Jumat, 31 Oktober 2014

SAYA ALUMNI MAN MODEL BANDA ACEH

Majalah GEMA MAN Model Banda Aceh



Saya pulang tak begitu tergesa-gesa dan commuterline agaknya sedikit bersahabat setelah lewat magrib. Saya memikul kekasih setia di punggung "Om Mac" ada di situ. Bola mata saya kembali bergulir memaknai sederetan kalimat dalam Va Dove Ti Porta Il Euore-nya Susanna Tamaro.
"Kamu tahu kan Mac...suasana Commuterline pada jam-jam begini?" saya memindahkan Om Mac ke depan kini memeluknya lebih erat.
Terlalu berisik..ya saya tahu! Terlalu beraroma...itu juga saya paham, saya kembali menatap lembaran di tangan meski sesekali mata saya berpindah pada dua orang yg bercakap2 dengan volume yang menggunakan echo..Menarik! keduanya dengan senyum yg berbeda, satunya tampak gembira dan satunya tampak bahagia. Ah...bukannya itu sama saja? Tapi ternyata tidak... bahagia dan gembira seperti membandingkan cahaya lampu dan sinar matahari.
"Nanti kamu akan tahu apa beda keduanya" ujar saya berdiplomasi setiap kali Om Mac bertanya.
Saya tiba di rumah dengan 7 aroma parfum yg kebanyakan alkohol. Butuh waktu 5menit untuk meregangkan tulang punggung di kursi depan.
"Mac...Mari kutunjuki kamu apa itu gembira?" kerling saya sembari membuka bungkusan berisi majalah sekolah MAN Model Banda Aceh.
"Ah..Gembiramu ternyata begitu sederhana. Ketika wajahmu nampang di majalah sekolah?" nada Mac mengejek.
"Ya....itu gembira Mac. Tapi bahagiaku itu saat ilmu yg kutebarkan bisa dibaca semua adik2 di sekolah ini. Jadi, Mac apa kamu sudah tahu beda bahagia dan gembira?"
Mac melipat senyum tanpa suara mengeja berita tentang saya di lembaran majalah.

Minggu, 19 Oktober 2014

BAIT SEBELUM PULANG

BAIT SEBELUM PULANG

Derap langkah menuju pulang terlalu senyap.
Kota Rabat seketika semakin bisu dan bungkam.
Hanya lambaian Eucalyptus berbaur temaram lampu jalanan saja
yang mampu menerjemahkan diam.

Kita berdua serupa waktu yang telah kehilangan nada dan lagu.
Mencoba menyusun ritme pada pecahan ombak di dinding khasbah Udaya.
Kita bersama menganalogikan senja di ujung buritan, sambil menerjemahkan pekikan camar.
Namun.. tak terkendali kutambahi rukun Iman,  serupa sila ke-enam yang kutambahi satu menjadi rindu yang teryakini.

Pada derap langkah menuju pulang…
Bisik angin di Mehdina, aroma rumah di Kenitra dan pada percikan ombak lautan Atlantik.
Menjelajahi setiap inchi pori-pori rasaku.
Kusangka ini hukum alam, ternyata melebihi isyarat Moza.
Karena kita baru belajar merajut rindu
pada bait pertama matamu belajar berkata.

Kita berada pada gelombang yang serupa,
Meraih leburan pada frekuensi yang sama
Bukan hanya pada mata yang menautkan aksara,
Namun pada energi hati yang sedang menautkan jiwa.

Nanti… Janjiku kan kembali pada Rabat, Marracheh, Cassa, Kenitra.
Tunggu aku, pada jejak kakiku yang kau tatapi.


Rabat, 07 Oktober 2014
Menjelang pulang….
Ada kata yang tertahan, meski cinta tak musti diluahkan.
Hanya rindu yang bertaruh janji bahwa jejak kaki harus kembali
di sini…


                        Terimakasih adik-adik PPI Maroko pada setiap detik kehangatan.







Jumat, 10 Oktober 2014

News di Al Khawayn University, MOROCCO Journey

Women Writing Community in Indonesia
10.03.2014

On Friday, September 26, two women writers came all the way from Indonesia to share their writing experience with AUI community. Mrs. Risma El Jundy and Mrs. Aida Maslamah , both renowned authors in Indonesia, gave a talk titled “Women Writing Community in Indonesia”. Both authors write fiction books; Mrs. Risma writes Islamic novels and motivation books, and Mrs. Aida writes more popular and teenager novels.

In her presentation Mrs. Risma El Jundy briefly introduced the women writing community in Indonesia, how it started and the types of activities it organizes for the women community, mainly housewives. Then she highlighted her writing journey and shared her passion for writing with the audience. She talked about her personal inspirations, the importance and power of writing, the process of writing, how to write with all the senses, and ways of overcoming writer’s block. Mrs. Risma shared with the audience the titles of her published books, and focused on one of her major publications “Ouhibouki Areta” (2012).  This novel tells the love story of an Indonesian boy and a Moroccan girl who have met in Morocco. The author wrote about Moroccan cities, places, people and customs from her own imagination. When asked about what she thinks of Morocco now that she has seen it, and if it is different from the way she portrayed it in her novel two years ago, she said: “The reality is much more amazing and fantastic than I imagined. I love the beautiful sky of Morocco”.
Mrs. Maslamah’s presentation was about Writing Therapy. She shared with the audience tips for writing to heal (self-healing therapy), and explained the recovery process that consists of three main parts: Detoxing- Balancing- Controlling.
Mrs. Maslamah has authored 19 books and she is founder and owner of Batavia Publishing. Mrs. El Jundy is founder of Care GBS, a community for disabled people suffering from Guillain Barre Syndrome.  
The two guest speakers, who were accompanied by Indonesia’s ambassador to Morocco,donated books to Mohammed VI library.
Dr. El Mortaji, Professor at the School of Humanities and Social Sciences said: “The talk was inspiring to all of us and the students enjoyed interacting with the speakers. This event was a good opportunity for us to learn about Women Writing Community in Indonesia. I seize this opportunity to thank Mr. President Pr. Driss Ouaouicha and His Excellency Mr. TosariWidjaja for giving the relationship and collaboration between Al Akhawayn University and the embassy of Indonesia a new dimension.”

Selasa, 07 Oktober 2014

Catatan di Charless De Gaulle

Charless De Gaulle, Paris

"Ok! just wait for two minutes" tunjuknya ke sudut pintu keluar, saya hanya mengangguk sambil menatap sekilas raut wajah wanita berpakaian seragam lengkap dengan sebuah pistol di pinggang kirinya.
Hanya kalimat itu yang ia ucapkan begitu saya serahkan paspor dan mengatakan "Saya Transit ke Jakarta"
"*&^%##%&&***" Bibir wanita itu menyusun kalimat lagi dalam bahasa Perancis, kali ini tanpa berani menatap mata saya.
"English please..."balas saya, sambil menunjukkan kerutan tidak mengerti di kening saya yang mungkin saat itu berjumlah sepuluh kerutan.
Polisi bandara itu meminta tiket saya, mengaduk-aduk isi tas saya, mengecek persediaan dollar saya yang tidak seberapa, dan beberapa lembar rupiah yang membuat ia mengajukan pertanyaan lagi "Ini uang Indonesia?"
Wanita itu sama sekali tidak mau berkontak tatap dengan saya, ia masih terlalu asik mengaduk-aduk isi tas saya, sambil mulutnya sesekali berkomentar bahwa saya terlihat terlalu sibuk dengan berkas-berkas saya.

Bersama Dubes RI untuk Maroko, Bapak Tosari Widjaya



Tangannya kali ini berhenti ketika menemukan selembar kertas penghargaan dari KBRI Rabat yang bertuliskan nama saya sebagai pemateri workshop menulis untuk mahasiswa Indonesia di Maroko Ppi Maroko.
"So, what are you doing in Morocco?" tanyanya lagi sambil mengeja kalimat dalam sertifikat penghargaan dari KBRI.
Baik, saya memilih tetap bekerjasama, agar pemeriksaan ini cepat selesai. Wanita berkulit cokelat itu benar-benar berhenti mengaduk-aduk isi tas saya begitu ia menemukan sebuah flyer bertuliskan nama saya dan Risma EL Jundi saat mengisi acara di Al Khawayn University.

Flyer pembicara di Alkhawayn University


"We both writers from Indonesia!" Saya sengaja menekankan kalimat terakhir itu sambil menatap matanya lekat.
"Oh ok...ok...silahkan menuju gate anda" kali ini suaranya landai, agak bersahabat dan membukakan pintu untuk saya dan Risma.
Saya melangkah tenang, mendorong kembali Trolley saya di samping Risma, sambil berbicara dalam hati,
"Ahhh...madam Polisi tidak perlu khawatir, kejadian ini tidak akan kutulis dalam bukuku, namun cukup di statusku sore ini.


Charless De Gaulle, PARIS.
7 Oktober 2014
pukul 16.00 CEST
Aida, M.A


Rabu, 06 Agustus 2014

CERMIN

dari sini





Aku menatapmu seperti menemukan cermin jiwaku. 
Aku memungutmu seperti Afrodit yg menyayangi Eros.

Kamu pemetik luka yg sama denganku.
Jiwa-jiwa yg sakit berkelindan menyemayami separuh hati yang tak berani atau memang tak perlu berdamai saja. Kurasa konteksnya sama saja, karena kalimatnya tetap "Tidak berdamai"

Kamu, Aku...
Kita hanya manusia yang "sakit"
Tak berani atau merasa tak perlu keluar dari kesakitan itu sendiri.

Kamu, Aku...
Kita berpusar pada luka yg melebam
Bahkan dengan cermin sendiri kita mampu membenci. 
Apalah lagi pada tatapan harap yg terasa basi dan dingin  itu.

Aku...Kamu...
Tak ubahnya jika disusun dari  kata Kamu dan Aku..
Ah..lagi-lagi kupikir sama saja.
Meski memiliki bayangan yg sama.
Namun kita hanya memiliki satu gambaran kata.

 "SAKIT".


Akhir Ramadhan, 2014

Aida.M.A

Jumat, 18 Juli 2014

Ingin Namamu Ada di Buku Terbaru Saya?

Assalamualaikum…

Masih dalam suasana Ramadhan, moga Allah sehatkan kita semua di 10 hari terakhir bulan puasa ini, dan berakhir dengan kematangan sikap karena selama puasa diuji dengan cekcok politik pilpres. Selain itu semoga ditambahkan kepekaan hati, rasa saling berbagi dan mendoakan ketika melihat genosida terhadap saudara-saudara kita di Palestina, amin ya rabbal ‘alamin.

Alhamdulillah saat ini saya sedang menggarap sebuah naskah bertema pentingnya sebuah komunikasi dalam pernikahan yang Inshaa Allah akan diterbitkan oleh penerbit Erlangga lini buku islami emir.

Dalam satu bab tertentu dalam naskah ini, seperti halnya dalam buku-buku saya sebelumnya, selalu menyediakan tempat untuk saling berbagi pengalaman dengan teman-teman semuanya, bukan untuk mengumbar sebuah masalah, namun tepatnya untuk berbagi pengalaman sehingga orang lain mampu berkaca dan mengambil sikap yang bijak dari pengalaman yang lain.

Untuk itu, mungkin ada yang ingin berbagi kisah bagaimana membangun komunikasi dalam rumah tangganya selama ini yang nantinya akan saya masukkan ke dalam buku saya sebagai kontributor naskah. Contoh buku saya yang mencantumkan  pengalaman kontributor naskah bisa dibaca dalam buku KUSEBUT NAMAMU DALAM IJAB DAN QABUL, terbitan Quanta-Elexmedia.



Berikut saya beri beberapa point bentuk komunikasi yang akan saya masukkan ke dalam naskah saya tersebut.

a.     Curiga berlebihan, pengalaman memiliki pasangan yang terlalu cemburuan.

b.     Satu pendiam dan satunya lagi cerewet, pengalaman komunikasi  suami istri yang memiliki pasangan yang terlalu pendiam atau terlalu cerewet.

c.      Komunikasi pasca perselingkuhan, pengalaman suami atau istri yang pernah mengalami perselingkuhan dalam rumah tangganya.

d.     Cekcok dan berbeda pendapat dalam pola asuh mendidik anak, pengalaman suami istri yang berselisih pendapat saat mendidik anak.

e. Ini mauku dan bagaimana maumu? Pengalaman suami istri yang mampu mengungkapkan keinginannya dan pasangannya sehingga menemukan solusi setelah berbeda pendapat.

Bagi teman-teman yang memiliki pengalaman berkomunikasi dengan pasangan seperti di atas, silahkan mengirimkan pengalamannya kepada saya via email saya, aidaaffandi@gmail.com namun, nantinya tetap akan ada seleksi dari saya terutama untuk naskah dengan pengalaman yang sama.

TIDAK ADA aturan khusus untuk teknis penulisan, hanya saja pastikan dalam cerita pengalaman teman-teman dimasukkan bagaimana solusi mengatasi permasalahan komunikasi dalam rumah tangganya masing-masing. Silahkan menginformasikan kepada saya jika nama dan tempat cerita ingin disamarkan untuk menjaga privacy kontributor naskah.

Demikian, saya tunggu cerita dan pengalaman teman-teman semuanya agar mampu memberikan manfaat untuk pembaca lainnya. Inshaa Allah.



Wassalamualaikum Wr. Wb.


Aida,M.A

Rabu, 25 Juni 2014

GA-FOTO BERSAMA BUKU YA RABB AKU GALAU




            Sejak terbit awal Juni lalu, buku YA RABB AKU GALAU sudah tersebar di seluruh Indonesia. Apalagi kemudian saya dan mba umi beberapa kali mengadakan event soft launching dan book talk tentang buku YA RABB AKU GALAU selama bulan Juni ini. Jadi, tidak ada salahnya para pembaca yang sudah memiliki buku YA RABB AKU GALAU atau pun belum memiliki buku tersebut bisa berbagi moment-nya bersama buku ini dalam bentuk foto.

            Kali ini saya dan Mba Umi mengajak teman-teman untuk berbagi foto terbaik, terkreatif dan ter unik saat bersama buku YA RABB AKU GALAU.

            Kami akan memilih 3 PEMENANG (1,2 dan 3) yang akan mendapatkan,

            Pemenang I, pulsa 150 ribu
            Pemenang II, pulsa 100 ribu
            Pemenang III, pulsa 50 ribu.

            Teknis lombanya berikut ini.

  1. Upload foto terbaikmu bersama buku YA RABB AKU GALAU, di semua akun linimassa milikmu. Bisa di Facebook, twitter, Instagram.
  2. Setiap foto yang diupload harus menggunakan hastag #LombaFotoYRAG. Lalu mention dan follow @aida_aie, @emir_books @bukuerlangga.
  3. Setiap foto yang diupload di Facebook, jangan lupa untuk tag ke saya Aida,MA dan Umi K miqdar.
  4. Setiap foto yang diupload di Instagram tag dan follow AidaAffandi dan sertakan hastagnya #LombaFoto #YaRabbAkuGalau.
  5. Semua peserta hanya boleh meng-upload maksimal 2 foto saja, silahkan dikreasikan seunik mungkin.
  6. Semua peserta harus menginformasikan kepada followernya, friends dan akun lainnya tentang informasi lomba foto ini.
  7. Lomba ini berlangsung dari tanggal 25 juni s.d 15 Juli 2014.
  8. Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 20 Juli 20014.

            Salam

            Aida,MA

Selasa, 13 Mei 2014

SURAT IZIN LELAH

sumber ilustrasi




            Pernah tidak merasa bahwa suatu hari kita berada pada titik yang teramat jenuh. Titik di mana terlalu banyak informasi yang masuk ke kepala setiap hari, tekanan-tekanan yang berasal dari luar dan dari dalam diri sendiri juga memaksa kita untuk menghela nafas lebih panjang, mengurai pikiran yang sedang kusut sementara waktu.

            Banyak sekali motivator-motivator dan para therapis pikiran positif yang mengatakan bahwa siapa pun dari kita berhak bahagia, dan siapa pun dari kita harus selalu bahagia.

            Setelah saya pikir-pikir lagi, bahagia, hidup tenang, sukses dan apa pun yang namanya berhasil adalah hak semua orang. Sama halnya dengan hak seseorang memberikan pendapat dan gagasannya, hak untuk sukses dan hak untuk bahagia pun sama posisinya.

            Namun, ketika punya hak untuk merasakan kebahagiaan, dengan dasar penciptaan manusia yang diarahkan untuk bahagia dunia dan akhirat dalam banyak dalil Al-quran, apa lantas kemudian kita tidak punya hak untuk merasa lelah, capek, dan sementara waktu, bahkan dalam hitungan menit pun apa lantas kita tidak berhak untuk jenuh?

            Setiap hari ada sekitar 400.000 informasi yang masuk ke kepala kita. Jika sebagiannya berisikan hal-hal yang menyebalkan, lalu sisanya hal-hal yang menyenangkan, apa lantas kita dalam sehari ini tidak boleh merasa uring-uringan?

            Dalam beberapa bulan ini pikiran saya memang sedikit lebih crowded, ada tekanan dari diri sendiri untuk melakukan banyak hal, ada keinginan-keinginan dan memberikan sesuatu yang cenderung agak perfectionis, saya pikir itulah salah satu kelemahan saya, perfectionis sering kali menjadi mudah down ketika harapan dan pencapaian itu sedikit bergeser.

            Ketika saya memaksakan diri untuk terus fokus atas apa yang sedang saya kerjakan, saya semakin tertekan, saya sulit sekali rileks dan lalu memejamkan mata sejenak, merasakan kehadiran nafas saya, detak jantung saya dan setiap sentuhan angin yang mungkin bisa menyadarkan saya bahwa saya real, saya sedang sadar bukan sedang tertidur.

            Filosofi dalam dunia sufi mengatakan bahwa kita terlahir dalam keadaan tidur, kita hidup dalam keadaan tidur, namun setidaknya kita harus terbangun sebelum mati.

            Saya merenungi makna kalimat itu, sebenarnya menyadarkan kita bahwa dalam keseharian kita beraktivitas sering kali dalam keadaan tidak sadar. Menerima telepon, bahkan sedang makan sambil mengerjakan yang lain, ternyata kita dan memang kenyataannya kita “tertidur” saat hidup ini sedang berjalan.
           
Overload informasi yang masuk setiap hari ke kepala sering kali membuat saya lelah, efek yang lebih parah dari itu adalah lupa, dan sekarang ditambah stamina yang mulai menurun dan to do list membuat kepala dan hati saya sedang berdebat panjang. Ada pengurangan nilai pengharapan yang saya kira harus dipahami setiap orang saat menjalani hidup dengan berbagai rupa keinginan dan cita-cita.

Nilai pengharapan 70 persen dan kesalahan 30 persen adalah proses pembelajaran yang luar biasa bagi siapa pun, karena kenyataannya kita semua tidak pernah berhenti untuk “bertumbuh”

Jadi, hari ini jika sedang sangat lelah, minta izin saja pada Tuhan yang Maha Baik…”Tuhan…Tolong aku, aku sedang lelah” atau dengan kata lain, rasakan bahwa kita tidak sedang tidur, melafazkan dzikir di hati dan mulai merasakan setiap nikmat dari setiap tarikan nafas, inshaa Allah ada kekuatan baru untuk belajar dari 30 persen kesalahan dan kekurangan, sehingga hidup ini lebih indah untuk dinikmati.


sumber ilustrasi

Wallahu A’lam bis shawabb.


Jakarta. Sevel, Bintaro 1
Pukul 10.55 wib
Aida,M.A