Rabu, 16 Desember 2015

DUNIA TANPA ISLAM, DUNIA TANPA KEDAMAIAN (Review Bulan Terbelah di Langit Amerika)

       





KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) kembali memenuhi Gala Premier film. Kali ini #BulanTerbelahdiLangitAmerika. Film yang diproduksi oleh Maxima ini disebut-sebut sebagai film termahal sepanjang Maxima memproduksi sebuah film.

            Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?”  sejak menonton thrillernya di youtube. Tagline ini berhasil membuat saya penasaran. Tepatnya seperti rasa penasarannya Hanum Rais (Acha Septriasa) saat diberi tugas meliput sebuah keluarga yang terindikasi sebagai pelaku bom WTC dan Pentagon. Lalu artikel tersebut diberi tema sesuai tagline tadi. penasaran ini pula yang kemudian membawa Rangga, suami Hanum untuk bertemu Philips Brown yang diperankan oleh Hans de Krekker, aktor simpatik Belanda, yang ternyata seorang Muallaf. 

            Bulan Terbelah di Langit Amerika ini seperti memaparkan bahwa Islam selama ini seringkali menjadi populasi yang terpinggirkan dan selalu dijadikan kambing hitam atas beberapa kejadian terror yang terjadi di dunia. Seperti kata Hanum sendiri, bahwa seharusnya dunia tidak mengenal kata Islam Phobia, karena phobia terhadap Islam hanya menjadi bagian dari propaganda, tapi ketakutan dunia saat ini lebih mengarah kepada Extremist Phobia.

            Film garapan Sineas Rizal Mantovani ini ingin mengubah mindset sebagian besar orang yang mengalami Islam Phobia. Rasa ketidakpercayaan dunia terhadap islam yang dianggap radikal dan selalu menyerang apapun yang berbeda dengan Islam. Rizal Mantovani, layak naik kelas dengan hasil garapannya ini.

            Transisi perubahan mindset itu terlihat jelas dalam alur cerita yang cenderung mulus ini. Rangga (Abimana), suami Hanum secara bersamaan mendapatkan tugas dari Profesornya, interview dan riset mengenai Philips Brown, seorang milyarder yang berubah menjadi sangat dermawan pasca kejadian 9/11 di New York.

Cast luar

            Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam film ini juga memiliki peran yang mampu membangun cerita. Mulai dari Sarah Collins, anak dari Ibrahim Hussein yang mengunduh video dirinya dengan judul “Do you know my dad?” di youtube, lalu Julia Collins (Rianti catwright) yang terpaksa melepas hijabnya karena kejadian 9/11 menyudutkannya sebagai seorang muslim.

            “Saya cinta Islam, tapi saya kehilangan kebanggaan sebagai seorang muslim”

            Yulia Collins, merasa bahwa Islam justru membuat hidupnya menjadi kacau, pasca suaminya ikut menjadi korban di WTC, Sarah anaknya pun tidak bisa bersekolah karena dianggap anak dari teroris.

            Kondisi seperti ini, mungkin banyak terjadi di sisi dunia lainnya, sub ordinasi banyak kalangan di luar islam yang semakin menyudutkan. Bulan Terbelah di Langit Amerika sepertinya punya tugas penting untuk mengubah pemikiran orang-orang luar islam yang anti terhadap islam.

            Hanum sebagai penulis Novel sekaligus penulis scenario sepertinya sangat paham bagaimana menghadirkan sisi yang renyah di tengah-tengah tema yang sangat serius, yaitu tentang idealisme dan pola pikir orang-orang di luar.

            Kehadiran tokoh Stefan (Nino Fernandez) seorang Atheis menambah menarik kisah ini. Pemahaman-pemahaman Stefan yang merasa bahwa sebenarnya agamalah yang telah mengkotak-kotakkan manusia dibantah oleh Rangga, karena peperangan sesungguhnya terjadi karena harta dan kekuasaan.

            Banyak kejutan-kejutan dan nuansa drama yang ditampilkan dalam beberapa scene. Acting Acha, Abimana benar-benar patut diacungi jempol, saya akan beri angka 8 untuk acting keduanya, bahkan saya juga jatuh cinta pada acting Nino Fernandez dan Rianti. Semuanya sangat natural, meski beberapa cast lainnya terlihat masih kaku, dan beberapa scene dengan sinematografi yang kurang dan ada scene yang sedikit bocor menghadirkan produk sponsor tampak kurang smooth.

            Overall, Bulan Terbelah di Langit Amerika ini, saya beri score 8,5 bintang. Penonton menangkap benang merah yang sangat tegas di akhir cerita. Dunia Tanpa Islam, Dunia Tanpa Kedamaian. Segera ke Bioskop terdekat, catat tanggal tayangnya 17 Desember 2015. Cinta film Indonesia, dukung film Indonesia.





0 komentar:

Posting Komentar