Kamis, 16 Agustus 2012

Teruntuk Wanita Yang Kunikahi




Teruntuk Wanita Yang Kunikahi....

Aku menuliskan kata demi kata ini ketika kau telah tertidur pulas di samping dua mutiara cinta kita. Ku tatap wajah lelahmu, sebuah dengkuran halus karena kelelahan, ku dengar di antara redupnya lampu kamar tidur kita. Kutarik selimut kututupi tubuhmu yang melingkar kedinginan.

Lima tahun yang lalu aku menikahimu. Dipersaksikan keluarga yang berurai air mata, diucapi selamat oleh sahabat dan keluarga yang bergembira dan diberikan nasehat oleh orangtua dan para tetua agar kita selalu bersama.

Waktu terus bergulir tanpa meminta berhenti. Banyak hal yang berubah dalam beberapa waktu. Mungkin tubuhmu yang tak langsing lagi, atau kulitmu yang tak licin lagi, atau sapa dan perhatianmu yang berkurang ketika sibuk mengurusi dua mutiara cinta kita. Namun aku masih tetap menatapmu dengan tatapan yang sama. Tatapan pertama kali ketika kusebut namamu dalam Ijab dan Qabul.

Malam ini aku sendiri, menikmati gelapnya sudut rumah kita. Kunyalakan lampu pijar di sudut ruang tengah rumah. Sekilas dalam temaram ku tatap photo walimahan kita yang terpajang rapi di dinding rumah. Ada rasa yang membuncah di dadaku setiap kali ku tatap wajah kita di bingkai yang berukiran itu.

Betapa ku sangat mencintaimu , rasa itu seperti air yang meluber membanjiri hatiku. Begitulah cintaku padamu sepenuh hatiku. Cintaku masih seperti dulu, cintaku masih memperhatikanmu, cintaku masih mengayomi, cintaku masih membelaimu, cintaku masih menatapmu.

Hari ini ingin kukabarkan padamu bahwa hatiku semakin luas. Hatiku semakin luas dari hari ke hari dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. Tak sedikitpun rasaku padamu berkurang, tak sedetikpun perhatianku padamu melemah. Aku masih mencintaimu sama seperti dulu sama persis seperti yang kau rasakan juga hari ini.


Kali ini sebuah rasa menghampiri hatiku. Aku mencintainya bukan karena sesuatu yang kurang di dirimu. Aku menyayanginya bukan karena ada alasan ini dan itu. Namun hati ini memang telah tertambat padanya, menaruh kata yang lebih dari simpati, menaruh rasa yang lebih ingin memberi dan hatiku memang memperhatikannya.

Janganlah kau ingin meninggalkanku karena sebuah rasa yang hadir di hatiku ini. Janganlah kau mengabaikan cintamu padaku karena sebuah perhatian yang kuberikan pula padanya. Hatiku padamu masih seperti dulu, rasaku padamu masih tetap begitu. Ku mohon jangan cemoohi aku karena rasaku padanya.

Aku mencintaimu, aku mencintai anak-anak kita, dan aku juga mencintainya. Bersabarlah dengan keadaan hatiku kini. Jika kau pergi sungguh hatiku sangat menderita, jika kau memintaku untuk melupakannya, Pintalah pada Yang Kuasa, karena rasaku padanya sebuah rasa yang murni dititipkan-Nya semata tanpa pernah aku memintanya.

Wahai Wanita, Ibu dari Mutiara Hatiku....

Kini tlah kau baca kabar hatiku. aku memperhatikannya namun tak mengurangi perhatianku sedikitpun padamu dan anak-anak kita. Aku menyayanginya namun tak mengurangi sedikitpun rasa sayangku padamu dan buah hati kita. Aku mencintainya juga tak mengurangi apapun dari rasa cintaku padamu.

Ku mohon tetaplah di sisiku, bersabarlah atas keadaan hatiku. karena hatiku padamu masih seperti dulu bahkan tak berkurang sedikitpun. Tetaplah selalu di sisiku, selalu menjadi wanita yang aku nikahi, selalu menjadi ibu dari anak-anak kita karena aku akan selalu menjagamu dan buah hati kita.

Salam
Aku, Suamimu yang selalu menyayangimu

Baca juga di sini 

0 komentar:

Posting Komentar