Kamis, 18 Februari 2016

5 (LIMA) HAL YANG PERLU KAMU TAHU TENTANG GIRING NIDJI


Siappp...1...2...3 flasshh



Tepat pukul 10.45 menit mata saya beralih ke arah lift lantai 12, gedung Sarinah-Thamrin #SarinahisMe, setelah kurang lebih 10 menit saya menunggu tamu kami hari ini di markas KOPI. Tampak dua orang laki-laki keluar dari pintu lift, satu dengan wajah yang sangat familiar meski rambutnya sepertinya tidak begitu familiar buat saya, potongan cepak dan berwarna pirang. Laki-laki itu menggunakan kacamata, jika saya tidak megoogling foto-foto terbarunya, saya nyaris tidak mengenali bahwa laki-laki yang menggunakan boots merah siang itu adalah Giring-Nidji, vocalist Nidji yang nyentrik dengan rambut khasnya yang kriwil hitam, kini ternyata sudah berganti style demi kebutuhan syuting film keduanya.

            Kesan ramah, itu yang terpancar dari tatap mata di balik lensa bening itu, dia menyapa saya dan kak Cut Dewi, sahabat KOPI yang juga jurnalis online, di belakang Giring berjalan seorang laki-laki.

            “Kenalin, ini Fauzan, manager Nidji” ucapnya sambil memperkenalkan saya pada lelaki yang berjalan tenang di belakangnya.

            Markas KOPI mendadak meriah begitu Giring masuk ke ruangan meeting. Sekitar 15 orang sahabat KOPI yang hadir siang ini tampak girang bukan main, karena sebagian besar fans berat dengan lagu-lagu Nidji. Saya sendiri? Yup!.. saya suka lagu Laskar Pelangi dan Hapus Aku.

            Selama berdiskusi, setidaknya Giring bercerita tentang beberapa hal yang menarik tentang dirinya dan Nidji, informasi ini mungkin sangat jarang diketahui oleh fans Giring sendiri.

KOPI bersama Giring

1.    Vocalist, Dubbing, Acting
Ayoo… siapa yang ingat Giring pernah bermain di film apa ya? Yupppp… di Sang Pencerah, ternyata selain jago nyanyi dan bikin lagu, Giring juga bisa berakting loh, buktinya ia baru saja selesai syuting untuk #JilbabTraveler di Korea, wuihhh seru ya, bahkan untuk berakting di film ini, Giring memangkas rambutnya, makanya kalau ketemu Giring sekarang-sekarang ini dan berubah blonde! jangan kaget, itu cara doi untuk memenuhi peran di film keduanya, buat fans nya Giring enggak usah khawatir, masih tetap keliatan kece kok (heheheh).

Kemudian Dubbing? eh, emang Giring pernah jadi pengisi suara ya? Ada dong… Berhubung saya sering nemenin anak saya nonton film Animasi Indonesia, saya ingat dan hapal banget nih dengan suara Giring di film Petualangan Singa Pemberani.

Saat berdiskusi bersama KOPI

2.    Antara Album Kelima VS Theme Song Maker

Mungkin kesannya, Nidji agak vakum ya, padahal kalau mau ditilik lebih dalam, banyak sekali karya-karya Nidji hadir bersama kesuksesan film-film nasional, katakanlah Laskar Pelangi, 5 cm, Tenggelamnya Kapal Van Dewcik, Supernova. 

Darimana aja sih dapat inspirasinya? Banyakk… bahkan Giring mengajak salah satu crew nya untuk mendaki gunung saat ia diminta membuat theme song film 5cm. jadi, naik gunung itu kayak menaklukkan dirimu sendiri, seperti berada di antara awan jelas Giring mengungkapkan perasaanya setelah mendaki gunung. Selain itu, akuan Giring ia mendapat inspirasi di kamar mandi (hihihi).

Selain produktif mengisi theme song, Nidji saat ini juga sedang mempersiapkan album kelima loh. Menurut Giring, tantangannya menyiapkan album kelima ini jauh lebih ribet dibanding membuat theme song, karena harus membuat konsep, sementara theme song untuk film, sudah ada guidens dari novel, skenario dan filmnya sendiri. Semangat kak Giring… para fans menunggu album Nidji.


Suasana Diskusi di markas KOPI

3.    Fatherly, Tegas dan Penyayang.

Kurang apalagi coba seorang Giring Nidji? Jika baca judulnya Fatherly, semakin ngefans pastinya dengan Giring. Giring ini ayah dari tiga anak loh, Ayah dari Zidan (9 tahun), Aisyah (5 tahun) dan Jasmina (1,5).

Saat Giring bercerita tentang ketiga putra putrinya ini, saya bisa menangkap rasa kasih sayang yang terpancar di matanya. Tak ada perbedaan antara anak kandung saya dengan anak bawaan Cynthia ungkap Giring, saat bercerita tentang anak pertamanya Zidan, yang merupakan anak Cynthia.

Mungkin dulu sempat heboh, karena Giring diberitakan menjalin hubungan dengan seorang single parent, ya..semacam stigma dari banyak pihak, yah..menjadi single parent tak bersahabat ya di Indonesia. Namun Giring berulang kali menegaskan, bahwa yang terpenting itu adalah pribadi seseorang, dan menurut Giring, Cynthia Istrinya yang sudah ia nikahi sejak 2010 lalu seorang wanita yang sangat baik, sampai saat ini, Cynthia enggak pernah sama sekali ngomongin jelek seseorang, puji Giring untuk Cynthia.

Saat saya bertanya mengenai pendidikan karakter yang ditanamkan Giring untuk anak-anaknya, ia mengakui bahwa ia ayah yang tegas di rumah, ayah itu harus menjadi orang yang disegani di rumah, meski saya tetap menjadi sahabat buat mereka, mengajak main play station bareng, dan menetapkan jam penggunaan gadget buat anak-anaknya dengan menggantinya dengan kegiatan kuis-kuisan (duh.. serunya ya kalo punya ayah kayak Giring..hihihi). Giring tetap menjadi sosok yang disegani sekaligus penyayang buat anak-anaknya. Kehadiran Aisyah dan Jasmina seperti melengkapi dirinya sebagai lelaki yang utuh, yaitu menjadi ayah.



4.    Ucapan Baik = Doa.

Ucapan baik itu seringkali menjadi kenyataan dan doa. Banyak sekali kata-kata yang menurut Giring hanya celetukan, ternyata bisa menjadi nyata. Misalnya saja, setelah ia membaca Laskar Pelangi, Giring ngomong ke teman-temannya.

“Kalau Novel ini dijadiin film, kita yang bakal bikin OSTnya” ungkap Giring saat itu, yang diiyakan setengah hati oleh teman-temannya.

Ucapan itu ternyata berbuah nyata, suatu hari mba Mira Lesmana hubungi Giring dan ngomong kalau Miles lagi garap film Laskar Pelangi dan benar saja, Nidji diminta untuk mengisi Theme song nya. Bayangkan, dari omongan itu jadi nyata, padahal Miles enggak tahu, Giring membaca Laskar Pelangi, dan Giring juga enggak tahu kalau Miles lagi menggarap film Laskar Pelangi, seperti ada keterkaitan yang sudah diatur sedemikian rupa dari pemilik hidup.

Selain kejadian ini, Giring juga pernah mengatakan akan menemani Ibunya naik haji, setahun kemudian semuanya terasa lancar, mendapat kuota dan biaya haji, semuanya tanpa hambatan sampai Giring sendiri kaget dan baru menyadari kalau dia bakal naik haji (hahahhaha).

Saat Giring bercerita dua kejadian ini, saya melihat bahwa ia memiliki sisi religious yang dalam, pemahaman dan keyakinannya akan ketentuan pemilik Hidup terbaca dari kalimat yang keluar begitu saja dari bibirnya, meski tanpa harus mengeluarkan ayat, tapi dua cerita ini menunjukkan bahwa ia memahami sebuah kekuatan di balik kekuatan manusia.

5.    Go Internasional
            Ternyata Nidji pernah berniat untuk Go Internasional. Pernah tahu? Belum kan? Yah.. Nidji pernah berencana untuk Go Internasional, namun ternyata untuk urusan satu ini harus hijrah keluar negeri, nah ini dia masalahnya, sebagian besar keluarga Nidji ada di Jakarta, jadi tidak memungkinkan untuk hijrah keluar negeri.

Menurut Giring, mengapa musisi Indonesia agak jarang, bukan berarti tidak ada ya yang bisa tampil dan sukses di panggung Internasional. Bisa jadi karena banyak hal, salah satunya karena style yang sama sudah banyak di luar negeri, bisa nyanyi, acting, nari itu sudah banyak di luar negeri. Tapi begitu yang tampil itu unik, malah bisa tampil di Grammy Award seperti Joey Alexander pianis Indonesia yang baru berusia 12 tahun dengan aliran jazz nya.

Tambahan menurut saya mengenai penampilan Joey di Grammy sempat dipuji oleh media luar, namun sayang sekali justru dijatuhkan oleh media lolkl. Di sinilah yang menjadi sulit, ketika para musisi kita ingin go Internasional namun media kita lebih banyak menghadirkan berita buruk daripada berita  baik (good news).

Akhir obrolan KOPI bersama Giring tentu dengan foto-foto bersama di Sarinah store, karena KOPI juga menjadi bagian dari support #SarinahisMe menjadi jendela kearifan lokal nusantara. Jadi, belum sah jika belum keliling Sarinah dulu ya.

Giring di saran store #SarinahisMe

Yup.. itu tadi 5 hal yang belum kamu tahu tentang Giring. Thanks kak Giring sudah berbagi dengan KOPI, tunggu kiriman novelku kak, semoga bisa dibuatin theme songnya juga (Cihuyy..)









Selasa, 16 Februari 2016

JAGOAN INSTANT, SIAP TAYANG 18 FEBRUARI 2016

JAGOAN INSTANT

Bosan dengan film-film drama dan action yang berat? mungkin ini saatnya buat kamu menikmati sisi komedi dari para comica Indonesia, aksi Kemal Palevi (pemenang tiga stand up komedi Kompas TV) siap mengocok perut penikmat film Indonesia di Jagoan Instant, yang bakal tayang Kamis, 18 Februari mendatang. #KamisKeBioskop.

Film produksi Starvision ini bisa menjadi pilihan tontonan sekaligus hiburan,  film yang disutradarai Fajar Bustomi ini, saya saya sebut sebagai film komedi super hero yang beraroma Indonesia, karena ada beberapa permasalahan negeri kita yang ikut menjadi latar dalam kisah yang skenarionya ini ditulis oleh Musfar Yasin.

Pengen film yang berbeda, catat tanggal mainnya, Kamis 18 Februari mendatang ya di semua bioskop di Indonesia.
Sinopsis Jagoan Instan (2016)
Film “Jagoan Instan” 2016 ceritanya berlatar belakang di Amerika ada tiga jagoan yang nganggur karena kondisi negeri mereka yang sudah damai dan makmur. Di Indonesia juga ada bekas jagoan yang gagal memperbaiki keadaan kerena banyaknya Korupsi dan kejahatan tetap merajalela.Salah satunya yaitu bekas jagoan Indonesia bernama Om Gun (Dede Yusuf), Dia mengundang tiga jagoan Amerika yang rindu beraksi itu untuk beraksi di Indonesia dengan syarat membawa serum jagoan.
Dengan adanya serum jagoan tersebut Om Gun lalu merekrut keponakannya yang bernama Bumi (Kemal Palevi), Karena dia mempunyai keinginan untuk menjadi seorang jagoan untuk memberantas kejahatan dan angkara murka.Jagoan mendapatkan kekuatan dan kehebatan setelah disuntik serum jagoan. Bila pengaruh serum itu sudah menghilang maka Bumi kembali menjadi manusia biasa-biasa saja.
Mulai dari urusan BPJS yang belum bersahabat dengan rakyat nya, dan mematai-matai anggota DPR yang studi banding sampai menyelamatkan Mbah penunggu gunung dilakukan Bumi. Bahkan juga menyelamatkan uang satu ember dari rumah seorang koruptor.
Jagoan juga manusia, tidak luput juga dari goda, sempet Bumi membuat kecewa sang paman karena satu hal dia khilaf, dan sempat berniat untuk berhenti jadi jagoan. Om Gun akhirnya berhasil meluruskan pikiran Bumi.
Dan tentu saja Bumi berhadapan dengan musuh utamanya yang bernam Romeo (Kevin Julio), cowok kaya namun berwajah ancur yang merebut pacarnya, Pertiwi (Anisa Rahma). Romeo ternyata putra tunggal Ratu Gelondongan (Meriam Bellina), pemimpin perhimpunan pembalak hutan seluruh Indonesia.
Romeo walaupun penjahat masih punya harga diri. Ia akhirnya sadar Pertiwi tidak mencintainya. Ia mau menyerahkan Pertiwi ke Bumi asal Bumi mau menyerahkan sumber kekuatan dan kehebatannya, yaitu serum jagoan. Bumi setuju, ia mau menyerahkan serum jagoan asal Pertiwi kembali kepadanya.
Pada hari pertukaran itu, Romeo mencoba serum jagoan dengan memaksa Bumi menghadapinya. Maka terjadilah duel dua jagoan yang berlangsung tiga hari tiga malam.
Inti dari film Jagoan Instan yaitu bercerita tentang seorang yang bernama Bumi yang ingin sekali memberantas kejahatan dan korupsi yang melanda negara indonesia ini.
Tidak bergitu mulus – mulus saja perjalanan Bumi dalam memberantas kejahatan dan korupsi yang melanda negara indonesia, karena dia juga harus berhadapan dengan musuh terberatnya yaitu Romeo.
Walaupun sangat sengit dalam mengalahkan Romeo, akhirnya dengan menggunakan seluruh kekuatannya Bumi pun bisa mengalahkannnya.

INFO FILM

Sutradara
Fajar Bustomi
Penulis Skenario
Musfar Yasin
Produser
Chand Parwez Servia
Pemain

Dede YusufKemal PaleviKevin Julio, Anisa Rahma

Sabtu, 13 Februari 2016

JANGAN MAU DINIKAHI, KARENA 3 HAL INI


Foto dari sini


Mungkin postingan ini sedikit dikhususkan bagi laki-laki dan wanita yang ingin menikah lagi, karena kegagalan pada pernikahan yang sebelumnya. Saya tidak bersengaja membahas ini dengan seorang teman yang sudah dua tahun menjadi single parent, pasca perpisahan dengan mantan istrinya, yang membuahkan 3 orang anak yang masih balita.

            Bagi seorang lelaki yang aktif, bukan perkara mudah mengurusi 3 anak sekaligus, mulai dari mengantarkan ke sekolah, menjamin anak-anak pulang ke apartemen dengan selamat dan ditemani belajar di malam hari, ini bukan perkara yang mudah, akunya pada saya di sela-sela diskusi kami tentang program kerja.

            Namun, kenyataannya saya bisa melihat ia cukup telaten mengurusi ketiga anaknya meski tanpa pasangan. Tentu kemudian dia harus menyusun management waktu yang sangat detail untuk membagi perhatian pada anak-anak dan fokus pada pekerjaannya sendiri, yang juga membutuhkan komitmen yang tinggi.

            Saya tergelitik untuk menanyainya, kenapa enggak nikah lagi aja kak? Akhirnya dia membuka cerita dengan saya siang itu.

            “Ai…Gua enggak akan nikah lagi, karena tiga alasan ini.”
           
1.    Jangan menikah karena kebutuhan seksual



Foto dari sini

            Saya selalu mewanti-wanti orang-orang yang menikah karena kebutuhan seksual. Ini bukan hanya dalam status membujang, menggadis ataupun menyendiri alias single parent ya. Karena ini juga berlaku saat masih dalam status pernikahan. Salah kaprah menurut saya, ketika menjadikan seksual sebagai kebutuhan dan tujuan utama dalam pernikahan, ini benar-benar kondisi yang tidak asik sama sekali.

            Ketika pasangan dijadikan sebagai tujuan pemenuhan kebutuhan seksual, ini benar-benar tidak menarik, mungkin sering kali kita menemukan pasangan yang kerap kali ribut, namun selalu melahirkan anak lagi. Besok ribut sampai rumah berantakan kayak mau pindahan, selang berapa bulan ternyata sudah hamil lagi, begitu terus… Pernah kan lihat yang model begituan? Jangan-jangan justru kita sendiri pelakunya? (hahahah)

             Silahkan, jika tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi menurut saya, ini salah kaprah, penempatan seks dalam berumah tangga. Setiap kali kita berantem, ribut dengan pasangan? Lalu melakukan hubungan seksual, yang paling jelek justru masalahmu tidak kelar?  So masalah hanya diredam dengan kegiatan seksual, namun tidak juga menyelesaikan masalah (wow…)

            Hubungan seksual, baik dalam Islam atau secara kebutuhan biologis manusia dirancang sebagai sarana untuk mendekatkan suami dan istri, menumbuhkan ketenangan, kenyamanan, membuka komunikasi, merasakan cinta dan kasih sayang di antara keduanya, namun, jika seksual dijadikan sebagai sarana kebutuhan pribadi, tanpa memberikan kenyamanan dan rasa sayang pada pasangan, maka inilah yang disebut seks yang salah.

            Benar, dalam Islam dinyatakan, hukum menikah bisa dari sunnah, makruh bahkan menjadi wajib ketika seseorang tidak mampu berpuasa untuk mengontrol nafsu birahinya.  Namun, kembali ditekankan bahwa seks bukan sebagai tujuan utama, karena pernikahan justru untuk menyelamatkan satu hal yang terlarang (baca; Zina), dengan mengajarkan banyak hal lainnya, yaitu menghadirkan cinta, melahirkan keturunan dan menjadikannya sebagai ibadah bukan sebagai kebutuhan biologis semata.

            Kesalahan itu semakin diperkuat, ketika seksual hanya bentuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, tanpa peduli dengan kebutuhan pasangan. Tentu semakin runyam, lalu pernikahan ini untuk apakah? Seks dan kebutuhan diri semata kah? Dasar inilah yang disampaikan oleh teman saya tadi, jangan menikah karena seks, apalagi hanya untuk memenuhi kebutuhan seks pribadi semata. Pasanganmu puas enggak? (Bodo amat…katanya) NO!


2.    Jangan menikah untuk tujuan ekonomi


foto dari sini
            Warning yang kedua adalah menikah karena ingin mengurangi beban Ekonomi. Pernah ya, kita melihat langsung banyak sekali orang yang ingin menikah lagi karena ingin menyandarkan kebutuhan ekonominya pada pasangannya kelak.

            Jika kita menilik kembali dalil-dalil yang berhubungan dengan pernikahan “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan Ridha-Nya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

            Jadi, pada dasarnya, tujuan untuk menikah adalah untuk menjaga diri dari kemaksiatan, ibadah dan keberkahan, sementara kekayaan dan kemapanan secara ekonomi akan diperoleh sesuai dengan janji Allah. Yang perlu digarisbawahi, bukan menikah dengan tujuan ekonomi, dengan sangat bersengaja mencari pasangan yang akan kamu nikahi adalah orang yang berkecukupan, kaya raya ataupun mampu melunasi hutang-hutangmu, maka bisa dilihat bagaimana pernikahan dengan tujuan yang seperti ini akan menjadi ibadah setengah ad-dien? Karena yang dicari semata-mata untuk mengurangi hutang-hutang, beban ekonomi dan kesulitan hidupnya. Setelah itu selesai, apa kabar pernikahan ini?

            Lain halnya dengan keutamaan dalam menikahi janda-janda miskin yang memiliki anak yatim, janda yang ditinggal mati suaminya, memiliki beban yang berat dalam ekonomi. Jika seseorang menikahi untuk meringankan bebannya dan memelihara anak yatim, itu menjadi perkara yang berbeda dengan orang-orang yang ingin menikahi pasangan kaya raya hanya untuk kebutuhan ekonominya sendiri.

         Dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ

Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.”
           
Lalu, bagaimana jika ada pribadi-pribadi yang ingin menikah karena faktor ekonomi? Karena keinginan untuk memiliki mobil pribadi yang bisa dibelikan oleh calon pasangan, lalu bisa jalan-jalan ke Eropa? Enggak khawatir dibilang matre? (heheheheh)

3.    Jangan menikah karena ingin memiliki baby sitter untuk anak-anak

Gambar dari sini


Seorang lelaki ataupun wanita, jaman sekarang memiliki bargaining yang sama kuatnya, karena keduanya mampu bekerja, berkarya dan memiliki posisi penting dalam pekerjaannya.

Tidak ada yang salah, ketika ingin menikah lagi, lalu memilih dan memilah calon ibu/ayah yang manis dan baik untuk anak-anaknya. Seorang suami butuh pasangan yang bisa mendidik anak-anaknya dan saling sokong bersama dalam mengasuh anak-anak. Enggak mau dong, kalau ibu tiri dianggap kejam, dan enggak rela kalau ayah tiri menjadi perusak bagi anak-anaknya.

Namun, yang ditegaskan di sini adalah, menjadikan pasangan sebagai pendidik satu-satunya dan membebankan tugas mendidik dan mengasuh anak-anaknya dari mulai mengantarkan ke sekolah, makanan, mengaji dan mengajarkan konsep berpikir, ini sungguh hal yang tidak balance. Jadi, jangan heran, jika dari mulut pasangan akan keluar kalimat seperti ini,

“Jadi, Lu.. Nikahi Gua buat jagain anak-anak Lu?”

Bersiaplah akan gagal lagi jika menikah karena tiga faktor tersebut di atas. Menikahlah dengan tanpa sebuah beban, menikahlah untuk sebuah ibadah, memiliki ketenangan jiwa, perbaikan kualitas komunikasi yang salah pada  pernikahan yang sebelumnya.

Percayalah, seks akan menjadi semakin indah ketika pernikahan diutamakan sebagai janji di hadapan Tuhan, ada kebutuhan untuk beribadah kepada Allah, sehingga mencapai ketenangan di dalamnya. Seks menjadi ibadah yang dinikmati bersama bukan hanya pemenuhan kebutuhan pribadi semata.

Dan percayalah, pernikahan yang didasarkan pada keyakinan akan janji Allah, akan memberikan kelapangan rezeki, keberkahan hidup sehingga kekhawatiran untuk takut miskin dan menaruh beban hidup pada pasangan bukanlah sebagai tujuan utama yang ditujukan di awal pernikahan.

Pasangan kita, adalah partner kita dalam membangun pondasi dan generasi  terbaik. Bukanlah orang yang diberikan beban, namun menjadi team perumus visi dan eksekutor dalam menetapkan pola asuh untuk anak-anak kita. Semoga rahmat Allah untuk kita semuanya.

Penulis

Aida, M.A

Selasa, 09 Februari 2016

I'm HOPE Bukan Drama Biasa


Dimana ada keberanian di situ ada harapan


Saya pikir sahabat Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) memiliki pertemuan, chemistry lalu tercipta perjodohan yang manis dengan film I’m HOPE, film drama yang mengangkat perjuangan seorang survivor kanker. Saya masih ingat bagaimana kami hadir mendukung segenap pemain #ImHOPETheMovie bersama Tim produser Alkimia, Wulan Guritno, Janna Soekasah dan Amanda Soekasah saat penyerahan bantuan dana di rumah sakit kanker Dharmais-khusus bangsal anak pada 19 Januari 2016 yang lalu. Tidak berhenti di situ, KOPI juga hadir pada 4 Februari 2016 di acara penggalangan dana konser amal bersama RAN, Yura, Alexa dan Indri sebagai pengisi OST dari film I’m HOPE ini sendiri, hingga kampanye peduli kanker  7 Februari 2016 lalu. Di Car Free Day.

            Hari ini 9 Februari 2016, kami kembali menjadi rekan yang akan mendukung I’m HOPE lewat pre screening penayangan film I’m HOPE di Epicentrum-Jakarta.  Setelah rangkaian dari beberapa kegiatan sebelumnya, saya pribadi merasakan, betapa luar biasa semangat sahabat-sahabat dalam lingkaran produksi film I’m HOPE ini. Maka wajar, kemudian banyak yang berkomentar di setiap postingan saya mengenai berita I’m HOPE ada harapan besar, agar film ini mampu memberikan semangat sekaligus hiburan bagi siapapun yang menontonnya, namun lebih dari itu, bagi saya ada ekspetasi yang lebih bahwa film ini juga mampu mengetuk pintu hati banyak orang agar peduli tentang kanker dan bersiap menjadi seorang warrior kanker.

            Tepat pukul 15.30, kami sudah duduk di seat masing-masing. Sebelum film dimulai layar menayangkan tentang kegiatan-kegiatan para warrior Kanker, tampak para produser Alkimia di sana, sebagai latar belakang dan menunjukkan inilah yang mendasari pembuatan film ini. Kegiatan sosial dan dukungan terhadap kanker.

            Film dimulai dengan narasi seorang gadis bernama Mia (Tatjana) yang memiliki ayah (Tyo Pasukadewo) seorang composer hebat dan ibu (Febi Febiola) seorang sutradara teater terkenal di Indonesia. Narasi itu terdengar pas membuka cerita, seperti kisah para putri di negeri dongeng, bagaimana kisah dimulai, bergerak mencapai satu titik saat ini, bahwa Mia kehilangan ibu yang sangat ia cintai karena kanker. Tentu efek dari vonis kanker tadi ikut mempengaruhi ekonomi keluarga Mia, untuk kebutuhan perawatan ibunya, meski kemudian Ibunya pun meninggal dunia. Sampai di sini, saya sangat menikmati film ini, dan bisa langsung menetapkan bahwa film ini bisa ditonton anak saya yang baru berusia 8 tahun.

            Sepanjang film berlangsung, saya sudah mencatat beberapa hal yang menjadi fokus dan kelebihan dari film ini. Katakanlah seni peran, teater. Tidak banyak film yang mengangkat tokohnya seorang sutradara teater, namun Mia justru seorang sutradara teater yang mengarahkan banyak hal dalam pekerjaannya, bagi saya teater sebuah karya seni yang kompleks dibanding yang lainnya, karena ada seni peran, seni lukis, musik, tarian dan artistic yang dijadikan menjadi satu wadah bernama teater.

            Menarik lainnya, sosok Mia dan Maia, dua orang ini sebenarnya satu. Maia karakter imaginasi yang dihadirkan oleh Mia sejak ia kecil dan Maia semakin sering hadir saat Mia mengalami masa-masa berat kehilangan Ibunya, hingga Mia pun divonis kanker di hari ulang tahunnya, Maia ada dan menjadi karakter penyemangat bagi Mia.

            Karakter Mia ini sangat unik menurut saya, berbeda dengan orang-orang yang sudah divonis kanker mengalami down dan hilang semangat hidup, akhirnya karena pikiran dan ketakutan sendiri, sel kanker menjalar lebih cepat dari sebelumnya. Karakter Mia justru sebaliknya, saya menemukan semangat luar biasa dan keteguhan pendirian dari karakter Mia, Tatjana memerankan Mia dengan sangat apik, manis dan sangat tegas. Saya ikut merasakan bagaimana persistennya Mia untuk tetap bisa menyutradarai pertunjukan teaternya. Semuanya terasa tidak berlebihan, pas sesuai dengan komposisinya.

            Karakter ayah, om Tyo Pasukadewo benar-benar memukau saya, bagaimana seorang ayah yang sangat bertanggung jawab, penyayang tiada dua, namun tetap terlihat cool dan mampu membuat saya terenyuh meski gambaran kegusaran hatinya dalam film ini tidak disajikan dengan tangisan dan linangan air mata, cara bersedih yang menawan penonton dan pesan itu tersampaikan, bahwa sebagai ayah, dia sangat khawatir akan kehilangan lagi. Semua scene saat Mia dan ayahnya, selalu memukau saya, apalagi mengingat kampanye parenting akhir-akhir ini yang meminta ayah kembali ke rumah, menjadi ada benar-benar ada untuk anak-anak mereka, pola asuh ayah sangat dinanti untuk perkembangan kejiwaan anak, dan di film ini saya menemukan “Ke-ada-an nya seorang ayah” dalam mendukung anaknya.

Salah satu scene antara Mia dan ayahnya
            Sulit bagi saya mencari kekurangan dari semua aktor yang bermain dalam film ini.  Mulai dari David (Fachri Albar) yang menjadi kekasih Mia, warriornya Rama Satya (Aryo Wahab) semuanya memenuhi karakter mereka masing-masing dengan komposisi yang pas. Begitu juga dengan beberapa sponsor yang mendukung film ini, dihadirkan dengan sangat soft, tidak terkesan dipaksakan, seperti blue bird saat Mia memesan taksi, atau Wardah saat Mia didandani, semuanya diletakkan pada tempat yang sesuai tanpa terkesan dipaksakan dan tempelan.

            Apa lagi yang menarik? Musik OST mengambil peran penting dalam film ini, meski beberapa lagu lawas yang mewarnai beberapa scene film ini, tapi tak mengurangi pesonanya, lagu lawas yang diarransement ulang, seperti lagu bunga, saya masih terngiang-ngiang dengan lirik “Oh kasih… Jangan kau pergi, tetaplah kau selalu di sini…Jangan biarkan diriku sendiri” bagian inipun mampu menyentuh saya ketika Mia terpaksa kembali dirawat karena kanker yang ia derita.

            Saya percaya bahwa penyakit adalah bagian dari ketentuan Tuhan, dan hanya orang-orang tertentu yang diberikan penyakit adalah orang yang dianggap mampu melewati ini. Sosok Mia membuat saya menyadari satu hal, bahwa Tuhan memberikan sebuah ujian karena IA yakin kita mampu melewatinya, karena kita adalah pilihan-Nya.

            Saya menemukan pointnya di sini, film ini bukan film drama biasa.  Bagi survivor, tentu ini menjadi penyemangat, bagi warrior ini akan menggerakkan sisi-sisi humanist kita, bahwa banyak orang di luar sana yang perlu disemangati, mendapat dukungan dan keyakinan, karena dengan cinta dan dukungan saja, para survivor mampu berpikir positif, bersemangat untuk tetap melanjutkan hidup mereka.

            Selamat untuk Alkimia Production, selain sangat memotivasi, menghibur, film ini semoga menjadi ladang amal, dan dinilai kebaikan di sisi Tuhan. Amin. Saya beri 4 bintang dari 5 bintang untuk film I’m HOPE, Bravo!.

Tonton teasernya di sini

Jakarta, 10 Februari 2016

Aida, M.A