Minggu, 06 Januari 2013

Behind The Scene SUNSET IN WEH ISLAND (My New Novel)

Sunset In Weh Island, Bentang Pustaka



            Setelah terpilih sebagai pemenang pilihan di event lomba Novel Bentang Belia akhir tahun 2011 lalu, saya seperti memiliki ikatan hati dengan penerbit Bentang Pustaka, terutama lini Bentang Belia. Pengukuhan ikatan hati itu tepatnya setelah saya bertemu langsung dengan beberapa penulis bentang belia, jajaran editor, bagian promosi sampai dengan CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi di acara Talk show bersama Penulis Bentang Belia di Jakarta Bookfair, Juli 2012 lalu.

            Beberapa waktu lalu saya sempat menuliskan sebuah status di akun FB saya, bahwa membangun kinerja yang baik dengan penerbit dan editor bisa jadi senjata yang ampuh untuk kemajuan dalam berkarya. Tidak mudah ngambek saat diminta revisi dan selalu tepat waktu bisa jadi nilai plus bagi editor yang notabene dengan tanggung jawab dan pertimbangan yang besar untuk menggoalkan sebuah naskah dengan jaminan bisa saja puluhan juta melayang jika naskah tersebut gagal di pasaran.
           
Saat merevisi Looking for Mr.Kim saya bekerja dengan editor bentang belia yang bernama Dila Maretihaqsari. Saya menemukan ritme saat bekerja dengan Dila (tidak pernah mau dipanggil “mba”) dia editor yang fair, di antara koreksiannya yang terkesan mengejek tapi dia juga ga sungkan-sungkan untuk memuji kalau ide cerita yang penulis tawarkan menarik dan kemungkinan akan dilirik pembaca. Ini juga yang membuat saya nyaman kembali bekerjasama dengan bentang pustaka dan Dila.

            Sebelum Bentang Belia melakukan audisi untuk penulis bentang belia, saya sudah duluan dihubungi Dila untuk menulis Fan Fiction, tapi saya menolaknya karena saya merasa daya imaginasi saya untuk menulis Fan Fiction belum lincah-lincah amat, daripada naskah tidak kelar, akhirnya kesempatan itu saya tolak.

            Kesempatan kedua ternyata muncul lagi, saat bentang punya project novel bersetting kota romantic saya kembali ditawari menulis di Bentang. Kali ini saya setuju, walaupun kemudian pilihan kota Jepang yang saya tawarkan ditolak Dila, karena sudah ada yang menulis untuk Jepang. Kemudian saya berpikir untuk menulis dengan setting Venice, salah satu kota romantic yang masuk dalam list tujuan travelling saya (hehehe) tapi entah mengapa saya mengurungkan niat untuk memilih Venice, sampai akhirnya saya mengutarakan tentang perasaan cinta saya pada eksotika tanah air yang tak kalah cantik dan romantisnya dibandingkan kota-kota seperti Venice, Shanghai, New Zealand pada Dila.

            “Dila…Gimana ya, sebenarnya aku masih cinta Indonesia”

Kalau bisa promo daerah sendiri kenapa harus promo negara lain, begitu pikir saya. Akhirnya tercetuslah di kepala saya untuk menuliskan spot-spot romantic di pulau Sabang. Ide ini tentu saja tidak serta merta diterima oleh Dila, saya tahu benar, Sabang tidak seheboh Bali, Lombok atau belakangan Belitong lewat Laskar Pelangi-nya. Dila memang tidak menolak juga belum menerima, dia kasih kepastian diterima atau tidak setting Pulau Weh setelah keesokan harinya.

“Pulau Weh accepted!”

Kira-kira seperti itu isi BBM dila ke saya. Girang? Pasti. Saya pikir ini akan jadi kesempatan baik buat saya bercerita tentang Sabang dengan pantai-pantainya yang memikat hati saya, atau juga bisa mengobati kerinduan saya pada pulau ini, karena sejak pindah ke Jakarta saya belum pernah berkunjung lagi ke Sabang.

Tiga hari kemudian saya mulai mengirimkan synopsis, pengiriman pertama saya diminta revisi bahkan sebagian besar cerita yang saya tawarkan diubah total (hahahah) belum selesai dengan synopsis, saya sudah dikirimi jadwal deadline untuk project ini. Seminggu untuk outline dan bab 1 dan 1 bulan untuk menulis naskah sepanjang 150-200 halaman TNR.

Tiga hari sebelum deadline Outline, saya sudah mengirimkan ke Dila Outline lengkap dengan Bab 1. Setelah diacc dengan beberapa catatan yang sempat membuat dada saya berdegub kencang karena catatan dari editor saya ini cenderung mirip “warning” (xixixi), mulailah kerja otak selama 1 bulan itu dimulai.

Seperti kebiasaan saya setiap menulis naskah, harus riset terlebih dahulu, mengumpulkan bahan baku untuk pondasi tulisan saya. Hunting kamus besar bahasa Jerman, tiba-tiba bergabung dengan komunitas backpacker Indonesia dan mulai rajin masuk ke situs-situs diving Indonesia. Tidak cukup dengan itu saya menghubungi dua orang teman saya yang berdomisili dan penduduk asli dari kota sabang (terimakasih Ira dan bang Idank). Untung saja saya engga keburu dilempari penggilingan sama mereka berdua, karena sebentar-sebentar saya nanya ini itu dan mungkin agak sulit bagi mereka menjelaskannya panjang lebar lewat BBM.

 Walaupun kebanyakan bersetting Sabang, dan hanya satu bab bersetting Frankfurt dan Goettingen, saya tetap harus menghubungi salah seorang teman yang sedang study di sana (Aduen Saiful Akmal..danke!) yang saya kirimi pesan inbox tengah malam. Ada lagi beberapa orang teman lainnya seperti Yaisar Dinarto yang bantuin saya mengambil foto gambaran rute jalan dari masjid Baiturrahman sampai dengan pelabuhan Ulhee lhee, karena memang terakhir kali saya menyebrang ke pulau aceh dari pelabuhan ulhee-lhee, kondisi pelabuhan saat rekonstruksi aceh pasca tsunami saat itu masih dalam kondisi darurat. Dan beberapa perubahan tata ruang kota Banda Aceh yang sudah banyak berubah dibanding dulu saat saya tinggalkan.

Pada bagian-bagian tertentu novel ini ada menggunakan dialog dalam bahasa jerman, syukurnya saya dibantu oleh mba Rima Ria Lestari yang bersedia membantu saya untuk membenarkan letak tata bahasa Jerman. Dan terakhir orang yang cukup berkontribusi dalam novel ini teman se-aliyah dengan saya Yusrizal yang juga membantu saya untuk mengetahui sedikit tentang Bundes Liga.

Seminggu sebelum deadline, atau tepatnya 3 minggu saya sudah menyelesaikan 173halaman, waktu yang lebih lama seminggu daripada saat saya menyelesaikan Looking for Mr.Kim (2 minggu), tentu ini sudah memenuhi target yang diminta. Tapi editor saya ini sedikit usil, belum sebulan tiba-tiba dia mengirimi saya email, intinya dia nanya “apa kabar mba? Naskah..gimana naskah?” (busheettt dahhh…belum sebulan udah main tagih ajah heuheuheu..)

Naskah 173 halaman itu pun akhirnya saya kirim sebelum deadline, berhubung editor tercinta ini kerjanya cepet, 2 hari kemudian dia kirim kembali naskah saya yang menjadi full color kayak warna pelangi, intinya saya harus revisi di beberapa bagian, namun yang sudah pasti saya harus menambahkan banyak kalimat lagi, hasilnya naskah 173 halaman itu menjadi 200 halaman (batasannya tak boleh lebih dari 200 halaman) setelah 2 hari saya pelototi. Syukur hanya sekali revisi dan Alhamdulillah selesai, naskah itu masuk juga ke tahap proofing, dan saya pun lega.

Harapan saya sama dengan buku-buku yang saya tulis sebelumnya, semoga saya bisa memberikan kontribusi dan warna dalam dunia literasi Indonesia, tentu saja dalam hal ini untuk mempromosikan Sabang sebagai icon tujuan wisata selanjutnya jika pelancong berkunjung ke Indonesia selain Bali, Bunaken atau Raja Ampat.

Setelah novel SUNSET IN WEH ISLAND ini terbit, harapan saya selanjutnya dapat diterima di lingkungan pembaca remaja (khususnya) sebagai bacaan yang menghibur, menambah informasi dunia wisata yang dikemas dalam sebuah kisah cinta di tanah Sabang. Jika pun ada kekurangan dalam novel ini, anggap saja itu bagian dari proses saya belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik di waktu yang akan datang.  Terimakasih.

Jakarta, 06 January 2013
Pukul 23.14 WIB
Aida MA.

0 komentar:

Posting Komentar