Minggu, 22 Desember 2013

Kata Orang Ibuku Pengangguran

Kata orang ibuku pengangguran, kaum yang sering kali disubordinasikan banyak kalangan. Karena dianggap menjadi beban dan sampah intelektual negeri ini. Ibuku disebut pengangguran, mungkin karena ibu tidak memiliki kantor  dengan gedung bertingkat, tidak pernah berpakain resmi dengan blazer yang rapi, dan satu lagi, mungkin karena tidak punya salary pasti setiap bulannya. Begitulah kata orang-orang tentang ibuku, ya ibuku hanya seorang pengangguran ulang mereka lagi semacam kalimat muakkad.

Belum lagi, banyak kata-kata yg menyayangkan mengapa ibuku memilih jadi pengangguran saja. Mungkin kata rumah dan hanya merawatku saja dianggap pengangguran.

"Ngapain sih ngambil Magister segala kalo cuma di rumah?" Kudengar kata-katanya seperti itu,  mungkin tak begitu persis, saat ibuku mengambil program Magister Ethnografi di sebuah Universitas bergengsi di negeri ini.

Ibuku lulus sarjana dengan predikat cumlaude, ia pernah berdiri gagah memberi bangga pada nenek dan kakekku. Keluarga sederhana yang memikul beban ekonomi yang berat untuk menyekolahkan Ibuku dan saudara-saudaranya.

Ibu juga pernah mendapat The best achievement, ia ditetapkan sebagai "Smart Worker" dari Australia Indonesia for Partnership Programme (AUSAID),  tempat ia bekerja dulu. Tapi ibu memilih menjadi seorang pengangguran seperti yg dikatakan banyak orang tentangnya.

Namun saat kata-kata itu diucapkan di depan ibuku, berulang kali kutatap sorot matanya, meski tanpa kata-kata, namun kutahu ada bait-bait tatapannya yang berbisik padaku bahwa "Ibu bahagia seperti ini nak.."





Suatu hari orang bertanya pada nenekku, apa ibuku bekerja? Nenekku dengan gampang saja mengatakan "tidak, dia tidak bekerja, dia hanya menulis buku"

Entahlah, karena kata-kata itu, akhirnya aku mengetahui bahwa ibuku memang tidak bekerja, ibuku hanya menulis buku, dan menekan banyak huruf-huruf di depan laptop hingga jidatnya mengerut, jari-jemarinya sibuk membolak-balikkan buku. Ah, orang yang tidak bekerja saja bisa sesibuk ini pikirku saat itu.

Meskipun demikian ibuku yang kata orang tak begitu hebat itu, sering kali menjadi imam shalatku, posisi yg jarang dilakukan ayahku. Ibuku yang selalu membisikiku Ayat Kursi sejenak sebelum aku terlelap. Ibuku yg katanya pengangguran itu selalu membawaku bersamanya di sudut ruangan kecil dengan earphone besar di telinga, lalu biasanya ada seseorang yg terus bertanya banyak hal padanya,  mengenai kegiatannya, dan buku-buku yang ia tulis. Aku bisa menemukan ada nama Ibuku di sampul buku itu.

Tak jarang juga ibu membawaku serta dan memintaku duduk dengan manis di belakang kelas dengan buku dan pinsil warna, terkadang ia menjadi guru SMP yang manis, terkadang ia menjadi bu dosen yang bersahabat, ah iya.. ibuku sesekali juga banyak berbincang dengan kakak mahasiswa.

Ibuku sayang...... yg kata orang pengangguran itu kerap kali membelikanku buku, membawaku pada tumpukan buku-buku, lalu sesekali ia menunjukkan, "Ini buku ibumu nak" lalu setiap saat ke toko buku, aku pasti akan mencari sampul buku berwarna yang bertulis nama ibu. Setiap kali melihatnya, aku akan berteriak "ini buku ibuku" terkadang ibu harus menutup mulutku karena sebagian orang pengunjung toko mulai melihat ke arah kami.

Ibuku yg lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah itu, selalu bisa membawaku bermain di arena bermain, meski di lain waktu aku harus duduk di kursi bersama banyak orang, orang-orang dewasa yg mendengarkan ibuku berbicara di depan sana,

"Ayuk... Duduk di sini dulu ya sayang, nanti boleh duduk di samping ibu lagi"
aku hanya bisa mendengar suara ibuku lewat pengeras suara karena tubuhku terlalu kecil di antara tubuh orang-orang dewasa yg duduk di depanku.

Aku menunggu ibu dengan manis, meski sekali-kali bosan menyapa, aku akan berdiri lalu mondar mandir lagi, namun itu tidak terlalu lama, karena satu jam kemudian aku bisa kembali duduk di samping ibu, lalu menunggui ibu menandatangi banyak buku yang disodorkan di depannya.

Ibuku bukan wanita kaya, ibu tidak punya mobil seperti ibu dari teman-temanku di sekolah. Namun hatinya selalu tercurah pada anak-anak yang papa. Ibuku juga bukan jutawan, meski demikian ia menaruh separuh jiwanya pada pendidikan anak-anak marginal.

Ibuku memang bukan ibu yang super punya, Ia bahkan membawaku ke pasar dengan sepeda, bersempit-sempit di angkutan umum dengan penumpang yang lain, terkadang ibu menggendongku saat memasuki commuterline di jam-jam sibuk. Hanya Ibuku yang menanamkan kenangan itu di kepalaku. Mengelilingi hal-hal yg sederhana, mencoba banyak hal di alam yg tak pernah kudapatkan dari yg lain.

Hari itu, ketika semua orang mengambil raport. Di saat ibu dari teman-temanku terus menanyai, mengapa nilainya buruk. Ibuku hanya mengatakan satu hal padaku "Sudah bagus nak, nanti kita belajar yg rajin lagi, biar lebih bagus ya."

Ibuku, bukan orang yang terpaku dengan angka-angka, ia hanya wanita biasa yang menanamkan banyak kenangan dalam memoriku. Menyimpan lukanya dengan diam, menabur senyum untuk selalu bahagia. Ya.. Ia ibuku.

Ibuku, wanita yang mengajarkanku bahwa pada sedih dan bahagia perlu disikapi dengan takaran yang sama. Karena dua hal ini sama-sama menjadi ujian yang tak terbaca oleh kasat mata.

Ibuku, meski tak sempurna seperti ibu-ibu yang lain, mungkin juga tak sehebat ibu-ibu yang lain, namun sampai kapanpun jika aku dilahirkan 10 tahun lagi, aku akan tetap memilih wanita ini menjadi Ibuku.

Terimakasih Ibu.

***
Akhir tahun itu..
Ketika ibu menungguiku di rumah sakit
Kulihat ia terlelap lelah di sampingku
Kuyakin, ada cinta yang Maha Besar di dadanya..
Untukku.
***


12 komentar:

  1. terharu mbaaa... melting ni, huhu...

    BalasHapus
  2. bacanya bikin nyessssss...

    BalasHapus
  3. zira, lekas sehat ya, sayang :)

    BalasHapus
  4. Aaaaah... jadi terharuuuu... ikut ngerasa nih, mungkin gini juga kali yah yang Nai Rasa.

    Syafakillah Zira :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ibunya pengangguran atau Engga selama sayang ama dia. Inshaa Allah anak2 selalu bangga ya mba.

      Hapus
  5. pengangguran kayaknya harus diredefinisi nih heheheh

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Salam kenal Muhammad ridwan. Terimakasih sudah Mampir Di Sini. Kalo ke Aceh biasa aku Kabar2i kok.

      Hapus
  7. ibuuu...... huaaaahhhh T^T

    BalasHapus