Selasa, 08 Desember 2015

HANUM RAIS, EXTREMISTPHOBIA dan BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA

KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) kembali menggelar ruang diskusi bernas bersama para ekspert yang berpusat pada tiga fokus utama yaitu film, kuliner dan destinasi wisata Indonesia.


KOPI, Hanum dan BTDLA

Nah, kali ini KOPI dalam NGOPI (Ngobrol KOPI) Sinema, senin 7 Desember 2015, kedatangan penulis mumpuni “Hanum Salsabiela Rais” penulis yang dikenal dengan maha karyanya berjudul #99CahayadiLangitEropa yang sukses difilmkan dan menarik perhatian 1,8 juta penonton. Lalu #BulanTerbelahdiLangitAmerika yang akan segera rilis pada tanggal 17 Desember mendatang diharapkan juga mampu menarik perhatian lebih dari 1 juta penonton, menyusul keberhasilan film #99CahayadiLangitEropa.

Hanum mengawali cerita, bagaimana awalnya ia tertarik pada dunia kepenulisan. Bagi Hanum seharusnya setiap kita sudah menentukan passion sedini mungkin. Namun Hanum justru menemukan passionnya setelah ia dinyatakan sebagai seorang dokter gigi. Baginya dunia TV dan broadcasting jauh lebih menarik dan menjadi bagian dari dirinya sendiri. Lewat bantuan Rangga (suaminya) Hanum sempat bekerja sebagai reporter di Trans TV dan sejak saat itu ia menikmati profesinya sebagai kuli tinta dan kamera.

Selama menjadi reporter inilah Hanum belajar merangkai banyak kata-kata, menyusunnya menjadi kalimat-kalimat berita, ia terbiasa bekerja dengan dateline berita dan ini pula yang membuat ia merasa menulis menjadi bagian dari jiwanya sendiri.

Hanum saat Berdiskusi bersama KOPI

99 Cahaya di Langit Eropa

Saat Rangga, suami Hanum mendapat beasiswa melanjutkan pendidikannya di Eropa, saat itulah Hanum mengorbankan karirnya di dunia TV. Empat tahun Hanum dan Rangga di luar negeri, tepatnya Wina, Austria.
            Hanum menghabiskan banyak waktu di pustaka dan menulis buku pertamanya berjudul “Menapak Jejak Amien Rais” yang terbit pada tahun 2010.  Kemudian disusul dengan Novel 99 Cahaya di Langit Eropa, yang bisa dikatakan sebagai Novel perjalanan Hanum dan Rangga selama di Eropa.  Sekaligus sebagai sarana untuk menyampaikan kepada pembacanya, bahwa Islam pernah sangat berjaya di Eropa, 800 tahun yang lalu.
            Keberhasilan-keberhasilan dan penemuan-penemuan dari ilmuwan muslim telah memutar kembali kondisi pada tahun-tahun kejayaan itu, bahwa ummat islam berjaya karena adanya keadilan dari para sultan, raja yang berkuasa saat itu di Eropa, muslimin disibukkan dengan hal-hal yang Muamalah bukan sengketa akidah seperti yang banyak di perdebatkan di seluruh penjuru dunia.
            Bagi Hanum pribadi, Novel 99 Cahaya di Langit Eropa menjadi sebuah jawaban dan balasan dari keikhlasannya, pengorbanannya menemani suami selama berada di luar negeri.  Novel tersebut menjadi salah satu novel BEST SELLER sudah dicetak sebanyak 12kali dan mendapatkan perhatian dan apresiasi yang sangat baik dalam medium film.

IslamPhobia atau ExtremistPhobia?

Bulan Terbelah di Langit Amerika mungkin menjadi jawaban pada banyaknya kekhawatiran orang-orang di luar islam yang merasakan bahwa Islam itu radikal. Sehingga propaganda semacam #IslamPhobia dihadirkan di permukaan. Apalagi pasca Paris Attack, seperti menumbuhkan luka di hati banyak pihak, terutama para muslim.
             Bagi Hanum, kurang tepat sekiranya jika menyebutkan terrorist itu menyebabkan adanya #IslamPhobia, namun lebih tepat, jika disebut sebagai #ExtremistPhobia.  Karena kenyataannya, para pelaku terror tersebut tidak memahami islam secara utuh sesuai ajaran Rasulullah. Jadi, ketakutan-ketakutan ini sebenarnya tidak layak disebut sebagai Islam Phobia, namun Extremist Phobia. Sehingga, media luar sepatutnya menangkap kondisi ini bukanlah Islam Phobia melainkan Extremist Phobia.
            Saat ditanyakan, apakah novel-novel yang difilmkan ini akan menjadi bagian dari nilai-nilai dakwahnya melalui media literasi dan visual? Dengan sangat tenang, Hanum menyatakan bahwa setiap penulis memiliki interest terhadap sesuatu yang ia ketahui dan yang ia tuliskan. Jadi, bisa dikatakan #99CDLE dan #BTdLA merupakan bagian dari dakwah dan ketertarikan Hanum terhadap nilai-nilai dan pemahamannya tentang Islam.

Suasana diskusi KOPI
            Bicara mengenai film #BTdLA sendiri, Hanum merasa puas dengan acting dari Acha Septriasa yang memerankan sosok Hanum baik dari #99CdLE maupun #BTdLA, Acha pantas mendapat Penghargaan Piala Citra untuk prestasinya dalam dunia keaktoran ungkap Hanum saat itu sambil tersenyum.
            Selain menjadi penulis, saat ini Hanum dan Rangga sedang mengelola sebuah TV Lokal yang diberi nama ADi TV (Arah Dunia TV) meskipun kesannya memiliki beban yang berat, namun Hanum berharap dan optimis bahwa lewat ADi TV penonton di Indonesia, selayaknya diberikan tontonan yang berkualitas, bukan tontonan yang kurang mendidik. Saat ini, ADi TV menjadi salah satu TV terfavorit di Jogja. Sepertinya sinkron dengan itu pula, Hanum juga baru menerbitkan sebuah novel berjudul “Faith in The City” yang mengupas dan membongkar habis dunia gelap pertelevisian. Semoga selalu sukses ya kakak.
            Pertemuan kami senin siang itu, ditutup dengan berfoto bersama dan mengabarkan pada penonton Indonesia, untuk menyaksikan film BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA pada tanggal 17 Desember 2015. Kamis ke Bioskop, kita dukung film Indonesia yang berkualitas.




Para Cast luar negeri yang ikut beracting di BTDLA
















0 komentar:

Posting Komentar