Rabu, 25 Mei 2016

Menjadi Blogger Bahagia, Blogger KOPI Siap Berbagi

   
Sekitar tahun 2008, pertamakali saya posting sebuah tulisan di web parenting www.infobunda.com dan langsung menjadi headlines artikel selama seminggu. Begitu juga selanjutnya, setiap postingan tulisan saya selalu menjadi headlines, sehingga membuat saya rajin dan betah menulis lagi dan lagi.

            Selain di infobunda.com, saya juga mulai aktif di ngerumpi.com (Sekarang situsnya sudah tutup). Interaksi antara blogger di ngerumpi jauh lebih seru, sehingga dari situs itu saya punya dua sahabat yang akhirnya menulis di buku Berbagi Hati, buku duet pertama saya bersama sahabat Blogger yang membawa berkah dan menjadi juara utama lomba menulis di leutikaprio saat itu.

            Jadi, bisa dikatakan awal mula saya menulis buku sejak saya menjadi seorang blogger. Berjalannya waktu kegiatan-kegiatan menulis dan cinta akan hal-hal positif dari Indonesia membawa saya bersama seorang sahabat, Kak Arul membentuk sebuah komunitas blogger yang peduli pada produk-produk dalam negeri, Blogger Pesona Indonesia, yang dikenal dengan KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia). Karena namanya Koalisi, di sini bukan hanya blogger saja yang hadir, namun tergabung pula sahabat-sahabat dari jurnalis online yang bergabung pertama kali dan menyatakan deklarasi mendukung berita baik untuk Indonesia pada 26 November 2015 yang lalu. kami berpadu dan berinteraksi di Grup WA KOPI, saya sendiri sebagai admin awal berdua dengan Kak Arul, menampung banyak ide dan gagasan dari warga KOPI dengan latar belakang yang berbeda-beda.

            Isi dari deklarasi yang dihadiri oleh sekitar 30 orang blogger dan jurnalis bersama dengan Humas Menpar, El john, Asita dan beberapa orang putri pariwisata Indonesia dituangkan dalam sebuah deklarasi bersama di bawah ini. Isi deklarasi ini kemudian ditandatangani secara bersama-sama sebagai bentuk pengukuhan terhadap deklarasi tersebut.

Deklarasi 26 November 2015

            Seiring berjalannya waktu, kegiatan sinergi inipun dilakukan dengan pihak-pihak produser perfilman, sehingga semua warga KOPI bisa menikmati dan menjadi saksi pertama karya perfilman anak bangsa, bukan hanya sebagai saksi utama namun juga menjadi pemberi penilaian, apresiasi dan saran terhadap setiap perfilman Indonesia.



            Sinergi ini terus berlanjut dengan dilakukannya pertemuan dan kerjasama dengan Sarinah, pasca bom yang terjadi di seputaran komplek sarinah thamrin saat itu sempat menjadi hot news yang tidak kunjung berhenti begitu saja. Para warga KOPI lah yang kemudian bekerjasama dengan para pasukan sosial media memulihkan kembali nama baik Sarinah sebagai jendela hasil produksi dan budaya UKM-UKM dari seluruh Indonesia. Di sini, KOPI kembali memberikan kontribusinya.

Dukung Sarinah Is Me

            
          Kesempatan yang lain juga kesediaan KOPI untuk menjadi relawan PMI di daerah masing-masing. Dengan tetap melanjutkan kerjasama-kerjasama dengan kementerian pariwisata pentingnya untuk menyebarkan kabar baik untuk Indonesia kepada dunia.

Bersama MENPAR Dukung Wisata Indonesia

            Istimewanya KOPI bukan saja beranggotakan para blogger yang berlatar belakang buzzer dan perekomendasi produk tertentu. Anggota KOPI juga berasal dari para Putri pariwisata, para pelaku pariwisata Indonesia, artis-artis  dan penulis novel nasional sehingga menjadi bobot tersendiri bagi warga KOPI. Setiap warga KOPI juga memiliki Id card sebagai blogger sehingga mudah untuk diidentifikasi dan diajak bekerjasama sewaktu-waktu.

ID Card KOPI

            Seiring berjalannya waktu, saya sendiri sebagai founder KOPI bersama kak Arul, merekrut banyak KOPI-Kota lainnya, sehingga bisa ditemui KOPI-Medan, Makasar, Jogja, Semarang, Surabaya, Bandung dan masih banyak KOPI-ers lainnya dari luar Jakarta, dan menariknya semua akan berkumpul saat hari penghelatan setahun berdirinya KOPI 26 November mendatang.

Bersama El John

            Petinggi-petinggi KOPI sendiri seperti kak Al dibantu oleh kak Obay dan kak Risma El Jundi sebagai bagian presidium KOPI dengan tagline “Senyum, Sapa dan Sinergi”. Kami semuanya tentu saja tidak hanya mengurusi film-film nasional, karena masih banyak hal lain yang juga ikut dipikirkan lewat KOPI. Sehingga saya mengambil peran dalam pendidikan kreatif untuk anak-anak Marginal, teman-teman lain akan bersinergi dengan pihak yang lain. Selama hal itu mampu memberikan peran dan kontribusi yang baik untuk Indonesia, KOPI selalu mendukung dengan seluruh warga KOPI.

Dukung Film Indonesia

            Selamat berkarya, selamat berulang tahun KOPI, semangat berbagi teman-teman, karena kebahagiaan terbesar bukan hanya pada materi, namun bagaimana memberi lebih banyak dan menghadirkan senyum di hati banyak orang.


Salam KOPI

Aida, M. A
           
Tulisan ini saya peruntukkan untuk seluruh Blogger di Nusantara, pada semua penyandang titah untuk menyebarkan kabar baik dan kebaikan, positif value bagi Indonesia. Bangga menjadi bangsa Indonesia, pada karya, budaya dan wisatanya, #WonderfullIndonesia #PestaKOPI

Jumat, 13 Mei 2016

Maslamah, Terimalah Maharku 'Surah Al-Waqi'ah"




Banyak wanita yang hadir dalam hidupku, satu, dua, tiga bahkan lebih. Datang lalu pergi, ada yang kembali, ada juga yang tak ingin melihat lagi. Dari semuanya yang pernah datang, tak ada perjuangan yang begitu berarti. Sehari bahkan dalam hitungan jam, bisa langsung jadian, itu pernah ada dalam kisah cinta yang entah apalah namanya saat itu.

Menemukannya, bisa dibilang susah, bukan begitu gampang. Apalagi gampang-gampang susah. Aku harus melewati banyak tahun, banyak kisah tragis, bahkan banyak hati yang terluka (mungkin). Banyak makian, banyak hujatan, bahkan pengusiran, aihhh ini berlebihan sepertinya (heheheh).

Tapi kenyataannya memang begitu, dalam perjalanan hidup manusia ada satu gong, ketika dengung gong itu menggema, perubahan total bisa terjadi. Ada titik balik, ada janji pada diri sendiri, kejujuran yang membawa pada keinginan untuk berbeda dari sebelumnya, perbaikan diri, itu point nya.



Dulu, aku memanggilnya Inong, Maslamah. Wanita yang berbulan-bulan membuatku kehabisan akal, bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatiannya, apa yang ia inginkan? Apa yang ia sukai? Apa yang ia cita-citakan? Mungkinkah aku bisa berada di dalamnya? Dalam cita-citanya yang tinggi, dalam kegiatan berbaginya yang menginspirasiku.

Jika ditanyakan, siapa wanita yang paling sulit  kucuri hatinya, itulah dia, Inong, Maslamahku. Keseharian komunikasi dengannya hanya mengenai ide, karya dan cita-cita. Rayuanku hanya bualan di matanya, kehabisan akal… Menghadapi wanita yang totally logical woman.

Namun, kesulitan menaklukkan hati inilah yang membuat aku ingin menjaganya lebih dari diriku sendiri. Bukan perkara mudah menjaga wanita dengan segudang aktivitas, setumpuk fans yang standart dan sebaris fans berat yang fanatik. Ah, begitu sulitnya menaklukkannya, namun sekuat itu pula aku ingin menjadi “ada” di hatinya.

Hingga kumenemukan celah untuk menawarkan ia sebuah pernikahan, ini bukan main-main, meski aku ragu cintaku akan berbalas dengan segera atau gagal total dan berakhir dengan penolakan.

Saat kuajukan sebuah lamaran, dia menanyaiku sebuah pertanyaan?

“Jika menikah lagi? Apa visi misi dalam pernikahanmu? Mau dibawa ke mana pernikahan nanti? Menikah itu bukan semata suka sama suka, kesemsem lalu jadian, tapi lebih dari itu menikah adalah janji pada Ilahi, bagaimana memantaskan diri, mendesain keluarga ini menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat Madani.”

Oh Tuhan…sederet kalimat yang mulai membingungkanku. Menikah perlu visi misi? Perlu desain masyarakat Madani segala? Mengapa begitu luas yang ia pikirkan, membuat aku berpikir berulang kali, apa yang harus kujawab?

Belum selesai dengan urusan visi misi? Lalu dia mengajukan sebuah tantangan baru.

“Menikah denganku, syaratnya mudah. Hapalan Quran saja dan pengamalannya.”

Gedubrak! Kutatap berulang kali wajahku di cermin. Mantan preman ini, melamar seorang wanita dengan hapalan Quran? Ya Allah, berapa banyak surah dari-Mu yang benar-benar kuhapal dengan baik? Jangan-jangan hanya 2-3 surah saja. Mendadak aku malu, namun…sama sekali aku tidak merasa sedang ditolak secara halus.

“Ini Tantangan bukan Penolakan” kupastikan lagi hatiku.

“Inong…. Aku hanya bisa memberikan hapalan surah Al-Waqiah, surah yang kamu anjurkan untukku baca setelah ashar, surah anti fakir itu” aku menjawab tantangannya.

Kudengar dari seberang sana, ia hanya diam. Mungkin sedang berpikir, ada keseriusan di balik jawabanku.

“Baik… Hapalan Al-Waqiah sebagai mahar untukku. Semoga kita kaya hati, harta dan amal kebaikan untuk yang lain.”



Hujan gerimis mendadak lebat, menyiram hatiku sore itu. Meski jauh, aku tak bisa menatap wajahnya saat menyatakan tentang mahar, tapi aku tahu ada pesona wibawa di balik kerudungnya yang berwarna merah muda.

Singkat cerita, kuhapalkan surah Al Waqiah sebagai mahar, bayangkan… Ini benar-benar perjuangan berat untukku. Setiap sore aku menelponnya menyetorkan hapalanku, aku gembira bukan main, saat ia dengan ikhlas mengajarkan tajwid, membenarkan hapalanku yang masih berantakan. Duh… Surgaku semakin dekat di hati.

Namun, urusan mahar ini bukan hanya sekedar hapalan saja. Ini baru permulaan, karena utama dari mahar hapalan Quran adalah pengalaman dan pengajarannya. Setelah menghapal, aku harus memahami tafsirnya, peringatan-peringatan dalam surah tersebut lalu mengajarkan dalam hidup kami, selaku imam dalam rumah ini.

Menikahinya, seperti menikahi sederatan buku-buku kehidupan yang mengajarkanku tentang arti perjuangan, perbaikan diri, ibadah yang lebih baik dan janji setia padanya, mengharapkan surga yang selalu kusemogakan.

Maslamahku, setialah di sampingku, menjadi surga di rumah kita. Menjadi Ibu dari anak-anakku, dan penenang hati ketika gulana, bersama-sama menuju kasih-Nya.

Terimakasih, sudah memberikanku kesempatan..
Menjadi imam..
Menjadi kekasih..
Menjadi suami..
Menjadi sahabat..
Menjadi Ayah..
Dan Insya ALLAH…
Engkau Maslamahku…
Menjadi rumah terakhir tempat aku kembali.