Kamis, 16 Agustus 2012

It Takes Two to Tango

Gambar dari sini




Saya yakin kita sering mendengar pepatah satu ini, dibutuhkan dua orang untuk dapat berdansa atau mudahnya saja istilah ini bermakna gayung bersambut. Gayung bersambut berarti ada dua pihak yang ikut terlibat. Ada pihak memberi dan ada pihak menerima. Jika ada yang memberi cinta maka ada yang menerima cinta, kira-kira begitulah makna sederhananya (kalau saya salah, silahkan dibenarkan :))

            Kemaren saya berdiskusi kecil dengan seorang sahabat. Diskusi kecil itu lahir berdasarkan beberapa judul note saya yang sedikit kontroversi menurutnya. Mulai dari Kepada Wanita yang ditiduri ayahku, Kepada Wanita yang suaminya kurindui, Wahai Lelaki Dulu. Dan beberapa tulisan lainnya yang semua intinya menceritakan tentang sebuah affair.

            Saya tergelitik ketika sahabat saya berfikir bahwa saya pembela “wanita kedua” dalam sebuah hubungan pernikahan. loh, bagaimana ceritanya?

            Saya wanita menikah, salah rasanya jika saya dianggap membela “wanita kedua”.  Semua pasangan yang menikah pasti memahami bahwa hubungan pernikahan bukan semata hubungan legalitas kebutuhan biologis semata. Bahkan lebih dari itu mengacu pada ibadah, tanggung jawab, amanah sehingga ibadah satu ini disamakan dengan ibadah setengah ad-dien. Hubungannya secara vertical ke atas pada Tuhan dan horizontal ke samping pada orang-orang yang kita kasihi.

            Saya menganggap sebuah affair adalah sebuah hubungan sebab akibat. Sebab saya tidak puas dengan pasangan saya makanya saya tertarik pada yang lain. sebab saya pernah mengharapkannya dulu, ternyata kesempatan mendapatkannya hanya hari ini. Sebab dia lebih menarik dari pasangan saya makanya saya jatuh cinta padanya. Sebab kebutuhan seks saya tak terpenuhi dengan baik makanya saya mencari wanita yang lain. sebab pasangannya saya terlalu cemburu, ya sudah dibenarkan saja. Bahkan ada sebab yang sangat sering dilontarkan sebagai alasan sebuah affair. Sebab Tuhan menitipi cinta ini di hati saya, dan saya tak kuasa untuk menolaknya *beuhhhhhh*

            Terlepas dari sebab-sebab di atas, sebuah affair tidak akan terjadi jika tidak ada yang meng-amini. Bagaimana bisa ada asap jika tidak ada yang menyalakan api? Bagaimana bisa kebasahan jika tidak ada yang menyiramkan air? Lalu siapa yang mau selingkuh dengan siapa? jika hatinya bertepuk di satu sisi saja?.

            Pernyataan saya yang seperti inilah, yang menyulut nada agak tinggi dari sahabat saya, bahwa saya dianggap telah membela “wanita kedua”. Silahkan lempari saya hujatan jika benar saya membela orang yang berbuat kesalahan.

            Dalam kehidupan kita, di depan mata saya sendiri, bahkan sebagian besar lingkungan kita membuat sebuah stereotype bahwa “wanita kedua” terutama pihak wanita digambarkan semacam trouble maker, seperti hantu dalam biduk pernikahan.

            Jika melihat acara di televisi, di sinetron-sinetron Indonesia yang tak habis-habis episodenya itu terlihat gambaran wanita kedua diseret-seret, dijambak-jambak, dihina-hina demikian sadisnya.  Sumpah, Saya ingin tertawa ngakak melihat adegan yang seperti ini.

            “Kalau suamimu tidak mau, mana mungkin semua ini terjadi. Jangan kau tuduhi aku telah mengiriminya gula-gula dalam secangkir kopi sorenya”.

            Kembali saya bertanya pada sahabat saya. Apa benar sebuah affair terjadi hanya karena ada penggoda? Jika si suami atau si istri tidak mau, walaupun telah digoda dengan berbagai macam cara, tetap saja tidak akan berhasil. Atau jangan-jangan justru pasangan kita sendiri yang berperan menjadi penggoda? Karena tak bisa menerima kenyataan lalu kita menimpakannya pada pihak ketiga?.

            Saya setuju, bagaimanapun keadaannya affair tetap sebuah kesalahan. Bagaimana mungkin ketika pasangan sudah selingkuh lalu kita menyalahkan diri kita sendiri, karena kurang cantik, karena kurang seksi, karena kurang kaya dan banyak kurang-kurang yang lainnya. Saya fikir ini sebuah sikap yang TERLALU. Bukankah dulu pasangan menikahi kita karena kekurangan-kekurangan itu, sehingga ia menikahi kita bukan menikahi yang lain.

            Saya tak ingin menunjuk siapa benar siapa salah dalam kasus seperti ini. Tapi jika saya dimintai pendapat, yang pertama kali harus ditegur adalah pasangan kita sendiri. Begitu banyak berkurangkah cinta ini sehingga begitu mudahnya menyakiti hati?. Jika kemudian harus ada introspeksi dan ada yang perlu dibenahi adalah cinta dalam hati kita masing-masing.

            Lalu wanita kedua atau lelaki idaman lainnya? Bukankah mereka hanya pihak luar yang hanya bisa masuk jika kita ijinkan? Yang hanya bisa mengacak-acak cinta ini jika kita memberinya kesempatan?. Jika tak ada ijin itu, jika tak ada kesempatan itu, merekapun akan mundur teratur dan memilih pergi. Jika tak ada yang berani mundur silahkan lapor pak polisi saja (nyengir dulu).

            Sekali lagi, menurut saya affair  bukan semata karena ada penggoda, namun karena kita mengijinkan untuk digoda. Tulisan ini hanya pendapat pribadi saya. Jika ada yang berpendapat lain, sah-sah saja, dan sepertinya saya harus stop di sini. Saya takut dilempari sambal karena ada yang kurang sependapat dengan saya.

            Selamat Pagi semua.... Happy Weekend

Jakarta, 9 Juli 2011
Pukul 06.23 wib
Aida M Affandi

0 komentar:

Posting Komentar