Minggu, 30 Maret 2014

Memoar Sebuah Titik






Gambar dari sini

Itu memang titik. Kukira cukup setitik namun ternyata sudah tercipta dari sejuta titik. Aku menampung  hanya setitik namun tanpa kuduga kau menorah sejuta titik lagi dengan sangat baik.

Ini memang hanya setitik. Namun apa kau tahu apa makna sejuta rasa dalam setitik air mata? Membuat moment ini tak terbetik hingga kuberdiri pada dentingan detak yang tak mengenal detik.

Rasa ini berawal dari setitik. Sementara hatimu akumulasi dari banyaknya titik dan koma. Jika dia adalah “koma” di dalam hatimu, sebuah koma yang tercipta dari sebuah titik yang meregang bersama waktu.

Lalu aku? bolehkah aku meminta, hanya menjadi titik di hatimu? Sebuah titik pada detik ini, detik nanti.  Hanya titik yang tak pernah berubah menjadi koma meski disulut detik didesak waktu.

Aku? bukan sebuah koma, aku hanya sebuah titik...Dan Mungkin di hatimu.



Jakarta, 30 Maret 2014
Pukul 17.08 WIB
Aida, M.A

Kamis, 27 Maret 2014

Menjadi Penulis Lepas *Dimuat di Republika



Republika, 18 Maret 2014


Sejak Desember 2006 silan, Aida Ahmad memutuskan berhenti bekerja di sebuah organisasi donor dunia, Australia Aid. Kebetulan saat itu masa kontrak kerjanya di kantor tersebut sudah habis selama setahun. Sebenarnya, pihak kantor ingin memperpanjang masa kerjanya. Hanya saja ia menolaknya dan memutuskan berhenti.

            Ada banyak pertimbangan yang membuat Aida memutuskan untuk berhenti bekerja. Pekerjaan sebelumnya cukup menguras energi, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter, menghabiskan banyak waktu di luar rumah, dan kembali ke rumah dalam keadaan lelah.
           
Sedangkan, ada kebutuhan-kebutuhan suami yang juga ingin diperhatikan. Bahkan, ia sendiri membutuhkan waktu untuk bersama suami. Saat itu, setelah menikah pada akhir November 2006, suaminya bekerja di Jakarta, sedangkan ia di Aceh.
           
Mereka membutuhkan waktu untuk bertemu dan jarak yang jauh. Selain itu, pasti akan menghabiskan banyak biaya untuk bolak balik Jakarta-Banda Aceh. Akhirnya setela kontraknya habis. Aida menyusul suami ke Jakarta.
           
“Pilihan menjadi freelancer bukan pilihan yang dipilih tanpa dipikirkan masak-masak sebelumnya. Tapi saat itu, menjadi freelancer adalah hal yang tepat untuk kondisi saya dan keluarga. Setidaknya, saya lebih nyaman,” ujar perempuan kelahiran 27 Agustus 1982 ini.
           
Baginya menjadi freelancer tidaklah menurunkan gengsinya. “Ketika saya sudah memilih, saya menyerahkan sepenuh hati saya pada pilihan itu, termasuk dalam hal pekerjaan, persepsi yang sudah tercipta itu akan memudar dengan sendirinya. Saya tidak gengsi, bahkan saya bahagia dengan pilihan saya,” katanya.
           
Menurutnya, ia bekerja bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Seperti itu cara dia menghargai dirinya sendiri sehingga menebar banyak manfaat untuk orang lain.
           
Saat memutuskan berhenti bekerja, kegamangan bukan datang dari dirinya. Namun dari keluarga besarnya. Memutuskan berhenti bekerja dengan gaji yang baik menurut mereka itu sangat disayangkan. “Butuh waktu untuk meminimalisasi kekhawatiran mereka saat itu. Sampai akhirnya kekhawatiran itu benar-benar sirna saat ini,” ujarnya.
           
Ia mengakui sebagian besar masyarakat masih memandang jika tidak berangkat kantor, tidak berblazer rapi maka tidak dianggap bekerja. Padahal dalam ajaran agama yang diutamakan itu adalah tetap bekerja.
           
Namun, ia melihat di kota-kota besar yang sudah lebih pluralis, pemahaman seperti ini sudah bergeser. Ia sering nongkrong di kedai-kedai kopi dan menemui orang yang sebagian besar adalah freelancer. Mereka penulis manga, desainer, editor yang bekerja dan meeting di tempat seperti itu.
           
Aida sendiri memutuskan untuk menjadi seorang penulis lepas. Tak hanya itu, ia juga menjadi motivator untuk remaja. Sebenarnya, Aida bisa saja mencari pekerjaan di Jakarta, namun ada saja yang mengarahkan takdirnya menjadi seorang freelancer, terutama saat ia hamil anak pertama.
           
Jadi, demi menjaga kondisi tubuh dan kehamilan anak pertama, akhirnya ia memang banyak di rumah dan mulai menulis berbagai hal yang ia alami di blog pribadinya. “Dari sini awal mulanya saya menjadi seorang penulis dan akhirnya menerbitkan buku,” katanya.
           
Segala sesuatu yang baru dirintis di awal, ia menambahkan tidak serta merta langsung terlihat hasilny, ibarat merawat dan membesarkan anak, semuanya membutuhkan kesabaran. Menekuni dunia menulis secara serius dengan sebuah harapan di masa depan membutuhkan sebuah proses.
           
Awalnya, tulisan hasil karyanya sering ditolak media. Ikut lomba menulis juga sering kalah. Namun, setiap kali mengalami kegagalan, ia sampai berpikir lama, sempat merasa down, kembali ingat bahwa pilihan ini harus dinikmati bukan menjadi sebuah beban hidup. Ketika menikmati jatuh bangun, ia menjadi tahu bagaimana meningkatkan kualitas tulisan dan bagaimana mengetahui seluk beluk penerbitan.
           
Bahkan, pada akhirnya ia tahu bagaimana menawarkan training motivasi penulisan. Itu semua dilakukan setelah ia menikmati bangun dan jatuh dalam proses belajar ini. Dan, itu ia lalui bersama suami, saling mendukung ketika saah satu dari keduanya mulai melemah.
           
“Alhamdulillah, sampai dengan saat ini saya memang sudah menerbitkan 10 buku dari beberapa penerbit yang berbeda, dipercaya untuk memberikan motivasi menulis dan meningkatkan minat baca untuk beberapa SMP dan SMA di Jakarta,” ujarnya.
           
Aida menambahkan, antara pekerjaan yang dulu dan sekarang, terdapat perbedaan yang sangat besar. Kalau dulu ia dituntut banyak melakukan negosiasi, pendekatan-pendekatan dengan banyak lembaga dan pejabat, hampir seharian berada di luar kantor, dan kembali lagi ke kantor hanya untuk menuliskan laporan pengembangan saja.
           
Sedangkan, pekerjaan yang sekarang banyak dilakukan via e-mail saja. Tidak perlu sampai bertatap muka. Kecuali, jika ada beberapa hal yang dianggap penting untuk dibicarakan langsung.
           
Perbedaan lain ada pada segi pendapatan. Menjadi freelancer, pendapatnya tak tentu. Dibilang lebih sedikit tidak juga, malah dalam waktu tertentu bisa lebih besar. Pembedanya hanya pada momennya saja. Jika dulu setiap tanggal 28 selalu masuk transferan, sedangkan freelancer tidak rutin pada tanggal yang sama.

*Dimuat, di Leisure Republika 18 Maret 2014.

Saat "LDR" Harus Belajar "MoveOn"






Minggu, 23 Maret 2014, TM Book store Depok.


Saya terlambat setengah jam… Benar-benar memalukan! Saat yang lain sudah duduk manis di posisi masing-masing, saya justru harus membetulkan letak kerudung saya, memastikan aroma keringat tidak menyeruak dan tentunya masih merasa-rasa rongga dada saya yang kembang kempis karena setengah berlari dari stasiun kereta api Pondok Cina menuju Depok Town Square.

Ini bukan karena macet, juga bukan karena jarak yang memang jauh dari tempat saya tinggal menuju DETOS, ini murni karena keteledoran saya sendiri yang tidak tepat waktu sampai di stasiun kereta api pondok ranji, lalu berakhir dengan ketinggalan kereta (huhuhu..)

Clara, Christina, Dylunaly, Ayuwidya, Anjani, Saya, Dita.

Tepat pukul 4 sore saya langsung duduk di antara Anjani (Penulis Friend Zone) dan Dita (Marcomm Bentang Jakarta). Diskusi sudah dimulai setengah jam yang lalu, itu terbukti ketika mic diserahkan kepada saya, lebih dari 5 pertanyaan sekaligus diajukan Dita kepada saya (wuiihh) pertanyaan sederhana seperti pembahasan tentang pemilihan tema, mengapa memilih menulis Move On atau mengapa memilih LDR.

Suasana TM book store sore itu seperti biasa ramai, hanya saja pengunjung banyak di antara rak-rak buku, tapi saya sendiri yakin kalau setiap pengunjung bisa mendengarkan dengan jelas apa saja yang sedang dibicarakan di tengah-tengah toko, apalagi ada backdrop yang bertuliskan Book Talk MoveOn dan LDR tergantung di belakang penulis yang sedang asik berbagi cerita tentang penulisan dan buku mereka masing-masing.

Ini pertama kali saya bertemu dengan Anjani, yang ternyata rentang jarak umurnya dengan saya nyaris 13 tahun, Oh Mein Gotttt, lalu Kakak Christina Juzwar, Mommie chubby yang kece banget, Clara Canceriana yang duhhh kalemnyaaa pake bangeetttt, pendieemmm booo, Dylunaly yang untuk ketiga kalinya bertemu dengan saya, dan sepertinya memang selalu betah saya omelin (heheheh), Ayuwidya yang semakin hari semakin langsing (ampunnn dehhh kamu penulis apa model ya Yu? Heheheh) Dita (marcomm Bentang tercintahh) yang selalu penuh cerita yang bikin saya geleng-geleng kepala, dan ada Kakak Anggun (editor) yang ternyata saingan kalemnya dengan Clara (heheheh).

Obrolan seputar Move On dan LDR ini sebenarnya mampu membuka sebagian sisi-sisi penulis yang enggak bisa ditemukan di tempat yang lain. Dan ini semua berkat akal-akalan Dita yang selalu bisa mengorek hal-hal yang sebenarnya sengaja disembunyikan penulis dalam tulisan-tulisannya (uhuyyy).

Bertemu dengan teman se-profesi seperti ini seperti membuka kran ilmu yang lain buat saya. Saya bisa menemukan sisi-sisi lain dari teman-teman penulis saat mereka mengeksekusi idenya masing-masing, lalu ada komitmen mereka yang besar dalam berkarya, termasuk ketika sahabat-sahabat penulis saya ini hanya ingin menulis fiksi saja, dan ini berbeda sekali dengan saya yang selalu tergoda menulis nonfiksi juga (hehehe).

Lain halnya obrolan dengan penulis, diskusi dengan penerbitan jauh lebih seru lagi. Dita dan Anggun adalah dua orang yang bisa saya katakan rekan kerja kami sebagai penulis. Ada harapan-harapan yang sebenarnya sama antara penulis dengan penerbitan adalah dalam hal penjualan buku yang selama ini jarang bisa dibicarakan langsung karena terkendala waktu dan kesempatan, ternyata bisa tersampaikan saat pertemuan Book Talk Move On dan LDR kemaren.


Book talk Move On dan LDR berakhir dengan pembagian doorprize bagi penanya di acara ini. Kebetulan saya yang disorong-sorong teman-teman penulis untuk memberikan hadiahnya kepada penanya. Nah, sebelum book talk ini berakhir, ada info baru nih bagi pembaca yang sedang menunggu seri-seri dari #Crazylove Books, akan ada seri-seri yang lain yang enggak  kalah kecenya dengan Move On dan LDR… Apa ituu??? Hahhh PHP?? Uppss (heheheh) ditunggu aja ya.

Book Talk buku Move On dan LDR memang sudah berakhir, namun perjalanan kami (penulis & penerbit) masih sangat panjang, bukan hanya dalam berkarya yang lebih baik, namun juga perjalanan kembali ke rumah masing-masing yang masih panjang.

Jika ada yang ingin bertemu dengan enam penulis Bentang Belia dalam satu waktu, mengobrol banyak hal di Commuterline yang berdesakan, mungkin hanya terjadi di hari itu, Minggu, 23 Maret 2014 menjelang magrib di stasiun Pondok Cina.

Terimakasih untuk Bentang Pustaka yang sudah memfasilitasi pertemuan ini. Dan doa saya, sukses selalu untuk teman-teman penulis Bentang Belia. Bahagia bertemu kalian semuanya, meski hanya sekilas, namun saya sudah menyerap banyak semangat dari teman-teman semua, dan jauh lebih penting dari itu semua adalah pembaca-pembaca kami, terimakasih banyak… Love you FULL :*

Jakarta, 27 Maret 2014
Aida, M.A

Rabu, 19 Maret 2014

WORKSHOP NULIS BANDA ACEH

Berikut beberapa kegiatan Workshop Nulis bagi teman-teman yang berada di sekitaran Banda Aceh.
Inshaa Allah saya akan mengisi Motivasi Menulis di dua event ini.


NA-Muhammadiyah Aceh




MOTIVASI MENULIS AAC Dayan Dawood 

Senin, 03 Maret 2014

THE MOCHA EYES’S QUOTES





Halloo… Hallo Alhamdulillah ketemu juga di kuis novel THE MOCHA EYES. Sebenarnya ini sudah kali ketiga saya mengadakan kuis atau lomba sejenis untuk novel The Mocha Eyes, mengapa sampai tiga kali? Karena ternyata banyak permintaan hadiah untuk Novel The Mocha Eyes ini, Alhamdulillah.

Kali ini saya mengajak teman-teman pembaca semua untuk ikutan lagi, kalau yang sudah punya novelnya bisa dijadikan hadiah untuk sahabat atau keluarga lainnya, karena novel The Mocha Eyes menurut para pembaca saya, bukan hanya sekedar novel romance saja, namun juga novel inspiratif pembangun jiwa.

Untuk bisa ikutan kuis ini kamu hanya perlu melakukan beberapa hal saja dan ini sangat mudah.

1.     Pantengin selalu Timeline saya terutama untuk tiap quotes yang berhubungan dengan novel THE MOCHA EYES, silahkan RT atau mention ke akun-akun lain pencinta Novel atau ke temenmu yang kira-kira cocok banget dengan salah satu quotes dari novel THE MOCHA EYES.

2.     Silahkan pilih lima (5) quotes terbaik menurut kamu dari novel THE MOCHA EYES, lalu dibuatkan ilustrasi dalam bentuk Quotes’Pic J
Berikut contohnya ya.




3.     Share Quotes’sPic mu di akun masing-masing, jangan lupa follow saya @aida_aie dan @bentangpustaka untuk setiap Quotes’sPic yang kamu posting. Jangan lupa pakai hastag #TheMochaEyes.

4.     Lomba ini berlangsung selama 2 minggu, terhitung dari tanggal 4 Maret s.d 18 Maret 2014.

5.     2 Pemenang terbaik akan mendapatkan Novel THE MOCHA EYES dan souvenir cantik, plus tanda tangan dari saya. Karenanya ajak teman-temanmu buat ikutan kuis ini ya.

Okeee…Tunggu apalagi, silahkan kirim Quotes’s Pic terbaikmu, dan menangkan hadiahnya dari saya.

Salam
Aida,MA