Jumat, 17 Mei 2013

OST KETIKA CINTA HARUS PERGI





Meski buku motivasi Islami, KETIKA CINTA HARUS PERGI juga punya original soundtrack.
Lagu dan liriknya diciptakan oleh orang yang spesial banget dalam hidup sahabat-sahabat kami.
Beliau kami panggil Aa Ogest, seorang mantan penyanyi cilik yang terserang virus GBS dan mengakibatkan beliau lumpuh.

lirik ini kemudian di arransement oleh sahabat kami juga The Prasasti Band dan dinyanyikan pertama kali di depan public saat launching dan Talkshow buku KETIKA CINTA HARUS PERGI, Sabtu 04 Mei lalu di Depok Town Square, Depok.

Berikut liriknya ya.

KETIKA CINTA HARUS PERGI.

Cipt. Aa Ogest
Arrs. The Prasasti Band.

Tak Pernah Terpikir
Ini kan Terjadi
Apakah ku akan sanggup.

Dalam Hati ini, robek dan terpuruk karena
Kuharus menerima yang telah terjadi.

Ketika Cinta Harus Pergi
Meninggalkan dia yang telah aku miliki
Bersama cintamu banyak kisah yang kulalui
Kuikhlaskan kini kau pun harus menjauh pergi.

Ketika Cinta Harus Pergi.
Walau tak mampu menghapus semua rasa ini
Bersama cintamu aku merasakan sempurna
Mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri...
Cinta.


Minggu, 12 Mei 2013

Berita Launching KCHP dan BAW


tnol.co.id > Aktivitas Komunitas > Be A Writer Lahirkan Penulis Terkenal

Be A Writer Lahirkan Penulis Terkenal

Written by Susi

Saturday, 11 May 2013

Aida saat serah terima Moc-up dari Manager TM-Bookstore/DokAida saat serah terima Moc-up dari Manager TM-Bookstore/DokBeberapa komunitas penulis telah melahirkan penulis-penulis dari Nol sampai menjadi terkenal seperti halnya komunitas Be A Writer(BAW) Indonesia. Lihat saja, Aida MA dan Elita Duatnofa, anggota BAW sukses menelurkan karya-karyanya, seperti novel duetnya Ketika Cinta Harus Pergi (KCHP).

Hal ini terbukti pada penjualan novelnya di toko buku TM Bookstore, Depok menjadi novelbestseller dan salah satu novel yang direkomendasikan kepada para pengunjung toko buku tersebut.

Beberapa waktu lalu, Aida dan Elita juga telah me-launching novelnya di TM Bookstore yang tentunya dibanjiri oleh pengunjung. Bahkan, pengunjung berbondong-bondong membeli novel KCHP. Dan, tak sedikit mereka meminta tanda tangan dari penulisnya.

Aida memberikan beberapa alasan mengapa buku ‘Ketika Cinta Harus Pergi’ ini bisa menjadi daftar list bacaan yang direkomendasikan. Minimal ada 3 alasan mengapa buku Ketika Cinta Harus Pergi wajib dimiliki oleh siapapun.

Pertama, Ketika Cinta Harus Pergi bukan hanya buku motivasi biasa. Tapi buku Motivasi Islami, tentang penyadaran bahwa siapapun akan diuji, baik di awal, di tengah atau pun di akhir hidupnya.
Aida dan Elita saat launching Novel Ketika Cinta Harus Pergi (KCHP)Aida dan Elita saat launching Novel Ketika Cinta Harus Pergi (KCHP)Sehingga butuh adanya kesadaran bahwa Allah satu-satunya pemilik hidup dan pemberi sebuah ujian.

Kedua, Ketika Cinta Harus Pergi bukan sekedar buku motivasi Islami saja, karena ide awalnya muncul karena ujian yang dialami oleh penulisnya sendiri. Bagaimana proses bangkit dan kembali mengisi hari dan menyusun mimpi adalah bagian dari apa yang dialami oleh penulisnya sendiri.

Ketiga, banyak sekali twitteryang masuk kepada penulis, bahwa buku ini mampu menjawab banyak sekali masalah hati. “Sehingga InsyaAllah mampu memotivasi siapapun yang sedang patah hati atau siapapun yang ingin merasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari hari ini,” ungkap Aida meyakinkan.(Sbh)

Sabtu, 11 Mei 2013

Menikah Untuk Ridha Allah, Bukan Hanya Untuk Anak


Saya pernah menulis di akun twitter saya bahwa .

“Bohong besar, jika sepasang suami istri bertahan dalam rumah tangga
 hanya karena anak”

            Pernyataan saya yang seperti itu langsung disambut oleh beberapa orang teman penulis lainnya, lalu menikah karena apa? Tentu saja karena cinta. Cinta sepasang suami istri untuk mendapatkan ridha Allah dan cinta seorang Ibu dan Ayah untuk memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
           
Beberapa orang pernah menanyai saya, apa hidup saya tidak pernah punya masalah? Mungkin karena novel yang saya tulis hampir semuanya romantic dan bahagia. Namun jika diperhatikan lebih detil, saya hanya penulis biasa yang bisa mengalami patah hati, sakit, kecewa dan kegagalan berulang kali.
           
Seperti kata Alm. UJE bahwa tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang menulis dengan orang yang membacanya. Bahkan dua buku saya YA ALLAH BERI AKU KEKUATAN dan KETIKA CINTA HARUS PERGI, buku motivasi tentang ujian dan penyemangat diri kini menjadi semacam cambuk bagi hati saya sendiri untuk berjuang dalam pernikahan saya. Mempraktekkan apa yang saya sampaika dalam buku tersebut, memotivasi pembaca dan diri sendiri. Seperti sebuah perjalanan pematangan jiwa yang luar biasa saya rasakan.

            Jadi, saya berani mengatakan bahwa “Bohong besar jika bertahan dalam rumah tangga hanya karena anak. Tapi menikahlah karena cinta kepada pasangan sehingga memancarkan cinta pada anak-anak pula.”

Memang tidak ada salahnya ketika bertahan demi anak-anak, namun perlu diingat bahwa anak-anak adalah sebagian atau setengah dari pasangan kita. Bagaimana mungkin kita bisa hidup dengan setengah hati, setengah ikhlas dan setengah yakin dalam menjalankan ibadah pernikahan. Otomatis, ridha-Nya pun mungkin hanya akan mendapat setengahnya pula.
           
            Baru-baru ini saya sedang diuji Allah dalam pernikahan saya, disentil dengan sangat keras, bahkan saya hampir saja tak sanggup bangkit. Pikiran positif saya seolah berperang hebat dengan perasaan saya. Keinginan bercerai berkelebat di kepala saya, menyudahi pernikahan mungkin jalan satu-satunya yang terpikirkan saat itu di kepala saya.

            Ternyata saya hanya manusia biasa, saya jatuh, saya down. Berkali-kali saya ingin marah, berteriak, semakin kesal, semakin tak terkendali. Tapi semakin saya melakukan semua itu saya semakin sakit, saya semakin terpuruk dan seolah saya lupa Allah punya pertolongan yang sangat besar dalam cinta saya dan suami saya.

            Saya percaya bahwa setiap pasangan berproses menjadi dewasa, menggapai cinta-Nya, menggapai tujuan nikah yang disampaikan dalam surah Ar-Rum ayat 21. Bahwa menikah untuk mencapai sakinah, kedekatan hati, mawaddah, ketenangan jiwa dan wa Rahmah, untuk saling menciptakan kasih sayang.

            Dalam perjalanan menjadi dewasa ini kerap kali terjadi benturan, mulai dari perbedaan pola pikir, kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dilihat menjadi kekurangan-kekurangan pasangan, komunikasi yang tidak baik lalu berakhir dengan perselingkuhan, dan ternyata efek yang terakhir ini fatal menyakiti hati pasangan.

            Saya percaya dan  mengimani surah Al-baqarah (2) ayat 155-156, bahwa kita sebagai manusia akan selalu mendapat ujian. Ujian itu di awal, di tengah atau pun di akhir, intinya kita akan selalu diuji. Bahkan pasangan yang semula saling mencintai bisa menjadi musuh hati yang paling menyakitkan, Allah sudah mengingatkan itu jauh-jauh hari dalam ayat-ayat-Nya.

            Bertahan dalam pernikahan yang serasa berada di tepian jurang sebenarnya butuh keyakinan dalam diri kedua insan yang bersatu di dalamnya. Berproses, sering kali saya menemukan keangkuhan dalam diri saya, bahwa seolah saya menyerahkan segala sesuatu hanya pada Ilahi semata, namun saya lupa dalam proses penerimaan, menghadapi sebuah ujian perlu adanya introspeksi diri. Penyerahan utuh kepada Ilahi, pemilik hati, pemilik segala daya di bumi ini. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa seberat apapun, sesulit apapun bahwa kita harus melewati proses yang tidak menyenangkan itu.

            Percayakan pada proses, yakinkan diri bahwa Allah akan segera membantu mengatasi masalah ini. Berhenti melewati proses berarti berhenti untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

            Jadi, bagi sahabat yang sedang diuji dalam pernikahannya, sedang berada di puncak kekesalan yang luar biasa, mari kita serahkan pada pemilik pemberi ujian. Hati pasangan tak akan berubah jika kita tak meminta pada Allah, ujian ini akan terus terasa berat saat kita tak meminta Allah memberi keringanan. Dan laluilah proses ini, percayalah selalu akan ada jalan yang lebih baik di sisi Allah setelah ujian yang berat ini. Insya Allah.

            Ada tips dari saya yang sudah saya praktekkan, setiap kali hati menaruh dendam, benci berkepanjangan, bacalah surah Al-Hasyr ayat 10. Semoga Allah ringankan beban itu.


Jakarta, 11 Mei 2013

Pukul. 21.40 WIB

Aida MA.






Berita Launching buku KETIKA CINTA HARUS PERGI


Penulis Aceh luncurkan buku Ketika Cinta Harus Pergi

Aida MA memberikan beberapa alasan mengapa buku Ketika Cinta Harus Pergi ini bisa menjadi daftar list bacaan yang direkomendasikan.

Serah terima Moc-up buku Ketika Cinta Harus Pergi dari Penulis kepada Store Manager TM. Bookstore @istimewa

PENULIS berdarah Aceh Aida MA kembali mengeluarkan buku terbarunya. Kali ini berjudul Ketika Cinta Harus Pergi, buku bergenre Motivasi Islami yang ditulis bersama Elita Duatnofa.

Ketika Cinta Harus Pergi diluncurkan di TM Bookstore, Depok Town Square, Depok pada Sabtu, 04 Mei 2013 lalu.

Aida MA dan Elita Duatnofa adalah dua penulis wanita yang sudah menghasilkan beberapa buku dalam bentuk novel dan buku motivasi Islami di pasaran, mereka juga penulis yang tergabung dalam komunitas penulis Be a Writer Indonesia, salah satu grup penulis yang anggotanya didominasi oleh perempuan.

Dalam Ketika Cinta Harus Pergi, Aida MA dan Elita Duatnofa berkolaborasi menghasilkan karya buku motivasi Islami yang mengajak pembacanya untuk segera menghargai diri sendiri ketika sebuah ujian sedang menghampiri, bergerak maju ketika hati disakiti dan melewati proses bangkit saat kehilangan orang yang dicintai.

Acara launching dan talkshow buku Ketika Cinta Harus Pergi ini dibuka dengan acara serah terima Moc-up buku Ketika Cinta Harus Pergi dari Penulis kepada Store Manager TM. Bookstore yang diwakilkan oleh Bapak David.

Acara launching ini juga dimeriahkan dengan lagu Original Soundtrack Ketika Cinta Harus Pergi yang didendangkan oleh The Prasasti Band. Lagu yang diciptakan oleh Aa Ogest, mantan penyanyi cilik yang sekarang lumpuh karena virus GBS ini mampu menghipnotis hadirin yang hadir di acara launching buku ini.

Selama proses talkshow berlangsung banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan tentang kepenulisan, bagaimana agar segera move on dan apa yang paling menarik dari buku Ketika Cinta Harus Pergi dibandingkan dengan buku motivasi yang lainnya.

Aida MA memberikan beberapa alasan mengapa buku Ketika Cinta Harus Pergi ini bisa menjadi daftar list bacaan yang direkomendasikan. Minimal ada 3 alasan mengapa buku Ketika Cinta Harus Pergi wajib dimiliki oleh siapapun.

Pertama, Ketika Cinta Harus Pergi bukan hanya buku motivasi biasa, tapi buku Motivasi Islami, tentang penyadaran bahwa siapapun akan diuji, baik di awal, di tengah atau pun di akhir hidupnya, sehingga butuh adanyakesadaran bahwa Allah satu-satunya pemilik hidup dan pemberi sebuah ujian. Kedua, Ketika Cinta Harus Pergi bukan sekedar buku motivasi islami saja, karena ide awalnya muncul karena ujian yang dialami oleh penulisnya sendiri, bagaimana proses bangkit dan kembali mengisi hari dan menyusun mimpi adalah bagian dari apa yang dialami oleh penulisnya sendiri. Ketiga, banyak sekali twitter yang masuk kepada penulis, bahwa buku ini mampu menjawab banyak sekali masalah hati, sehingga Insya Allah mampu memotivasi siapapun yang sedang patah hati atau siapapun yang ingin merasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari hari ini.

di TM Bookstore sendiri buku Ketika Cinta Harus Pergi menjadi salah satu buku best seller dan direkomendasikan kepada setiap pengunjung di TM Bookstore. Acara launching dan talkshow buku Ketika Cinta Harus Pergi ini diakhiri dengan booksigning bersama dua orang penulisnya. Aida MA dan Elita Duatnofa.[]

Beberapa endorsment juga memberikan pendapatnya tentang buku ini.

“Tulisan yang segar dan mengalir, ditulis dengan gaya yang santai tapi penuh isi, Baca deh, dan Insya Allah kecipratan segarnya J (Irma Rahayu, Soul Healer and Founder of Emotional Healing Indonesia)

“Buku yang sangat menyentuh. Ritme susunan bahasanya lembut. Khas bahasa Ibu menasihati anaknya; kalem, menyentuh hati, tapi tegas dan bernas! (RW.Dodo, CEO Biografi Sukses Indonesia)

“Courage is the power to let go of the familiar- Raymond Linquist, Melepaskan seseorang yang pernah begitu dekat dan istimewa dalam hidup kita butuh keberanian! Berani menghadapi dan menjalani segala ketaknyamanan, agar Dia mampukan kita menyemaikan keikhlasan dan ketenangan dalam jiwa. Demikian pesan cinta yang dituliskan melalui sinergi dua jiwa indah, Elita dan Aida. Karya yang lahir semata untuk mengalirkan cinta-Nya. Dengan membacanya, kita diajak untuk menempuh perjalanan mental yang “panjang”, dari pikiran ke hati, untuk membangun kesediaan dalam menerima dan memahami skenario cinta Ilahi sebagaimana dituliskan-Nya di dalam Lauh Mahfuz. Sungguh Allah Maha digdaya atas semua kehendak-Nya. Selamat membaca dan membangun keberanian! (Ita D. Azly, Psikolog Keluarga dan Konsultan).

Assobru Yu’iinu “Alakulli ‘alamin. Sabar itu penolong segala pekerjaan. Tak ada yang basi dari kata sabar karena setiap manusia pasti pernah berada pada “Lowest point in their life”. Subhanallah, buku ini sangat mewakili setiap insan yang berjiwa. Penulisnya mampu menetralisir jalan keluar dengan sangat bijaksana. Saya sarankan membaca buku pelipur lara ini. Hikmah setelah membaca adalah Obatilah marah dengan diam. (Risma el Jundy, Novelis).

SINOPSIS KETIKA CINTA HARUS PERGI

Bagaimana rasanya patah hati? setiap orang mungkin pernah mengalaminya. Rasa sakit dan kecewa sempat menjadi teman saat terluka. Namun buku ini menyajikan hal yang berbeda, saat terluka buku ini bisa menjadi sahabat sekaligus sebagai ramuan obat dengan dosis yang tepat, menggali kekatan dan hikmah ayat-ayat Alqur’an, hadis dan ilmu pengetahuan.

Bukan hanya itu saja, buku ini juga berisi langkah-langkah untuk segera bangkit dan menemukan kembali semangat hidup yang sempat melemah. Sebab, ketika cinta harus pergi, kita tetap harus bertahan dan membangun ribuan mimpi yang lain.
Aida MA berasal dari Aceh Selatan namun sejak tujuh tahun terakhir berdomisili di Jakarta, sedangkan teman duetnya di buku tersebut berasal dari Depok.[]ihn

- See more at: http://atjehpost.com/kultur_read/2013/05/11/51327/412/13/Penulis-Aceh-luncurkan-buku-Ketika-Cinta-Harus-Pergi#sthash.Un7dKND5.jHPQeonr.dpuf