Minggu, 09 Juni 2013

Tim Pom-pom di Aceh




            Akhir Mei lalu saya menyempatkan diri untuk promo novel saya SUNSET IN WEH ISLAND yang  terbit awal tahun 2013 ini, novel yang mengambil setting Pulau Weh, Sabang. Karena bersetting Sabang pula akhirnya saya memutuskan untuk melakukan promo ke kota yang bersangkutan, walaupun akhirnya saya sama sekali tidak bisa menyebrang ke Sabang, karena kegiatan yang terlalu padat di Banda Aceh.
            Sudah rahasia umum, salah satu trik jitu untuk memperkenalkan sebuah produk ke pasaran adalah marketing dan lewat tim promosi yang kuat dan gencar memperkenalkan produk tersebut. Begitu juga dalam dunia penerbitan, akan ada tim promosi untuk buku-buku yang mendapat posisi prime book, keuntungan besar jika buku tersebut diperkenalkan kepada khalayak ramai.
            Jum’at 24 Mei 2013, saya ke Banda Aceh sendirian tanpa ada tim promosi dari penerbitan, hanya mereka mendukung saya untuk tools nya saja. Namun di luar dari dugaan saya, ternyata tanpa dikawal tim promo penerbit pun saya masih tetap bisa promosi selama tiga hari di Banda Aceh, dengan mengisi workshop menulis di 4 komunitas yang berbeda, 1 media online dan 2 radio lokal.
            Seorang sahabat menghubungi saya via BBM, berhubungan dengan beberapa kegiatan yang saya lakukan di Banda Aceh, menurutnya semua kegiatan saya selama 3 hari di sana sudah terschecule dengan rapi dan direncanakan jauh-jauh hari.
            “Aida, siapa EO mu di Banda Aceh? Kayaknya padat banget kegiatannya di sana, pasti pakai EO kan?”
            Dapat BBM yang berbunyi demikian membuat saya mulai berpikir memiliki EO pribadi untuk setiap event yang saya isi (hihihi…). Namun kenyataannya selama di Banda Aceh saya memang tidak memiliki EO, saya hanya punya tim pom-pom yang super duper keren.
            Saya hanya menghubungi tiga orang penting di sana seminggu sebelum saya memutuskan terbang ke Banda Aceh.
            Mari saya perkenalkan mereka satu persatu. Tiga orang ini adalah tim pom-pom yang terkadang membuat saya tertawa, tersanjung sekaligus berasa lebay (hahahah…)

            Syarifah Aini.

Syarifah Aini

            Saya super salut dengan ibu dua anak ini, philanthropy sejati, Darul Arqam salah satu tempat ia berbagi ilmu dengan anak-anak di panti asuhan. Lebih keren lagi, Aini juga beternak kelinci dan mengurusi dua orang anak sekaligus. Waduhh…kalau saya udah keburu teller deh (hehehe)
            Perkenalan saya dengan Aini di tahun 2010 lalu lewat facebook, ternyata mendekatkan saya dengan dia, bahkan sudah seperti saudara saja, kalau saya ke Banda Aceh sepertinya saya harus punya agenda khusus untuk menginap di rumahnya. Kedekatan saya dengannya menjadi begitu kental karena saya bisa merasakan ketulusannya kepada saya dan semua karya-karya saya yang kini sudah masuk koleksi rak bukunya.
            Aini juga yang menjadi contact person saya untuk keluarga besar FLP Aceh. Tiga workshop menulis di banda Aceh, Darul Arqam, IPM Muhammadiyah dan FLP Aceh semuanya di bawah komunikasi dengan Syarifah Aini. Hello Aini…You always the best one :*.


            Ihan Sunrise.

Ihan Sunrise

            Tim pom-pom satu ini baru berkenalan dengan saya sekitar dua bulan lalu. Mungkin terlalu singkat dalam ukuran waktu, namun entah mengapa ternyata ukuran waktu bisa terpatahkan dengan feel pertemanan yang saya rasakan dengannya dalam waktu yang kurang dari 2 bulan itu.
            Ihan salah satu tim redaksi di Atjehpost, salah satu media online di Aceh. Awal perkenalan saya dengannya karena Syarifah Aini mengirimkan resensi novel SUNSET IN WEH ISLAND ke Atjehpost, mungkin dia penasaran karena saya sama sekali bukan artis di Aceh (hahahah), ini mungkin yang dinamakan kesamaan kutub akan saling tarik menarik. Termasuk Ihan dekat kemudian dengan saya mungkin karena beberapa cara pikir kami yang sama.
 Banyak persahabatan yang terjadi antara saya dan beberapa orang sahabat, namun tidak ada yang mampu menarik saya lebih dalam kepadanya atau sebaliknya. Tetapi ada apa dengan Ihan begitu terasa cepat? Ah, biar kami berdua saja yang tahu (hahahahah).
Ihan…Makasih banyak untuk semua liputannnya kiss..kiss


Adhe Mardinal.

Adhe Mardinal

            Tim pom-pom satu ini muda dalam segala hal dari saya, bukan hanya umurnya yang beda 5 tahun dari saya, tapi perkenalan saya dengannya terbilang baru seumur jagung putren, belum genap sebulan. Saya mengenal Adhe dari Ihan, lama-lama saya merasa ada circle yang saling berhubungan antara Syarifah Aini, Ihan Sunrise dan Adhe Mardinal yang akhirnya membuat kami saling mengenal dan saya menyebut mereka adalah tim pom-pom.
            Adhe, meskipun rajanya ngebanyol, tapi saya cukup tertarik padanya karena cara berpikirnya yang dewasa, dan dia kreatif loh (buat cewe-cewe yang mau cari pasangan, Adhe mungkin bisa dimasukkan ke dalam list pria tak begitu diidamkan wkwkwkkwkw)
            Adhe juga yang kemudian mulai bantu saya promo SUNSET IN WEH ISLAND dan KETIKA CINTA HARUS PERGI untuk komunitas pendengar radio 3FM Banda Aceh, on air di 3FM yang membuat saya berasa jadi artis dadakan karena banyak sekali yang menelpon, sms dan mention di twitter.
            Thanks for everything Adhe, kalau perlu tim pom-pom untuk nyari calon istri silahkan hubungi aku (hahahahah).

            Itu dia tim pom-pom saya di Banda Aceh, nanti kapan-kapan saya akan menceritakan Tim Pom-pom saya yang di Bandung. Selalu dan akan selalu ada kebaikan dalam setiap pertemanan, berikan yang terbaik, berlaku ikhlas, maka kebaikan dalam hubungan persahabatan itu akan semakin merekah.
            Thanks Dearly Ihan Sunrise, Adhe Dot Darling and Syarifah Aini Sweety… BIGHUG.

Jakarta, 9 Juni 2013
Pukul 19.02 WIB
Di sudut Coffeebean
Di antara hujan yang terus mengguyur Jakarta
AIDA, MA

3 komentar:

  1. LuarBiasa, baru sebentar berkenal sudah sesolid itu, bagaimana kalau lebih lama lagi? Salut deh!! #salamsemangat buat Kk Aida dan tim Pom-Pomnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama al juga Berasa deket ya...padahal baru Pertama ketemu ya Heuheu..

      Hapus
    2. Sama al juga Berasa deket ya...padahal baru Pertama ketemu ya Heuheu..

      Hapus