Sabtu, 31 Oktober 2015

3 (Alif Lam Mim) Kritis, Cerdas, Berisi. Tapi Mengapa Turun Layar?

    Informasi Film


Judul film        : 3 Alif Lam Mim
Rilis                 : September 2015
Genre film       : Action Thrilller
Sutradara       : Anggy Umbara
Produksi         : Raam Punjabi
Writer             : Anggy Umbara
Distributor      : Fam Pictures & Multivision Plus
Cast                 : Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Prisia                       Nasution, Cecep A. Rachman, Tika Bravani, Verdia Soelaiman, Peit Pagau, Donny Alamsyah, Tata Ginting, dan Teuku Refnu.


            Film 3 (Alif Lam Mim) garapan Anggy Umbara ini tersentral pada 3 tokoh utama Alif, Lam dan Mim. Dengan mengambil setting futuristic, Jakarta pada tahun 2036.
            Jika ingin ditentukan premis secara bebas, film ini ingin  menunjukkan bagaimana tiga tokoh utama Alif, Lam (Herlam) dan Mim (Mimbo) yang tetap berada pada keyakinan, kebenaran dan tauhid, lalu berjuang pada profesi mereka masing-masing di tengah gempuran dan segala permainan liberalis.     
            Alif, Lam dan Mim digambarkan sebagai tiga orang sahabat yang sama-sama belajar di pondok pesantren Al-Ikhlas yang kemudian memilih passion mereka masing-masing, Alif sebagai aparat keamanan, Lam seorang jurnalis dan Mim yang mendedikasikan dirinya di pondok pesantren Al-Ikhlas. Konflik utama terjadi ketika kasus peledakan bom terjadi di sebuah café. Tentu ini menjadi masalah ketika Indonesia digambarkan dalam kondisi telah melewati masa-masa revolusi pada tahun 2026.

Sumber foto sini


            Setidaknya, ada beberapa hal yang menjadi cermatan dalam film garapan Anggy Umbara ini.
            Sinematografi, jika suka film action tentu tidak akan lekang dari adegan duel yang mendebarkan, dan adegan action dalam film ini mengingatkan saya pada Matrix dan film-film action sejenis lainnya dengan kualitas pencahayaan yang proporsional, teknologi yang canggih dengan momentum adegan yang mendebarkan pada detik-detik adegan dengan slow motion. Ditambah musik latar yang dark, sisi ini tampak digarap maksimal. Dan yang menarik dari adegan duel ini, justru pada jenis bela diri yang digunakan, yaitu Silat. Ini sangat menunjukkan kekhasan Indonesia.

Alif dan Mimbo di depan pondok pesantren Al-Ikhlas. Sumber foto sini

            Plot, Alur cerita campuran alur mundur disajikan berulang kali pada tiap adegan, namun hebatnya meski diajak maju-mundur dan maju-mundur lagi, penonton tidak  akan kehilangan makna, setiap adegan menjadi sebuah jawaban dengan sekelebat pertanyaan di benak penonton dari awal film ini dibuka, seperti sebuah penyerangan beruntun, dan penonton harus mencari jawaban dan benang merahnya pada setiap adegan.
            Dialog, bagian yang sangat penting dalam sebuah film adalah dialog, dialog juga sebagai penyampai pesan film kepada penonton, sekaligus menjadi karakter dari setiap tokoh dalam cerita. Alim, Lam, Mim. Memiliki dialog yang kritis, lugas, bermakna. Dialognya menjadi sangat garang ketika tokoh-tokoh bersinggungan, namun bisa menjadi sangat menyentuh hati pada adegan-adegan drama. Sehingga tokoh-tokoh yang dihadirkan tampak natural dan manusiawi. Ini tentu pula didukung oleh acting para pemain yang sangat menjiwai perannya masing-masing. Penonton akan menemui wajah-wajah Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Prisia Nasution, Cecep A. Rachman, Tika Bravani, Verdia Soelaiman, Peit Pagau, Donny Alamsyah, Tata Ginting, dan Teuku Refnu dalam film ini.


Foto dari sini

            Ada film yang bisa diskip pada bagian-bagian tertentu jika alurnya terlalu lambat, tapi ini tidak berlaku pada film ini. Saran saya, tontonlah dari awal sampai akhir, karena menonton bagian awal saja seringkali membuat penonton salah persepsi, lalu nikmati dan cari jawaban dari sisi tengah dan berakhir dengan hal yang sangat mengejutkan di ending.
            Jika mencari sisi lemahnya dari film ini, saya hanya sedikit bertanya-tanya pada beberapa setting bangunan di era 2036, dihadirkan tak begitu kontras dengan kondisi Jakarta hari ini. Masih tetap ada gedung pencakar langit, rumah-rumah kaum marginal.
            Lalu, jika film ini demikian apiknya, mengapa banyak yang turun layar? Terlalu kritiskah? Terlalu beranikah membongkar scenario liberal, atau adakah yang merasa tersindir dengan pemberantasan terrorist?  Atau memang sebagai penonton Indonesia kita masih memilih film-film keluaran Hollywood? Jawabannya hanya bisa dijawab setelah menonton film ini.
            Bagian akhir, saya culik beberapa potongan dialog yang sangat menginspirasi bagi saya dalam film 3.
            “Aku enggak mau menjadi istri yang membuat suaminya tuli, enggak bisa mendengar kata hatinya sendiri, kamu yang mengajarkanku untuk tidak bergantung pada uang dan berani menghadapi dunia ini.” (Gendis, istri Lam)
         “Tetaplah berjuang, jangan pernah ada kata-kata menyerah” (Laras, kekasih Alif)
         “Tak akan pernah benar, kebathilan ditumpas dengan kebathilan” (Kiyai Mukhlis)



Aida M.A
Penulis.

             


2 komentar:

  1. Nice review... Kalo boleh nambah, film ini hanya layak ditonton oleh orang dewasa karena beberapa adegan kekerasan dalam film ini tidak layak ditonton anak-anak

    BalasHapus
  2. Siap...Nanti ditambahkan. Thanks kak boby.

    BalasHapus