Rabu, 17 April 2013

GA-BAW Be A Writer +++


 
gambar dari sini

                                     “Untuk kritik dan saran, silahkan kirim ke email ini…..”

Gambar dari Sinn



            Pernah kan ya membaca kalimat bernada demikian? Baik di dalam sebuah buku, acara talkshow atau kegiatan-kegiatan lainnya. Tapi pertanyaannya, apa benar saat kita menuliskan menerima kritik dan saran dalam artian sebenarnya berarti kita menerima sebuah kritik sama dengan kita menerima sebuah pujian?

            Baik, saya pending dulu setiap jawaban yang sekarang bercokol di pikiran kita masing-masing.

            Semua orang di belahan bumi mana pun menyadari bahwa kontak sosial bukan hanya di dunia nyata, akun-akun lini masa yang bertebaran memaksa siapapun mulai memiliki kontak sosial kedua lewat layar monitor dan keyboard. Tak bertatap muka namun mampu menghadirkan rasa, tak berjabat tangan namun mampu menghadirkan sayang. Lalu apa hubungannya dengan pembuka tulisan ini? Tentu saja ada hubungannya.

            Kritik dan saran juga terjadi dalam dunia lini masa, dalam komunitas-komunitas yang menjamur, dunia aksara yang tanpa penekanan nada, dengan mimic icon wajah yang sangat terbatas mampu membuat seseorang bahagia, marah, sedih dan bahkan saling bully. Kemungkinan untuk saling salah faham sangat mungkin terjadi.

            Jadi, ketika kita menuliskan “Untuk kritik dan saran silahkan kirim ke….” Apa benar sudah setulus itu kita untuk dikritik? Apalagi dikritik di dunia sosial lini masa yang kemungkinan salah faham-nya jauh lebih besar. Saya yakin jawabannya akan bervariatif, meskipun saya jauh lebih yakin bahwa kita secara pribadi sebenarnya kurang suka menerima sebuah kritikan terutama yang bernada destruktif.

            Saya percaya bahwa seseorang berkembang lebih baik (sengaja saya tidak mengatakan “hidup”) dalam balutan kalimat yang membangun, sebuah dukungan, dibanding berada dalam kalimat yang menjatuhkan. Kalimat ini saya temukan di dinding sekolah setiap kali saya mengantar anak saya yang masih TK ke sekolahnya. Bahwa seorang anak jika dibiasakan dengan pujian maka ia akan percaya diri, jika dibiasakan dengan kalimat positif maka ia akan menghargai orang lain, sebaliknya jika dicocoli dengan kalimat ejekan, hinaan dan marah maka ia terbiasa menyalahkan diri sendiri dan tidak percaya diri. Dan saya yakin ini juga berlaku pada seseorang yang dewasa sekalipun, karena kita semua berawal dari anak-anak.

            Saya pikir ini menjadi aturan yang tidak tertulis dalam komunitas penulis Be a Writer www.bawindonesia.blogspot.com, sejak awal pendiriannya hingga saat ini saya bergabung, selain dari ilmu yang super banyak di sini, saya menemukan ada kebijakan dari cara bersikap untuk meminimalisir perbedaan, mengungkapkan ide dan saran dengan santun di sini. Memberikan komentar yang konstruktif bukan destruktif, karena sepertinya semua orang di sini memasang kalimat di depan kepalanya masing-masing bahwa kritik dan saran adalah alternatif pilihan bukan sebuah keharusan.

            “Kalau mau nyampah, engga usah di sini!”

            Saya sudah pernah menemukan kalimat ini di beberapa komunitas lainnya, namun saya belum pernah menemukan kalimat ini dalam BAW. Jadi, tidak mengherankan jika setiap thread di grup ini hampir selalu ramai, karena saya merasa menemukan kedewasaan dalam berpikir dan mengungkapkan pendapat di sini. Saya yakin karena aturan yang tidak tertulis ini pula yang membuat BAW hingga saat ini masih selalu ramai di setiap postingannya.

            Saya berkembang di sini, bersama penulis-penulis yang tidak semuanya bisa bertatap muka dengan saya. Saya berkembang di sini, memacu diri dari prestasi-prestasi penulis yang sangat memukau, dari keahlian-keahlian mentor yang sabar berbagi ilmu dan dari semua anggotanya yang selalu tampak tulus memberikan semangat pada siapapun. Saya berkembang di antara kritik dan saran yang diungkapkan dengan cara canda dan tawa.

            Namun bukan berarti tidak ada kisruh dalam grup ini, rasa-rasanya sangat tidak mungkin tidak ada perbedaan pendapat jika berada dalam  sekumpulan orang yang memiliki isi kepala yang beragam, berasal dari cara didik yang berbeda, memiliki dialek yang tak sama, bahkan berasal dari dalam dan luar negeri. Namun saya selalu menemukan satu hal setiap kali kekisruhan itu berakhir, lagi-lagi dewasa dalam bersikap dan tidak memperpanjang sebuah perbedaan yang dikedepankan dibanding harus saling ngotot dan adu argumentasi.

            Apalah artinya sedikit perbedaan itu jika dibandingkan banyak hal baik yang saya temukan di sini. Buktinya saya memang berkembang di sini, bahkan empat buku saya  lahir selama kurang dari dua
tahun saya bergabung di komunitas penulis Be a Writer. Memberikan semangat lewat kata-kata dan mengkritisi sebuah tulisan dengan kalimat yang tidak menjatuhkan.


Sebagian keluarga BAW




            Selamat untuk semua sahabat Be a Writer Indonesia untuk launching blog kita, semoga kita semua menjadi bagian dari penulis-penulis Indonesia yang semakin mengibarkan bendera kreatifitas, menghargai perbedaan dan berkembang bersama dalam kebaikan dan kekurangan. Love u all.


Jakarta, 18 April 2013
Pukul 10.25 WIB
Aida, MA

5 komentar:

  1. jadi, boleh nyampah dong, mba aida? hihi :D asal dapet solusi ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampah dibuang di tong sampah, jangan lupa ada yang organik dan an organik dan B3 xixixixi

      Hapus
  2. Berkat baw vi bisa mengenalmuuu, mbak berjari lentik yang benar2 menari sehari 50 halaman....wowww

    BalasHapus
  3. Silahkan dik, kalo mau nyampah,.. hehhee mantap tulisannya!

    BalasHapus
  4. Terima kasih atas tulisan GA BAW, Aida.. suksess selalu :D

    BalasHapus