Rabu, 17 April 2013

Tips Menulis Sinopsis Cerita


Begini cara menulis sinopsis cerita

Percaya atau tidak bahwa sebuah sinopsis mampu menarik perhatian editor atau rumah produksi.

menulis sinopsis @ilustrasi
MENURUT sebagaian orang menembus sebuah penerbitan atau rumah produksi perfilman agaknya gampang-gampang susah. Namun menurut Arswendo Atmowiloto kunci utamanya justru terletak pada sinopsis cerita yang ingin ditawarkan penulisnya ke penerbit atau production house.
Penulis Novel Sunset in Weh Island, Aida M.A, memberikan tips penting bagaimana caranya membuat sinopsis yang bagus dan menarik, sehingga dilirik oleh penerbit. Menurutnya, percaya atau tidak bahwa sebuah sinopsis mampu menarik perhatian editor atau rumah produksi. Ia memberi contoh, beberapa film yang tampil di layar kaca atau novel-novel yang sudah bereda di pasaran, semuanya diawali dengan sinopsis yang keren.
Untuk membuat sinopsis yang tidak asal-asalan, menurut Aida ada tujuh pertanyaan yang minimal harus terjawab dan tergambar dalam sinosip yang dibuat. Tujuh hal ini akan menggambarkan secara umum bagian besar isi cerita yang dibuat penulisnya. Apa saja itu?
Pertama, siapa tokoh utama cerita? Agar menarik, penulis bisa menambahkan sedikit karakter si tokoh utama. Mulai dari parasnya, caranya berjalan, sikapnya, sehingga saat penulis membicarakan si tokoh utama, maka akan terbangun karakter dari tokoh utama.
Sebagai contohnya, dalam fanfic The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick. Tokoh Hugo, anak kecil yang berusia 12 tahun, memiliki rambut ikal, mata berbinar, suka mencuri makanan, dan sangat ahli dalam memperbaiki dan merawat mesin-mesin terutama jam dinding di stasiun kereta api di kota Paris. (The Invention of Hugo Cabret–Brian Selznick).
Kedua, Apa yang dihadapi oleh tokoh utama? Atau apa keinginan, masalah yang dihadapi oleh tokoh utama? Terkadang masalah atau keinginan yang dialami oleh si tokoh utama sangat sederhana saja, mungkin bisa karena permasalahan percaya diri karena memiliki tubuh yang pendek (dalam cerita remaja) atau masalah-masalah yang rumit lainnya. Sinopsis yang baik harus mampu menghadirkan premisini, dan mampu menjawab apa masalah yang dihadapi si tokoh utama.
Sebagai contoh masalah yang dihadapi oleh tokoh Humbert. Humbert dalam Lolita, sebuah novel Vladimir Nabokov berceritakan tentang Humbert seorang professor yang terobsesi pada gadis remaja yang bernama Dolores Haze- sang Lolita, gadis remaja yang mengingatkannya pada kekasih di masa ia remaja, yang bernama Annabelle.
Ketiga, Siapa yang menghalangi si tokoh utama dalam menyelesaikan masalahnya atau mencapai keinginannya? Dalam sebuah sinopsis juga harus menyelipkan seorang tokoh antagonis yang berhadapan langsung dengan si tokoh utama. Tokoh antagonis ini tak selalu harus menjadi musuh utama seperti dalam film action, tapi seseorang yang menghalangi tujuan atau keinginan dari si tokoh utama pun bisa dikatakan seorang tokoh antagonis. Tanpa adanya si tokoh antagonis ini sinopsis akan terasa datar-datar saja.
Contohnya bisa dilihat dalam Film The Vow, sebuah film besutan dari sutradara Michael Sucsy, bagaimana peran orang tua Paige untuk memisahkan Paige yang sudah menikah dengan Leo.
Keempat, Bagaimana si tokoh utama mencapai keinginannya, atau menyelesaikan masalahnya. Ini merupakan point penting dalam sebuah sinopsis, jika dipaparkan dengan cara yang unik, bisa dipastikan akan menarik untuk dibaca.
Misal saja, tokoh Humbert (Lolita, Vladimir Nabokov) agar bisa mendekati Lolita, maka ia menikah dengan Ibu Lolita, begitu ibu dari gadis itu meninggal dunia, maka ia bisa leluasa membawa Lolita jalan-jalan mengelilingi Amerika Serikat selayaknya sepasang kekasih.
Kelima, bagaimana perubahan dari si tokoh utama dalam menyelesaikan masalahnya? Bagian ini bisa ditampilkan sedikit atau secara umum saja dalam sebuah sinopsis, bagaimana proses jatuh bangun si tokoh utama, sehingga mampu menciptakan dramatisasi yang sangat menarik dan membuat editor penasaran.
Keenam, Apa pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita? Dalam hal ini bisa disisipi dalam sebuah sinopsis, menurut Aida sebuah cerita ada baiknya memiliki misi dan pesan bagi pembacanya, begitu juga perlu menghadirkan pesan dalam sebuah sinopsis, bukan harus pesan tertulis seperti dalam teks book, namun pesan tersebut berbaur dalam alur cerita dalam sinopsis cerita.
Ketujuh, Bagaimana gaya penulisan dan cara tutur penulis. Ini menjadi point terakhir, akan berjalan seiring waktu ketika penulis sudah memulai menulis cerita dalam sinopsisnya.[] ihn
- See more at: http://www.atjehpost.com/gaminong_read/2013/04/17/48313/430/6/Begini-cara-menulis-sinopsis-cerita#sthash.8N7XAERF.dpuf

Saatnya Memikat Pembaca Lewat Setting Cerita


    Tips Menulis dari saya, bisa dibaca juga di sini


    Saatnya memikat pembaca lewat setting cerita

    AIDA MA | Foto : Menulis @ilustrasi | Aida MA @istimewa
    AKHIR-akhir ini banyak sekali novel-novel di pasaran yang fokus utamanya pada tempat atau setting cerita. Termasuk dua novel remaja yang saya tulis menonjolkan setting yaitu Korea di Looking for Mr. Kim dan PulauWeh, Sabang di Sunset in Weh Island.

    Memang benar setting punya kontribusi yang sangat penting dalam menciptakan dinamika plot dalam cerita. Bahkan sebuah novel yang memiliki penggambaran setting yang bagus bisa membuat pembaca merasa ada dan mendadak ingin mengunjungi tempat tersebut.

    Berikut saya bagi beberapa tips, bagaimana mendapatkan info setting serta menampilkannya dalam sebuah cerita pendek atau novel.

    Niat awal

    Mungkin ini selalu menjadi cirri khas saya dalam segala hal. Saat kita menentukan sebuah setting, berarti kita siap dengan komitmen untuk mengeksplorasi kota yang menjadi setting tempat dari cerita yang kita pilih. Komitmen untuk melakukan riset, mempelajari budaya, makanan bahkan bahasa yang digunakan oleh warga setempat.

    Mengapa perlu komitmen? Karena membuat narasi dalam sebuah cerita, menggambarkan tempat yang belum pernah kita kunjungi itu tidak mudah, sehingga sebagian orang akan berhenti di jalan, dan akhirnya akan terkesan menempelkan saja beberapa info yang didapatkan dalam naskahnya. Karenanya di sini penting niat dan komitmen untuk meriset sedalam mungkin.

    Riset

    Apa yang ingin ditampilkan dalam sebuah cerita? Misalnya, Frankfurt International Airport. Bagaimana supaya orang lain tahu, bahwa ada skyline di airport tersebut, ada terminal bus, ada terrace visitor dan plang info tentang luas air port.

    Dari mana mendapatkan infonya? Yang paling mudah tentu saja kita bisa mencari di google, sebagai pustaka segala ada, info lanjutan bisa lewat buku-buku travelling, bila dana tidak cukup untuk membeli buku-bukunya, bisa nongkrong di toko buku untuk beberapa saat, sumber lainnya bisa didapatkan dari foto-foto tempat yang ingin dijadikan sasaran setting, kumpulkan semua foto-foto lalu pelototin deh semua foto-fotonya, sehingga kita bisa memberitahu kepada pembaca bahwa bandara Incheon itu sangat luas, bersih, dan memiliki kerangka baja yang kokoh di bagian atapnya.

    Jika ingin menggambarkan bagaimana indahnya bunga tulip di Belanda atau sakura bermekaran di Jepang, tentu harus melihat foto-fotonya bila penulis belum pernah berkunjung kesana, atau budaya Hanami, yang mungkin bisa dieksplore saat musim semi di Jepang, dan sebagainya.

    Dari mana lagi sumber infonya? Untuk bahasa, jangan sungkan-sungkan untuk membeli buku percakapan sehari-hari tentang bahasa untuk sebuah negara yang dijadikan setting, gunakan kamus, dan kalau bisa cari teman yang berada di negara tersebut untuk chatting dan menanyai bagaimana tata bahasa yang benar. Itu pula yang saya lakukan dalam Sunset in Weh Island, karena sebagian menggunakan bahasa Jerman, saya sempat membeli kamus dan komunikasi dengan teman yang jago bahasa Jerman.

    Apalagi sumber info lainnya? Peta! Saat menulis Sunset in Weh Island, saya mencari peta pulau itu, menelusurij alan yang digunakan, nama jalan, tempat yang akan digambarkan dalamc erita. Saatmenulis Looking for Mr.Kim, saya mencari peta jalur subway di Korea.

    Sumber info yang terakhir saya dapatkan untuk mengembangkan setting yaitu dari Film. Film sangat membantu untukdetil tempat. Ingat bagaimana romantisnya film Winter Sonata dengan setting Namiseon Island yang memukau, setidaknya setelah melihat film tersebut, kita bisa ikut merasakan udara yang dingin, panorama yang indah dsb.

    Diksi

    Setelah mendapatkan semua info tempat yang dibutuhkan, langkah selanjutnya bagaimana membuat info yang kita dapatkan itu disusun dengan pemilihan diksi yang tidak terkesan seperti teks book. Diksi digunakan agar info-info yang kita dapatkan tidak ditempel dengan kasar, tapi mampu mengikuti alur cerita sehingga menyatu dengan plot. Menyusun diksi, berarti membuat semua organ indera bekerja, seolah-olah kaki kita sedang menginjak lantai airport, terdengar suara berdecit dari sepatu, atau mata ini seolah sedang memandang warna marmer lantai itu agak berwarna abu-abu tua.

    Di sinilah perbedaan antara buku travelling dengan penggambaran setting dalam sebuah novel. Info-info tadi bisa diselipkan dalam dialog-dialog ringan dalam cerita. Atau digambarkan lewat narasi yang detil dengan pemilihan diksi-diksi yang baik.

    Berikut beberapa contoh dari saya:

    “Laki-laki itu melongok lagi ke atas bangunan, seolah-olah matanya sedang mencari sesuatu, tapi ia tidak menemukan apa pun selain sky line kereta api cepat yang melaju kencang dari terminal ke terminal dan bus antar terminal yang berjalan melambat di antara penumpang yang turun turun.”

    “Axel berdiri sejenak memandang ombak kecil yang maju mundur menepi di antara pasir putih yang halus. Pohon kelapa tumbuh subur, tapi pohon ketapang sepertinya lebih banyak mendominasi. Beberapa bongkahan karang laut yang sudah kering tersebar di sana sini, jika mendekat sedikit saja mungkin beruntung melihat kepiting-kepiting kecil yang buru-buru lari ke dalam lubang”

    Oke, demikian sedikit tips dari saya, semoga bermanfaat, selamat mencoba dan selamat meriset, Happy Writing :-)



                Jakarta, 27 Maret 2013
                Pukul 15.43 WIB
                Aida, MA
                Penulis Novel



GA-BAW Be A Writer +++


 
gambar dari sini

                                     “Untuk kritik dan saran, silahkan kirim ke email ini…..”

Gambar dari Sinn



            Pernah kan ya membaca kalimat bernada demikian? Baik di dalam sebuah buku, acara talkshow atau kegiatan-kegiatan lainnya. Tapi pertanyaannya, apa benar saat kita menuliskan menerima kritik dan saran dalam artian sebenarnya berarti kita menerima sebuah kritik sama dengan kita menerima sebuah pujian?

            Baik, saya pending dulu setiap jawaban yang sekarang bercokol di pikiran kita masing-masing.

            Semua orang di belahan bumi mana pun menyadari bahwa kontak sosial bukan hanya di dunia nyata, akun-akun lini masa yang bertebaran memaksa siapapun mulai memiliki kontak sosial kedua lewat layar monitor dan keyboard. Tak bertatap muka namun mampu menghadirkan rasa, tak berjabat tangan namun mampu menghadirkan sayang. Lalu apa hubungannya dengan pembuka tulisan ini? Tentu saja ada hubungannya.

            Kritik dan saran juga terjadi dalam dunia lini masa, dalam komunitas-komunitas yang menjamur, dunia aksara yang tanpa penekanan nada, dengan mimic icon wajah yang sangat terbatas mampu membuat seseorang bahagia, marah, sedih dan bahkan saling bully. Kemungkinan untuk saling salah faham sangat mungkin terjadi.

            Jadi, ketika kita menuliskan “Untuk kritik dan saran silahkan kirim ke….” Apa benar sudah setulus itu kita untuk dikritik? Apalagi dikritik di dunia sosial lini masa yang kemungkinan salah faham-nya jauh lebih besar. Saya yakin jawabannya akan bervariatif, meskipun saya jauh lebih yakin bahwa kita secara pribadi sebenarnya kurang suka menerima sebuah kritikan terutama yang bernada destruktif.

            Saya percaya bahwa seseorang berkembang lebih baik (sengaja saya tidak mengatakan “hidup”) dalam balutan kalimat yang membangun, sebuah dukungan, dibanding berada dalam kalimat yang menjatuhkan. Kalimat ini saya temukan di dinding sekolah setiap kali saya mengantar anak saya yang masih TK ke sekolahnya. Bahwa seorang anak jika dibiasakan dengan pujian maka ia akan percaya diri, jika dibiasakan dengan kalimat positif maka ia akan menghargai orang lain, sebaliknya jika dicocoli dengan kalimat ejekan, hinaan dan marah maka ia terbiasa menyalahkan diri sendiri dan tidak percaya diri. Dan saya yakin ini juga berlaku pada seseorang yang dewasa sekalipun, karena kita semua berawal dari anak-anak.

            Saya pikir ini menjadi aturan yang tidak tertulis dalam komunitas penulis Be a Writer www.bawindonesia.blogspot.com, sejak awal pendiriannya hingga saat ini saya bergabung, selain dari ilmu yang super banyak di sini, saya menemukan ada kebijakan dari cara bersikap untuk meminimalisir perbedaan, mengungkapkan ide dan saran dengan santun di sini. Memberikan komentar yang konstruktif bukan destruktif, karena sepertinya semua orang di sini memasang kalimat di depan kepalanya masing-masing bahwa kritik dan saran adalah alternatif pilihan bukan sebuah keharusan.

            “Kalau mau nyampah, engga usah di sini!”

            Saya sudah pernah menemukan kalimat ini di beberapa komunitas lainnya, namun saya belum pernah menemukan kalimat ini dalam BAW. Jadi, tidak mengherankan jika setiap thread di grup ini hampir selalu ramai, karena saya merasa menemukan kedewasaan dalam berpikir dan mengungkapkan pendapat di sini. Saya yakin karena aturan yang tidak tertulis ini pula yang membuat BAW hingga saat ini masih selalu ramai di setiap postingannya.

            Saya berkembang di sini, bersama penulis-penulis yang tidak semuanya bisa bertatap muka dengan saya. Saya berkembang di sini, memacu diri dari prestasi-prestasi penulis yang sangat memukau, dari keahlian-keahlian mentor yang sabar berbagi ilmu dan dari semua anggotanya yang selalu tampak tulus memberikan semangat pada siapapun. Saya berkembang di antara kritik dan saran yang diungkapkan dengan cara canda dan tawa.

            Namun bukan berarti tidak ada kisruh dalam grup ini, rasa-rasanya sangat tidak mungkin tidak ada perbedaan pendapat jika berada dalam  sekumpulan orang yang memiliki isi kepala yang beragam, berasal dari cara didik yang berbeda, memiliki dialek yang tak sama, bahkan berasal dari dalam dan luar negeri. Namun saya selalu menemukan satu hal setiap kali kekisruhan itu berakhir, lagi-lagi dewasa dalam bersikap dan tidak memperpanjang sebuah perbedaan yang dikedepankan dibanding harus saling ngotot dan adu argumentasi.

            Apalah artinya sedikit perbedaan itu jika dibandingkan banyak hal baik yang saya temukan di sini. Buktinya saya memang berkembang di sini, bahkan empat buku saya  lahir selama kurang dari dua
tahun saya bergabung di komunitas penulis Be a Writer. Memberikan semangat lewat kata-kata dan mengkritisi sebuah tulisan dengan kalimat yang tidak menjatuhkan.


Sebagian keluarga BAW




            Selamat untuk semua sahabat Be a Writer Indonesia untuk launching blog kita, semoga kita semua menjadi bagian dari penulis-penulis Indonesia yang semakin mengibarkan bendera kreatifitas, menghargai perbedaan dan berkembang bersama dalam kebaikan dan kekurangan. Love u all.


Jakarta, 18 April 2013
Pukul 10.25 WIB
Aida, MA

Senin, 15 April 2013

GA-KETIKA CINTA HARUS PERGI


“Belajarlah dari Masalalu namun JANGAN hidup di dalamnya”

Pernah patah hati? dalam hal apa pun tentunya, baik ditinggalkan oleh orang yang paling disayangi, patah hati gagal dalam pekerjaan, atau patah hati karena seseorang yang paling penting dalam hidup kita ternyata lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Seperti yang sudah diketahui umum, salah satu obat therapy untuk patah hati adalah dengan “menulis”, therapy menulis ini sebenarnya sudah berkembang sejak tahun 1999, belakangan mulai dipraktekkan oleh Karen Baikie, seorang psikolog dari University of Wales, Australia. Tentu saja  therapy menulis di sini bukan hanya sekedar menulis, therapy menulis bisa meng-healing jika dilakukan dengan ekspresif, menuangkan semua tekanan-tekanan yang dirasakan, hal-hal buruk yang dialami ke dalam tulisan, jika dilakukan dalam jangka panjang, maka therapy menulis mampu menurunkan tingkat depresi, memperbaiki suasana hati. Ini juga sebagian anjuran yang kami cantumkan dalam bab Menulislah dan Move on dalam buku KETIKA CINTA HARUS PERGI.




Bersamaan dengan Launching dan Talkshow buku KETIKA CINTA HARUS PERGI, yang akan diadakan pada tanggal 4 MEI 2013, pukul 15.00 WIB di TM. Bookstore, DETOS, DEPOK. Maka kami berdua mengadakan event kecil serupa Give Away, bertemakan tentang Self healing dengan therapy menulis.

Biar lebih semangat, kami infokan dulu apa saja hadiah yang bisa diraih dalam Give Away KETIKA CINTA HARUS PERGI.

Untuk DUA orang pemenang terbaik akan mendapatkan masing-masing.

Voucher pulsa 100 ribu rupiah


Chocolate Homemade by Chocolieta




Pashmina cantik sponsore by El-Miq Hijab





Caranya sangat gampang.  Silahkan disimak baik-baik ya J. Give away kali ini meminta teman-teman semuanya untuk menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada diri sendiri, terkait beberapa hal yang membuat kita pernah merasa jatuh, tak berharga, atau juga kesal pada diri sendiri, tujuan surat ini untuk menyemangati diri sendiri, membuat janji dengan diri sendiri. Atau menjadi warning jika melakukan kesalahan yang sama.

“SURAT CINTA UNTUK DIRI SENDIRI”

Tehnisnya seperti apa?

a.                        Jumlah halaman bebas. Setiap orang hanya mengirimkan satu surat cinta saja.
b.                        DEADLINE postingan 2 MEI 2013 pukul 24.00 WIB.
c.                   Posting surat tersebut di blog masing-masing, atau note FB (bagi yang tidak memiliki blog, agar semakin banyak yang terinspirasi, silahkan tag 10 orang teman.
d.              Setiap surat harus menyertakan kalimat “move on” dan “Menghargai diri sendiri” silahkan hyperlink kalimat tersebut ke www.jarilentikyangmenari.blogspot.com dan www.elitaduatnofa.blogspot.com
e.                    Setiap postingan surat, link nya diinfokan di bawah postingan ini. Jangan lupa juga diinfokan di twitter dengan mention @aida_aie dan @duatnofa_elita. Bagi yang tidak memiliki twitter, silahkan share link surat tersebut di status FB dengan tag akun Aida Maslamah, A dan Elita Duatnofa.

PENGUMUMAN dua surat terbaik akan diumumkan dan dibacakan (isi suratnya) saat Launching dan talkshow buku KETIKA CINTA HARUS PERGI, pada tanggal 4 MEI 2013. Pukul 15.00 WIB di TM. Bookstore, DETOS. DEPOK.

Salam bahagia dari kami, dan kami tunggu surat-surat cinta yang inspiratif dari teman-teman semuanya.

            Aida MA dan Elita D