Rabu, 15 Agustus 2012

Tentang Mentor Saya


Kak Mentor Qin Yang Keren :P
               

Setelah sedikit beradu argumentasi dan sebuah rayuan maut, akhirnya saya bisa juga pergi tanpa rengekan Nazira, putri saya yang baru berumur 3,5 tahun. Mana mungkin saya bisa mengais ilmu sore ini jika Nazira ikut serta, karena pasti saja fokus saya akan terbagi.

                Tempatnya di Rumpus, UIN Syarif Hidayatullah. Begitu kata Mawza mentor saya yang berparas manis. Entah dimana tepatnya bangunan yang disebut Rumpus itu, yang pasti saya derukan saja scoopy hitam milik saya menuju Syahid, selebihnya mah gampang tinggal nanya kanan kiri pasti ketemu bathin saya begitu bersemangat.

                Sengaja saya parkirkan motor saya di Masjid tepat di samping Rumah Sakit Syahid dengan maksud biar lebih cepat sampai dan tak perlu memutar arah, tinggal menyebrang jalan saja, pasti lebih cepat pikir saya.

                Ternyata ini di luar perkiraan saya. Rumpus yang dimaksud itu ternyata berada di luar pagar gedung UIN, info itu pun saya peroleh setelah saya menelpon Saeful, kepala suku kelompok mentoring kami. Terpaksa saya harus percepat langkah saya, jam di tangan pun sudah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Saya pasti tidak rela jika dianggap miss late (dibaca; emak-emak) oleh teman-teman satu kelompok.

                Satu, Dua, Tiga, Empat...Ternyata menuju Rumpus lebih dari Empat langkah ditambah jalan setapak yang tidak datar. Sementara sore ini saya mengenakan high heels 7 cm yang menambah tinggi saya menjadi 176 cm (dibahas :P). Tak mengapalah sedikit olah raga di sore hari menghilangkan sebagian lemak di perut saya. Yang penting tetap semangat.

                Akhirnya saya sampai juga di tempat yang bernama Rumpus. Larak lirik kanan kiri ternyata semua sudah datang. Sedikit ngos-ngosan saya duduk di samping Kak Mentor Qin Mahdy, sengaja saya memanggilnya kak, walaupun lebih muda beberapa tahun dari saya tapi Ilmunya lebih banyak dari saya. Biarlah saya memanggilnya “Kak Qin” mudah-mudahan dia ikhlas (nyengir dulu).

                Semua mengumpulkan tugas. Reza yang membawa Berita, Saeful dengan artikelnya, Aziz dengan cerita Turkinya, Dhea membawa puisi, Fitri membawa makalah, lalu saya dan Hermansyah membawa Cerpen. Lengkaplah jenis tulisan yang kami bawa sore ini.

                Satu persatu tugas mulai dibahas. Mulai dari membahas kelebihannya sampai kekurangan tulisan yang kami bawa. Saya fikir memang harus seperti itu, jika semua sudah benar tentu saja kami tak perlu bersusah payah ikut kelas mentoring ini.
               
                Ada hal – hal yang saya sukai dari kelompok mentoring ini “komunikatif dan open minded”. Setiap pertanyaan selalu mendapat jawaban, itu hal yang menarik buat saya. Salah satu cara transfer ilmu yang dianggap cukup efektif adalah tanya jawab dan itu terasa lancar dalam diskusi kami sore ini. Tidak melulu membahasnya secara text books yang membosankan, dan tidak didominasi oleh mentor saja. Namun kelompok ini yang difasilitasi oleh Kak Qin dan Mawza sukses memberi sebuah kesan “menyenangkan” buat saya.
               
                Berada dalam kelompok mentoring ini mengingatkan saya Tujuh tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa. Ada semangat teman-teman sekelompok yang mulai menulari saya kembali bagaimana rasanya belajar dalam lingkungan mahasiswa, maklumlah sejak lima tahun lalu selain mengajar dan menulis, saya menjadi anak rumahan. Ya, dengan kata lain saya mendapatkan kobaran semangat dari mereka yang jujur membuat saya envy setengah mati, lha.. Semuda itu mereka punya karya yang “wah”.
               
                Scoopy saya melaju kencang dalam perjalanan pulang, di antara debu jalanan dan asap knalpot mobil dan motor yang membuat saya terbatuk-batuk. Saya tak ingin dapat omelan Nazira karena terlambat pulang, lalu biasanya dia akan menagih cerita apa saja yang saya lakukan hari ini.
               
                Sambil menikmati Kraddy Patty alias Beef Burger, saya membisiki Nazira sebuah kalimat “Bun-bun punya mentor yang hebat dan teman-teman yang luar biasa”. Entah mengerti atau tidak, yang pasti kini dia tersenyum, masih sambil menikmati Kraddy Pattynya.

******


Jakarta, 19 Oktober 2011
Ganbatte kudasai...
Acha cha Fighting (khusus buat Kak Qin, karena selalu menukar Jepang menjadi Korea)
Aida MA

               


0 komentar:

Posting Komentar