Jumat, 24 Juni 2016

BERPUASA, MELATIH MUJAHADAH JIWA

 
Foto Aida, M.A (Istimewa)


            Ibadah puasa pada hakikatnya adalah sebuah ritualistik bagi ummat beragama, puasa sudah dilakukan jauh sebelum Islam datang, dalam agama-agama Hindu, Budha pun memiliki ritual berpuasa, meski dalam esensi dan pelaksanaannya sangat berbeda satu dengan lainnya.

            Dalam priode Islam sendiri, ibadah puasa sudah ada sejak Nabi Adam, As. Kemudian diberikanlah ketentuan bahwa pelaksanan puasa khusus ummat Rasulullah dilaksanakannya di bulan Ramadhan, kendati pun demikian ibadah Puasa dari Nabi Adam hingga masa Rasulullah SAW memiliki satu tujuan yang sama yaitu mencapai derajat Taqwa (Al-Baqarah ; 183).

            Pelaksanaan ibadah puasa sebenarnya mencerminkan pada pengendalian diri, menahan keinginan terhadap kebutuhan-kebutuhan fisik, mulai dari makan, minum dan kebutuhan seksualitas. Ternyata efek “mengendalikan diri” bukan hanya sehat bagi tubuh namun memberikan gizi bagi jiwa.

            Jika bicara teori Masslow, mungkin kita akan disuguhi sebuah teori yang mengatakan bahwa manusia akan berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan yang merujuk pada kebutuhan-kebutuhan dasarnya saja, sehingga ketika seorang manusia tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya maka akan melakukan kerusakan. Mungkin ini akan  mirip dengan penafsiran dari hadist “Fakir mendekatkan pada kekufuran.”

            Namun berpuasa tentu saja tidak sama dengan posisi seseorang yang tidak makan dan minum karena kondisi fakir yang berlebihan. Ibadah puasa dibangun dengan niat yang kuat, ibadah pada Allah sehingga menahan diri dari makan dan minum menjadi sebuah sarana mendekatkan diri pada Allah, sementara kondisi melarat, terpaksa tidak makan akan sangat berbeda dengan Ibadah puasa yang didasarkan pada niat lillahi taala tadi. Di sinilah yang dimaksudkan bahwa puasa akan menjadi mujahadah jiwa seperti pada judul tulisan ini di atas.

            Pernah suatu kali seorang santri saya menanyakan, buat apa orang miskin tetap berpuasa, sementara mereka sudah terbiasa menahan lapar dan dahaga. Sepertinya puasa akan sangat cocok jika dilakukan oleh orang-orang kaya yang tidak pernah kekurangan makanan, sehingga mereka bisa merasakan bagaimana sulitnya menahan lapar selama 12 jam lebih.

            Memang tidak ada yang salah dengan pernyataan yang demikian, namun tentu saja hukum ibadah puasa tidak memilih-milih golongan, pangkat atau jabatan tertentu saja. Namun ibadah puasa memiliki manfaat bagi setiap orang untuk mencapai derajat taqwanya masing-masing.

            Setidaknya ada beberapa hal yang sangat membantu proses pematangan kejiwaan seseorang ketika puasa dilaksanakan sebagaimana mestinya.

            Pertama, Menumbuhkan rasa cinta kasih kepada sesama.   Dalam hadist Muslim dikatakan “Orang Islam itu seperti satu tubuh, yang apabila salah satu anggotanya sakit, maka akan terasa sakit pada seluruh tubuh (HR.Muslim)

 Bagi yang terbiasa hidup berkecukupan, dengan berpuasa akan merasakan empati dan sosial yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Menahan diri selama 12 jam lebih  setiap harinya di bulan Ramadhan, seperti sebuah training pemantapan diri, merasakan hidup dalam kekurangan, menahan lapar dan haus, sehingga menumbuhkan rasa cinta dan kasih terhadap kaum yang papa.

            Puasa akan mendidik jiwa kaum muslimin yang melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh sehingga mampu memaknai bagaimana rasanya hidup dalam kondisi hanya makan dua kali sehari atau bahkan hanya sekali sehari.

            Kedua, Membentuk jiwa yang penyabar, “Puasa itu setengah dari kesabaran (HR.Muslim)” ini bermakna bagi mukmin yang memiliki niat berpuasa mengharapkan Ridha Allah saja.

Ini yang saya katakan tadi bahwa teori Masslow yang menyatakan bahwa seseorang akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya akan melakukan kekejian dan kecurangan-kecurangan jika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.

            Pemahaman ini tentu saja tidak akan berlaku untuk orang-orang mukmin yang berpuasa. Puasa, menahan lapar, dahaga dan kebutuhan dasar lainnya sebagai fokus mencari sesuatu yang lebih dari kenyang dan puas, namun lebih kepada proses mendekatkan diri pada Allah semata.
        
          Orang-orang yang terbiasa lapar di kala puasa dengan lapar di saat tidak berpuasa akan merasakan dua hal yang terlihat sama namun sangat berbeda dalam segi keimanannya. Lapar karena kondisi kekurangan sering kali membuat seseorang kehilangan akal sehatnya, keinginan untuk memenuhi kebutuhan perut mampu menghalalkan segala cara.  Namun akan sangat berbeda dengan orang yang menahan lapar karena bagian dari niat berpuasa untuk mencari ridha Allah. Maka proses menahan lapar dengan berpuasa akan membentuk kondisi kejiwaan yang stabil dan lebih sabar menghadapi dalam kondisi apapun.

            Ketiga, Menambah Kecerdasan. Bagaimana puasa mampu menambah tingkat kecerdasan atau cara berpikir seseorang? Selama berpuasa pemandangan pertama kali yang sering kita lihat adalah puasa membuat seseorang bermalas-malasan atau kurang bergairah bukan? Sebenarnya dua hal ini erat hubungannya dengan terlalu banyak makan atau terlalu banyak tidur selama bulan puasa, sehingga cenderung malas untuk melakukan kegiatan lainnya. Ini juga yang dikatakan oleh Luqman al hakim pada anaknya“Wahai anakku! Apabila perut itu padat. Maka pikiran tertidur.”

            Ibadah puasa sebenarnya memiliki efek positif yang sangat besar. Jika kita tilik lebih dalam, akan banyak hal perubahan yang terjadi pada seorang mukmin yang berpuasa. Ada kedisiplinan dari bangun tidur, makan lalu berbuka puasa. Ada kesadaran besar akan pengawasan Allah selama melakukan puasa.

            Lalu bagaimana puasa mampu membuat seseorang lebih kreatif dan lebih cerdas? Perumpaannya akan seperti ini. Ketika seseorang yang hidup penuh dengan kecukupan, semua tersedia maka biasanya akan enggan untuk menggunakan fungsi otaknya secara optimal. Berbeda dengan seseorang yang hidup harus berjuang, berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya di kota besar yang penuh dengan persaingan misalnya, maka kemungkinan besar untuk berpikir kreatif dan menggunakan fungsi otak dengan optimal akan menambah tingkat kecerdasan seseorang. Akan ada perubahan prilaku bekerja optimal di saat berpuasa yang dilakukan demi Allah SWT.


            Seperti itulah puasa mampu mentreatment jiwa-jiwa kaum mukmin yang melaksanakan ibadah puasa dengan sebenar-benarnya. Jika ingin mendapatkan ketiga hal tersebut, hendaknya dalam setiap jiwa kita menanamkan niat berpuasa karena Allah sehingga mencapai derajat taqwa dan keuntungan-keuntuangan secara psikis dari ibadah puasa lainnya. Insya Allah!

Aida, M. A
Penulis
Founder Maslamah Foundation
CEO Batavia Publishing

Kamis, 23 Juni 2016

Produktif Menulis Selama Ramadan



Sumber dari sini


Perubahan ritme kegiatan selama bulan puasa seringkali membuat tubuh “kaget” sebuah perubahan baru memang membutuhkan waktu paling tidak selama 3-7hari untuk mampu beradaptasi dan 14-21hari untuk menjadikannya sebuah kebiasaan. Kebiasaan menulis yang selalu dilakukan setiap hari pun akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan jam tidur dan makan selama di bulan Ramadhan.

            Namun, tidak perlu khawatir, karena selama bulan Puasa kita justru akan lebih produktif dalam bekerja dan berpikir. Mengapa demikian? Sebelumnya organ tubuh saat tidak berpuasa, seperti usus dan lambung melakukan pencernaan makanan sehingga aliran darah dan tenaga banyak ditumpukan untuk proses pencernaan makanan, sebaliknya ketika dalam kondisi berpuasa, aliran darah dan tenaga berpeluang memberikan tumpuan pada otak untuk berpikir dan meningkatkan daya pikir.

            Menulis selama di bulan puasa juga sangat memungkinkan. Meski perubahan waktu makan dan tidur memaksa kita mengatur kembali ritme kebiasaan menulis yang sudah diadaptasi  pada bulan-bulan sebelumnya. Hal ini sudah dipraktekkan oleh Ahmad Bahjat, penulis buku Nabi-Nabi Allah (bku dengan ketebalan kurang lebih 600 halaman), buku yang dianggap sebagai buku perpaduan sastra dan sejarah dari sudut Qur’ani, penyelesaian penulisan buku tersebut dilakukan selama bulan Ramadhan.  Jadi, sungguh sangat tepat kita meningkatkan produktivitas dalam menulis selama di bulan puasa ini.

Produktif Menulis Selama Ramadan

            Setidaknya ada dua waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menulis dan menghasilkan sebuah tulisan yang menarik dan berkualitas.

1.     Setelah sahur, kebiasaan tidur kembali setelah shalat subuh sangat baik diganti dengan menulis, hanya butuh waktu selama 1-2jam menjelang pagi. Pergantian waktu antara gelap ke terang terutama fajar menuju matahari terbit mampu meningkatkan daya ingat dan kerja otak yang integrative. Percayalah ketika menulis dalam kondisi ini, seperti mengawali hari-hari dengan ide-ide baru yang cemerlang.

2.     Ngabuburit menjelang berbuka puasa, kegiatan menunggu saat berbuka puasa bisa dilakukan dengan menulis. Kondisi tubuh yang lapar mampu meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga mampu menganalisis ide-ide baru karena racun-racun di dalam tubuh sedang dinetralisir. Tak terasa selama menunggu waktu berbuka, kita justru sudah menghasilkan berlembar-lembar tulisan.

Ngabuburit dengan Menulis

            Dua waktu yang disarankan di atas jika dilakukan setiap hari setidaknya 1-2 jam saja bisa menghasilkan 2 lembar tulisan, jika dikali dua (Setelah sahur dan Menjelang berbuka) maka akan menghasilkan 4 lembar tulisan, lalu dikali 30 hari akan menghasilkan 120 halaman, dalam artian selama puasa kita sudah menghasilkan satu buku, hasilnya Insya Allah kita tetap produktif menulis di bulan ramadhan.

            Hal yang tak kalah penting dari ini, karena kebiasaan yang dibangun selama bulan puasa ini, akan menjadi gerak tubuh dan otak yang secara perlahan akan menciptakan Habituasi,  dengan kata lain akan menjadi kebiasaan di bulan selanjutnya, dan mampu dilakukan tanpa paksaan apalagi dalam tekanan.

            “Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan alias habits (How To Masters Your Habits)”

            Selamat menulis dan menghasilkan karya selama di bulan Ramadhan.

Aida, M. A
Penulis
Founder Maslamah Foundation
CEO Batavia Publishing.