Kim” juga ikut masuk list ya (teuteuppp..promo heuheuheu).

Saya senang hari itu bisa bertemu dengan orang-orang yang hebat, kreatif dan tim sukses di balik terbitnya sebuah buku dari sebuah penerbit. Akhir dari cerita ini, ada hal yang lebih membahagiakan lagi buat saya. Semenjak sampai di JBF saya sudah keliling-keliling mencari ATM terdekat karena saya memang kehabisan cash, eh ternyata oh ternyata justru sebelum pulang saya dikantongi sebuah amplop dari Mba Avee, katanya untuk biaya transport (Alhamdulillah..hehehhe). Dalam hati berbisik sendiri “Sering-sering aja diundang acara beginian ya” heuheuheu.

******

Aida MA
The Ritz-Carlton, Mega Kuningan
      30 Juni 2012. Pukul 22.47 WIB