Jumat, 23 Agustus 2013

Berdialog Dengan Tuhan #Pengalaman I'tikaf







            Dalam hidup ternyata ada saatnya kita berada pada titik terbawah, titik yang terendah dalam berbagai bentuk. Titik nadir kehidupan yang sangat berat, mampu melemahkan dan sampai-sampai membuat kita berani bertanya pada pemilik hidup, Ada apa Allah? Mengapa harus aku?

            Saya sedang berada pada titik itu. Titik yang bisa menjadi titik balik atau titik jatuhnya seseorang bahkan sebagian tidak sanggup bangkit lagi. Ini pernah terjadi dua kali dalam hidup saya di masa lampau. Dan kali ini titik nadir itu membenamkan jiwa saya sangat dalam. Sekali datang, menghempaskan saya dengan sangat telak!

            Jika ada yang mengatakan saya berada di dalam karier kepenulisan yang sedang saya bangun dan mulai berkembang, itu memang benar. Tahun 2013 ini, belum pertengahan tahun saya memang sudah menerbitkan tiga buku, dua di antaranya dengan penjualan yang cukup baik. Kalau memang demikian, lalu pasti timbul sebuah pertanyaan, di mana letak titik nadir itu?

            Saya tidak tahu di mana letak “Bahagia” dalam konotasi yang sebenarnya, saat bahagia dalam ukuran manusia ternyata kontradiktif dengan bahagia dalam versi yang dicari oleh jiwa. Di saat yang lain menebarkan pujian,  tapi di sisi yang lain pencapaian yang saya dapat hari ini adalah Nol besar. Apa ada yang salah? Benar, pasti ada yang salah. Tumpukan koleksi “dosa” yang tidak sengaja saya kumpulkan, menjadi semacam “Sombong” yang menghitam di hati saya.

            Sebenarnya saya bisa mengambil satu jalan yang paling mudah saja, ketika satu hal kurang menyenangkan menimpa hidup seseorang, maka cara paling gampang menaruh kesalahan itu pada orang lain, karena kesalahan kamu saya menjadi begini dan sebagainya,  atau dengan kata lain, sedih dan bahagia kita berada di luar diri kita sendiri.

            Tuhan memang menegur saya. Saya sombong? Sepertinya “iya”, saya terlalu ambisius? Itu juga mungkin “iya”, tapi bukan berarti ungkapan ini saya tujukan untuk menjatuhkan diri saya sendiri. Ada perbedaan besar antara introspeksi dan menyalahkan diri sendiri. Nyatanya dalam hidup yang saling bersinggungan, tidak ada yang pernah benar-benar berada pada posisi “Benar”

            Kembali saya bicara “Titik Nadir” membawa fitrah ketuhanan saya kepada sebuah itikaf, membiarkan hati ini berdialog lama dengan pemiliknya. Jika dalam ajaran budha, ada proses menjadi bukan siapa-siapa, penyerahan diri total, sehingga saat berdialog dengan Tuhan, maka dengungan nyamuk saja tidak mampu terdengar atau terabaikan begitu saja.

            Saya sendiri di akhir ramadhan yang lalu, tersungkur dan tersudut di sebuah masjid dengan hati yang mungkin terlalu kering sehingga ketika hari ini terobosan air wudhu itu membasuh wajah saya seperti menembus jauh ke dalam hati saya.

            Tak ada apapun yang saya dengar di sepertiga malam itu, selain deru nafas saya sendiri, angin yang lolos menerobos dari kepala hingga kaki. Posisi kepala saya yang menyentuh lantai sama posisinya dengan kaki yang menopang tubuh saya.

            Ujub adalah salah satu sumber dari sebuah masalah. Tanpa saya sadari mungkin saya sudah menjadi manusia yang menyeramkan beberapa tahun terakhir ini. Jarang menengok kanan kiri, menganggap bahwa semuanya berjalan dengan normal, padahal sesuatu yang tampaknya nyaman, hanya sekedar tampak ternyata menuju jalan sebuah kehancuran. 

            Sudah lama saya tidak menangis setelah shalat, sudah lama juga saya tidak berdoa dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dalam artian meminta Allah menjaga saya, membimbing saya, mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu tidak pernah hadir dalam doa-doa saya yang terkadang terburu-buru setelah shalat.

            Sering kali saya memiliki ilusi yang paling benar, tanpa menyadari kondisi yang tidak nyaman di sekitar saya mungkin berasal dari cara saya bersikap dan memandang segala sesuatu. Saya bukan sedang menyalahkan diri sendiri, tidak pula mengambil tanggung jawab penuh atas kondisi ini, namun selalu ada persinggungan-persinggungan di dalamnya, ada hati-hati yang saling tersentuh atau sebaliknya dalam lingkaran hidup manusia itu, jika ada yang terluka tentu sangat mungkin terjadi dari sebuah sikap, ucapan dan tindakan.

            Fitrah ketuhanan, rasa rindu bertemu dengan Ilahi, bisa dialami siapapun. Yang berbahaya itu jika sudah dirundung duka justru semakin jauh dari Tuhan. Sudah diberi ujian, teguran dari Allah, justru lari kepada hal-hal yang semakin dibenci Allah.

            Saya tidak akan malu jika pengalaman ini dibaca oleh banyak orang. Setidaknya saya bisa mengatakan bahwa ketika hidup ini terasa datar-datar saja bisa jadi kita ingin bahagia yang lebih besar, jika hidup ini terasa terlalu bergejolak, bisa jadi list keinginan kita terlalu besar. Namun saat stuck di tengah jalan, mungkin inilah saatnya kita harus berdialog dengan pemilik hati, pemberi nikmat hidup ini dengan dialog yang sesungguhnya.

            Pukul tiga pagi, setelah menahan malu yang luar biasa, saya memohon pada pemberi nikmat hidup, saya ikhlaskan ini semua sebagai bagian dari jalan pematangan diri saya, pendewasaan dalam menyikapi sebuah keadaan. Jauh dari suami, jauh dari anak dan jauh dari keluarga saya yang lainnya seakan membuat saya menyadari seberapa dalam makna kehadiran saya dalam hidup mereka, nyatanya saat itu sayalah yang sedang merindukan mereka begitu dalam.

            Ternyata, kenyataannya memang seperti itu. ketika kita berada dalam sebuah gelombang konflik dengan arus yang cukup keras, tak perlu berusaha melawannya, semakin melawan semakin kita kehilangan energy, semakin kita tak menemukan apapun selain kelelahan itu sendiri. Mencoba hanyut sejenak dalam arus itu sambil memikirkan bagaimana mencari daratan, mungkin jauh lebih mampu memberikan kita sebuah jalan keluar yang efektif dan menenangkan.




            Saya tidak tahu apa saya sudah melewati satu tingkat ketika diberi ujian ini. Suatu saat mungkin akan saya kenang sebagai sebuah ujian langsung dari Allah, setidaknya Ia tidak pernah meninggalkan saya, tapi sayalah yang sering kali mengabaikan-Nya.



*****

Akhir Ramadhan 2013
#Perjalanan Jiwa
Aida,MA

0 komentar:

Posting Komentar