Jumat, 04 Januari 2013

Kecanduan K-Drama?


Cinta Film Indonesia




              Sekitar tahun 90-an sampai dengan awal 2000-an layar kaca kita sempat semarak dengan film-film keluaran Bollywood dengan alunan lagu dan hentakan tariannya. Begitu juga untuk drama miniseri dorama sejenis telenova yang ditayangkan setiap pagi di tv swasta, sampai menyedot banyak perhatian penonton Indonesia. Sebagian yang saya ingat telenovela itu sejenis Marimar, Maria Marchedes dan lain-lain.
            Saking memboomingnya film-film India saat itu, India bahkan disebut-sebit dengan negeri Bollywood karena kemampuan mereka memproduksi film hingga berjumlah ratusan film dalam setahun menjadikan India sebagai hollywoodnya Asia, atau digelari dengan kata Bollywood.

Telenovela Marimar

            Namun di jaman linimasa ini pengaruh dua jenis film tadi mulai bergeser, film-film keluaran Bollywood mulai terpinggirkan walaupun mungkin masih ada pencinta Bollywood yang cukup setia dan masih ada yang recommended. Bahkan telenovela sekarang sudah tak pernah terdengar lagi kabarnya di stasiun TV swasta yang dulunya sempat menayangkan drama latin tersebut.

Salah saut fil Bollywood yang recommended

            Saat ini giliran K-Drama sedang menguasai dunia. Bukan hanya Indonesia saja ternyata yang kena demam korea, namun Asia bahkan K-Pop pun sudah mendunia. Hampir semua TV swasta seolah berlomba-lomba menayangkan drama seri Korea yang bisa dipastikan lebih banyak menyedot penonton dan meningkatkan rating penyiarannya.

            Sebuah fakta yang memang sedang terjadi di sekitar kita, namun di balik itu semua, saya lebih tertarik mencari alasan, mengapa penonton memilih K-Drama? Bukan yang lain, atau bisa dengan produk local sejenis sinetron atau FTV yang juga cukup menarik untuk ditonton di Indonesia.

            Saya pikir, setidaknya ada beberapa hal yang membuat K-Drama Booming hingga membuat kecanduan.

Pertama, karena mereka menabrak pakem yang terjadi dalam sinetron-sinetron di Indonesia. Pada dasarnya K-Drama masih mengangkat tema yang sederhana, misalnya cinta segitiga, atau si kaya ketemu si miskin. Namun mereka mengemasnya lebih cerdas. Terbukti dari dialog-dialog scenario mereka yang berkualitas seperti pada film King 2 heart dan Bethoven Virus dengan dialog-dialog yang cerdas.

Bethoven Virus

Kedua, setidaknya K-Drama tidak kejar tayang dengan menetapkan jumlah episodenya maksimal 25 episode. Salah seorang  mentor scenario saya cerita. Bahwa sebagian besar Sinetron di Indonesia kejar tayang memiliki penulis scenario mencapai sepuluh orang. Bisa dipastikan rasanya akan gado-gado ketika sebuah scenario ditangani oleh 10 ide yang berbeda, 10 gaya bercerita yang berbeda. Jadi, memang sedikit kaget jika dalam sinetron Indonesia tiba-tiba akan hadir tokoh antagonis lain yang tidak ada hubungannya dengan cerita di awal. Atau sinetron itu bisa sampai berkali-kali edisinya. Katakanlah tersanjung yang sampai Tersanjung 7, rasanya-rasanya terlanjur hambar dan cerita yang berubah-ubah dengan taste yang berbeda membuat penonton  keburu kabur.

Ketiga, Faktor actor dan actris yang bermain di K-Drama memang menjadi salah satu daya jualnya di sini, apalagi belakangan banyak sekali adegan dalam K-Drama yang menampilkan tubuh atletis pemainnya, terutama actor-actor yang baru saja kembali dari wajib militer, dengan tampilan otot bisep dan perut yang sixpack.

Keempat, OST, ya Original Soundtrack dalam K-Drama kebanyakan bernada mellow-romance. Jika sudah jatuh cinta pada dramanya, biasanya penonton juga bakal mengunggah untuk soundtracknya. Beberapa penempatan lagu yang mellow sangat tepat menjadikan soundtrack salah satu hal yang diuber-uber penonton. Bahkan unggah untuk sebuah lagu that’s woman dalam secret garden bisa diunggah hampir semua orang di dunia.

Secret Garden

Kelima, Time limit yang tepat. Ini yang sepertinya sangat diperhatikan dalam produksi K-Drama, meski drama tersebut bergenre saeguk-sejarah namun tetap tak begitu terasa membosankan untuk disimak sampai akhir. Penempatan time limit yang tepat biasanya akan membuat penonton penasaran, atau kemudian cooling down bersiap-siap untuk ending yang biasanya happy ending.

Keenam, lebih manusiawi. Walaupun pada dasarnya format cerita itu selalu si pejuang akan berdarah-darah di awal dan menang belakangan, namun tokoh dalam K-Drama dibuat sisi lemah dan sisi kuatnya tak selamanya bisa ditindas. Manusiawi karena bisa saja si tokoh utama punya kebiasaan buruk (ileran, misalnya) seperti dalam princess hour atau ceroboh dan terlalu gampang dibodohi seperti pada Personal taste. Menariknya lagi di K-Drama tidak ditemukan tokoh antagonis dengan mata terbelalak atau seperti pada telenovela, si tokoh utama sangat ditindas kejam di awal-awal cerita.

Personal taste

Ketujuh, Unsur Budaya dan setting cerita. Saya pikir sinetron Indonesia harus melirik satu ini, bagaimana unsur budaya Korea bisa dimasukkan dalam cerita, sehingga mampu memikat pelancong untuk datang ke korea, hanya dari menonton K-Drama. Bahkan pengakuan banyak orang yang sudah ke Bali, Lombok dan ke pulau Jeju. Menurut mereka masih lebih menarik Bali daripada Jeju.

Dari sekian magnet K-Drama bukan berarti drama-drama keluaran negeri Suju ini tidak ada kekurangannya. Hanya saja sebagai penonton seharusnya lebih cermat memilih. Biasanya K-drama menampilkan adegan kissing berdasarkan umur si tokoh cerita. French kisses untuk tokoh yang sudah bekerja, Korean-kiss (menempelkan bibir saja) jika tokohnya masih SMA. Atau bisa saja di tokoh utama yang biasanya dijadikan idola itu punya scene seputar seks sebelum nikah, hal-hal yang seperti ini yang saya pikir harus lebih dipilah dipilih.

            Bahasan di atas tadi kebanyakan berlaku untuk drama seri, namun untuk kualitas film Korea, sepertinya film-film Indonesia masih jauh lebih bagus dan menarik, selama film Indonesia tidak berbau horror dan jual body, saya yakin film Indonesia pantas dapat appresiasi terbaik.

Very Recommended
 Sebuah kebanggaan jika Film Indonesia bisa membuat semua penonton Indonesia menjadi candu untuk menunggu lagi lalu memberikan appresiasi terbaik untuk hasil karya anak Indonesia.

Jakarta, 5 January 2013
Pukul 2.05 dini hari
Aida MA

0 komentar:

Posting Komentar