Jumat, 01 Januari 2016

Pada Delapan Tahun Doamu


Sumber google


Aku terbiasa melihatnya terbangun pukul setengah 4 pagi, kebiasaannya selalu menciumku sekilas lalu ke kamar mandi, mungkin untuk buang air atau mengambil wudhu untuk bertahajjud.
            
Namun entah mengapa, malam ini, ia terbangun lebih awal, aku masih merasakan sentuhan jemarinya di pipiku dan kecupan lembut di keningku. Jika bukan karena hari ini hari istimewaku, mungkin aku tak begitu penasaran apa yang akan ia lakukan pada jam 3 dini hari ini. Suara dentuman pesta pora dan terompet akhir tahun baru saja mereda.
            
Langkah kakinya terdengar pelan, mungkin ia tak ingin aku terbangun dari tidurku. Sajadah lusuh miliknya ia bentangkan lagi, mukena ungunya ia kenakan lagi. Kali ini kulihat ia berdiri lebih lama, termenung dan diam beberapa saat.

sumber google
            
Setiap kali hari kelahiranku, aku menemukan wajah bunda yang sendu. Jemarinya bergetar, isaknya terdengar. Setahun lalu, aku meninggalkannya berulang tahun di Jogja bersama keluarga papaku. Aku tahu, dan sangat tahu. Ada luka di hati bundaku, ia menghabiskan malam pertambahan umurku di depan laptop di sudut kantornya yang gelap. Seperti hari ini, dalam kesendiriannya, dalam perjuangannya yang terlihat kokoh, tetap saja kutemukan luka itu tak kunjung mengering.
            
Delapan tahun usiaku, bunda pernah menangis berulang kali dalam pelukanku, terisak ketika menjadi imam shalatku, bahkan tersedu-sedu dalam tidurnya yang tak lelap. Aku mengerti, aku sudah mengerti lebih dari apa yang telah kulihat. Aku sedikit diam, namun banyak berpikir. Ada luka di dada bunda.
            
“Saat engkau lahir nak, semuanya berubah…” ingin sekali kudengar kalimat itu dari bibirmu, tapi hanya tatapnya saha yang lebih senang bercerita padaku. Saat psikolog mengatakan pada bunda, aku lebih dewasa daripada umurku, kulihat mata bunda berkaca-kaca, lalu berbisik “Maafkan bunda nak, ini bukan bebanmu tapi beban bunda…. Maafkan bunda, memaksamu menjadi lebih dewasa dari umurmu, memaksamu memiliki ruang yang kosong di dalam jiwamu, maafkan bunda nak..”
            
Delapan tahun usiaku. Bunda memang sering tidak bersamaku, namun itu bukan inginnya, sengketanya dengan Ayahku yang membuat semuanya menjadi ricuh dan bunda menjadi “penjahat” di banyak pihak. Namun aku tahu, aku sangat tahu, bagaimana bunda menjagaku saat kami bersama-sama, bagaimana bunda mengajariku saat kami menghabiskan malam, dan bagaimana bunda menjadi imam shalatku sementara aku tak menemukan lagi ritual itu pada ayahku.

Sumber google
            
Bunda, berbahagialah selalu. Meski waktu dan ruang tak pernah menjadi milik kita lagi, namun aku tak pernah lupa menaruh makna “bunda” untukmu. Sejarak apapun, sejauh apapun, seburuk apapun tuduhan yang diberikan untukmu, tetap saja aku lahir dari rahimmu, aku hidup dari sari dadamu, aku terlelap dalam pelukan cintamu. Karena dirimu, tetap ibuku.

Jakarta, 2 Januari 2016

Aida, M.A






0 komentar:

Posting Komentar