Minggu, 30 Maret 2014

Memoar Sebuah Titik






Gambar dari sini

Itu memang titik. Kukira cukup setitik namun ternyata sudah tercipta dari sejuta titik. Aku menampung  hanya setitik namun tanpa kuduga kau menorah sejuta titik lagi dengan sangat baik.

Ini memang hanya setitik. Namun apa kau tahu apa makna sejuta rasa dalam setitik air mata? Membuat moment ini tak terbetik hingga kuberdiri pada dentingan detak yang tak mengenal detik.

Rasa ini berawal dari setitik. Sementara hatimu akumulasi dari banyaknya titik dan koma. Jika dia adalah “koma” di dalam hatimu, sebuah koma yang tercipta dari sebuah titik yang meregang bersama waktu.

Lalu aku? bolehkah aku meminta, hanya menjadi titik di hatimu? Sebuah titik pada detik ini, detik nanti.  Hanya titik yang tak pernah berubah menjadi koma meski disulut detik didesak waktu.

Aku? bukan sebuah koma, aku hanya sebuah titik...Dan Mungkin di hatimu.



Jakarta, 30 Maret 2014
Pukul 17.08 WIB
Aida, M.A

0 komentar:

Posting Komentar