Selasa, 29 Oktober 2013

Yuk Menabur Bahagia Lewat Buku




RUMAH BACA PUSTAKA ILMU

            Sebenarnya, apa yang paling membahagiakan dalam hidup ini? Mungkin jawabannya akan beraneka ragam, ada yang ingin segera menemukan pasangan hidup dan bahagia seperti cerita dalam dongeng ala princess, atau ingin karir yang cemerlang karena sedang meretas usaha yang baru saja bergerak, ada pula yang ingin anak yang sehat, cerdas dan sebagainya.
        
          Tapi sepertinya ada sebuah kesepakatan bersama, bahwa salah satu kebahagiaan yang tak mampu ditukar dengan hal apa pun yaitu saat kita berhasil membantu seseorang sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Benar, kalimatnya membantu sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Karena seseorang yang dibantu sesuai dengan kebutuhannya seperti merasakan syurganya saat itu juga. 

  Sebagai pengandaian, katakanlah seseorang yang tajir terdampar di sebuah pulau, ia punya uang ratusan juta mungkin milyaran dalam kartu bank yang berjejer di dompetnya, tapi untuk keluar dari pulau tersebut, kartu-kartu tadi tentu saja kehilangan fungsinyanya karena hal pertama yang ia butuhkan hanya sebuah perahu nelayan yang mau membawanya ke daratan, ketika seorang nelayan kebenaran lewat dan ternyata mau membawanya ke daratan, apa yang kemudian dirasakan si tajir ini? BAHAGIA, dan itu juga yang dirasakan oleh si nelayan, BAHAGIA.

 Cara mendatangkan bahagia itu punya banyak cara, ibarat banyak jalan menuju Roma, maka banyak jalan menuju bahagia dengan memberikan bantuan, salah satunya membantu anak-anak yang gemar membaca dengan menyediakan fasilitas buku.


Anak-anak kumpul sore dan berlatih soal-soal matematika

 Dari dulu, dulu itu kapan? Dulu sekali, saya sangat ingin mempunyai pustaka pribadi di rumah, pustaka yang bisa dipanjati dan dikelilingi oleh anak saya Nazira seperti saat saya kecil dulu di pustaka ayah saya. Semakin kemari keinginan saya itu semakin besar, saat murid-murid saya terkadang suka datang ke rumah dan duduk di pojok rak-rak buku saya yang mulai berhimpitan karena belum mendapat rak yang baru (huhuhu) keinginan itu semakin kuat, dan membuat saya semakin antusias saat banyaknya didirikan rumah-rumah baca oleh teman-teman pencinta buku.

Minggu, 27 Oktober lalu, saya berkesempatan datang di sebuah Rumah Baca di kawasan Marga Asih, Bandung. Namanya Rumah Baca Pustaka Ilmu atau disingkat RBPI sudah berdiri sejak 5 Desember 2005 lalu, dan memiliki 3 ribuan koleksi buku. Foundernya, Kamiluddin Azis, atau saya biasa panggil dia Kang Aming. Perkenalan saya dengan Kang Aming saat saya diundang mengisi acara sharing kepenulisan di grup Inspirasiku di Facebook. Nah, sejak saat itu saya mengenal Kang Aming , ternyata bapak yang juga sudah menerbitkan novel ini adalah sosok yang philantropy sejati.

Coba bayangkan saja, di rumahnya yang mungil, dengan tiga orang anak, ruang yang semestinya digunakan untuk menerima tamu digunakan sebagai ruang pustaka, berjejer rak-rak buku yang nyaris menyentuh genteng rumah. Lalu bagaimana dia menerima tamu-tamunya? Sepertinya beranda depan digunakan untuk menerima siapapun yang berkunjung ke rumahnya, beranda depan itu beralaskan karpet berwarna biru, ada pagar hidup yang dipotong rapi berbatasan langsung dengan jalanan komplek.

Saya pikir tidak banyak orang yang mau rumahnya direcoki dengan anak-anak yang datang berkunjung tanpa mengenal waktu. Bisa jadi saat istirahat akan terganggu karena ada anak-anak yang mengetok pintu, kepingin baca buku. Atau tidak banyak orang yang mau rumahnya leluasa  dibiarkan begitu saja orang-orang dengan mudah keluar masuk ke dalam rumahnya, apalagi di kota-kota besar, yang masih rempong dengan urusan privacy.

Saya bahagia bisa hadir di sini, bertemu Kang Aming dan Istrinya yang sangat hangat menyambut saya, ada volunteer-volunteer juga yang ternyata sebagian besar masih mahasiswa, anak-anak muda yang sengaja menghabiskan waktu mereka untuk kegiatan sosial, saya kira istilah muda hura-hura dan tua masuk surga sudah jauh ditinggalkan di belakang, bagaimana mungkin muda hura-hura tuanya bakal masuk surga? Karena orang yang memanen tentu sudah menanam terlebih dahulu.

Prinsip anak muda keren saat ini, selagi muda menuai banyak ilmu, melakukan banyak kegiatan positif, dan berani menantang diri sdri, melakukan inovasi-inovasi baru sehingga saat umur mereka belum menyentuh angka 30 tahun mereka sudah menjadi orang-orang hebat negeri ini, sudah banyak contohnya, @kangrendy (motivator muda), Reza Nurhilman president Mak icih,  yang keduanya masih berumur 25-26 tahun (wow!), dan masih banyak contoh lainnya.

Kenapa kali ini saya bercerita tentang RBPI? Karena saya berkesempatan mengunjungi Rumah Baca ini tanggal 27Oktober lalu, jika ada Rumah Baca lainnya, insha Allah dengan senang hati akan saya kunjungi juga.

Volunteer RBPI

Ada tiga hal besar yang saya bagi saat berkunjung ke RBPI terutama untuk volunteernya yang sebagian besar sangat antusias dengan yang namanya menulis, mungkin harapan mereka sama dengan saya, ingin ide-ide mereka dibaca orang lain, Alhamdulillah lagi kalau sampai terinspirasi.

Tiga hal ini bukan hal yang baru, saya hanya mengingatkan siapapun yang berniat dan masuk ke dalam dunia menulis setidaknya harus melakukan tiga hal ini.

a.                    Silahkan mencari tahu semua tips menulis dari guru mana pun, bahkan dari professor sekali pun, simpan semua tips-tips itu di kepalamu lalu mulailah menulis. Jangan terlalu sibuk ikut pelatihan ini itu, karena konsep utamanya tetap saja action. Jika ada 1000 syarat menjadi seorang penulis, maka 998 nya adalah Action, selebihnya teknis.

b.                    Untuk menumbuhkan semangat salah satu caranya adalah komunitas, RBPI sebagai penyemangat untuk banyak membaca, lalu cari lagi komunitas penulis yang bisa menambah semangat menulis, menumbuhkan cemburu untuk bisa ikut berkarya, bukan komunitas yang setiap saat mengeluh dan mengeluh lagi bahkan sebelum memulai pun.


c.                     Tidak ada kata “sempurna” untuk pekerjaan pertama. Bahkan pekerjaan yang sudah dilakukan 100x saja tidak akan luput dari kekurangan, jadi lakukan saja… perbaikan-perbaikan akan terlihat menjadi lebih baik seiring konsistensi penulis untuk terus melatih dirinya.


Tak terasa waktu saya berkunjung di RBPI hanya satu jam setengah, setelah ngobrol sana sini, kenalan-kenalan segala macam akhirnya memang hanya 3 point tadi yang bisa saya sisipkan untuk sahabat-sahabat volunteer di RBPI. Namun saya cukup bahagia, karena antusiasme para relawan dan semangat mereka untuk sama-sama menghidupkan RBPI bersama Kang Aming, sebagai foundernya sangat luar biasa.

Menurut kang Aming, untuk menambah gairah dan menularkan semangat cinta buku untuk lingkungan sekitarnya, pada tanggal 16-17November 2013 nanti sekaligus memperingati tahun baru Hijriyah dan hari pahlawan, RBPI akan  mengadakan lomba story telling, mewarnai, dan membaca puisi. Wahhh… seru! Sayangnya saya tidak bisa hadir di acara ini karena berbarengan dengan launching buku bersama sahabat penulis di Jakarta.

Selama perjalanan pulang, saya menyadari satu hal, bahwa dalam hidup ini bukan hanya perkara bahagianya saat kita mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan, namun juga bagaimana menebarkan manfaat dari apa yang kita dapatkan untuk dibagi dengan sesama, dan itu ternyata jauh lebih membahagiakan.

Saya dan sebagian Volunteer

Selamat untuk Kang Aming dan sahabat-sahabat muda volunteer RBPI, sungguh bahagia bertemu kalian dan semoga semakin banyak Rumah Baca-Rumah Baca di luar sana dengan volunteernya yang juga luar biasa.

*****

Jakarta, 30 oktober 2013
Pukul 11.56 WIB
Aida,MA

8 komentar:

  1. Terima kasih Mbak Aida, sudah berkenan mampir di sela-sela kesibukannya road show di radio-radio. Salut untuk kebaikan dan kerendahan hati Mbak Aida. Saya senang dan bangga bisa mengenal dan menjadi teman bagi Mbak Aida. Terima kasih juga sudah berbagi tips dan ilmunya. Sangat menginspirasi dan memotivasi pastinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 kang aming...ada Yg nnnya nih. Nerima buku bekas Engga kang?

      Hapus
  2. buku adalah sarana ilmu yang tak pernah mati,,dan rumah baca salah satu solusi mendekatkan diri dengan buku kepada masyrakat yang jauh dari perpustakaan..di makassar juga ada beberapa rumah baca yang dikelola oleh warga...
    btw-aku juga lagi buat GA, dicari 32 orang blogger yg suka nulis dan corat coret untuk jadi pemenang buat dapatkan gift unik dari Makassar, Tana Toraja dan Martapura Kalimantan Selatan.....salam :-)

    BalasHapus
  3. Aku dari dulu juga pengen sekali bisa memiliki rumah baca bagi anak2 sekitarku... tapi sampai sekarang belum terwujud juga...
    Terus terang membaca tulisan mbak Aida ini aku jadi iri dengan Kang Aming, apalagi di rumah bacanya ada juga volunter2 yang siap membantu anak2 yang datang dan belajar disana.

    BTW.. itu rumah baca menerima sumbangan buku bekas ga ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komunikasi Sama kang aming ya mba reny. Di foto pertama ada no telponnya

      Hapus
  4. sebuah aktifitas yang sangat mulia, salah satunya adalah menulis. Memberikan ilmu yang bermanfaat
    Salam Safety

    BalasHapus
  5. Makasih mbak Aida. semangat menulis, semangat membaca.

    BalasHapus