Kamis, 27 Maret 2014

Menjadi Penulis Lepas *Dimuat di Republika



Republika, 18 Maret 2014


Sejak Desember 2006 silan, Aida Ahmad memutuskan berhenti bekerja di sebuah organisasi donor dunia, Australia Aid. Kebetulan saat itu masa kontrak kerjanya di kantor tersebut sudah habis selama setahun. Sebenarnya, pihak kantor ingin memperpanjang masa kerjanya. Hanya saja ia menolaknya dan memutuskan berhenti.

            Ada banyak pertimbangan yang membuat Aida memutuskan untuk berhenti bekerja. Pekerjaan sebelumnya cukup menguras energi, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter, menghabiskan banyak waktu di luar rumah, dan kembali ke rumah dalam keadaan lelah.
           
Sedangkan, ada kebutuhan-kebutuhan suami yang juga ingin diperhatikan. Bahkan, ia sendiri membutuhkan waktu untuk bersama suami. Saat itu, setelah menikah pada akhir November 2006, suaminya bekerja di Jakarta, sedangkan ia di Aceh.
           
Mereka membutuhkan waktu untuk bertemu dan jarak yang jauh. Selain itu, pasti akan menghabiskan banyak biaya untuk bolak balik Jakarta-Banda Aceh. Akhirnya setela kontraknya habis. Aida menyusul suami ke Jakarta.
           
“Pilihan menjadi freelancer bukan pilihan yang dipilih tanpa dipikirkan masak-masak sebelumnya. Tapi saat itu, menjadi freelancer adalah hal yang tepat untuk kondisi saya dan keluarga. Setidaknya, saya lebih nyaman,” ujar perempuan kelahiran 27 Agustus 1982 ini.
           
Baginya menjadi freelancer tidaklah menurunkan gengsinya. “Ketika saya sudah memilih, saya menyerahkan sepenuh hati saya pada pilihan itu, termasuk dalam hal pekerjaan, persepsi yang sudah tercipta itu akan memudar dengan sendirinya. Saya tidak gengsi, bahkan saya bahagia dengan pilihan saya,” katanya.
           
Menurutnya, ia bekerja bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Seperti itu cara dia menghargai dirinya sendiri sehingga menebar banyak manfaat untuk orang lain.
           
Saat memutuskan berhenti bekerja, kegamangan bukan datang dari dirinya. Namun dari keluarga besarnya. Memutuskan berhenti bekerja dengan gaji yang baik menurut mereka itu sangat disayangkan. “Butuh waktu untuk meminimalisasi kekhawatiran mereka saat itu. Sampai akhirnya kekhawatiran itu benar-benar sirna saat ini,” ujarnya.
           
Ia mengakui sebagian besar masyarakat masih memandang jika tidak berangkat kantor, tidak berblazer rapi maka tidak dianggap bekerja. Padahal dalam ajaran agama yang diutamakan itu adalah tetap bekerja.
           
Namun, ia melihat di kota-kota besar yang sudah lebih pluralis, pemahaman seperti ini sudah bergeser. Ia sering nongkrong di kedai-kedai kopi dan menemui orang yang sebagian besar adalah freelancer. Mereka penulis manga, desainer, editor yang bekerja dan meeting di tempat seperti itu.
           
Aida sendiri memutuskan untuk menjadi seorang penulis lepas. Tak hanya itu, ia juga menjadi motivator untuk remaja. Sebenarnya, Aida bisa saja mencari pekerjaan di Jakarta, namun ada saja yang mengarahkan takdirnya menjadi seorang freelancer, terutama saat ia hamil anak pertama.
           
Jadi, demi menjaga kondisi tubuh dan kehamilan anak pertama, akhirnya ia memang banyak di rumah dan mulai menulis berbagai hal yang ia alami di blog pribadinya. “Dari sini awal mulanya saya menjadi seorang penulis dan akhirnya menerbitkan buku,” katanya.
           
Segala sesuatu yang baru dirintis di awal, ia menambahkan tidak serta merta langsung terlihat hasilny, ibarat merawat dan membesarkan anak, semuanya membutuhkan kesabaran. Menekuni dunia menulis secara serius dengan sebuah harapan di masa depan membutuhkan sebuah proses.
           
Awalnya, tulisan hasil karyanya sering ditolak media. Ikut lomba menulis juga sering kalah. Namun, setiap kali mengalami kegagalan, ia sampai berpikir lama, sempat merasa down, kembali ingat bahwa pilihan ini harus dinikmati bukan menjadi sebuah beban hidup. Ketika menikmati jatuh bangun, ia menjadi tahu bagaimana meningkatkan kualitas tulisan dan bagaimana mengetahui seluk beluk penerbitan.
           
Bahkan, pada akhirnya ia tahu bagaimana menawarkan training motivasi penulisan. Itu semua dilakukan setelah ia menikmati bangun dan jatuh dalam proses belajar ini. Dan, itu ia lalui bersama suami, saling mendukung ketika saah satu dari keduanya mulai melemah.
           
“Alhamdulillah, sampai dengan saat ini saya memang sudah menerbitkan 10 buku dari beberapa penerbit yang berbeda, dipercaya untuk memberikan motivasi menulis dan meningkatkan minat baca untuk beberapa SMP dan SMA di Jakarta,” ujarnya.
           
Aida menambahkan, antara pekerjaan yang dulu dan sekarang, terdapat perbedaan yang sangat besar. Kalau dulu ia dituntut banyak melakukan negosiasi, pendekatan-pendekatan dengan banyak lembaga dan pejabat, hampir seharian berada di luar kantor, dan kembali lagi ke kantor hanya untuk menuliskan laporan pengembangan saja.
           
Sedangkan, pekerjaan yang sekarang banyak dilakukan via e-mail saja. Tidak perlu sampai bertatap muka. Kecuali, jika ada beberapa hal yang dianggap penting untuk dibicarakan langsung.
           
Perbedaan lain ada pada segi pendapatan. Menjadi freelancer, pendapatnya tak tentu. Dibilang lebih sedikit tidak juga, malah dalam waktu tertentu bisa lebih besar. Pembedanya hanya pada momennya saja. Jika dulu setiap tanggal 28 selalu masuk transferan, sedangkan freelancer tidak rutin pada tanggal yang sama.

*Dimuat, di Leisure Republika 18 Maret 2014.

1 komentar:

  1. Selalu semangat dalam berjuang dan tak mengenal putus asa,..siip Mbak Aida.

    BalasHapus