Kamis, 06 Juni 2013

Behind The Scene THE MOCHA EYES


              

              Kata orang bijak, jangan berharap hasil yang luar biasa dengan kerja yang biasa-biasa saja, sepertinya itu berlaku dalam segala hal. Termasuk di balik karya-karya yang terbit selalu ada sejarah yang dibangun di situ, ada sebuah pengorbanan yang besar. Mungkin butuh riset bertahun-tahun untuk novel sejarah-nya Langit Kresna Hariyadi. Akan ada banyak penolakan dan larangan dari kisah yang diangkat dalam karya Vladimir Nabokov. Namun di situlah menariknya sebuah proses yang mampu membungkus sebuah ide hingga digiring menjadi sebuah karya, baik kemudian diterima atau kurang disukai oleh penikmat literasi.

            Setiap karya sahabat penulis yang terbit, hanya satu hal yang paling menarik bagi saya, bagaimana mereka melewati riset yang panjang, memelihara feel yang terkadang moody. Di sinilah uniknya di balik terbitnya sebuah buku.

            Sesederhana apapun karyanya. Selalu ada perjalanan yang dibangun dan melekat dalam hati si penulisnya sendiri. Apa yang saya bagi saat ini, mungkin tak akan menjadi hal yang luar biasa bagi yang lain, namun dalam perjalanan saya sebagai penulis yang kurang dari lima tahun berkarya, Novel The Mocha Eyes menjadi salah satu bagian penuh perjuangan bagi saya dalam proses penyelesaian naskahnya.

            Sejak awal, saat penawaran kerjasama ini diajukan kepada saya, akhir tahun 2012 lalu oleh editor Bentang Populer, ada saja yang miss terjadi. Dimulai dari design penokohan yang saya kira bebas (di awal saya mendesign tokoh utamanya laki-laki) namun ternyata semua harus dirombak habis menjadi tokoh utamanya adalah wanita.

            Seharusnya saya sudah bisa mengirimkan Outline saja jika sinopsis awalnya sudah disetujui oleh Editor Bentang Populer. Namun saya harus memutar pikiran lagi, mengacak-acak ide yang sudah ada sampai amburadul dan mood saya berkurang, sebentar-sebentar saya ke kedai kopi Amerika itu, memesan semua hal yang berbau Moka, mengecap rasa yang terlalu manis di lidah saya, karena biasanya selalu minum kopi tanpa gula.

            Seminggu kemudian saya mengirimkan kembali sinopsis novel dengan tema What’s your love flavor itu ke editor saya dan langsung di-acc, lanjut ke outline. Seminggu kemudian outline dikirim dan juga langsung diacc, hanya sedikit komen editor saya yang baik itu, butuh penggambaran lebih detail lagi di bab 1 nya. Baiklah, mari segera kita perbaiki cetus di kepala saya saat itu.

            Saya diberi waktu 1 bulan untuk menyelesaikan naskah ini. Waktu yang cukup jika tak butuh riset yang terlalu panjang dan njelimet. Tokoh saya di sini juga beda dengan tokoh di beberapa buku saya sebelumnya. Butuh riset dalam Hypnotherapy dan sedikit pekerjaan di restoran cepat saji. Syukurnya saya punya suami yang seorang Hypnotherapis dan adik ipar saya yang pernah menjadi STAR di restoran cepat saji. Jadi tak terlalu sulit untuk mengejar mereka berdua saat saya butuh beberapa info yang khusus dalam dua hal tadi.

            Ternyata saat diberi kemudahan dalam hal lain, ada tantangan di sisi yang lain pula. Seminggu sebelum deadline, naskah novel The Mocha Eyes hampir mencapai ending. Saya sudah berniat menyelesaikannya empat hari sebelum deadline. Sampai-sampai naskah itu saya kerjakan setiap hari, setiap ada kesempatan menulis saya usahakan menulis walaupun hanya dapat 3 halaman di sela-sela pekerjaan yang juga harus dikerjakan.

            Hanya sisa  tiga bab lagi dan ternyata MacBook Pro saya ngambek. Anehnya hanya ngambek pada file yang sedang saya kerjakan. Ini juga pernah terjadi saat saya menyelesaikan novel setebal 167 halaman dalam satu minggu, file yang sama juga ngambek, rusak tidak bisa dibaca.

            Keteledoran saya adalah saat back up nya tidak setiap hari saya update. Hanya 40 halaman yang tersave dari 160halaman yang sudah selesai dikerjakan. Sampai-sampai sahabat saya mencandai saya, “Kamu nulis 160 halaman back up nya engga setiap hari dan engga diback up di email? Kalau di kantorku, kamu sudah kena SP 2” guyonnya pada saya.

            Wah, luar biasa hati saya ketar ketir, feel menyelesaikan 160 halaman itu tentu engga akan serta merta langsung hadir lagi saat lebih dari setengah isinya rusak dan harus ditulis dengan feel yang baru.

            Seharian saya engga enak hati, saya langsung hubungi editor saya, minta ditambahin waktu seminggu dari jadwal Deadline. Saya tidak mau dianggap tidak professional saat Deadline naskah saya belum selesai.

            Seharian saya tak berniat melihat om MacPro, saya keluar rumah, hati saya galau tak menentu (heheheh) saya membeli es krim dua scope, lalu menonton film yang bergenre komedi di bioskop, tapi saya benar-benar tidak bisa tertawa sama sekali, saya tidak menikmati apapun yang saya lakukan hari itu, baik es krim yang terasa tidak nikmat, atau film komedi itu yang sama sekali tidak asik.

            Menjelang sore saya harus pulang, menjemput anak saya, dan tetap harus bersemangat di depan anak saya yang selalu ceriwis dalam keadaan apapun, bahkan menjadi hiburan saat naskah ini sempat menyita mood saya dan rasa kesal saya pada diri saya sendiri.

            Selama di kendaraan perjalanan pulang ke rumah, saya mulai mensugesti diri saya sendiri, persis seperti tokoh Muara yang saya ceritakan dalam novel ini, bagaimana ia harus memotivasi dirinya sendiri, memaafkan kesalahan ini dan memulai lagi pada hal-hal yang baru.

            Saya mulai membuka lembaran word lagi, menatap jumlah halaman naskah yang terback up hanya 40 halaman itu, lalu menatap outline yang tak akan berubah jadi apapun jika tidak saya eksekusi sesegera mungkin. Bismillah, saya mulai mengerjakannya lagi, meng-entertain mood saya lagi, dan berbagi kata memaafkan diri sendiri dan mengambil pelajaran yang patut dipetik di sini.

            Sehari saya menulis 30 halaman dan sampailah di hari Deadline saya menyelesaikan naskah itu 170 halaman dan selesai, kurang dari 2 minggu. Perjalanan memotivasi semangat dan menata hati yang kesal pada diri sendiri (hahahhah..)

            Naskah terkirim dan revisi satu kali selesai. Hanya saja ada perubahan dalam judulnya. Awalnya berjudul Brown Eyes, akhirnya diganti menjadi The Mocha Eyes, dianggap bisa mewakili dari tema “What’s Your love flavor” dalam novel ini.

            The Mocha Eyes, sebagian besar menceritakan tentang perubahan, sangat pentingnya memaafkan, menghapus dendam, cinta yang tulus. Di sini saya juga menyinggung tentang kampanye anti rokok, dan tindak keras pada pelaku pelecehan seksual. Namun lebih dari itu, lewat tokoh Muara saya ingin menyampaikan bahwa memaafkan adalah obat terbaik untuk hati yang terlalu sakit, karena kebaikan memaafkan akan kembali pada si pemberi maaf.

            Saya bagi beberapa quote dalam novel The Mocha Eyes ini ya, semoga bisa mengambil setitik atau dua titik manfaat di dalamnya.

            “Ada sesuatu yang berada di luar kontrolmu, jadi jangan terlalu menaruh sebuah harapan berlebihan. Apalagi ketika tidak sesuai dengan harapan, kamu akan setengah mati belajar untuk tetap waras (The Mocha Eyes)”.

            “Kadang-kadang ketika orang-orang mengatakan hal-hal yang jahat dan tidak bijaksana, yang terbaik adalah sedikit menutup telinga, berhenti menyimak, dan bukannya balas membentak dalam kemarahan atau ketidaksabaran-Ruth bader (The Mocha Eyes)”

            “Jika di dunia ini tak ada seorang pun yang bisa kamu percayai, setidaknya kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Itu alasan yang paling kuat untuk kamu tetap hidup, untuk kebahagiaanmu sendiri, bukan untuk siapa-siapa (The Mocha Eyes)”

            “Perasaan manusia itu ibarat cangkir, setiap saat diisi dengan berbagai macam hal. Kamu tidak akan merasakan bahagia, jika kamu membiarkan cangkirmu diisi penuh dengan sesuatu yang rasanya hanya pahit. Rasa cangkirmu berdasarkan apa yang kamu pilih! (The Mocha Eyes)”

            Finally, saya kembalikan kepada pembaca semuanya, karya ini bukanlah kitab suci, maka sangat mungkin banyak kekurangan di sana sini, namun besar harapan saya, The Mocha Eyes mampu memberikan warna yang berbeda dalam dunia literasi Indonesia.



Jakarta, 8 Juni 2013
Pukul 12.05 WIB.
Aida, MA





14 komentar:

  1. Gila! selalu diselesaikan dalam 1 bulan, bahkan kurang. Ckckckck, benar-benar iri dengan semangat dan caramu mengeksekusi ide, Mbak.

    Semoga sukses seperti buku-buku sebelumnya. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu mengingat bagaimana mengenalmu Mba fit..kamu saksi perjalanan Ini Heuheu...

      Hapus
  2. Bagaimana pun, salut sama produktifitas Mbak Aida *lirik diri sendiri, ah maluuuu...
    Oh ya, back up itu penting banget mbak, sebelumnya aku juga pernah mengalami hilang naskah, sejak itu kek jadi pecut biar gak terulang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh....Dan sebelnya Dan extra hati2 sekarang Heuheu..

      Hapus
  3. Selamat.... Ini buku akan menginspirasi banyak orang..... Insya Allah.

    BalasHapus
  4. Good job, mudah-mudahan saya bisa juga menulis novel dlm waktu 1 bulan. Semoga berjodoh dengan Mocha Eyes, saya belum baca. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasi banyak....semoga tidak mengecewakan ya.

      Hapus
  5. luar biasa mba,,,,salut! NB:Bona titip salam >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih steve..dirimu juga cikgu yg keren.

      Hapus
  6. wah dalam sebulan 1 novel jadi? keren mba Aida :)

    BalasHapus