Sabtu, 29 Juni 2013

RESENSI FILM MONSTERS UNIVERSITY


Mike_Monsters_University



Genre : Animasi, Komedi, Fantasi

Tanggal Rilis Perdana : 21 Juni 2013

MPAA Rating : Semua Umur

Studio : Walt Disney Picture Official Site

Cast and Crew
Sutradara : Dan Scanlon

Produser : Kori Rae

Penulis Naskah : Dan Scanlon, Daniel Gerson, Robert L. Baird

Pemain : Billy Crystal, john Goodman, Steve Buscemi, Dave Foley, Joel Murray, Sean Hayes, Bonnie Hunt, Beth Behrs

         Monster University bergenre fantasi ini menceritakan tentang persahabatan dua orang monster yang bersekolah di Monster University. Sebuah universitas yang memiliki kelas scare program yang sangat bergengsi di Monster University (MU).  Mike, si hijau bermata satu yang sama sekali tidak menyeramkan dan Sully, monster dari keluarga Sullivan yang sangat terkenal menyeramkan dan berprestasi.
        
Mike dan Sully saling bersaing satu sama lainnya. Sully merasa memiliki segalanya karena berasal dari keluarga Sullivan dan Mike, yang sering tidak diperhitungkan, harus belajar lebih giat dan berusaha sebisa mungkin tetap berada dalam scare program bersama dosen Dean HardScrabble. Dosen yang terkenal sangat legendaris dan kejam.
        
Baik Mike dan Sully keduanya dikeluarkan dari scare program karena mereka membuat kesalahan merusak kaleng pendeteksi takut. Sejak keluar dari program itu lah kemudian jalan cerita semakin seru, yang membuat Mike dan Sully menjadi sahabat dekat.
        
Film-film animasi keluaran Walt Disney dengan penggunaan animasi CGI memang selalu menarik perhatian, kualitas animasinya yang selalu membuat saya terpukau. Sama halnya saat saya menonton Kungfu Panda, ketika Mister Shifu yang memiliki bulu yang tebal tampak bulu tersebut bergerak saat ditiup angin, atau lantern yang dilepaskan Rapunzel dan Eugene pada Tangled terbang di angkasa dengan sangat alami. Begitu juga dengan MU, mata Mike yang bening dibuat seumpama cermin, dan bulu Sully yang merontok alami.
        
Kembali pada jalan cerita MU, dalam film ini banyak sekali pelajaran penting yang disampaikan dengan sangat asik. Butuh team building ketika bekerja dalam satu grup, saling percaya dan tidak meremehkan satu sama lainnya. Bahwa setiap kita dilahirkan tanpa pilihan. Ada yang lahir dari keluarga yang sudah memiliki nama besar, atau ada yang lahir dengan wajah sangat lucu. Ada yang kemudian menjadi coach, ada yang menjadi pemain utama. Namun setiap orang harus punya passionnya masing-masing.
        
Ini pesan yang disampaikan lewat tokoh Mike, si mata satu yang sama sekali tidak seram, namun berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari semua teknik dalam scare program, dia kemudian berada di balik kesuksesan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Ozzka Kappa, termasuk Sully yang ternyata sama sekali tidak menguasai pelajaran dalam scare program.
        
Ada satu kalimat yang diucapkan Mike, setelah usaha maksimal yang ia lakukan agar tetap bertahan di scare program.

I’m Ok just being Ok!
(Aku baik-baik saja hanya menjadi orang yang biasa saja!)

         Film ini lucu, menarik dan sangat menghibur, meskipun bahasa pengantarnya tetap dalam english, anak-anak yang belum bisa membaca artinya pun masih tetap bisa menikmati film ini. Terbukti anak-anak yang ikut nonton bersama saya saat itu, duduk anteng, tertawa bersama hingga film selesai, atau ikut bertepuk tangan saat grup Ozzka Kappa menjadi pemenang dalam sebuah kontes. Bagi orang tua seperti saya, film ini sangat menghibur, apalagi ada pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini yang kemudian bisa diteruskan kepada anak-anak kita.

Lebih dari itu, saya pikir Walt Disney punya misi tertentu untuk anak-anak, lewat Monster University anak-anak tidak perlu takut dengan monster hingga terbawa ke dalam mimpi buruk. Two thumb ups! Untuk film Monster University.
           


Jakarta, 30 Juni 2013

Review by. Aida MA

PEMENANG GA NOVEL THE MOCHA EYES




Setelah seminggu event GA Novel The Mocha Eyes di minggu pertama selesai, ini saatnya untuk menentukan dua orang yang akan menjadi pemenang. Satu dari FB dan satu lagi dari twitter.


            Selama mengadakan Give Away untuk buku-buku saya, inilah GA yang paling sulit untuk menentukan pemenangnya. Terutama peserta GA dari twitter. Tweet dari sahabat-sahabat di twitter sangat kreatif, bermacam rupa dan sangat menarik untuk dibaca, sehingga saya berulang kali bolak balik dari satu akun ke akun lainnya untuk menentukan pemenangnya.

            Peserta dari FB kurang dari 10 akun, sementara peserta dari twitter cukup banyak. Dari sekian puluh peserta di twitter dan FB, saya akhirnya memilih 5 orang yang memiliki tweet paling menarik, dari tweet satu ke selanjutnya saling berkesinambungan, jadi saat dibaca bisa menjadi satu fiksi mini. Kemudian dari lima akun ini, saya seleksi lagi menjadi 2, sayangnya satu harus gugur karena ternyata jumlah tweet-nya kurang dari 5x tweet, mungkin ini bisa menjadi perhatian teman-teman yang akan mengikuti di minggu kedua nanti ya.

            Akhirnya, inilah dua orang pemenang yang beruntung untuk Give Away Novel The Mocha Eyes, Minggu 1.


FB. Mia Chandra Sasmita
Badai seminggu ini tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ia terus bergemuruh, menyambarkan pertir, menyerang hatiku tanpa ampun. Tapi resep cinta mochaccino buatannya menghipnotisku untuk tenang. Ketika itulah aku pahami, bahwa sosoknyalah yang tergambar dari resep mochaccino itu. Seperti kopi ketika diseduh airpanas, dengan eksistensinya, ia tak berubah sekalipun beban penderitaan dan masalah menghampiri dan menekannya sedemikian rupa. Ketika masuk dalam putaran arus adukan sendok, ia justru mampu memberikan warna dan keharuman bagi lingkungannya. Taburan serbuk coklat yang selalu menentramkan jiwa dibalut dengan banyak krim pemanis suasana. Komposisi yang pas untuk mengikatku agar tak berpaling dan menyerah meski takdir sesekali memaksa kami untuk berpisah.


Akun Twitter @chi_yennesy
Partikelnya bercampur dalam hatiku, cecap rasa rindu itu candu, keinginan menikmati moka seperti kamu. Entah itu hangat atau dingin, sensasi itu begitu nikmat, gelas mokaku serupa pertengkaran kita. Aromamu mampu kubaui dari ribuan kilo meter, sewangi moka, aku tak bisa lepas dari bayangmu. Cokelat moka mengingatkanku pada tatap di mata cokelatmu, pantulannya kehangatan cinta. Satu gelas Moka saja, tak ingin menyesapnya cepat-cepat. Menikmati waktu itu bersama kamu. Jangan tanya rahasia campuran Moka-ku, nikmati saja, layaknya cinta rahasia yang membuatnya menjadi romantic.

Selamat untuk pemenang yang beruntung minggu ini. Untuk sahabat yang sudah ikutan, karya kalian luar biasa, saya masih menunggu status FB dan Tweet cinta moka di minggu selanjutnya. Semangattt!

NB. Kepada pemenang, silahkan kirim no telpon dan alamat pengiriman novel di email saya aidaaffandi@gmail.com.

Salam

Aida, MA


Kamis, 20 Juni 2013

GA-NOVEL THE MOCHA EYES


THE MOCHA EYES-AIDA,MA



Hallo semuanya, bertemu lagi dalam give away novel terbaru saya THE MOCHA EYES, seri novel what’s your love flavor di penerbit Bentang Popular, Bentang Pustaka.

Selama akhir Juni ini sampai dengan pertengahan Juli saya akan bagi 1 novel The Mocha Eyes setiap minggunya. Jadi ada 4 novel The Mocha Eyes yang akan saya bagikan selama 4 minggu ke depan. Tertanggal dari 24 juni s.d 20 Juli 2013.

Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan Novel ini? Caranya sangat gampang.

a.     “Interpretasikan sendiri cinta Moka menurut versimu masing-masing. Apa cinta Moka itu seperti cake, terlalu manis, beraroma kopi dan cokelat? Dan sebagainya.”

b.     Tulis Cinta Moka versi kamu dalam dua pilihan berikut,

Bagi pengguna Twitter, kultwit Cinta Moka versimu minimal dalam 5 tweet dengan hastag #CintaMoka, follow dan mention @aida_aie dan @bentangpustaka.

Bagi Pengguna FB, tuliskan Cinta Moka versimu di status, tag FB Aida, MA dan jangan lupa sertakan Give away novel THE MOCHA EYES, Aida, MA di akhir postingan status FBmu.

c.      Silahkan Join Blog ini untuk update info pemenang setiap minggunya.

d.     Periode kultwit dan status FB setiap minggunya yaitu 24 -29 Juni, 1-6 Juli, dengan 2 pemenang setiap minggunya.

e.     Untuk kamu yang belum beruntung di minggu 1, 2 atau 3 bisa mengikuti kembali di minggu selanjutnya.

f.      Saya tunggu kultwit dan status Cinta Moka menurut versi kamu masing-masing. Semangattttt…



Salam Hangat,
Aida, MA

Minggu, 09 Juni 2013

Tim Pom-pom di Aceh




            Akhir Mei lalu saya menyempatkan diri untuk promo novel saya SUNSET IN WEH ISLAND yang  terbit awal tahun 2013 ini, novel yang mengambil setting Pulau Weh, Sabang. Karena bersetting Sabang pula akhirnya saya memutuskan untuk melakukan promo ke kota yang bersangkutan, walaupun akhirnya saya sama sekali tidak bisa menyebrang ke Sabang, karena kegiatan yang terlalu padat di Banda Aceh.
            Sudah rahasia umum, salah satu trik jitu untuk memperkenalkan sebuah produk ke pasaran adalah marketing dan lewat tim promosi yang kuat dan gencar memperkenalkan produk tersebut. Begitu juga dalam dunia penerbitan, akan ada tim promosi untuk buku-buku yang mendapat posisi prime book, keuntungan besar jika buku tersebut diperkenalkan kepada khalayak ramai.
            Jum’at 24 Mei 2013, saya ke Banda Aceh sendirian tanpa ada tim promosi dari penerbitan, hanya mereka mendukung saya untuk tools nya saja. Namun di luar dari dugaan saya, ternyata tanpa dikawal tim promo penerbit pun saya masih tetap bisa promosi selama tiga hari di Banda Aceh, dengan mengisi workshop menulis di 4 komunitas yang berbeda, 1 media online dan 2 radio lokal.
            Seorang sahabat menghubungi saya via BBM, berhubungan dengan beberapa kegiatan yang saya lakukan di Banda Aceh, menurutnya semua kegiatan saya selama 3 hari di sana sudah terschecule dengan rapi dan direncanakan jauh-jauh hari.
            “Aida, siapa EO mu di Banda Aceh? Kayaknya padat banget kegiatannya di sana, pasti pakai EO kan?”
            Dapat BBM yang berbunyi demikian membuat saya mulai berpikir memiliki EO pribadi untuk setiap event yang saya isi (hihihi…). Namun kenyataannya selama di Banda Aceh saya memang tidak memiliki EO, saya hanya punya tim pom-pom yang super duper keren.
            Saya hanya menghubungi tiga orang penting di sana seminggu sebelum saya memutuskan terbang ke Banda Aceh.
            Mari saya perkenalkan mereka satu persatu. Tiga orang ini adalah tim pom-pom yang terkadang membuat saya tertawa, tersanjung sekaligus berasa lebay (hahahah…)

            Syarifah Aini.

Syarifah Aini

            Saya super salut dengan ibu dua anak ini, philanthropy sejati, Darul Arqam salah satu tempat ia berbagi ilmu dengan anak-anak di panti asuhan. Lebih keren lagi, Aini juga beternak kelinci dan mengurusi dua orang anak sekaligus. Waduhh…kalau saya udah keburu teller deh (hehehe)
            Perkenalan saya dengan Aini di tahun 2010 lalu lewat facebook, ternyata mendekatkan saya dengan dia, bahkan sudah seperti saudara saja, kalau saya ke Banda Aceh sepertinya saya harus punya agenda khusus untuk menginap di rumahnya. Kedekatan saya dengannya menjadi begitu kental karena saya bisa merasakan ketulusannya kepada saya dan semua karya-karya saya yang kini sudah masuk koleksi rak bukunya.
            Aini juga yang menjadi contact person saya untuk keluarga besar FLP Aceh. Tiga workshop menulis di banda Aceh, Darul Arqam, IPM Muhammadiyah dan FLP Aceh semuanya di bawah komunikasi dengan Syarifah Aini. Hello Aini…You always the best one :*.


            Ihan Sunrise.

Ihan Sunrise

            Tim pom-pom satu ini baru berkenalan dengan saya sekitar dua bulan lalu. Mungkin terlalu singkat dalam ukuran waktu, namun entah mengapa ternyata ukuran waktu bisa terpatahkan dengan feel pertemanan yang saya rasakan dengannya dalam waktu yang kurang dari 2 bulan itu.
            Ihan salah satu tim redaksi di Atjehpost, salah satu media online di Aceh. Awal perkenalan saya dengannya karena Syarifah Aini mengirimkan resensi novel SUNSET IN WEH ISLAND ke Atjehpost, mungkin dia penasaran karena saya sama sekali bukan artis di Aceh (hahahah), ini mungkin yang dinamakan kesamaan kutub akan saling tarik menarik. Termasuk Ihan dekat kemudian dengan saya mungkin karena beberapa cara pikir kami yang sama.
 Banyak persahabatan yang terjadi antara saya dan beberapa orang sahabat, namun tidak ada yang mampu menarik saya lebih dalam kepadanya atau sebaliknya. Tetapi ada apa dengan Ihan begitu terasa cepat? Ah, biar kami berdua saja yang tahu (hahahahah).
Ihan…Makasih banyak untuk semua liputannnya kiss..kiss


Adhe Mardinal.

Adhe Mardinal

            Tim pom-pom satu ini muda dalam segala hal dari saya, bukan hanya umurnya yang beda 5 tahun dari saya, tapi perkenalan saya dengannya terbilang baru seumur jagung putren, belum genap sebulan. Saya mengenal Adhe dari Ihan, lama-lama saya merasa ada circle yang saling berhubungan antara Syarifah Aini, Ihan Sunrise dan Adhe Mardinal yang akhirnya membuat kami saling mengenal dan saya menyebut mereka adalah tim pom-pom.
            Adhe, meskipun rajanya ngebanyol, tapi saya cukup tertarik padanya karena cara berpikirnya yang dewasa, dan dia kreatif loh (buat cewe-cewe yang mau cari pasangan, Adhe mungkin bisa dimasukkan ke dalam list pria tak begitu diidamkan wkwkwkkwkw)
            Adhe juga yang kemudian mulai bantu saya promo SUNSET IN WEH ISLAND dan KETIKA CINTA HARUS PERGI untuk komunitas pendengar radio 3FM Banda Aceh, on air di 3FM yang membuat saya berasa jadi artis dadakan karena banyak sekali yang menelpon, sms dan mention di twitter.
            Thanks for everything Adhe, kalau perlu tim pom-pom untuk nyari calon istri silahkan hubungi aku (hahahahah).

            Itu dia tim pom-pom saya di Banda Aceh, nanti kapan-kapan saya akan menceritakan Tim Pom-pom saya yang di Bandung. Selalu dan akan selalu ada kebaikan dalam setiap pertemanan, berikan yang terbaik, berlaku ikhlas, maka kebaikan dalam hubungan persahabatan itu akan semakin merekah.
            Thanks Dearly Ihan Sunrise, Adhe Dot Darling and Syarifah Aini Sweety… BIGHUG.

Jakarta, 9 Juni 2013
Pukul 19.02 WIB
Di sudut Coffeebean
Di antara hujan yang terus mengguyur Jakarta
AIDA, MA