Sabtu, 13 Februari 2016

JANGAN MAU DINIKAHI, KARENA 3 HAL INI


Foto dari sini


Mungkin postingan ini sedikit dikhususkan bagi laki-laki dan wanita yang ingin menikah lagi, karena kegagalan pada pernikahan yang sebelumnya. Saya tidak bersengaja membahas ini dengan seorang teman yang sudah dua tahun menjadi single parent, pasca perpisahan dengan mantan istrinya, yang membuahkan 3 orang anak yang masih balita.

            Bagi seorang lelaki yang aktif, bukan perkara mudah mengurusi 3 anak sekaligus, mulai dari mengantarkan ke sekolah, menjamin anak-anak pulang ke apartemen dengan selamat dan ditemani belajar di malam hari, ini bukan perkara yang mudah, akunya pada saya di sela-sela diskusi kami tentang program kerja.

            Namun, kenyataannya saya bisa melihat ia cukup telaten mengurusi ketiga anaknya meski tanpa pasangan. Tentu kemudian dia harus menyusun management waktu yang sangat detail untuk membagi perhatian pada anak-anak dan fokus pada pekerjaannya sendiri, yang juga membutuhkan komitmen yang tinggi.

            Saya tergelitik untuk menanyainya, kenapa enggak nikah lagi aja kak? Akhirnya dia membuka cerita dengan saya siang itu.

            “Ai…Gua enggak akan nikah lagi, karena tiga alasan ini.”
           
1.    Jangan menikah karena kebutuhan seksual



Foto dari sini

            Saya selalu mewanti-wanti orang-orang yang menikah karena kebutuhan seksual. Ini bukan hanya dalam status membujang, menggadis ataupun menyendiri alias single parent ya. Karena ini juga berlaku saat masih dalam status pernikahan. Salah kaprah menurut saya, ketika menjadikan seksual sebagai kebutuhan dan tujuan utama dalam pernikahan, ini benar-benar kondisi yang tidak asik sama sekali.

            Ketika pasangan dijadikan sebagai tujuan pemenuhan kebutuhan seksual, ini benar-benar tidak menarik, mungkin sering kali kita menemukan pasangan yang kerap kali ribut, namun selalu melahirkan anak lagi. Besok ribut sampai rumah berantakan kayak mau pindahan, selang berapa bulan ternyata sudah hamil lagi, begitu terus… Pernah kan lihat yang model begituan? Jangan-jangan justru kita sendiri pelakunya? (hahahah)

             Silahkan, jika tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi menurut saya, ini salah kaprah, penempatan seks dalam berumah tangga. Setiap kali kita berantem, ribut dengan pasangan? Lalu melakukan hubungan seksual, yang paling jelek justru masalahmu tidak kelar?  So masalah hanya diredam dengan kegiatan seksual, namun tidak juga menyelesaikan masalah (wow…)

            Hubungan seksual, baik dalam Islam atau secara kebutuhan biologis manusia dirancang sebagai sarana untuk mendekatkan suami dan istri, menumbuhkan ketenangan, kenyamanan, membuka komunikasi, merasakan cinta dan kasih sayang di antara keduanya, namun, jika seksual dijadikan sebagai sarana kebutuhan pribadi, tanpa memberikan kenyamanan dan rasa sayang pada pasangan, maka inilah yang disebut seks yang salah.

            Benar, dalam Islam dinyatakan, hukum menikah bisa dari sunnah, makruh bahkan menjadi wajib ketika seseorang tidak mampu berpuasa untuk mengontrol nafsu birahinya.  Namun, kembali ditekankan bahwa seks bukan sebagai tujuan utama, karena pernikahan justru untuk menyelamatkan satu hal yang terlarang (baca; Zina), dengan mengajarkan banyak hal lainnya, yaitu menghadirkan cinta, melahirkan keturunan dan menjadikannya sebagai ibadah bukan sebagai kebutuhan biologis semata.

            Kesalahan itu semakin diperkuat, ketika seksual hanya bentuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, tanpa peduli dengan kebutuhan pasangan. Tentu semakin runyam, lalu pernikahan ini untuk apakah? Seks dan kebutuhan diri semata kah? Dasar inilah yang disampaikan oleh teman saya tadi, jangan menikah karena seks, apalagi hanya untuk memenuhi kebutuhan seks pribadi semata. Pasanganmu puas enggak? (Bodo amat…katanya) NO!


2.    Jangan menikah untuk tujuan ekonomi


foto dari sini
            Warning yang kedua adalah menikah karena ingin mengurangi beban Ekonomi. Pernah ya, kita melihat langsung banyak sekali orang yang ingin menikah lagi karena ingin menyandarkan kebutuhan ekonominya pada pasangannya kelak.

            Jika kita menilik kembali dalil-dalil yang berhubungan dengan pernikahan “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan Ridha-Nya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

            Jadi, pada dasarnya, tujuan untuk menikah adalah untuk menjaga diri dari kemaksiatan, ibadah dan keberkahan, sementara kekayaan dan kemapanan secara ekonomi akan diperoleh sesuai dengan janji Allah. Yang perlu digarisbawahi, bukan menikah dengan tujuan ekonomi, dengan sangat bersengaja mencari pasangan yang akan kamu nikahi adalah orang yang berkecukupan, kaya raya ataupun mampu melunasi hutang-hutangmu, maka bisa dilihat bagaimana pernikahan dengan tujuan yang seperti ini akan menjadi ibadah setengah ad-dien? Karena yang dicari semata-mata untuk mengurangi hutang-hutang, beban ekonomi dan kesulitan hidupnya. Setelah itu selesai, apa kabar pernikahan ini?

            Lain halnya dengan keutamaan dalam menikahi janda-janda miskin yang memiliki anak yatim, janda yang ditinggal mati suaminya, memiliki beban yang berat dalam ekonomi. Jika seseorang menikahi untuk meringankan bebannya dan memelihara anak yatim, itu menjadi perkara yang berbeda dengan orang-orang yang ingin menikahi pasangan kaya raya hanya untuk kebutuhan ekonominya sendiri.

         Dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ

Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.”
           
Lalu, bagaimana jika ada pribadi-pribadi yang ingin menikah karena faktor ekonomi? Karena keinginan untuk memiliki mobil pribadi yang bisa dibelikan oleh calon pasangan, lalu bisa jalan-jalan ke Eropa? Enggak khawatir dibilang matre? (heheheheh)

3.    Jangan menikah karena ingin memiliki baby sitter untuk anak-anak

Gambar dari sini


Seorang lelaki ataupun wanita, jaman sekarang memiliki bargaining yang sama kuatnya, karena keduanya mampu bekerja, berkarya dan memiliki posisi penting dalam pekerjaannya.

Tidak ada yang salah, ketika ingin menikah lagi, lalu memilih dan memilah calon ibu/ayah yang manis dan baik untuk anak-anaknya. Seorang suami butuh pasangan yang bisa mendidik anak-anaknya dan saling sokong bersama dalam mengasuh anak-anak. Enggak mau dong, kalau ibu tiri dianggap kejam, dan enggak rela kalau ayah tiri menjadi perusak bagi anak-anaknya.

Namun, yang ditegaskan di sini adalah, menjadikan pasangan sebagai pendidik satu-satunya dan membebankan tugas mendidik dan mengasuh anak-anaknya dari mulai mengantarkan ke sekolah, makanan, mengaji dan mengajarkan konsep berpikir, ini sungguh hal yang tidak balance. Jadi, jangan heran, jika dari mulut pasangan akan keluar kalimat seperti ini,

“Jadi, Lu.. Nikahi Gua buat jagain anak-anak Lu?”

Bersiaplah akan gagal lagi jika menikah karena tiga faktor tersebut di atas. Menikahlah dengan tanpa sebuah beban, menikahlah untuk sebuah ibadah, memiliki ketenangan jiwa, perbaikan kualitas komunikasi yang salah pada  pernikahan yang sebelumnya.

Percayalah, seks akan menjadi semakin indah ketika pernikahan diutamakan sebagai janji di hadapan Tuhan, ada kebutuhan untuk beribadah kepada Allah, sehingga mencapai ketenangan di dalamnya. Seks menjadi ibadah yang dinikmati bersama bukan hanya pemenuhan kebutuhan pribadi semata.

Dan percayalah, pernikahan yang didasarkan pada keyakinan akan janji Allah, akan memberikan kelapangan rezeki, keberkahan hidup sehingga kekhawatiran untuk takut miskin dan menaruh beban hidup pada pasangan bukanlah sebagai tujuan utama yang ditujukan di awal pernikahan.

Pasangan kita, adalah partner kita dalam membangun pondasi dan generasi  terbaik. Bukanlah orang yang diberikan beban, namun menjadi team perumus visi dan eksekutor dalam menetapkan pola asuh untuk anak-anak kita. Semoga rahmat Allah untuk kita semuanya.

Penulis

Aida, M.A

0 komentar:

Posting Komentar