Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

SAYA ALUMNI MAN MODEL BANDA ACEH

Saya pulang tak begitu tergesa-gesa dan commuterline agaknya sedikit bersahabat setelah lewat magrib. Saya memikul kekasih setia di punggung "Om Mac" ada di situ. Bola mata saya kembali bergulir memaknai sederetan kalimat dalam Va Dove Ti Porta Il Euore-nya Susanna Tamaro. "Kamu tahu kan Mac...suasana Commuterline pada jam-jam begini?" saya memindahkan Om Mac ke depan kini memeluknya lebih erat. Terlalu berisik..ya saya tahu! Terlalu beraroma...itu juga saya paham, saya kembali menatap lembaran di tangan meski sesekali mata saya berpindah pada dua orang yg bercakap2 dengan volume yang menggunakan echo..Menarik! keduanya dengan senyum yg berbeda, satunya tampak gembira dan satunya tampak bahagia. Ah...bukannya itu sama saja? Tapi ternyata tidak... bahagia dan gembira seperti membandingkan cahaya lampu dan sinar matahari. "Nanti kamu akan tahu apa beda keduanya" ujar saya berdiplomasi setiap kali Om Mac bertanya. Saya tiba di rumah dengan 7 aroma parfum yg…

BAIT SEBELUM PULANG

BAIT SEBELUM PULANG
Derap langkah menuju pulang terlalu senyap.
Kota Rabat seketika semakin bisu dan bungkam. Hanya lambaian Eucalyptus berbaur temaram lampu jalanan saja yang mampu menerjemahkan diam.
Kita berdua serupa waktu yang telah kehilangan nada dan lagu.
Mencoba menyusun ritme pada pecahan ombak di dinding khasbah Udaya.
Kita bersama menganalogikan senja di ujung buritan, sambil menerjemahkan pekikan camar.
Namun.. tak terkendali kutambahi rukun Iman,  serupa sila ke-enam yang kutambahi satu menjadi rindu yang teryakini.
Pada derap langkah menuju pulang…
Bisik angin di Mehdina, aroma rumah di Kenitra dan pada percikan ombak lautan Atlantik.
Menjelajahi setiap inchi pori-pori rasaku. Kusangka ini hukum alam, ternyata melebihi isyarat Moza. Karena kita baru belajar merajut rindu pada bait pertama matamu belajar berkata.
Kita berada pada gelombang yang serupa, Meraih leburan pada frekuensi yang sama Bukan hanya pada mata yang menautkan aksara, Namun pada energi hati yang sedan…

News di Al Khawayn University, MOROCCO Journey

Women Writing Community in Indonesia 10.03.2014
On Friday, September 26, two women writers came all the way from Indonesia to share their writing experience with AUI community. Mrs. Risma El Jundy and Mrs. Aida Maslamah , both renowned authors in Indonesia, gave a talk titled “Women Writing Community in Indonesia”. Both authors write fiction books; Mrs. Risma writes Islamic novels and motivation books, and Mrs. Aida writes more popular and teenager novels.
In her presentation Mrs. Risma El Jundy briefly introduced the women writing community in Indonesia, how it started and the types of activities it organizes for the women community, mainly housewives. Then she highlighted her writing journey and shared her passion for writing with the audience. She talked about her personal inspirations, the importance and power of writing, the process of writing, how to write with all the senses, and ways of overcoming writer’s block. Mrs. Risma shared with the audience the titles of her published bo…

Catatan di Charless De Gaulle

"Ok! just wait for two minutes" tunjuknya ke sudut pintu keluar, saya hanya mengangguk sambil menatap sekilas raut wajah wanita berpakaian seragam lengkap dengan sebuah pistol di pinggang kirinya. Hanya kalimat itu yang ia ucapkan begitu saya serahkan paspor dan mengatakan "Saya Transit ke Jakarta" "*&^%##%&&***" Bibir wanita itu menyusun kalimat lagi dalam bahasa Perancis, kali ini tanpa berani menatap mata saya. "English please..."balas saya, sambil menunjukkan kerutan tidak mengerti di kening saya yang mungkin saat itu berjumlah sepuluh kerutan. Polisi bandara itu meminta tiket saya, mengaduk-aduk isi tas saya, mengecek persediaan dollar saya yang tidak seberapa, dan beberapa lembar rupiah yang membuat ia mengajukan pertanyaan lagi "Ini uang Indonesia?" Wanita itu sama sekali tidak mau berkontak tatap dengan saya, ia masih terlalu asik mengaduk-aduk isi tas saya, sambil mulutnya sesekali berkomentar bahwa saya terlihat …

CERMIN

Aku menatapmu seperti menemukan cermin jiwaku. 
Aku memungutmu seperti Afrodit yg menyayangi Eros.

Kamu pemetik luka yg sama denganku.
Jiwa-jiwa yg sakit berkelindan menyemayami separuh hati yang tak berani atau memang tak perlu berdamai saja. Kurasa konteksnya sama saja, karena kalimatnya tetap "Tidak berdamai"

Kamu, Aku...
Kita hanya manusia yang "sakit"
Tak berani atau merasa tak perlu keluar dari kesakitan itu sendiri.

Kamu, Aku...
Kita berpusar pada luka yg melebam
Bahkan dengan cermin sendiri kita mampu membenci. 
Apalah lagi pada tatapan harap yg terasa basi dan dingin  itu.

Aku...Kamu...
Tak ubahnya jika disusun dari  kata Kamu dan Aku..
Ah..lagi-lagi kupikir sama saja.
Meski memiliki bayangan yg sama.
Namun kita hanya memiliki satu gambaran kata.

 "SAKIT".


Akhir Ramadhan, 2014

Aida.M.A

Ingin Namamu Ada di Buku Terbaru Saya?

Assalamualaikum…
Masih dalam suasana Ramadhan, moga Allah sehatkan kita semua di 10 hari terakhir bulan puasa ini, dan berakhir dengan kematangan sikap karena selama puasa diuji dengan cekcok politik pilpres. Selain itu semoga ditambahkan kepekaan hati, rasa saling berbagi dan mendoakan ketika melihat genosida terhadap saudara-saudara kita di Palestina, amin ya rabbal ‘alamin.
Alhamdulillah saat ini saya sedang menggarap sebuah naskah bertema pentingnya sebuah komunikasi dalam pernikahan yang Inshaa Allah akan diterbitkan oleh penerbit Erlangga lini buku islami emir.
Dalam satu bab tertentu dalam naskah ini, seperti halnya dalam buku-buku saya sebelumnya, selalu menyediakan tempat untuk saling berbagi pengalaman dengan teman-teman semuanya, bukan untuk mengumbar sebuah masalah, namun tepatnya untuk berbagi pengalaman sehingga orang lain mampu berkaca dan mengambil sikap yang bijak dari pengalaman yang lain.
Untuk itu, mungkin ada yang ingin berbagi kisah bagaimana membangun komunikas…

GA-FOTO BERSAMA BUKU YA RABB AKU GALAU

SURAT IZIN LELAH