Kamis, 28 Januari 2016

SARINAH, JENDELA PESONA NUSANTARA

KOPI bersama bu Dirut Sarinah dan Staff


Jakarta, 28 Januari menjadi hari yang fenomena bagi warga Koalisi Online Pesona Indonesia, sesuai dengan komitmen KOPI mendukung kabar baik dan pesona Indonesia, hari ini tentu menjadi hari yang special bagi saya dan sahabat KOPI yang berjumlah 30 orang, mengapa demikian? Karena undangan makan siang bersama DIRUT Sarinah Ibu Ira Puspa Dewi dan Ibu Wati, menjadi undangan yang seksi bagi warga KOPI.

            Kami diundang makan siang di sebuah café yang bernama “Ruang Tengah” menurut bu Wati, nama “Ruang Tengah” itu diambil dari istilah “Living Room” sebuah ruang kumpul keluarga dimana semua anggota keluarga yang sibuk menjalani aktifitas di luar rumah pulang ke rumah dan berkumpul kembali sambil bercerita dan berbagi banyak hal di ruang tengah rumah. Dari fungsi living room itulah kemudian café yang terletak di Gedung Sarinah ini diberi nama “Ruang Tengah”

            Dijamu dengan senyuman hangat bu Ira, bu Wati dan bu Margy lalu disuguhi dengan masakan-masakan khas Nusantara, membuat warga KOPI merasa mendapat perlakuan yang istimewa. Ruangan café ini begitu nyaman, kondusif, begitu juga sekeliling kami, semuanya kondusif.

            Menyebut nama Sarinah, mungkin kita akan kembali pada sosok pengasuh bung Karno yang bernama Sarinah, wanita pertama yang mengasuh bung Karno saat kecil, wanita paruh bayu yang menanamkan pola asuh dan didikan kepada bung Karno, karena pengasuhan bu Sarinahlah yang kemudian membuat bung Karno mengabadikannya dalam sebuah buku.

            Bukan hanya itu saja, sebagai bentuk cintanya bung Karno kepada bu Sarinah, nama beliaupun disematkan pada gedung pencakar langit pertama di Indonesia, yaitu Gedung Sarinah, sebagai pusat perbelanjaan dan menjadi jendela dari pasar produk nusantara, menjadi icon Jakarta-Indonesia, sehingga jika ke Jakarta belum ke Sarinah, bisa dianggap belum ke Indonesia.

            Karena penyematan nama Sarinah pula, maka beberapa Dirut Sarinah dipimpin oleh para wanita. Seperti Ibu Sarinah yang menanamkan pola asuh, maka sekiranya Sarinah sebagai salah satu perusahaan BUMN Indonesia, juga menjadi pengasuh bagi banyak UKM-UKM yang berada di bawah Sarinah. Hebatnya lagi sekitar 70% UKM yang produknya dipasarkan oleh Sarinah dikelola oleh para wanita, luar biasa bukan?

            Hingga saat ini, Sarinah sudah bekerjasama dengan sekitar 300-400 UKM, bukan hanya produk sejenis tas, pakaian saja yang ditawarkan di sini, namun juga produk-produk berkualitas import seperti kuliner dan produk kecantikan. Untuk bekerjasama dengan Sarinah ini, bu Ira dan bu Wati sempat turun ke pelosok-pelosok Indonesia, untuk membantu memasarkan langsung produk kreatifitas dari berbagai pengrajin nusantara. Jika teman-teman ingin memasarkan produknya bisa langsung hubungi bu Luthfi di lantai 10 gedung Sarinah ya.

            Saat dijamu makan siang, kami menikmati banyak menu yang unik dan khas Indonesia banget. Menu makanan serupa Nasi Hijau, Sop Iga Lamongan, Tahu Telor Kacang, dan berbagai pilihan minuman yang menyegarkan. Jika lebih lama lagi, saya yakin bakal menghabiskan banyak jenis makanan nih (heheheh).

            Jika ditilik dari sejarah yang sebelumnya, akan diperoleh informasi bahwa Ratu Beatrix dari Belanda, Nelson Mandela dan beberapa pemimpin dunia lainnya pernah mengunjungi Sarinah, itu sudah dilakukan oleh bung Karno kepada tamu-tamu kenegaraan pada masa kepemimpinannya dulu.

            Sekarang pun demikian, gedung sarinah yang terdiri dari 14 lantai ini, dengan 7 lantai digunakan sebagai store dengan menjual berbagai macam produk Indonesia, selalu mengundang lirikan para wisatawan asing, bahkan menurut bu Wati, para guide pernah diundang untuk mengenalkan Sarinah sebagai icon dan pusat produk kerajinan UKM terbesar di Jakarta, dan menjadi Global citizen Indonesia kepada khalayak luar.

            Karena peran Sarinah ibarat sebagai pengasuh dari  berbagai UKM, bu Dirut Ira dan bu Wati sangat optimis, tidak ada hambatan yang berarti bagi UKM mengingat serangan MEA yang akan bersaing dengan pasar global. Karena bagaimanapun UKM adalah usaha yang mengutamakan kreativitas dan karya, dan itu hanya lahir dari buah pikir dan ide, akan sangat sulit sekali dicontek oleh banyak pihak, karena ide sendiri akan lahir lagi dan lahir lagi, sehingga MEA bukan hal yang perlu dirisaukan bagi UKM.

            Ke depan, Sarinah akan mengalami perluasan area, tujuannya juga untuk menambah banyak store dan memasarkan produk-produk nusantara lainnya yang bagus dan memiliki kualitas yang baik. Karena icon Sarinah menjadi “Jendela dan Wajah Nusantara” maka konsep bangunan yang dihadirkan nanti pun akan menunjukkan sisi khas Indonesia dan mewakili Indonesia seutuhnya, bisa jadi ada desain yang bermotif batik pada bangunan yang akan dibangun nantinya, jelas bu Wati kepada kami di sela-sela makan siang.

              Pada kesempatan ini pula, kami mendaulat bu Dirut Ira Puspa Dewi untuk menerima kaos dari KOPI dan menjadi Blogger dari Koalisi Online Pesona Indonesia. wow... ini sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya dari kami bu Ira. 

            Setelah makan siang, kami diajak berjalan-jalan di sekitar store, mulai dari lantai 1 yang dipenuhi dengan produk kecantikan UKM dari banyak daerah, seperti dari Bali. Brand Mustika Ratu yang sudah mendunia pun berada di lantai 1 ini.

            Menurut bu Ira, semua brand luar yang masuk ke Sarinah diproduksi di Indonesia, seperti Buccheri, meski brand luar, namun 80% nya produk Buccheri diproduksi di Indonesia.

            Masih di lantai 1, di sudut kanan gedung Sarinah terdapat sebuah cokelat corner Pipiltin, toko cokelat yang menyajikan pilihan cokelat dari 4 daerah di Indonesia, Flores, Pidie Jaya, East Java dan Bali. Kesemua jenis cokelat ini dengan rasa dan karakteristik yang berbeda, cokelat dari east java bahkan dieksport ke Swiss, masih tetap mencantumkan East Java dalam keterangan produknya. Menurut Manager store Pipiltin, cita rasa cokelat yang best seller di Pipiltin ini adalah cokelat dari Bali.



Suasana Diskusi dengan bu Dirut Ira Puspa Dewi

            Dari lantai 1 kami bergerak ke lantai 2, banyak brand-brand luar seperti Polo namun diproduksi di Indonesia, di lantai 2 ini juga dipenuhi dengan desain-desain baju muslim dari brand desainer Indonesia, semakin menarik lagi di lantai 3 dipenuhi corak batik dari semua daerah, lantai 4 dengan souvenir yang keren khas Indonesia, bahkan kami diperkenalkan dengan brand produk Javara yang menyajikan berbagai jenis produk mulai dari palm oil, olive oil, Noodle, Kopi dan sebagainya, dan ini kualitas eksport punya loh.

Salah satu produk khas Indonesia, gantungan kunci batik

            Sebagai warga Indonesia yang cinta akan produk Indonesia, menurut bu Wati, generasi sekarang jauh lebih mencintai produk dalam negeri dibanding produk luar negeri karena kualitas produk dalam negeri, tidak jauh beda dengan yang ada di dalam negeri.  Apalagi dengan harga yang terjangkau, saya dan sahabat KOPI yakin ke depan Sarinah benar-benar akan mewujudkan cita-cita yang semakin melebar menjadi Global Citizen dan jendela wajah Nusantara, dan ini hanya ada di Sarinah, pada Ibukota Jakarta.

            Akhir dari jalan-jalan ini, kami tutup dengan foto bersama di depan tulisan Sarinah yang berhadapan langsung dengan jalan Thamrin, #SarinahisME pun menjadi trending topic yang menyejukkan hati kami semuanya, Sarinah selalu menjadi icon kota Jakarta, pusat store khas Indonesia terbaik dan menjadi jendela wajah Nusantara. Go Sarinah, Go KOPI dan Go Indonesia.


#SarinahisME Trending Topic World Wide
Jakarta, 28 Januari 2016
Aida, M.A
           
           


Selasa, 19 Januari 2016

BRACELET OF HOPE, JEMBATAN CINTA UNTUK SURVIVOR KANKER



Warga KOPI bersama Tatjana (pemeran Mia-I'm HOPE)

              Jakarta, Selasa 19 Januari 2016, saya bersama warga Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) diundang hadir dalam acara Journey of Hope di bangsal anak penderita Kanker di RS Dharmais. Kegiatan ini diinisiasi oleh Alkimia Production, sebuah PH yang digawangi oleh Wulan Guritno, Amanda Soekasah dan Janna Soekasah-Joesoef selaku tim produser dari film “I’am HOPE” yang akan segera rilis pada tanggal 18 Februari mendatang.

          Sebagai seorang KOPIer kegiatan sosial ini bukan hal yang pertama saya ikuti, jauh sebelumnya saya juga bekerjasama dengan teman-teman dari Green Indonesia Foundation (GIF) mendukung anak-anak jalanan dalam hal pendidikan lewat Sekolah Bersama. Namun, untuk hadir langsung bersama anak-anak penderita Kanker, ini merupakan hal pertama kali bagi saya.

            Kembali pada kegiatan sosial dari Alkimia Production. Dalam kegiatan ini salah satu aktor film I’m HOPE Tatjana Saphira menyerahkan bantuan sebagai tanda kekuatan harapan yang hendak diberikan. Tatjana dengan raut wajahnya yang sumringah mengucapkan sangat bersyukur syuting film I’m HOPE berjalan lancar, salah satu bentuk syukurnya lewat penyerahan bantuan ini sebagai bagian dari Journey of Hope karena ide dari film ini sendiri memang berawal dari gerakan sosial Bracelet of Hope, begitu penjelasan Tatjana sesaat sebelum acara dimulai.

Team film I'm HOPE bersama adit-adik penderita Kanker


Tatjana saat berbagi cerita dengan anak-anak penderita kanker
                  Sepanjang acara berlangsung, saya berulang kali terdiam sangat lama, meski di depan sana ada aksi badut dengan hadiah dan tawa candanya, namun saya memilih menatap satu demi satu anak-anak penderita Kanker di depan saya, dengan selang infusnya dan masker di wajah. Tatapan mereka antusias melihat aksi badut, namun berbeda dengan saya yang memilih berdiskusi dengan hati saya, bagaimana perasaan Ibunya, keluarganya dan bahkan perasaan anak penderita Kanker ini sendiri. Terlalu kecil, ya terlalu kecil. Namun dari umur yang begitu belia mereka sudah belajar makna hidup, kesabaran sekaligus semangat, untuk segera sembuh dan menjalani hari-hari lagi seperti anak-anak yang lain.          

             Dari acara ini, saya jadi mengetahui pula, bahwa Film I’m Hope ini merupakan perpanjangan tangan dari gerakan sosial untuk penderita Kanker, sehingga sebagian keuntungan dari film dan kegiatan penjualan Bracelet of Hope ini diperuntukan untuk Yayasan Kanker Indonesia dengan tujuan akhir adalah membuat rumah singgah “House of Hope” bagian ini sangat menyentuh hati saya. Film I'am Hope dan Bracelet of Hope benar-benar sangat peduli pada penderita kanker.

               Belum juga acara berakhir, saya memilih keluar dari tempat acara, beberapa orang anak-anak yang lainnya kembali berdatangan, dada saya semakin sesak, aroma obat di antara tawa dan senyuman. selang infus yang bergantungan dan rasa sakit, lelah tampak di wajah anak-anak. ingatan saya hanya satu, bagaimana setiap hari mereka memompa semangat untuk segera sembuh, meyakinkan hati bahwa ini bagian dari simulasi bahagia jika diketahui hikmahnya. Saya melangkah keluar menemui sahabat KOPI lainnya yang sudah berada di ruang tunggu tamu, menunggu Aryo Wahab berbagi cerita tentang film I'am Hope.

I'am Hope dan Aryo Wahab

            Sahabat KOPI juga sempat berdiskusi dengan Aryo Wahab yang memerankan tokoh Rama Setia, seorang warrior-produser teater, Rama yang menguatkan dan meyakinkan Mia (Tatjana) untuk bisa tetap berkarya meski sudah menderita kanker.

Aryo Wahab saat berdiskusi dengan KOPI

            Bagi Aryo memerankan tokoh Rama, sebagai Warrior bagi survivor penderita kanker merupakan sebuah kebahagiaan, Aryo berharap bahwa inspirasi harapan yang menjadi inti cerita film akan dapat menjaring lebih banyak lagi kekuatan harapan dari masyarakat bagi saudara-saudari kita yang membutuhkan dukungan, pendampingan dan tentu saja harapan di tengah perjuangan mereka masing-masing.

            Bagi Tatjana sendiri memerankan tokoh Mia yang menderita Kanker membuat ia semakin peduli dengan saudara lainnya yang menderita Kanker. Baginya memerankan Tokoh Mia memiliki tantangan tersendiri, karena film ini mengangkat hal-hal yang serius dan sosial dan membutuhkan penjiwaan dan pemahaman karakter yang sangat dalam.

            Sebagai seorang KOPIers saya sangat mendukung kegiatan sosial seperti ini, apalagi dihadirkan dalam bentuk sebuah karya visual, menghadirkan kebahagiaan bagi sesame. Seperti kata Aryo di bagian akhir diskusi kami siang itu, Kebahagiaan, satu-satunya cara untuk menjalani hidup. Maka berbagilah bahagia.

Penyematan gelang Harapan pada kak Rey salah satu warga KOPI

                  Bagian akhir, serah terima gelang harapan dari Wulan Guritno kepada KOPI diwakilkan oleh kak Rey, kak Rey ini salah satu survivor, ia pernah menderita Kanker dan saat ini menjadi pegiat sosial Kanker untuk teman-teman penderita Kanker lainnya di Indonesia.
        
                Jika dikatakan film I'm HOPE adalah Film Sosial dan memiliki misi yang sangat mulia, saya sangat setuju.  jadi, saya bisa pastikan untuk menonton film ini yang akan tayang di semua Bioskop di Indonesia, Kamis, 18 Februari 2016 mendatang. Tularkan semangat dan harapan.


           


Sabtu, 09 Januari 2016

PEDULI KANKER LEWAT I am HOPE, Segera Tayang 18 Februari 2016

I am HOPE


Harus diakui film Indonesia semakin berkualitas, baik dari dari materi, kualitas sinematografi dan pesan-pesan yang diselipkan. Salah satu film yang akan tayang 18 Februari mendatang ini berjudul I Am Hope, sebuah film yang mengangkat dinamika perjuangan seorang gadis muda bernama Mia, diperankan oleh Tatjana Saphira yang divonis mengidap kanker, dan peran Maia, diperankan oleh Alessandra Usman, yang menjadi semacam penyangga semangat dan inspirasi Mia untuk melalui tantangan demi tantangan menghadapi penyakit kanker dan memperjuangkan mimpinya berkarya.

            I am Hope diproduseri oleh Alkimia Production ini digawangi oleh Wulan Guritno, Amanda Soekasah dan Janna Soekasah-Joesoef selaku tim produser. “Kami bersyukur bahwa proses produksi I am Hope berjalan lancar, oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih atas dukungan banyak pihak. Harapan kami semoga film ini menjadi inspirasi perjuangan bagi banyak orang, termasuk yang saat ini sedang berjuang melawan kanker.” tutur Wulan Guritno mewakili Alkimia Production.


RAN dengan Nyanyian Harapan


            Agar film ini semakin menarik, Grup Musik RAN dinobatkan sebagai pengisi OST I am Hope,  lagu “Nyanyian Harapan” ini melibatkan 8 Warrior Hope yang bernyanyi bersama RAN.

“Kami merasa bangga bisa menjadi bagian dari I am Hope melalui musik kami. Inspirasi para pejuang-pejuang harapan adalah suatu semangat yang perlu kita dukung dan sebarluaskan lebih lagi. Semoga kisah I am Hope ini menjadi pemicu lebih banyak aksi kebaikan.” Ungkap RAN.

Film yang disutradarai oleh Adilla Dimitri menghadirkan sederetan aktor dan aktris kebanggaan Indonesia seperti Tio Pakusadewo, Fachry Albar, Feby Febiola, Fauzi Baadilah, Kenes Andari, Ariyo Wahab, Ray Sahetapy dan Ine Febriyanti, dan Yudi Datau selaku Director of Photography.

Gerakan Gelang Harapan (Bracelet Of Hope).




Film perdana ini dibuat sebagai satu bentuk kepedulian dan kelanjutan dari Gerakan Gelang Harapan, yaitu sebuah gerakan peduli kanker yg dikemas secara muda, fun dan hip bertujuan untuk membangkitkan semangat akan harapan dan menyebarkannya serta menelurkan budaya dan tradisi solidaritas.

Gelang ini dibuat dari kain perca sisa dari kain nusantara khas dari desainer kondang dan peduli kanker, Ghea Soekasah untuk semua penderita dan warrior kanker se-Indonesia.

Dengan film sebagai salah satu media kelanjutan project dari segmen hiburan yg dekat dengan masyarakat dan sebagai jendela universal yang bisa membawa lebih luas visi dan misi Gerakan guna menyebarkan harapan dan semangat harapan, khususnya bagi para penderita kanker beserta keluarganya, dan umumnya bagi semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Sebagai bentuk integrasi antara perusahaan dengan gerakan sosial, ALKIMIA Production berkomitmen untuk menyumbangkan sebagian profit dari penjualan tiket Film “I am Hope” melalui Gerakan Gelang Harapan kepada penderita kanker dan keluarganya yang tidak mampu.

Penasaran seperti apa dukungan Alkimia Production dalam mendukung penderita Kanker, intip dulu sinopsisnya di sini ya.

Sinopsis

Mia 21 tahun (Tatjana) adalah seorang perempuan yang sangat berkeinginan keras untuk membuat pertunjukan. Namun mimpi tersebut harus terhenti sementara karena ia divonis mengidap kanker, penyakit sama yang pernah merenggut nyawa sang ibunda.

Mia yang berasal dari keluarga serba berkecukupan, kini pun sudah hidup ala kadarnya karena biaya pengobatan ibunya terdahulu. Dan semenjak vonis kanker kembali terdengar di telinganya, di saat itu juga ia merasa seluruh pengalaman kelam yang pernah menimpa keluarganya akan kembali terulang.

Ayahnya (Tio Pakusadewo) akan kembali terpuruk, ekonomi makin merosot, dan yang paling tergaris bawah merah baginya, adalah mimpinya yang perlahan akan sirna. Namun demikian, Mia selalu ditemani oleh Maia, yang terus setia dan bersikap positif disampingnya.

Mia pun tegar berjuang menguatkan dirinya untuk menghadapi beberapa proses kemoterapi, sampai hampir seluruh tabungan yang telah ia persiapkan untuk membuat pertunjukan habis terpakai. Pada suatu hari di antara ronde-ronde pengobatan yang ia jalani, Mia mencoba untuk menghubungi salah seorang produser pertunjukan ternama melalui alamat yang ia miliki.

emua kisah dalam “I am HOPE” the Movie mampu membangkitkan harapan di tengah keterpurukan. Bagaimana Mia menjadi simbol dalam perjuangan untuk menggapai impian di tengah kondisinya yang terpuruk.

Bagaimana akhir dari kisah Mia sebagai simbol harapan?

Jangan sampai ketinggalan, catat jadwalnya 18 Februari 2016 saatnya mendukung dan peduli pada penderita kanker.


           
Penulis

Aida, M.A











Rabu, 06 Januari 2016

El-John Dukung Country Branding Pariwisata Indonesia


Berpose Bersama


Jakarta, APL Tower-Rabu 6 Januari 2016. Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) beruntung diundang hadir dan berdiskusi mengenai pariwisata Indonesia. Kami disambut di ruangan yang nyaman bersama CEO El-John - Pak Johnnie Sugiarta, kami juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan tiga orang putri-putri El John; Delvia Wirajaya (Miss Tourism Queen of The Year International 2015); Ivhanrel Sumerah (World Miss University Indonesia 2015); Cordella Fidelia (Miss Earth Indonesia Water 2015).

            El-John sejak tahun 2008 sudah concern di bidang wisata, awalnya El-John bergerak di bidang medical tourism, lini parisiwata ini merupakan sector ekonomi yang berhubungan dengann banyak pihak. Namun sayangnya, saat ini SDM Indonesia untuk wisata belum memadai, Indonesia belum begitu dikenal di luar negeri dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dengan jumlah wisatawan mereka 20 juta/tahun, Singapore 17juta/tahun dan Thailand 32 juta/tahun, sementara Indonesia, tidak sampai 10 juta/tahun.

            El-John kemudian melirik bagaimana negara-negara luar memperkenalkan wisatanya masing-masing, salah satunya dengan Pageants-Putri Pariwisata dari berbagai daerah. Sehingga El-John dengan taglinenya Bringing Indonesia Culture to The World mengembangkan dan membeli Lisensi untuk penyelenggaraan putri pariwisata Indonesia. Setidaknya saat ini El-John sudah memiliki 10 lisensi, bahkan para putri dari El john hingga saat ini sudah mengantongi banyak prestasi di luar negeri.

            Pak Johnnie bercerita banyak hal, bagaimana Wisata menjadi sektor yang sangat penting dan mampu menjadikan branding sebuah negara. Pengalamannya sebagai tim pemulihan dari Wisata Indonesia pasca bom Bali, membuat pak Johnnie sadar bahwa Wisata harus didukung dari banyak lini, dan akan menjadi tugas kita bersama.

Serah terima Name tag KOPI

            Ketika ditanyakan apa endors pak Johnn untuk pemerintah saat ini, terutama untuk pariwisata Indonesia. Beliau menyarankan ada sebuah system master plan untuk setiap tempat wisata, katakanlah seperti Pulau Komodo yang menjadi satu-satunya di dunia, lalu Wakatobi dengan terumbu karangnya. Seharusnya ada pembatasan kuota yang masuk, lalu bagaimana sistem tata ruangnya sehingga daerah-daerah yang menjadi pusat destinasi wisata tetap ramah, nyaman dan yang pastinya tidak rusak karena kurangnya kontrol dan master plan yang kurang massive.

            Sehubungan dengan himbauan dari Kementrian Pariwisata, Arief Yahya terkait dengan country branding, El John mendukung penuh bagaimana membentuk sebuah Country Branding untuk wisata Indonesia. Indonesia ini mau dibranding seperti apa, sebaiknya harus dibranding dengan hal-hal yang baik dan tidak memblow up hal-hal yang buruk. Jika tidak demikian, maka travel warning dari banyak negara akan berlaku untuk Indonesia. Akibatnya, Indonesia kehilangan banyak wisatawan luar negeri.

            KOPI, sebagai Koalisi Online Pesona Indonesia yang mendukung wisata, kuliner, fashion, musik dan film Indonesia juga menghimbau banyak blogger dan jurnalis online untuk memberitakan hal-hal yang baik tentang Indonesia kepada dunia, bagaimana mengemas berita buruk dilihat dari sisi yang positif.

Miss Pageant El John
            Selain dengan pak Johnnie, kesempatan kami berdiskusi dengan para putri juga sangat menarik. Pengalaman Cordella sebagai Miss Earth Tourism Water yang sangat membolehkan untuk berkotor-kotoran dalam pelestarian lingkungan, ia mengaku terjun langsung ke lapangan untuk menanam tembakau di pesisir pantai. Selain itu Delvia Wirajaya yang mewakili Indonesia saat di Malaysia juga berbagi cerita bagaimana Miss dari negara lain menceritakan banyak kelebihan dan hal-hal positif di negaranya, ini sangat patut dicontoh Indonesia, mendukung dan mengabarkan hal-hal yang baik kepada dunia.

            Pada pertemuan ini KOPI juga mengajak El John bersama putri-putri Pariwisata untuk bekerjasama dalam hal penulisan, KOPI akan membantu teman-teman putri untuk menuliskan pengalaman mereka selama menjadi Putri beserta dengan tugas-tugas yang mereka emban sebagai Putri Pariwisata.

On Air di El-John Radio

            Pertemuan KOPI bersama El-John Pageant yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini terjalin dengan sangat akrab, di akhir acara, KOPI diundang kembali talkshow bersama El John Radio Indonesia untuk berbagi mengenai dukungan KOPI terhadap wisata Indonesia dan bagaimana untuk bergabung bersama sahabat KOPI, sebagai saksi pertama dan pendukung kabar baik untuk pesona Indonesia.

Jakarta, 7 Januari 2016

Penulis
Aida, M.A