Sabtu, 02 Januari 2016

BADAI MEREDA DI MATAMU

Untuk Lelaki Bermata Badai, HENDRICO Z. RICKO

Hendrico Z Ricko


            Saya tidak sedang menuliskan tentang cinta, bukan juga tentang rindu yang menggunung seperti musim winter yang beku menuju pendakian Kailas yang mematikan. Saya hanya akan sedikit bercerita tentang sosok lelaki yang menelanjangi dirinya utuh pada hari ini, dengan satu tujuan masa depanku akan gemilang ucapnya.

            Saya “bertemu” dengan Hendrico Zafari di akhir Mei 2015 yang lalu, pertemuan yang tidak begitu menarik pikir saya. Namun, berawal dari pertemuan yang tidak menarik itu, justru menjadi kisah yang perlu saya garis bawahi, mungkin banyak orang yang bertemu pada moment yang tepat namun dengan feel yang datar, ada pula yang bertemu pada moment yang tidak tepat, namun penuh dengan kenangan. Lalu pertemuan kami di kali pertama, mungkin berada di antaranya, moment dan feel yang biasa saja.

            Selama perkenalan dan komunikasi antara kami. Saya menemukannya pada beberapa fase perubahan, ia menjadi teman diskusi dalam banyak hal, sehingga fase-fase perubahan itu bisa saya saksikan.

            Dalam hidup seseorang, perubahan bisa terjadi dalam banyak cara, setidaknya pada dua hal. Pertama, karena sebuah musibah, kehilangan dan kehancuran. Lalu Kedua, karena jatuh cinta dan adanya kepercayaan di sana.

            Meski pada dasarnya setiap wanita dan laki-laki selalu berbeda dalam proses perubahan. Wanita seringkali dikatakan sulit untuk dimengerti, padahal sebenarnya para lelaki juga tak kalah sulit untuk dipahami. Seperti kata Alexis Carel, dalam bukunya “The Man Unknown” perbedaan antara lelaki dan perempuan bukannya lahir dari perbedaan jenis kelamin, tapi perbedaan itu lahir dari sebab yang sangat dalam dari keterpengaruhan anggota tubuh, dan tanggung jawab.

            Saya sering berdiskusi ringan hingga diskusi berat dengan Hendrico, yang kemudian sering saya panggil dengan “uda” karena perbedaan umur kami yang cukup jauh. Namun, diskusi itu selalu berakhir pada tema “Bagaimana menjadi lebih baik?”


Sumber Google

            Perjalanan waktu dan ruang baginya sebuah pelarian, pencarian dan kemudian berhenti. Namun perjalanan bagi saya sendiri, serupa pembelajaran, karena saya tidak pernah memutuskan untuk melarikan diri atau mencari sesuatu pada perjalanan.

            “Umurku kian beranjak senja? Apa masih perlu bermain-main dengan rasa?” ucapnya satu kali pada saya. Saya mencoba memahami kalimat itu, seperti kalimat yang terlalu lelah dalam sebuah perjalanan, pencarian dan akhirnya mengambil keputusan untuk berhenti saja. 

            Saya melihat konsep ketertarikan sesuatu hal ke hal yang lainnya,  lebih karena sebuah persamaan. Mungkin karena memiliki masalalu yang sama, kegagalan yang sama dan pemikiran yang sama, kondisi seperti ini yang kemudian akan mendekatkan satu dengan lainnya.

            “Kegagalan”, itu point besar antara saya dan uda, kami sama-sama memiliki masa suram, sama-sama beranjak pada perjalanan yang abu-abu, pada titik tertentu pada persamaan waktu, pemikiran dan ruang sasar, saat itu lah saya  memahami satu hal, uda ingin kembali. Kembali pada hakikat kebenaran dan kerinduan manusia pada ilahinya.

            Saya menemui seorang lelaki yang sangat perasa, memiliki sensivitas dengan persentase yang lebih besar dibanding logikanya. Berbanding terbalik dengan saya, saya seringkali dianggap oleh sebagian teman-teman wanita “totally logical woman” saya tidak suka menghabiskan waktu untuk menduga-duga, jika ada hal yang agak menggangu pikiran, saya lebih suka mengabaikan atau konfirmasi langsung. Sehingga kesan “cuek” lebih kentara ketika pertama kali bertemu dengan saya.

            Saya pernah bertanya pada Uda, apa yang mewakili kalimat dari seorang Hendrico? Dengan santai dan sepertinya ia juga ingin menegaskan bahwa  ia “Lelaki Bermata Badai” si Avonturier sejati, petualang yang tiada henti. Awalnya saya pikir, ini akan mirip dengan petualangan Marcopolo atau Ibnu Batuta dengan misi yang besar. Namun ternyata misi besar itu justru ditanamkan dari dalam dirinya sendiri, baru memberi impact pada lain, akunya begitu.

            Lelaki bermata badai, kalimat itu tentu ada dasarnya, dia mengakui lahirnya kalimat lelaki bermata badai berdasarkan puisi yang ia tulis, namun saya meyakini setidaknya lebih 40 persen apa yang ditulis oleh seorang penulis adalah kenyataan yang dialaminya sendiri, sisanya bisa jadi hasil dari hayalan atau harapan-harapan yang belum terwujud.

            Sejak kecil banyak stereotype yang ditanamkan bahwa seorang anak laki-laki tidak boleh menangis, pantang untuk menangis. Tapi menurut saya justru sebaliknya, laki-laki baik masih anak-anak ataupun sudah dewasa, tidak ada larangan untuk tidak  boleh menangis.

            Ketika seorang lelaki bisa menangis dan meneteskan airmatanya, di situlah saya menemukan bahwa ada “kehidupan” dalam jiwa dan pikiran seorang laki-laki. Itu yang saya temukan dalam diri uda, ketika ia mengingat anak-anaknya, akan dosa-dosa yang telah berlalu, saat itulah saya menemukan balancing “hidup” dalam jiwa dan pikirannya.

            Perubahan, bukan hanya pada pola pikir, namun juga spiritual, bagaimana melihat hidup ke depan, bukan hanya dengan sebuah pemahaman, namun juga dengan aksi nyata, keistiqamahan menjadi point penting dalam ajaran menuju kemengertian pada kebenaran yang hakiki.

            “Aku ingin kembali, menjadi lebih baik, aku butuh guru, aku butuh yang membimbingku dan aku butuh cinta untuk menjalani ini semua.”

Sumber google
            Saya menatapnya lekat-lekat, lelaki gagal, lelaki yang pernah berada pada zona abu-abu bahkan hitam, lelaki avonturier yang bertualang ke sana dan kemari, lelaki yang mengakumulasi banyak luka hati, lelaki yang menyematkan badai di matanya, hari ini meredup…badai itu mereda, seiring langkahnya dalam perjalanan Hijrah.

            Di ujung diskusi kami, uda mengatakan sesuatu pada saya.

            “Inong, lelaki bermata badai ini telah mati di tangan wanita bermata belati.”
            
            Namun, saya tidak setuju dengan ungkapan hatinya saat itu.
            
Sumber google
       
“Uda, Badai mungkin sudah mereda di matamu, bukan karena makhluk bernama wanita, namun ada garis qadha pada pertemuan yang diatur Allah, lalu ditulis di Lauh Mahfudz sana, untukmu…. Agar segera kembali pada ilahi.”

Jakarta, 2 Januari 2016
Aida, M.A
           






0 komentar:

Posting Komentar