Sabtu, 11 Mei 2013

Menikah Untuk Ridha Allah, Bukan Hanya Untuk Anak


Saya pernah menulis di akun twitter saya bahwa .

“Bohong besar, jika sepasang suami istri bertahan dalam rumah tangga
 hanya karena anak”

            Pernyataan saya yang seperti itu langsung disambut oleh beberapa orang teman penulis lainnya, lalu menikah karena apa? Tentu saja karena cinta. Cinta sepasang suami istri untuk mendapatkan ridha Allah dan cinta seorang Ibu dan Ayah untuk memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
           
Beberapa orang pernah menanyai saya, apa hidup saya tidak pernah punya masalah? Mungkin karena novel yang saya tulis hampir semuanya romantic dan bahagia. Namun jika diperhatikan lebih detil, saya hanya penulis biasa yang bisa mengalami patah hati, sakit, kecewa dan kegagalan berulang kali.
           
Seperti kata Alm. UJE bahwa tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang menulis dengan orang yang membacanya. Bahkan dua buku saya YA ALLAH BERI AKU KEKUATAN dan KETIKA CINTA HARUS PERGI, buku motivasi tentang ujian dan penyemangat diri kini menjadi semacam cambuk bagi hati saya sendiri untuk berjuang dalam pernikahan saya. Mempraktekkan apa yang saya sampaika dalam buku tersebut, memotivasi pembaca dan diri sendiri. Seperti sebuah perjalanan pematangan jiwa yang luar biasa saya rasakan.

            Jadi, saya berani mengatakan bahwa “Bohong besar jika bertahan dalam rumah tangga hanya karena anak. Tapi menikahlah karena cinta kepada pasangan sehingga memancarkan cinta pada anak-anak pula.”

Memang tidak ada salahnya ketika bertahan demi anak-anak, namun perlu diingat bahwa anak-anak adalah sebagian atau setengah dari pasangan kita. Bagaimana mungkin kita bisa hidup dengan setengah hati, setengah ikhlas dan setengah yakin dalam menjalankan ibadah pernikahan. Otomatis, ridha-Nya pun mungkin hanya akan mendapat setengahnya pula.
           
            Baru-baru ini saya sedang diuji Allah dalam pernikahan saya, disentil dengan sangat keras, bahkan saya hampir saja tak sanggup bangkit. Pikiran positif saya seolah berperang hebat dengan perasaan saya. Keinginan bercerai berkelebat di kepala saya, menyudahi pernikahan mungkin jalan satu-satunya yang terpikirkan saat itu di kepala saya.

            Ternyata saya hanya manusia biasa, saya jatuh, saya down. Berkali-kali saya ingin marah, berteriak, semakin kesal, semakin tak terkendali. Tapi semakin saya melakukan semua itu saya semakin sakit, saya semakin terpuruk dan seolah saya lupa Allah punya pertolongan yang sangat besar dalam cinta saya dan suami saya.

            Saya percaya bahwa setiap pasangan berproses menjadi dewasa, menggapai cinta-Nya, menggapai tujuan nikah yang disampaikan dalam surah Ar-Rum ayat 21. Bahwa menikah untuk mencapai sakinah, kedekatan hati, mawaddah, ketenangan jiwa dan wa Rahmah, untuk saling menciptakan kasih sayang.

            Dalam perjalanan menjadi dewasa ini kerap kali terjadi benturan, mulai dari perbedaan pola pikir, kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dilihat menjadi kekurangan-kekurangan pasangan, komunikasi yang tidak baik lalu berakhir dengan perselingkuhan, dan ternyata efek yang terakhir ini fatal menyakiti hati pasangan.

            Saya percaya dan  mengimani surah Al-baqarah (2) ayat 155-156, bahwa kita sebagai manusia akan selalu mendapat ujian. Ujian itu di awal, di tengah atau pun di akhir, intinya kita akan selalu diuji. Bahkan pasangan yang semula saling mencintai bisa menjadi musuh hati yang paling menyakitkan, Allah sudah mengingatkan itu jauh-jauh hari dalam ayat-ayat-Nya.

            Bertahan dalam pernikahan yang serasa berada di tepian jurang sebenarnya butuh keyakinan dalam diri kedua insan yang bersatu di dalamnya. Berproses, sering kali saya menemukan keangkuhan dalam diri saya, bahwa seolah saya menyerahkan segala sesuatu hanya pada Ilahi semata, namun saya lupa dalam proses penerimaan, menghadapi sebuah ujian perlu adanya introspeksi diri. Penyerahan utuh kepada Ilahi, pemilik hati, pemilik segala daya di bumi ini. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa seberat apapun, sesulit apapun bahwa kita harus melewati proses yang tidak menyenangkan itu.

            Percayakan pada proses, yakinkan diri bahwa Allah akan segera membantu mengatasi masalah ini. Berhenti melewati proses berarti berhenti untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

            Jadi, bagi sahabat yang sedang diuji dalam pernikahannya, sedang berada di puncak kekesalan yang luar biasa, mari kita serahkan pada pemilik pemberi ujian. Hati pasangan tak akan berubah jika kita tak meminta pada Allah, ujian ini akan terus terasa berat saat kita tak meminta Allah memberi keringanan. Dan laluilah proses ini, percayalah selalu akan ada jalan yang lebih baik di sisi Allah setelah ujian yang berat ini. Insya Allah.

            Ada tips dari saya yang sudah saya praktekkan, setiap kali hati menaruh dendam, benci berkepanjangan, bacalah surah Al-Hasyr ayat 10. Semoga Allah ringankan beban itu.


Jakarta, 11 Mei 2013

Pukul. 21.40 WIB

Aida MA.






3 komentar:

  1. Seperti berkaca baca tulisan ini, makasih untuk tipsnya ya :)

    BalasHapus
  2. Semoga bermanfaat ya Mba vanda :)..proses Ikhlas memang penuh airmata Mba vanda:)

    BalasHapus
  3. salam kenal mba aida, setiap kita pasti diberi ujian, berupa harta tahta dan wanita, tnggal bagaimana melalui ujian tersebut, artikel nya sangat menarik dan bermanfaat, walpun saya belum menikah ..oya mba ida saya sudah kirim data pemenang GA BAW ke email mba leyla..

    BalasHapus