Kamis, 07 Februari 2013

Right Girl On The Right Job (Resensi Film The Mistress, Tagalog Film)







Directed by
Olivia Lamasan

Produced by
Elma Medua
Malou Santos

Written by
Olivia Lamasan
Vanessa Valdez

Screenplay by
Vanessa Valdez

Story by
Vanessa

Starring

Music by
Von de Guzman

Cinematography
Hermann Claravall
Editing by
Marya Ignacio

Distributed by

Release date(s)
September 12, 2012

Running time
125 minutes[1]

Country
Philippines

Language
Tagalog
English

Taken from www.wikipedia.com



            The Mistress, film yang menggunakan bahasa pengantarnya Tagalog dan Inggris ini memiliki judul yang sedikit kontroversi, The Mistress yang berarti wanita simpanan, bisa langsung ditebak bahwa genre film ini dewasa, tidak untuk ditonton oleh remaja. Ini adalah film Filiphina yang pertama saya tonton. Bahkan sebagian besar pemainnya saya tahu kemudian sebagai top stars di Filiphina setelah melakukan googling.

            Kita mulai dari plot yang ditawarkan oleh The Mistress. Saya pikir film ini dibuka sedikit klise, dimana pertemuan Sari (Bea Alonzo) dan Eric (John L Cruz) di toko buku. Scene awal yang membuat saya membenarkan kalimat bahwa laki-laki bisa jatuh cinta lewat mata baru kemudian hati. Satu-satunya yang menarik di bagian opening hanya wajah Bea Alonzo yang blasteran, karena memang memiliki ayah yang Brithis dan ibu Filiphina membuat frame layar film terasa agak bening (heheh).

            Penggambaran dua tokoh utama dalam film ini juga biasa saja. Eric, anak laki-laki dari pemilik perusahaan telekomunikasi di Filiphina, lulus di arsitek dan tidak mau mengurusi perusahaan ayahnya, dan Sari, seorang cutter di sebuah tailor ternama, namun berasal dari keluarga yang besar dan miskin.
           
Saya pikir menarik di sini adalah ketika Eric yang jatuh cinta kepada Sari, yang ternyata menjadi wanita simpanan ayahnya selama lima tahun. Tidak seperti gambaran wanita simpanan lainnya yang berusaha mengeruk harta laki-laki kaya, hubungan yang terjadi biasanya karena motif ekonomi. Tokoh Sari justru digambarkan di sini sebagai sosok “Angel” saya yakin sebagian besar penonton akan bersimpati pada sosok yang seharusnya “negative” tapi dijadikan sedikit berwarna “positif”. Tampilan yang berbeda yang disuguhkan oleh Olivia sang sutradara.
           
Film ini menarik di bagian tengah, bagaimana proses Sari jatuh cinta pda Eric dan sebaliknya. Rico (Ayah Eric) yang selama ini menjadikan Sari wanita simpanannya ternyata memang jatuh cinta pada Sari. Hanya saja ketidakwajaran nafsu banyak bermain di sini. Coba bayangkan saja, satu wanita having seks bersama Ayah dan Anak dalam kurun waktu yang bersamaan, inilah yang ingin digambarkan sutradara Olivia L Lamasan dalam kisah cinta Sari, Eric dan Rico di  sini.
           
Walaupun saya baru pertama kali melihat acting Bea Alonzo dan John L Cruz dalam film ini, saya bisa memberikan mereka berdua tiga bintang. Actingnya natural, tanpa beban dan memang pantas dijadikan the best couple di Filiphina.
           
Jika saya boleh menghubung-hubungkan, saya rasa Film ini sepertinya cocok menggambarkan suasana politik Indonesia saat ini, topic “Gratifikasi Seksual” yang sedang marak saat ini dengan wanita simpanan atau istri yang dinikahi di bawah tangan.

            Ada pergeseran nilai yang terjadi dalam The mistress, ketika penonton justru berusaha membela Sari dan itu juga yang terjadi pada saya. Saya pikir Olivia ingin menyampaikan sebuah pesan tersirat bahwa jangan menilai seseorang dari posisinya, tapi personalnya, seperti halnya Sari, wanita yang baik tapi berada di posisi yang salah. Tapi belakangan saya berpikir bahwa setiap kita punya kemampuan untuk memilih berada di posisi itu atau tidak. Syukurnya saya menemukan pesan-pesan yang dinarasikan di bagian antiklimaks yang membuat Film ini layak berada dalam barisan box office di Filiphina.

Jakarta, 8 February 2013
Pukul 10.10 WIB
Aida MA

           

           


            

0 komentar:

Posting Komentar