Selasa, 12 Maret 2013

Profil Aida MA di TNOL (Portal Komunitas)


Profil

Dihujani Curhat, Inspirasi Aida Menjadi Penulis

bisa dibuka di http://www.tnol.co.id/profil/20639-dihujani-curhat-inspirasi-aida-menjadi-penulis-.html

Susi

Senin, 11 Maret 2013

Aida Maslamah dan beberapa karyanya/ Foto-foto: Susi TNOLAida Maslamah dan beberapa karyanya/ Foto-foto: Susi TNOLBerawal dari banyaknya teman yang mencurahkan isi hatinya alias curhat, ternyata menjadi inspirasi  Aida Maslamah dalam menulis. Kini, ia pun menjadi seorang penulis dan terus berkarya.

“Teman-teman saya suka curhat, sedikit-sedikit curhat, sampe saya ngomong pada diri sendiri “di jidat saya ada tulisan Share To Me” kali ya. Nah, hasil cuhat-curhat itu kan nggak mungkin ditahan sendiri, akhirnya saya tulis dan posting di info bunda.com, dan sebagian besar tulisan saya itu menjadi headline,” begitulah jelas Aida kepada TNOL saat ditemui di Islamic Book Fair, Minggu (10/3).

Lalu, wanita yang disapa Aida ini pun terlintas dipikirannya untuk menjadikan tulisan dari curhat teman-temannya itu menjadi sebuah buku, sampai akhirnya memiliki tiga buku. “Pada 2012, aku menang lomba novel khusus remaja di Penerbit Bentang Belia, dari situ terus nerbitin buku-buku lainnya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kebanyak tulisannya tersebut adalah novel remaja dan buku motivasi Islam, seperti buku Ya Allah Berikan Aku Kekuatan, di mana masuk ke dalam buku laris;  Ketika Cinta Harus Pergi, Looking For Mr.Kim, dan Sunset in Weh Island.

Ketika menyelesaikan sebuah buku atau novel, ibu dari seorang putri bernama Nazira ini termasuk penulis yang cepat. Bahkan, dia pun pernah memecahkan record dalam satu hari menulis 50 halaman. Kira-kira apa ya rahasianya? “Semangat”, jawabnya singkat.

“Kalau aku suka ngisi materi selalu bilang gini  ‘metode, teknis itu bisa kita pelajari, tapi semangat itu harus dari diri sendiri, jadi aku percaya, selain KITA PUNYA KEKUATAN DOA KITA JUGA PUNYA KEKUATAN PIKIRAN. “

Aida pun bisa menulis dalam keadaan apapun dan tidak pernah memiliki waktu khusus untuk menulis.  “Jadi sambil nemenin anak belajar dan bermain, di situ aku nulis. Kalau waktunya dikhususin keburu hilang idenya.”

Ia pun memiliki cara agar sebuah buku atau novel diterbitkan penerbit, yaitu dengan menjaga hubungan baik dengan pihak penerbit secara profesional.  “Seperti, mereka minta nyelesain naskah dua hari, aku selesain satu hari, mereka minta satu bulan, aku selesain 3 minggu, misalnya. Jadi mereka suka, akhirnya besoknya ditawarin lagi. Terus kita harus paham visi misi penerbit, maunya kayak gimana, lagi butuh naskah seperti apa, jangan malu-malu bertanya ke editor.”

Izin Anak
Aida bersama teman komunitas penulisAida bersama teman komunitas penulisNamun, ketika akan menulis, wanita kelahiran 27 Agustus 1982 ini harus meminta izin terlebih dahulu pada anaknya.

“Setiap saya mau nulis harus minta izin dulu, minta izin waktu dan bilang padanya ‘boleh gak bunda nulis dulu’, biar waktu bermain saya sama anak gak boleh saya habisin untuk menulis,” imbuhnya

Meski selalu memiliki semangat dalam menulis, bukan berarti wanita asal Aceh ini tidak pernah kehilangan mood menulis. Diungkapkannya, “Begitu bad mood, langsung cari ide di luar, nongkrong di toko buku, baca segala jenis buku, nonton segala jenis film.”

Selain disibukkan mengurus anak dan menulis, Aida juga menjadi pengajar di SMP Sabiluna, Pondok Ranji, Bintaro selama 3 tahun, di sana ia mengajar kelas jurnalistik dan motivasi.

“Kebanyakan di SMP itu anak kurang mampu, jadi memang terbatas. Tapi, mereka pingin punya kelas menulis,”jelas Aida yang juga mengatakan tidak sedikit para siswanya yang ketika lulus dan masuk SMA mengembangkan ilmu jurnalistik yang telah diajarkannya, seperti dengan membuat mading (majalah dinding)

Tidak hanya itu, para siswanya juga termotivasi untuk membuat sebuah novel seperti dirinya. “Ada yang sampai mengajukan outline-nya, mungkin lihat saya ngeluarin novel. Ada juga yang datang ke rumah untuk mengundang dalam launching majalah pertamanya di sekolah, dan ketua madingnya itu murid saya saat di SMP,” terang Aida.

Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Aceh ini juga sering diundang oleh FLP (Forum Lingkar Pena) untuk menjadi nara sumber yang berhubungan dengan bagaimana cara menulis. 

Aida pun bersyukur sang suami, Eri Prihandri sangat mendukung, bahkan ketika buku atau novelnya terbit. Tak jarang sang suami langsung mengeceknya ke toko buku dan memberikan pujiannya.(Sbh)

0 komentar:

Posting Komentar