Jumat, 13 Mei 2016

Maslamah, Terimalah Maharku 'Surah Al-Waqi'ah"




Banyak wanita yang hadir dalam hidupku, satu, dua, tiga bahkan lebih. Datang lalu pergi, ada yang kembali, ada juga yang tak ingin melihat lagi. Dari semuanya yang pernah datang, tak ada perjuangan yang begitu berarti. Sehari bahkan dalam hitungan jam, bisa langsung jadian, itu pernah ada dalam kisah cinta yang entah apalah namanya saat itu.

Menemukannya, bisa dibilang susah, bukan begitu gampang. Apalagi gampang-gampang susah. Aku harus melewati banyak tahun, banyak kisah tragis, bahkan banyak hati yang terluka (mungkin). Banyak makian, banyak hujatan, bahkan pengusiran, aihhh ini berlebihan sepertinya (heheheh).

Tapi kenyataannya memang begitu, dalam perjalanan hidup manusia ada satu gong, ketika dengung gong itu menggema, perubahan total bisa terjadi. Ada titik balik, ada janji pada diri sendiri, kejujuran yang membawa pada keinginan untuk berbeda dari sebelumnya, perbaikan diri, itu point nya.



Dulu, aku memanggilnya Inong, Maslamah. Wanita yang berbulan-bulan membuatku kehabisan akal, bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatiannya, apa yang ia inginkan? Apa yang ia sukai? Apa yang ia cita-citakan? Mungkinkah aku bisa berada di dalamnya? Dalam cita-citanya yang tinggi, dalam kegiatan berbaginya yang menginspirasiku.

Jika ditanyakan, siapa wanita yang paling sulit  kucuri hatinya, itulah dia, Inong, Maslamahku. Keseharian komunikasi dengannya hanya mengenai ide, karya dan cita-cita. Rayuanku hanya bualan di matanya, kehabisan akal… Menghadapi wanita yang totally logical woman.

Namun, kesulitan menaklukkan hati inilah yang membuat aku ingin menjaganya lebih dari diriku sendiri. Bukan perkara mudah menjaga wanita dengan segudang aktivitas, setumpuk fans yang standart dan sebaris fans berat yang fanatik. Ah, begitu sulitnya menaklukkannya, namun sekuat itu pula aku ingin menjadi “ada” di hatinya.

Hingga kumenemukan celah untuk menawarkan ia sebuah pernikahan, ini bukan main-main, meski aku ragu cintaku akan berbalas dengan segera atau gagal total dan berakhir dengan penolakan.

Saat kuajukan sebuah lamaran, dia menanyaiku sebuah pertanyaan?

“Jika menikah lagi? Apa visi misi dalam pernikahanmu? Mau dibawa ke mana pernikahan nanti? Menikah itu bukan semata suka sama suka, kesemsem lalu jadian, tapi lebih dari itu menikah adalah janji pada Ilahi, bagaimana memantaskan diri, mendesain keluarga ini menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat Madani.”

Oh Tuhan…sederet kalimat yang mulai membingungkanku. Menikah perlu visi misi? Perlu desain masyarakat Madani segala? Mengapa begitu luas yang ia pikirkan, membuat aku berpikir berulang kali, apa yang harus kujawab?

Belum selesai dengan urusan visi misi? Lalu dia mengajukan sebuah tantangan baru.

“Menikah denganku, syaratnya mudah. Hapalan Quran saja dan pengamalannya.”

Gedubrak! Kutatap berulang kali wajahku di cermin. Mantan preman ini, melamar seorang wanita dengan hapalan Quran? Ya Allah, berapa banyak surah dari-Mu yang benar-benar kuhapal dengan baik? Jangan-jangan hanya 2-3 surah saja. Mendadak aku malu, namun…sama sekali aku tidak merasa sedang ditolak secara halus.

“Ini Tantangan bukan Penolakan” kupastikan lagi hatiku.

“Inong…. Aku hanya bisa memberikan hapalan surah Al-Waqiah, surah yang kamu anjurkan untukku baca setelah ashar, surah anti fakir itu” aku menjawab tantangannya.

Kudengar dari seberang sana, ia hanya diam. Mungkin sedang berpikir, ada keseriusan di balik jawabanku.

“Baik… Hapalan Al-Waqiah sebagai mahar untukku. Semoga kita kaya hati, harta dan amal kebaikan untuk yang lain.”



Hujan gerimis mendadak lebat, menyiram hatiku sore itu. Meski jauh, aku tak bisa menatap wajahnya saat menyatakan tentang mahar, tapi aku tahu ada pesona wibawa di balik kerudungnya yang berwarna merah muda.

Singkat cerita, kuhapalkan surah Al Waqiah sebagai mahar, bayangkan… Ini benar-benar perjuangan berat untukku. Setiap sore aku menelponnya menyetorkan hapalanku, aku gembira bukan main, saat ia dengan ikhlas mengajarkan tajwid, membenarkan hapalanku yang masih berantakan. Duh… Surgaku semakin dekat di hati.

Namun, urusan mahar ini bukan hanya sekedar hapalan saja. Ini baru permulaan, karena utama dari mahar hapalan Quran adalah pengalaman dan pengajarannya. Setelah menghapal, aku harus memahami tafsirnya, peringatan-peringatan dalam surah tersebut lalu mengajarkan dalam hidup kami, selaku imam dalam rumah ini.

Menikahinya, seperti menikahi sederatan buku-buku kehidupan yang mengajarkanku tentang arti perjuangan, perbaikan diri, ibadah yang lebih baik dan janji setia padanya, mengharapkan surga yang selalu kusemogakan.

Maslamahku, setialah di sampingku, menjadi surga di rumah kita. Menjadi Ibu dari anak-anakku, dan penenang hati ketika gulana, bersama-sama menuju kasih-Nya.

Terimakasih, sudah memberikanku kesempatan..
Menjadi imam..
Menjadi kekasih..
Menjadi suami..
Menjadi sahabat..
Menjadi Ayah..
Dan Insya ALLAH…
Engkau Maslamahku…
Menjadi rumah terakhir tempat aku kembali.




0 komentar:

Posting Komentar