Rabu, 02 Januari 2013

Resolusi, Perlukah?


Buku-buku saya 



              Katakanlah saya katro, karena saya sama sekali tidak pernah merayakan atau sekedar masak ayam bakar untuk tahun baru. Sejak 2008 lalu satu-satunya moment yang paling menarik saat tahun baru hanya saat usia anak saya bertambah di tanggal 01 January, ya persis tahun baruan yang selalu dirayakan semua orang sedunia.

            Hal lain yang selalu menjadi menarik di tahun baru mungkin banyak orang yang tiba-tiba ikutan bikin resolusi di awal tahun untuk satu tahun ke depan, Saya engga bilang budaya menyusun resolusi ini budaya yang latah, karena selama itu bagus, didasari niat dan pelaksanaan, tentu saja itu bisa menjadi hal yang patut dilestarikan (hehehe.)

            Saya sendiri bukan penganut penyusun resolusi pas moment tahun baruan, tapi benar saya penganut resolusi tanpa moment yang dirayakan secara massal. Saya ingat ketika seorang sahabat mengatakan pada saya, minimal kalau kamu mau melihat perubahan di dirimu kamu, bisa diamati dari akun facebookmu. Apa perubahan yang terjadi di sana, kalau dari dulu cuma begitu-begitu doang, atau statusmu cuma omongin keluhan, engga ada hasil karya apapun, bisa jadi kamu nyusun resolusi cuma buat ikut-ikutan biar kalau ada yang nanya “Apa resolusi kamu tahun ini?” setidaknya sudah punya jawaban dan segudang list sekaligus lengkap action plan untuk wujudkan impian kamu.

            Saya tertarik dengan istilah pak Naqoy tentang One Minute Awarness, bahwa seseorang berubah, berarti maju ke depan bisa jadi bukan karena sebuah perayaan, setiap kita punya gong perubahan itu kapan saja, dimana saja dan dari siapa saja. Sementara tahun baruan hanya sebuah moment perayaan yang dibarengi dengan sebuah atau dua buah resolusi. Tidak mengapa jika ingin berubah setiap tahun baru dan punya cita-cita baru, tapi sampai saat ini saya sadar bahwa sebanyak apapun list keinginan saya untuk berubah, punya impian baru tak akan berguna jika saya tidak bergerak untuk berubah.

            Nah kenyataan seperti ini yang kemudian banyak saya jumpai termasuk pada anak-anak didik saya. Mereka membuat resolusi bukan hanya satu bahkan sampai tiga resolusi. Setiap per enam bulan kemudian saya mulai evaluasi setiap resolusi mereka, dan yang hanya melaksanakan resolusi itu tak sampai 5 orang dengan pencapaian 30-40 persen.

            Jadi kembali pada seberapa banyak kita bergerak untuk berubah, bukan seberapa banyak keinginan untuk berubah. Karena ingin hanya sampai pada ingin saja, namun tidak menghasilkan apa-apa ketika kita hanya sampai pada persepsi ingin dan tidak mencapai konnfirmasi ingin J.

            Sejujurnya tahun lalu saya hanya membuat satu resolusi saya, bisa menerbitnya 1 buku solo, terserah mau di penerbit manapun yang penting saya harus menerbitkan satu buku saja.

            Mungkin benar ketika dikatakan bahwa ada kondisi semesta mendukung (MestaKung) saat kita benar-benar berniat dan mengupayakan semaksimal mungkin kekuatan untuk menggoalkan sebuah cita-cita. Dan itu terjadi dalam dunia menulis yang saya alami sekarang ini.

            Setidaknya dalam tahun 2012, saya sudah melahirkan 1 buku Kumcer, 1 novel remaja, 1 Buku Motivasi. 2 naskah Novel yang saya selesaikan dengan tekanan deadline, masih ada beberapa cerpen, resensi film dan esai yang saya tulis sebagai selingan sebagai ajang agar selalu candu untuk menulis. mungkin pencapaian ini sangat sederhana dibandingkan orang lain, tapi buat saya itu cukup baik untuk melecutkan kaki saya agar bergerak lebih cepat untuk mengurangi ketinggalan-ketinggalan saya selama ini, atau menggerakkan pena saya lebih sering agar mengabadikan lebih banyak aksara lagi untuk ke depan.

            Saya percaya ada kekuatan doa  dalam setiap usaha, namun saya juga percaya ada kekuatan pikiran yang terus berpikir kreatif dan keluar dari kondisi nyaman, nyata nya semua buku saya yang terbit tahun 2012 semuanya di bawah tekanan keadaan lingkungan, deadline dan proses menunggu yang cukup lama.

            Jadi, kembali pada momen tahun baru ini. Jika ingin membuat sebuah atau dua buah resolusi silahkan, tapi alangkah baiknya keinginan itu dibarengi dengan kedisplinan dan tekad, kira-kira seperti itu kalimat yang saya ucapkan pada mantan santri saya dulu via sms.

Kedengarannya ucapan saya sangat standart, namun bagi yang sudah terbiasa dengan disiplin dan melaksanakan setiap resolusinya pasti tahu bagaimana konsekuensi dari kalimat tersebut. Setidaknya postingan ini bisa menjadi pengingat buat saya sendiri yang baru memulai karier menulisnya di dunia literasi Indonesia.

            Selamat Tahun Baru dan Good luck… J
           
           
Jakarta, 2 January 2012
Pukul 21.28 WIB
Aida MA

5 komentar:

  1. saya gak biasa membuat resolusi. Kecuali ikut lomba atau GA :D hihihi latah ya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahha...resolusi dadakan dan kepept itu namanya mba, biasanya jauh lebih mujarab wkwkwkwk..

      Hapus
  2. idem ma mugniar... aku nulis resolusi guna memenuhi tuntutan give away atau lomba yang hadiahnya semua resolusi akan dibukukan.. hehehe..tapi gara-gara udah nulis, jadi berusaha keras untuk memenuhinya sih, karena malu juga dah nulis tapi gak dikerjain.. jadi saranku: mending gak usah bikin resolusi emang, hidup jadi lebih santai dan rileks... (hahaha...komen ngaco, gak usah didengar)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwkw....aku juga bukan penganut resolusi tahun baru mba..biasanya kita pasti bikin resolusi kalo udah kepepet...biasanya ajibbb tuh xixixxi

      Hapus
  3. hahahaha ketauan yg komen diatas, ikutan giveaway kuuuu. aku juga ngga biasa buat resolusi, tapi krn ultahnya awal tahun ya sekalian ajah muhasabah diri dan bikin perencanaan ke depan, krn buatku hidup tanpa recana itu sama aja kayak roda pedati yang menggelinding di jalan menurun, tabrak sana-sini ngga ada juntrungannya.

    BalasHapus