Rabu, 15 Agustus 2012

Lelaki Es


Gambar dari sini



“Hey....Forbidden woman...”

            Teriak laki-laki itu sambil mendelik tajam padaku. Aku hafal dengan tatapannya yang seperti ini. Aku tahu model senyum itu pertanda memuakkan yang dilemparkannya padaku.

            Forbidden women itu istilah yang digunakannya untukku. Wanita yang seolah dikeliling tembok, bahkan menatap silau matahari saja tak kuasa. Entah mengapa aku harus dekat dengan lelaki satu ini. Lelaki ngasal yang kurasa sejenis bad boy, jauh dari kalimat komitmen bahkan hanya berputar dalam kata “Main- main saja” jika belum terkena sengatan “jatuh” dan “cinta” dalam satu paketnya.

            Hari ini aku berdiskusi lagi dengannya. Teologinya yang “Free minded” membuat aku seolah wanita yang paling malang se-dunia, wanita yang paling menyedihkan se-gajad alam raya ini. Bahkan menurutnya alam semesta saja akan meng-iyakan betapa malangnya aku sebagai forbidden women.

            “Bukankah kamu pinter? Katanya dapat the best achievement dari perusahaanmu dulu karena dianggap smart worker?.

            Serasa dia meludahiku, Jika kurang dari sepuluh kalimat yang sama dia muntahkan kembali, aku yakin nyaris mati sebelum petir menyambar. Jangan pernah mencoba menangis di depannya itu hanya akan semakin membuatnya muak. Ah, penyakit wanita selalu meneteskan airmata. Aku bahkan ragu sikap dinginnya justru menutupi sebagian hatinya yang rapuh.

            “Menurutku wanita hebat itu wanita yang bisa mengontrol laki-laki” ucapnya seolah merendahkan cara berfikirku.

            “Ohya, berarti kelak kamu tak akan menampik jika beristrikan wanita yang “pengontrol” bukan sebagai partner hidupmu, bukankah demikian itu hebat? Seperti dalam dunia politik,bapak penguasa kita akan menjadi boneka dari istrinya yang terlihat anggun? Bukankah begitu? Ucapku balik menudingnya.

            Pada akhirnya diskusi ini ber-ending dissing, hanya cela mencela, tuding menuding. Dia menilaiku sebagai wanita yang lemah yang hidup di jaman penjajahan dan tak mengenal hari kemerdekaan. Lalu aku menilainya “bad boy” dengan ideliasmenya yang kaku bahkan tak kan takluk jika belum kena sengatan wanita yang membuatnya terkapar dalam sekali tatap.

            Entah mengapa aku harus dekat dengan lelaki sedingin ini, se-bad boy ini. Bahkan hidup yang dijalaninya jauh dari “not” layaknya genre music rapp yang lahir dari golongan afro, menolak aturan dan kebijakan apapun. Ah, aku bingung terkadang ketertarikan justru lahir dari sebuah persengketaan. Walaupun aku tahu, ia muak dengan sikapku yang tak konsisten menurutnya.

            “Bukankah kamu cantik? Smart, kamu pernah jadi penganut free minded seperti aku. Lalu apa masalahmu? apakah sebuah jeratan genetika begitu menahanmu untuk memiliki idealisme seperti dulu?”.


            Dia kembali menyerangku. Kini semakin dalam dia menghajar hingga bagian terdalam dari hatiku, ketika idealisme, main project dari hidupku dipertanyakan.

            “I’m no longer care about your thought...Condition sets me here, on this time....I’m scared with these all...Everybody betrayed me, mungkin termasuk KAMU, jadi...Tolong jangan mempertanyakan sebagian jeratan genetika yang harus kujaga hari ini”.

            Dia tersentak saat aku ingatkan kembali bahwa berani-kah dia berkomitmen denganku. Jawabannya selalu diam dan pengalihan seperti telpon selular yang tak ingin diterima oleh pemiliknya.

            “Sudahlah, persetan dengan semua idelismemu dan idealismeku. Cukup tak perlu dibahas lagi”.

            Kusudahi diskusi yang berakhir dengan debat kusir ini, sebelum kebiasaan seenak perutnya selalu melarikan diri karena muak dengan jawabanku. Toh, esok dia akan menghubungiku lagi jika dia membutuhkanku. Karena ia tahu aku tak pernah mengontrolnya apalagi mengaturnya. Lalu aku, ya mungkin aku juga akan menghubunginya lagi untuk berdebat lagi dengannya, lalu membuatnya muak, kemudian berakhir dengan saling diam. Sudah begitu saja!.

Jakarta, 3 Oktober 2011
Pukul 19.08 wib
Aida M Ahmad.

0 komentar:

Posting Komentar