Rabu, 23 April 2014

Mengapa Kita Harus Promo?






Setahun lalu saat saya diminta berbagi sedikit hal tentang kelas peminatan di FLP Ciputat UIN Syarif Hidayatullah, saya ditanyai salah seorang mahasiswa, kira-kira pertanyaannya seperti ini.

            “Kak, kalau buku kita sudah terbit, apa yang harus kita lakukan setelah itu?”

            Saya tersenyum saat pertanyaan itu dilontarkan dari seorang penulis muda dan pemula ke depan saya. Ayooo ngaku, sebenarnya pertanyaan ini juga pernah nongol di benak kita masing-masing kan? pasca sebuah buku terbit, apakah akan menjadi akhir dari segalanya? :D, euphoria kebahagiaan buku terbit itu luar biasa loh, tapi apa benar itu menjadi akhir segalanya?

Sebagian malah lebih ironis lagi, begitu buku sudah terbit, malah berpikir cukup hanya ungkang-ungkang kaki saja lalu per enam bulan kemudian kita akan menerima laporan penjualan. Ketika hari pembagian royalti itu tiba, lalu tiba-tiba mendadak pingsan, karena nilainya di luar dari ekspetasi. Kamu pernah? Saya mah sering, udah biasa kaget lihat laporan penjualan (hahahhah).

Sudah rahasia umum ya, bahwa rahasia dari sebuah produk itu laku atau tidak, salah satunya adalah dari sisi strategi marketingnya di samping kualitas content dari produk itu sendiri tentunya.

Tante JK Rowling sendiri dalam setahun punya agenda tertentu untuk memasarkan dan memperkenalkan Harry Potter series, dalam setahun ia melakukan riset untuk tulisannya selama 4 bulan, 4 bulan kemudian dia mulai menulis dan merancangnya menjadi sebuah naskah buku, lalu 4 bulan selanjutnya adalah agenda promo ke seluruh negara. Itu untuk sekelas JK Rowling loh, masih tetap melakukan promo untuk bukunya sendiri.

Lain halnya lagi, ketika Andrew Matthews “The Happiness” terbit, ia sendiri yang berjalan hampir di semua toko buku di Singapore, sambil membawa white board dan spidol untuk menggambar sekaligus promo bukunya yang memang sebagian isinya adalah karikatur hasil coretan tangannya sendiri. Entah berapa lama ia keliling di Singapore, lalu mulai mendapat perhatian banyak pembaca yang bisa menerbangkannya ke seluruh penjuru dunia, bahkan ia mengakui, sekitar 60 kali mengalami delay penerbangan dan 18 kali kehilangan bagasi selama perjalanan promo bukunya.

Di Indonesia sendiri, Ahmad Fuadi “Negeri 5 Menara” juga mengakui, sebelum novel tersebut dirilis, ia sudah membagi-bagikan sebagian file naskah novel tersebut kepada beberapa teman yang kira-kira memiliki minat dan pengaruh yang besar dalam dunia literasi. Harapannya apa? akan ada banyak informasi, ketika diblow-up dari mulut ke mulut tentang kelebihan novel tersebut, sehingga begitu novel Negeri 5 Menara dirilis, langsung laris manis bak kacang goreng di simpangan jalan.  

Ini hanya gambaran beberapa penulis yang sudah memiliki nama besar baik di dunia mau pun Indonesia. Nah, pasti timbul pertanyaan, kenapa sih harus bersusah-susah melakukan promosi?

Pertama, produk yang kita hasilkan sebagai seorang penulis adalah buku,  ketika sebuah buku terbit, tujuan utamanya tentu untuk menarik pembaca untuk mencari dan membaca buku tersebut.  Semakin banyak buku tersebut dicari dan dibaca orang, bisa jadi menjadi salah satu indikator buku tersebut baik dari sisi penjualanya.

Kedua, Buku, terutama yang diterbitkan oleh penerbitan, ada modal besar yang harus dikeluarkan untuk mencetak sekitar 3000 eksemplar misalnya. Hitung-hitungannya bisa mencapai angka 30juta (tentative) hingga buku diwraping dan didistribusikan ke toko-toko buku. Ada biaya produksi yang harus dipikirkan untuk kembali ke penerbitan, makanya tidak heran, ketika sebuah penerbitan menerapkan kebijakan tertentu dalam hal penilaian naskah, ada seleksi isi naskah yang harapannya nanti begitu disodorkan ke pasaran akan mendapat feed back yang baik pula. Ini akan mempengaruhi modal yang harus penerbit keluarkan.

Ketiga, Idealisme penulis, point ini saya maksudkan, bahwa setiap penulis harus dihargai karyanya, setiap penulis harus bangga memiliki sebuah karya, apalagi jika karya tersebut memiliki ide gagasan yang mampu memberikan pencerahan dan manfaat ke banyak pembaca, sangat disayangkan jika tidak diperkenalkan kepada khalayak ramai prihal ide dan gagasan yang disajikan dalam buku tersebut.

Sebagian penulis ada yang mengatakan, bahwa ia menulis tidak perlu promo, saya hanya menjadikan menulis sebagai ladang dakwah… statement seperti ini memang bikin saya salut luar biasa, tapi bagaimana jika buku harus mencapai tujuannya yaitu menebarkan kebaikan dalam bahasanya tadi adalah dakwah jika tidak diperkenalkan pada banyak orang, yaitu kepada pembaca? Setidaknya itu yang saya pelajari ketika Syekh Ali Jabeer mengadakan Conference Pers saat launching bukunya bulan Maret lalu, supaya maksud dari ditulisnya buku “Cahaya dari Madinah” tersebut tersampaikan ke banyak orang ucap beliau saat itu, Inshaa Allah ya Syekh.

Keempat, Kegiatan promo memiliki potensi untuk meningkatkan penjualan atau menurunkan penjualan. Pada akhirnya kegiatan promo memang akan mempengaruhi modal penerbitan dan royalti penulis. Bagian akhir ini nih yang sering bikin penulis pemula patah hati. Olala….Royaltiku hanya segini?  Setelah ditunggu selama  6 bulan pula…heheheh

Memang kenyataannya setiap buku punya nasibnya sendiri. Ada yang kemudian harus jadi selebtweet dulu, follower banyak dan buku laris manis, ada yang kemudian selalu membawa buku-bukunya setiap kali ada event workshop kepenulisan (kalau ini saya bangettt xixixix) tapi ada juga yang bukunya jadi booming karena penulisnya bunuh diri (nahh looo hahahah) buku booming, penulisnya udah di alam barzah hehehe..

Setidaknya  empat alasan di atas cukuplah menjadi alasan bagi penulis dan penerbitan “Mengapa Kita Harus Promo?” seperti judul dari tulisan ini sendiri.

Segalanya sesuatu itu memang harus diusahakan terlebih dahulu, supaya tahu efek dari sebuah usaha, saya pikir ini jauh lebih menarik daripada kita memilih diam dan ujung-ujungnya ngedumel (hehehhe).

Memang benar, bahwa ada buku-buku tertentu yang pasti akan laku dari sisi penjualannya ketika dipertaruhkan di meja tender, misal seperti buku-buku sekolah, buku wajib yang dipakai oleh semua anak-anak sekolah di seluruh Indonesia, itu sudah pasti menghasilkan income yang besar bagi penerbitan dan penulisnya sendiri, bisa beli rumah loh (hahahha). Tapi, tentu saja tidak semua penulis menulis buku-buku pengayaaan J.

Jadi sahabat penulis, mari kita promo karya ini, hasil pikir kita yang sudah berbulan-bulan kita pikirkan bahkan ada yang sudah bertahun-tahun sehingga menghasilkan sebuah buku. Bangga ketika buku terbit sangat penting, namun jauh lebih bangga lagi ketika buku itu banyak dicari, dibaca orang lain dan bonusnya adalah royalti bagi penulis (heheh.)

Selamat berkarya ya…Selamat promo juga.


Salam

Aida, M.A




           

1 komentar:

  1. Setuju sekali Mbak Aida, kalau kita harus promo bahkan sebelum buku kita muncul atau terbit, kita masuk dulu ke masyarakat sehingga tahu siapa-siapa yang ingin membeli atau memiliki buku kita..

    BalasHapus